Kepercayaan Dan
Kebudayaan Arab Jahiliyyah
A.
Kepercayaan Masyarakat
Arab Jahilliyyah
Terdapat beberapa kepercayaan yang dianut masyarakat Arab sebelum
agama Islam lahir. Bangsa Arab Qahthan (Kaum Saba) di Yaman misalnya, mereka
menganut kepercayaan atau agama Ash-Shabiah, yaitu suatu kepercayaan yang
berkembang di masyarakat Qhatan tentang adanya kekuatan pada bintang-bintang
dan matahari ssebagai kekuatan maha pencipta. Mereka menganggap bintang dan
matahari sebagai Tuhan. Bangasa mereka yang masih tinggal di Yaman, kepercayaan
Ash-Shabiah terus dianut. Tetapi kemudian karena mereka mendapat seruan dari
para Yahudi yang datang dari Yasrib (Madinah) agama Yahudi ini dijadikan
sebagai agama baru. Salah seorang pemimpin mereka yang pertama kali menerima
agama itu adalah Yusuf Zu Nuas.
Adapun bangsa Arab Ismail, pada mulanya mereka menganut agama
tauhid (monotheisme) yang di bawa oleh Nabi Ibrahim A.S., dan di dalam pengaruh
serta kekuasan merekalah terletak tanggung jawab yang besar untuk menjaga dan
memelihara Kabah. Tetapi setelah kota Mekah dikuasai oleh Khuzaah, terjadilah
perubahan dalam hal kepercayaan mereka. Kemudian berhala di letakan di Kabah
dan dijadikan sebagai pemimpin berhala-berhala yang lainya. Berhala tersebut di
namakan “Hubal”.
Menurut Ibnu Al-Kalbi, yang menyebabkan bangsa Arab akhirnya
menyembah berhala dan batu, ialah setiap mereka akan pergi meninggalkan kota
MEkkah, selalu membawa sebuah batu ayng diambilnya dari beberapa tempat di
sekitar ka’bah, dengan maksud untuk menghormati Ka’bah, dan untuk
memperlihatkan kecintaan mereka kepada Mekah. Kemudian batu-batu tersebut
diletakan di tempat persinggahan atau tempat tinggal mereka. Mereka melakukan
thawaf (mengelilingi) batu-batu itu. Layaknya orang melakukan thawaf waktu
haji.
Disamping adanya kepercayaan dan penyembahan berhala yang
dilakukan masyarakat Arab sebelum kelahiran agama Islam, terdapat pula
kepercayaan lain yang mereka anut seperti :
a.Menyembah malaikat. Bahkan ada yang beranggapa bahwa malaikat
adalah puteri tuhan.
b.Menyembah Jin, ruh atau hantu. Bahkan ada suatu tempat jin
terkenal dengan nama Darahim.
Pada saat menjelang kelahiran agama Islam, tumbuh sekelompok orang
dari kalangan masyarakat Arab yang berusaha ingin melepaskan bangsanya dari
kepercayaan yang sesat, dan berusah mengembalikan kepercayaan agama tahuhid
(monotheisme) yang diajarkan Bagi Ibrahim AS. Mereka adalah Waraqah bin Naufal,
Umayah bin Abi Shalt, Qus Saidah, Utsman bin Khuwairis, Abdullah bin Jahsy, dan
Aainal bin Umar.
Kebudayaan Arab Jahiliyyah
Secara garis besarnya, kehidupan bangsa Arab terbagi kepada dua
bagian : yaitu penduduk desa dan penduduk kota
. Penduduk desa biasanya disebut suku Baduwi, artinya penduduk pedalaman, yang
suka bepindah-pindah tempat atau nomaden. Golongan penduduk inilah yang
terbesar jumlahnya. Mata pencaharian mereka bercocok tanam dan berternak.
Para penduduk yang tinggal di kota, mata pencaharian mereka
berdagang di pasar- pasar dan abnyak juga di antara mereka yang berdagan di
luar negeri dengan mengendari unta dan kuda seperti negri Syam, Mesir dan Persia .
Pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Arab pada masa jahiliyyah
dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.Dalam bidang politik, masyarakat Arab jahiliyyah tidak memeiliki
system pemerintahan yang mapan. Mereka hanya mempunyai pemimpin yang disebut
Syeikh atau Amir (kepala suku), yang mengurusi persoalan mereka dalam masalah
perang, pembagian harta dan pertempuran tertentu. Diluar itu, Syeikh atau Amir
tidak berkuasa mengatur anggota kabilahnya.
b.Dalam bidang ekonomi, sesuai dengan tanah Arab yang kebanyakan
terdiiri dari sahara, maka system ekonomi mereka yang terpenting adalah
perdagangan. Masyarakat Arab Qurayisi berdagang sepanjang tahun. Di musim
dingin mereka mengirim Khafilah dagang ke Yaman, sementara di musim panas
mereka menuju ke Syam. Pusat perdagangan yang paling ramai adalah pasar Ukaz,
yang dibuka pada bulan-bulan tertentu seperti Zulqaidah, Zulhijjah, dan
Muharam.
c.Dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni yang berkembang pada masa
itu ialah astronomi (ilmu perbintangan) yang di temukan oleh orang-orang
Babilonia, Meteorologi, Mythologi, Astrologi, Kedokteran, Khatabah (Retorika),
dan syair-syair. Dalam bidang bahasa dan seni, masyarakat Arab jahiliyyah
sangat maju. Bahasa mereka sangat indah dan kaya, syair-syair mereka sangat
banyak. Dan kebiasaan mereka adalah menghormati para penyair. Untuk itu, mereka
hampir tiap tahun mengadakan perlombaan syair di pasar Ukaz. Diantara penyair
terkenal adalaha Umru Al-Qais.
B. Inti Ajaran Islam
Setelah Nabi Muhammad SAW, menerima wahyu yang pertama (Quran
Qs:Al-Alaq: 1-5), di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadan tahun 610 M beliau
mengalami pertentangan jiwa dan kecemasan cukup lama. Akhirnya Nabi Muhammad
sampai pada puncak keyakinan tentang kerasulannya, dengan turunya
Qs:Al-Mudatsir: 1-7 sebagai penegasan Allah untuk berdakwah, menyiarkan agama
islam pada kerabat dekat dan selanjutnya pada masayarakat umum.
Masa dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW di Mekkah selama 13
tahun, yaitu sejak beliau menerima wahyu pertama sampai hijrah ke Madinah.
Adapun inti Ajaran Islam yang di bawa Nabi Muhammad SAW, selama di
kota Mekkah
adalah:
1.Mengajarkan manusia bertuhan hanya kepada Allah semata-mata
(bertauhid).
2.Mengajarkan bahwa akan terjadinya hari kiamat.
3.Mengajarakan Ahlak yang terpuji dan melarang manusia berbuat
jahat dan tercela.
4.Mengajarkan ibadah seperti shalat.
5.Mengajarkan persamaan derajat semua manusia.
C. Perbedaan Kepercayaan dan Kebudayaan Arab Jahiliyah dengan
Ajaran Islam.
Masyarakat Arab Jahiliyyah adalah suatu tatanan masyarakat yang
mempunyai agama atau kepercayaannya sendiri, yang berlainan dengan ajaran
islam. Adapun perbedaan antara kedua kepercayaan itu adalah sebagai berikut:
1.Pada Masyarakat Arab Jahiliyyah terdapat suatu kepercayaan
berbagai tuhan (Polypheisme), seperti penyembahan berhala, penyembahan bulan
dan bintang, penyembahan jin, ruh, dan arwah nenek moyang, dan ajaran yang
tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sementara itu, Islam datang dengan membawa
ajaran tauhid, penyembahan hanya kepada Allah yang Mha Esa, tak beranak dan tak
diperanankan. Begiru juga yang berkaitan dengan kebudayaan. Kebudayaan Arab pra
Islam sangat dipengaruhi oleh mitologi dan ajaran-ajaran sesat lainnya, sedang
Islam membawa peradaban atau kebudayaan baru berdasarkan petunjuk Allah dan
Al-Qur’an.
2.Dalam tatanan kehidupan social masyarakat Arab pra Islam
terdapat pada suatu tradisi yang melanggar etika (akhlak) dan hak asasi
manusia: seperti perjudian, minum-minuman keras, perampok, perzinahan, dan
perbuatan yang melangar hokum dan tantanan social masyarakat. Sementara Islam
selalu mengajarkan perbuatan terpuji, seperti menolong sesama manusia, melarang
melakukan fitnah, mengambil hak orang yang bukan miliknya sendiri, melarang
mabuk-mabukan, melarang perzinahan, melarang penguburan bayi hidup-hidup, dan
ajaran terpuji lainnya.
3.Masyarakat Arab pra Islam tidak percaya kepada hari kebangkitan,
hari pembalasan, sampai ada diantara mereka bertanya-tanya, mana mungkin tualng
berulang yang sudah hancur dapat dibangkitkan dan dihidupkan kembali. Padahal
Islam mengajarkan dan meperingatkan kepada manusia, bahwa dunia dunia ini hanya
sementara dan tempat yang abadi adalah akhirat.
4.Didalam kehiduapan masyarakat Arab pra Islam terdapat tradisi
perbudakan. Memperbudak atau menjual belikan budak seperti berdagang dagangan
lainya. Dan perbuatan itu mereka lakukan tanpa penyesalan seolah tanpa dosa.
Sedangkan menurut ajaran Islam manusia itu sama derajatnya, hanya takwa yang
membedakan mereka. Kehadiran Islam justru untuk mengangkat martabat mereka yang
tertindas seperti para dhuafa dan fakir miskin .
Perbedaan inilah pada akhirnya membawa perbenturan dasyat antara
masyarakat Arab kafir dan mukmin di tanah Arab, Mekah.
D. Benturan Antara Dua Kepercayaan.
Perbenturan antara kedua kepercayaan ini disebabkan karena
beberapa factor, antara lain:
1.Takut kehilangan kekuasaan.
Kaum kafir Quraisy selalu berebut kekuasaan dalam memperjuangkan
hidupnya. Siapa yang kuat, dia yang berkuasa. Oleh sebab itu, ketika Muhammad diangkat
sebagai Nabi dan Rasul, mereka beranggapan bahwa tunduk kepada Muhammad dan
bani Murhalib, berarti akan kehilangan pengaruh dan kekuasaan.
2.Persamaan hak antara sesama manusia..
Segala usaha kaum kafir Quraisy selalu dikaitkan dengan
kepentingan kebangsawanan, dan tidak memperdulikan hamba sahaya. Sedangkan
dalam ajaran Islam manusia dipandang sama, tidak memisahkan antara bangsawan
dan hamba sahaya, antara silemah dan si kuat. Justru Islam mengajarkan adanya
persamwaan dan saling tolong menolong sesama manusia. Si kuat membantu si
lemah, si kaya membantu si miskin. Kelebihan mereka dalam Islam adalah tingkat
ketakwaann kepada Allah SWT.
3.Bertaklid kepada nenek moyang.
Kaum kafir Quraisy sangat patuh kepada adapt istiadat nenek moyang
mereka, dari pada mereka harus masuk Islam, karena mereka merasa berat
mengigalkan kebiasaan menyembah berhala yang sudah secara turun-temurun
dilakukan oleh nenek moyang mereka sendiri.
4.Masalah kehidupan.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, usaha kaum kafir Quraisy
yang penting antara lain adalah kerajinan membuat patung dan menjual belikan
patung iu untuk dijadikan tuhan mereka. Bila mereka masuk Islam, maka berarti
mematikan usaha mereka sendiri. Dengan demiian mereka beranggapan, bahwa Islam
akan merusak dan mematikan perekonomian mereka.
Inilah beberapa faktor yang
menyebabkan terjadinya konflik atau benturan antara ajaran islam dengan
kepercayaan masyarakat Arab Jahiliyyah
1 komentar:
Terima kasih Sangat bermanfaat...
Gratis, 10 Iklan anda tampil di Blog/Web orang lain & mendapat income, www.xnge.net?id=adi
Posting Komentar