Ketika datang ke
Timur Tengah pada abad IV SM. Aleksander Yang Agung membawa bukan hanya kaum
militer tetapi juga kaum sipil. Tujuannya bukanlah hanya meluaskan daerah
kekuasaannya ke luar Masedonia, tapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di
daerah-daerah yang dimasukinya. Untuk itu ia adakan pembauran antara
orang-orang Yunani yang dibawanya, dengan penduduk setempat. Dengan jalan
demikian berkembanglah falsafat dan ilmu pengetahuan Yunani di Timur Tengah,
dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani seperti lskandariah (dari nama
Aleksander) di Mesir, Antakia di Suria, Selopsia serta Jundisyapur di Irak dan
Baktra (sekarang Balkh )
di lran.
Ketika para
Sahabat Nabi Muhammad menyampaikan dakwah Islam ke daerah-daerah tersebut
terjadi peperangan antara kekuatan Islam dan kekuatan Kerajaan Bizantium di
Mesir , Suria serta Irak, dan kekuatan Kerajaan Persia di Iran. Daerah-daerah
ini, dengan menangnya kekuatan Islam dalam peperangan tersebut, jatuh ke bawah
kekuasaan Islam. Tetapi penduduknya, sesuai dengan ajaran al-Qur'an, bahwa
tidak ada paksaan dalam agama dan bahwa kewajiban orang Islam han'ya
menyampaikan ajaran-ajaran yang dibawa Nabi, tidak dipaksa para sahabat untuk
masuk Islam. Mereka tetap memeluk agama mereka semula terutama yang menganut
agama Nasrani dan Yahudi.
Dari warga
negara non Islam ini timbul satu golongan yang tidak senang dengan kekuasaan
Islam dan oleh karena itu ingin memajuhkan Islam. Mereka pun menyerang agama
Islam dengan memajukan argumen-argumen berdasarkan falsafat yang mereka peroleh
dari Yunani. Dari pihak umat Islam timbul satu golongan yang melihat bahwa
serangan itu tidak dapat ditangkis kecuali dengan memakai argumen-argumen
filosofis pula. Untuk itu mereka pelajari falsafat dan ilmu pengetahuan Yunani.
Kedudukan akal yang tinggi dalam pemikiran Yunani mereka jumpai sejalan dengan
kedudukan akal yang tinggi dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Dengan demikian
timbullah di panggung sejarah pemikiran Islam teologi rasional yang dipelopori
kaum Mu'tazilah. Ciri-ciri dari teologi rasional ini ialah : Kedudukan akal
tinggi di dalamnya, sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari
teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah. Mereka
tinggalkan arti harfiah teks dan ambil arti majazinya, dengan lain kata mereka
tinggalkan arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya. Mereka
dikenal banyak memakai ta'wil dalam memahami wahyu.
Akal menunjukkan
kekuatan manusia, maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat, yaitu
manusia dewasa. Manusia dewasa, berlainan dengan anak kecil, mampu berdiri
sendiri, mempunyai kebebasan dalam kemauan serta perbuatan, dan mampu berfikir
secara mendalam. Karena itu aliran ini menganut faham qadariah, yang di Barat
dikenal dengan istilah free-will and free-act, yang membawa kepada konsep
manusia yang penuh dinamika, baik dalam perbuatan maupun pemikiran. Pemikiran
filosofis mereka membawa kepada penekanan konsep Tuhan Yang Maha Adil. Maka
keadilan Tuhanlah yang menjadi titik tolak pemikiran teologi mereka. Keadilan
Tuhan membawa mereka selanjutnya kepada keyakinan adanya hukum alam ciptaan
Tuhan, dalam al-Qur'an disebut Sunnatullah, yang mengatur perjalanan apa yang
ada di alam ini. Alam ini berjalan menurut peraturan tertentu, dan peraturan
itu perlu dicari untuk kepentingan hidup manusia di dunia ini.
Teologi rasional Mu'tazilah
inilah, dengan keyakinan akan kedudukan akal yang tinggi, kebebasan manusia
dalam berfikir serta berbuat dan adanya hukum alam ciptaan Tuhan, yang membawa
pada perkembangan Islam, bukan hanya falsafat, tetapi juga sains, pada masa
antara abad ke VIII dan ke XIII M.
Filosof besar
pertama yang dikenal adalah al-Kindi, (796- 873 M) satu-satunya filosof Arab
dalam Islam. la dengan tegas mengatakan bahwa antara falsafat dan agama tak ada
pertentangan. Falsafat ia artikan sebagai pembahasan tentang yang benar
(al-bahs'an al-haqq). Agama dalam pada itu juga menjelaskan yang benar. Maka
kedua-duanya membahas yang benar. Selajutnya falsafat dalam pembahasannya
memakai akal dan agama, dan dalam penjelasan tentang yang benar juga memakai
argumen-argumen rasional. Menurut pemikiran falsafat kalau ada yang benar maka
mesti ada "Yang Benar Pertama" (al-Haqq al-Awwal). Yang Benar Pertama
itu dalam penjelasan Al-Kindi adalah Tuhan. Falsafat dengan demikian membahas
soal Tuhan dan agama. Falsafat yang termulia dalam pendapat Al-Kindi adalah
falsafat ketuhanan atau teologi. Mempelajari teologi adalah wajib dalam Islam.
Karena itu mempelajari falsafat, dan berfalsafat tidaklah haram dan tidak dilarang,
tetapi wajib.
Dengan falsafat
"al-Haqq al-Awwal"nya, al-Kindi, berusaha memurnikan keesaan Tuhan
dari arti banyak. Al-haqiqah atau kebenaran, menurut pendapatnya, adalah
sesuainya apa yang ada di dalam akal dengan apa yang ada diluarnya, yaitu sesuainya
konsep dalam akal dengan benda bersangkutan yang berada di luar akal.
Benda-benda yang ada di luar akal merupakan juz'iat (kekhususan, particulars).
Yang penting bagi falsafat bukanlah benda-benda atau juz'iat itu sendiri,
tetapi yang penting adalah hakikat dari juz'iat itu sendiri. Hakikat yang ada
dalarn benda-benda itu disebut kulliat (keumuman, universals ). Tiap-tiap benda
mempunyai hakikat sebagai juz'i (haqiqah juz'iah) yang disebut aniah dan
hakikat sebagai kulli, (haqiqah kulliah) yang disebut mahiah, yaitu hakikat
yang bersifat universal dalam bentuk jenis.
Memurnikan
tauhid memang masalah penting dalam teologi dan falsafat Islam. Dalam hal ini
Al-Farabi (870-950 M) memberi konsep yang lebih murni lagi. Dalam pemikirannya,
kalau Tuhan, Pencipta alam semesta, berhubungan langsung dengan ciptaan nya
yang tak dapat dihitung banyaknya itu, di dalam diri Tuhan terdapat arti
banyak. Zat, yang di dalam diriNya terdapat arti banyak, tidaklah sebenarnya
esa. Yang Maha Esa, agar menjadi esa, hanya berhubungan dengan yang esa.
Pemurnian tauhid
inilah yang menimbulkan falsafat emanasi (al-faid, pancaran) dari Al-Farabi.
Yang Maha Esa berfikir tentang diriNya yang esa, dan pemikiran merupakan daya
atau energi. Karena pemikiran Tuhan tentang diri-Nya merupakan daya yang
dahsyat, maka daya itu menciptakan sesuatu. Yang diciptakan pemikiran Tuhan
tentang diriNya itu adalah Akal I. Jadi, Yang Maha Esa menciptakan yang esa.
Dalam diri yang esa atau Akal I inilah mulai terdapat arti banyak. Obyek
pemikiran Akal I adalah Tuhan dan dirinya sendiri. Pemikirannya tentang Tuhan
menghasilkan Akal II dan pemikirannya tentang dirinya menghasilkan Langit
Pertama. Akal II juga mempunyai obyek pemikiran, yaitu Tuhan dan dirinya
sendiri. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal III dan pemikirannya
tentang dirinya sendiri menghasilkan Alam Bintang. Begitulah Akal selanjutnya
berfikir tentang Tuhan dan menghasilkan Akal dan berfikir tentang dirinya
sendiri dan menghasilkan planet-planet. Dengan demikian diperolehlah gambaran
berikut:
Akal l11 menghasilkan Akal IV dan Saturnus.
Akal IV menghasilkan Akal V dan
Yupiter.
Akal V menghasilkan Akal VI dan
Mars.
Akal VI menghasilkan Akal VII dan
Matahari.
Akal VII menghasilkan Akal VIII
dan Venus.
Akal VIII menghasilkan Akal IX
dan Merkuri
Akal IX menghasilkan Akal X dan
Bulan.
Akal X menghasilkan hanya Bumi. Pemikiran
Akal X tidak cukup kuat lagi untuk menghasilkan Akal.
Demikianlah
gambaran alam dalam astronomi yang diketahui di zaman Aristoteles dan zaman
al-Farabi, yaitu alam yang terdiri atas sepuluh falak. Pemikiran Akal X tentang
Tuhan tidak lagi menghasilkan Akal, karena tidak ada lagi planet yang akan
diurusnya. Memang tiap-tiap Akal itu mengurus planet yang diwujudkannya. Akal
dalam pendapat filosof Islam adalah melekat. Begitulah Tuhan menciptakan alam
semesta dalam falsafat emanasi Al-Farabi. Tuhan tidak langsung menciptakan yang
banyak ini, tetapi melalui Akal I yang esa, dan Akal I melalui Akal II, Akal II
melalui Akal l11 dan demikianlah seterusnya sampai ke penciptaan Bumi melalui
Akal X. Tuhan tidak langsung berhubungan dengan yang banyak, tetapi melalui
Akal atau malaikat.
Dalam diri Tuhan
tidak terdapat arti banyak, dan inilah tauhid yang murni dalam pendapat
Al-Farabi, Ibn Sina dan filosof-filosof Islam yang menganut faham emanasi.
Alam dalam falsafat Islam
diciptakan bukan dari tiada atau nihil, tetapi dari materi asal yaitu api,
udara, air dan tanah. Dalam pendapat falsafat dari nihil tak dapat diciptakan
sesuatu. Sesuatu mesti diciptakan dari suatu yang telah ada. Maka materi asal
timbul bukan dari tiada, tetapi dari sesuatu yang dipancarkan pemikiran Tuhan. Karena Tuhan berfikir semenjak qidam, yaitu
zaman tak bermula, apa yang dipancarkan pemikiran Tuhan itu mestilah pula
qadim, dalam arti tidak mempunyai permulaan dalam zaman. Dengan lain kata Akal
I, Akal II dan seterusnya serta materi asal yang empat api, udara, air dan
tanah adalah pula qadim. Dari sinilah timbul pengertian alam qadim, yang
dikritik AI-Ghazali.
Selain
kemahaesaan Tuhan, yang dibahas filosof-filosof Islam ada pula soal jiwa
manusia yang dalam falsafat Islam disebut al-nafs. Falsafat yang terbaik
mengenai ini adalah pemikiran yang diberikan Ibn Sina (980 -1037 M). Sama
dengan AI-Farabi ia membagi jiwa kepada tiga bagian: Jiwa tumbuh-tumbuhan yang mempunyai daya
makan, tumbuh dan berkembang biak. Jiwa binatang yang mempunyai daya gerak,
pindah dari satu tempat ke tempat, dan daya menangkap dengan pancaindra, yang
terbagi dua: (a) Indra luar, yaitu pendengaran, penglihatan, rasa dan raba. Dan
(b) Indra da1am yang berada di otak dan terdiri dari:
a.
Indra bersama yang menerima kesan-kesan yang diperoleh
pancaindra.
b.
Indra penggambar yang melepaskan gambar-gambar dari
materi.
c.
Indra pereka yang mengatur gambar-gambar ini.
d.
Indra penganggap yang menangkap arti-arti yang
terlindung dalam gambar-gambar tersebut.
e.
Indra pengingat yangmenyimpan arti-arti itu.
Jiwa manusia, yang mempunyai
hanya satu daya, yaitu berfikir yang disebut akal. Akal terbagi dua:
a.
Akal praktis, yang menerima arti-arti yang berasal dari
materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang.
b.
Akal teoritis, yang menangkap arti-arti murni, yang tak
pernah ada dalam materi seperti Tuhan, roh dan malaikat.
Akal praktis
memusatkan perhatian kepada alam materi, sedang akal teoritis kepada alam
metafisik. Dalam diri manusia terdapat tiga macam jiwa ini, dan jelas bahwa
yang terpenting diantaranya adalah jiwa berfikir manusia yang disebut akal itu.
Akal praktis, kalau terpengaruh oleh materi, tidak meneruskan arti-arti, yang
diterimanya dari indra pengingat dalam jiwa binatang, ke akal teoritis. Tetapi
kalau ia teruskan akal teoritis akan berkembang dengan baik.
Akal teoritis mempunyai empat
tingkatan :
1.
Akal potensial dalam arti akal yang mempunyai potensi
untuk rnenangkap arti-arti murni.
2.
Akal bakat, yang telah mulai dapat rnenangkap arti-arti
murni.
3.
Akal aktual, yang telah mudah dan lebih banyak
rnenangkap arti- arti murni.
4.
Akal perolehan yang telah sernpurna kesanggupannya
menangkap arti-arti murni.
Akal tingkat keempat inilah yang
tertinggi dan memiliki filosof-filosof. Akal inilah yang dapat menangkap
arti-arti murni yang dipancarkan Tuhan melalui Akal X ke Bumi.
Sifat seseorang banyak bergantung pada jiwa mana dari tiga yang tersebut di atas berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berpengaruh, orang itu dekat menyerupai binatang. Tetapi jika jiwa manusia yang berpengaruh terhadap dirinya maka ia dekat menyerupai malaikat. Dan dalam hal ini akal praktis mempunyai malaikat. Akal inilah yang mengontrol badan manusia, sehingga hawa nafsu yang terdapat di dalamnya tidak menjadi halangan bagi akal praktis untuk membawa manusia kepada kesempurnaan. Setelah tubuh manusia mati, yang akan tinggal menghadapi perhitungan di depan Tuhan adalah jiwa manusia. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan jiwa binatang akan lenyap dengan hancurnya tubuh kembali menjadi tanah.
Sifat seseorang banyak bergantung pada jiwa mana dari tiga yang tersebut di atas berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berpengaruh, orang itu dekat menyerupai binatang. Tetapi jika jiwa manusia yang berpengaruh terhadap dirinya maka ia dekat menyerupai malaikat. Dan dalam hal ini akal praktis mempunyai malaikat. Akal inilah yang mengontrol badan manusia, sehingga hawa nafsu yang terdapat di dalamnya tidak menjadi halangan bagi akal praktis untuk membawa manusia kepada kesempurnaan. Setelah tubuh manusia mati, yang akan tinggal menghadapi perhitungan di depan Tuhan adalah jiwa manusia. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan jiwa binatang akan lenyap dengan hancurnya tubuh kembali menjadi tanah.
Jiwa manusia
mempunyai wujud tersendiri, yang diciptakan Tuhan setiap ada janin yang siap
untuk menerima jiwa. Jiwa berhajat kepada badan manusia, karena otaklah,
sebagaimana dilihat di atas, yang pada mulanya menolong akal untuk menangkap
arti-arti. Makin banyak arti yang diteruskan otak kepadanya makin kuat daya
akal untuk menangkap arti-arti murni. Kalau akal sudah sampai kepada
kesempurnaan, jiwa tak berhajat lagi pada badan, bahkan badan bisa menjadi
penghalang baginya dalam menangkap arti-arti murni.
Jiwa
tumbuh-tumbuhan dan binatang lenyap dengan matinya tubuh karena keduanya hanya
mempunyai fungsi-fungsi fisik seperti dijelaskan sebelumnya, Kedua jiwa ini,
karena telah rnemperoleh balasan di dunia ini tidak akan dihidupkan kembali di
akhirat. Jiwa manusia, berlainan dengan kedua jiwa di atas, fungsinya tidak
berkaitan dengan yang bersifat fisik tetapi yang bersifat abstrak dan rohani.
Karena itu balasan yang akan diterimanya bukan di dunia, tetapi di akhirat.
Kalau jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang tidak kekal, jiwa manusia adalah kekal.
Jika ia telah mencapai kesempurnaan sebelum berpisah dengan badan ia akan
mengalami kebahagiaan di akhirat. Tetapi kalau ia berpisah dari badan dalam
keadaan belum sempurna ia akan mengalami kesengsaraan kelak.
Dari faham bahwa jiwa manusialah
yang akan menghadapi perhitungan kelak timbul faham tidak adanya pembangkitan
jasmani yang juga dikritik al-Ghazali.
Demikianlah beberapa aspek
penting dari falsafat Islam. Pemurnian konsep tauhid membawa al-Kindi kepada
pemikiran Tuhan tidak mempunyai hakikat dan tak dapat diberi sifat jenis
(al-jins) serta diferensia (al-fasl). Sebagai seorang Mu'tazilah al-Kindi juga tidak
percaya pada adanya sifat-sifat Tuhan; yang ada hanyalah semata-mata zat.
Pemurnian itu membawa Al-Farabi
pula kepada falsafat emanasi yang di dalamnya terkandung pemikiran alam qadim,
tak bermula dalam zaman dan baqin, tak mempunyai akhir dalam zaman. Karena
Tuhan dalam falsafat emanasi tak boleh berhubungan langsung dengan yang banyak
dan hanya berfikir tentang diriNya Yang Maha Esa, timbul pendapat bahwa Tuhan
tidak mengetahui juz'iat, yaitu perincian yang ada dalam alam ini. Tuhan
mengetahui hanya yang bersifat universal. Karena akal I, II dan seterusnyalah
yang mengatur planet-planet maka Akal I, II dan seterusnya itulah yang
mengetahui juz'iat atau kekhususan yang terjadi di alam ini. Karena inti
manusia adalah jiwa berfikir untuk memperoleh kesempurnaan, pembangkitan
jasmani tak ada. Sebagai orang yang banyak berkecimpung dalam bidang sains para
filosof percaya pula kepada tidak berubahnya hukum alam.
Inilah sepuluh
dari duapuluh kritikan yang dimajukan al-Ghazali (1058-1111 M) terhadap pemikiran
para filosof lslam. figa, diantara sepuluh itu, menurut al-Ghazali membawa
mereka kepada kekufuran, yaitu :
1. Alam qadim dalam arti tak
bermula dalam zaman
2. Pembangkitan jasmani tak ada
3. Tuhan tidak rnengetahui perincian
yang terjadi di alam.
Konsep alam
qadim membawa kepada kekufuran, dalam pendapat al-Ghazali, karena qadim dalam
falsafat berarti sesuatu yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman,
yaitu tidak pernah tidak ada di zaman lampau. Dan ini berarti tidak diciptakan.
Yang tidak diciptakan adalah Tuhan. Maka syahadat dalam teologi Islam adalah :
la qadima, illallah, tidak ada yang qadim selain Allah. Kalau alam qadim, maka
alam adalah pula Tuhan dan terdapatlah dua Tuhan. Ini membawa kepada faham
syirk atau politeisme, dosa besar yang dalam al-Qur'an disebut tak dapat
diampuni Tuhan.
Tidak diciptakan bisa pula
berarti tidak perlu adanya Pencipta yaitu Tuhan. Ini membawa pula kepada
ateisme. Politeisme dan ateisme jelas bertentangan sekali dengan ajaran dasar
Islam tauhid, yang sebagaimana dilihat di atas para filosof mengusahakan Islam
memberikan arti semurni-murninya. Inilah yang mendorong al-Ghazali untuk mencap
kafir filosof yang percaya bahwa alam ini qadim.
Mengenai masalah
kedua, pembangkitan jasmani tak ada, sedangkan teks ayat-ayat dalam al-Qur'an
menggambarkan adanya pembangkitan jasmani itu. Umpamanya ayat 78/9 dari surat Yasin "Siapa
yang menghidupkan tulang-tulang yang telah rapuh ini? Katakanlah: Yang
menghidupkan adalah Yang Menciptakannya pertama kali". Maka pengkafiran di
sini berdasar atas berlawanannya falsafat tidak adanya pembangkitan jasmani
dengan teks al-Qur'an, yang adalah wahyu dari Tuhan.
Pengkafiran tentang masalah
ketiga, Tuhan tidak mengetahui perincian yang ada di alam, juga didasarkan atas
keadaan falsafat itu, berlawanan dengan teks ayat dalam al-Qur'an. Sebagai
umpama dapat disebut ayat 59 dari surat
Al-An'am: Tiada daun yang jatuh yang tidak diketahui-Nya.
Pengkafiran
Al-Ghazali ini membuat orang di dunia lslam bagian timur dengan Baghdad sebagai pusat
pemikiran, menjauhi falsafat. Apalagi di samping pengkafiran itu al-Ghazali
mengeluarkan pendapat bahwa jalan sebenarnya untuk mencapai hakikat bukanlah
falsafat tetapi tasawuf. Dalam pada itu sebelum zaman Al-Ghazali telah muncul
teologi baru yang menentang teologi rasional Mu'tazilah. Teologi baru itu
dibawa oleh al-Asy'ari (873-935), yang pada mulanya adalah salah satu tokoh
teologi rasional. Oleh sebab-sebab yang belum begitu jelas ia meninggalkan
faham Mu'tazilahnya dan menimbulkan, sebagai lawan dari teologi Mu'tazilah,
teologi baru yang kemudian dikenal dengan nama teologi al-Asy'ari.
Sebagai lawan
dari teologi rasional Mu'tazilah, teologi Asy'ari bercorak tradisional. Corak
tradisionalnya dilihat dari hal-hal berikut :
1.
Dalam teologi ini akal mempunyai kedudukan rendah,
sehingga kaum Asy'ari banyak terikat kepada arti lafzi dari teks wahyu. Mereka
tidak mengambil arti tersurat dari wahyu untuk menyesuaikannya dengan pemikiran
ilmiah dan falsafi.
2.
Karena akal lemah, manusia dalam teologi ini merupakan
manusia lemah dekat menyerupai anak yang belum dewasa, yang belum bisa berdiri
sendiri, tetapi masih banyak bergantung pada orang lain untuk membantunya dalam
hidupnya. Teologi ini mengajarkan faham jabariah atau fatalisme, yaitu percaya
kepada kada dan kadar Tuhan. Manusia di sini bersikap statis.
3.
Pemikiran teologi al-Asy'ari bertitik tolak dari faham
kehendak mutlak Tuhan. Manusia dan alam ini diatur Tuhan menurut kehendak
mutlakNya dan bukan menurut peraturan yang dibuatnya. Karena itu hukum alam dalam
teologi ini tak terdapat; yang ada ialah kebiasaan alam. Dengan demikian bagi
mereka api tidak sesuai dengan hukum alam, selamanya membakar , tetapi biasanya
membakar sesuai dengan kehendak mutlak Tuhan.
Jelas teologi
tradisional al-Asy'ari ini tidak mendorong pada berkembangnya pemikiran ilmiah
dan filosofis, sebagaimana halnya dengan teologi rasional Mu'taziiah. Sesudah
al-Ghazali, teologi tradisional inilah yang berkembang di dunia Islam bagian
Timur. Tidak mengherankan kalau sesudah zaman al-Ghazali ilmu dan falsafat tak
berkembang lagi di Baghdad
sebagaimana sebelumnya di zaman Mu'tazilah dan filosof-filosof Islam.
Di dunia Islam
bagian Barat, yaitu di Andalus atau Spanyol Islam, sebaliknya, pemikiran
filosofis masih berkembang sesudah serangan a1-Ghazali tersebut, Ibn Bajjah
(1082-1138) dalam bukunya Risalah al- Wida' kelihatannya mencela al-Ghazali
yang berpendapat bahwa bukanlah akal tetapi al-dzauq dan ma'rifat sufilah yang
membawa orang kepada kebenaran yang meyakinkan. Ibn Tufail (w. 1185 M) dalam bukunya Hayy Ibn
Yaqzan malahan menghidupkan pendapat Mu'tazilah, bahwa akal manusia begitu
kuatnya sehingga ia dapat mengetahui masalah-masalah keagamaan seperti adanya
Tuhan, wajibnya manusia berterimakasih kepada Tuhan, kebaikan serta kejahatan
dan kewajiban manusia berbuat baik dan mejauhi perbuatan jahat. Dalam hal-hal
ini wahyu datang untuk memperkuat akal. Dan akal orang yang terpencil di suatu
pulau, jauh dari masyarakat manusia, dapat mencapai kesempurnaan sehingga ia
sanggup menerima pancaran ilmu dari Tuhan, seperti yang terdapat dalam falsafat
emanasi Al-Farabi dan Ibn Sina. Tapi Ibn Rusydlah (1126-1198 M) yang mengarang
buku Tahufut al-Tahafut sebagai jawaban terhadap kritik-kritik Albpg-Ghazali
yang ia uraikan dalam Tahafut al-Falasijah.
Mengenai masalah
pertama qidam al-alam, alam tidak mempunyai permulaan dalam zaman, konsep
AI-Ghazali bahwa alam hadis, alam mempunyai permulaan dalam zaman, menurut Ibn
Rusyd mengandung arti bahwa ketika Tuhan menciptakan alam, tidak ada sesuatu di
samping Tuhan. Tuhan, dengan kata lain, di ketika itu berada dalam
kesendirianNya. Tuhan menciptakan alam dari tiada atau nihil. Konsep serupa
ini, kata Ibn Rusyd, tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Didalam al-Qur'an
digambarkan bahwa sebelum alam diciptakan Tuhan, telah ada sesuatu di
sampingNya. Ayat 7 dari surat
Hud umpamanya mengatakan, Dan Ialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam
hari dan takhtaNya (pada waktu itu) berada di atas air.
Jelas disebut
dalam ayat ini, bahwa ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi telah ada di
samping Tuhan, air. Ayat 11 dari Ha Mim menyebut pula, Kemudian la pun naik ke
langit sewaktu ia masih merupakan uap. Di sini yang ada di samping Tuhan adalah
uap, dan air serta uap adalah satu. Selanjutnya ayat 30 dari surat al-Anbia' mengatakan pula, Apakah
orang-orang yang tak percaya tidak melihat ' bahwa langit dan bumi (pada
mulanya) adalah satu dan kemudian Kami pisahkan. Kami jadikan segala yang hidup
dari air.
Ayat ini
mengandung arti bahwa langit dan bumi pada mulanya berasal dari unsur yang satu
dan kemudian menjadi dua benda yang berlainan.
Dengan ayat-ayat serupa inilah
Ibn Rusyd menentang pendapat al-Ghazali bahwa alam diciptakan Tuhan dari tiada
dan bersifat hadis dan menegaskan bahwa pendapat itu tidak sesuai dengan
kandungan al-Qur'an. Yang sesuai dengan kandungan al-Qur'an sebenarnya adalah
konsep al-Farabi, Ibn Sina dan filosof-filosof lain. Di samping itu, kata
khalaqa di dalam al-Qur'an, kata Ibn Rusyd, menggambarkan penciptaan bukan dari
"tiada", seperti yang dikatakan al-Ghazali, tetapi dari
"ada", seperti yang dikatakan filosof-filosof. Ayat 12 dari surat al-Mu'minun,
menjelaskan, Kami ciptakan manusia dari inti sari, tanah. Manusia di dalam
al-Qur'an diciptakan bukan dari "tiada" tetapi dari sesuatu yang
"ada", yaitu intisari tanah seperti disebut, oleh ayat di atas.
Falsafat memang tidak menerima konsep.
Penciptaan dari
tiada (creatio ex nihilo). "Tiada", kata Ibn Rusyd tidak bisa berobah
menjadi "ada", yang terjadi ialah "ada" berobah menjadi
"ada" dalam bentuk lain. Dalam hal bumi, "ada" dalam bentuk
materi asal yang empat dirubah Tuhan menjadi "ada" dalam bentuk bumi.
Demikian pula langit. Dan yang qadim adalah materi asal. Adapun langit dan bumi
susunannya adalah baru (hadis ). Qadimnya alam, menurut penjelasan Ibn Rusyd
tidak membawa kepada politeisme atau ateisme, karena qadim dalam pemikiran
falsafat bukan hanya berarti sesuatu yang tidak diciptakan, tetapi juga berarti
sesuatu yang diciptakan dalam keadaan terus menerus, mulai dari zaman tak
bermula di masa lampau sampai ke zaman tak berakhir di masa mendatang. Jadi
Tuhan qadim berarti Tuhan tidak diciptakan, tetapi adalah pencipta dan alam
qadim berarti alam diciptakan dalam keadaan terus menerus dari zaman tak
bermula ke zaman tak berakhir . Dengan demikian sungguhpun alam qadim, alam
bukan Tuhan, tetapi adalah ciptaan Tuhan.
Bahwa alam yang
terus menerus dalam keadaan diciptakan ini tetap akan ada dan baqin digambarkan
juga oleh al-Qur'an. Ayat 47/8 dari surat
Ibrahim menyebut:
Jangan1ah Sangka bahwa Allah akan
menyalahi janji bagi rasul-rasulNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha
Pemberi balasan di hari bumi ditukar dengan bumi yang lain dan ( demikian pula)
langit. Di hari perhitungan atau pembalasan nanti, tegasnya di hari kiamat, Tuhan
akan menukar bumi ini dengan bumi yang lain dan demikian pula langit sekarang
akan ditukar dengan langit yang lain. Konsep ini mengandung arti bahwa pada
hari kiamat bumi dan langit sekarang akan hancur susunannya dan menjadi materi
asat api, udara, air dan tanah kembali dari keempat unsur ini Tuhan akan
menciptakan bumi dan langit yang lain lagi. Bumi dan langit ini akan hancur
pula, dan dari materi asalnya akan diciptakan pula bumi dan langit yang lain
dan demikianlah seterusnya tanpa kesudahan. Jadi pengertian qadim sebagai
sesuatu yang berada dalam kejadian terus menerus adalah sesuai dengan kandungan
al-Qur'an.
Dengan demikian
al-Ghazali tidak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan filosof dalam
falsafat mereka tentang qadimnya alam.
Kedua-duanya, kata Ibn Rusyd,
yaitu pihak al-Farabi dan pihak al-Ghazali sama-sama memberi tafsiran
masing-masing tentang ayat-ayat al-Qur'an mengenai penciptaan alam. Yang
bertentangan bukanlah pendapat filosof dengan al-Qur'an, tetapi pendapat
filosof dengan pendapat al-Ghazali. Mengenai masalah kedua, Tuhan tidak
mengetahui perincian yang terjadi di alam, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa para
filosof tak pernah mengatakan demikian. Menurut mereka Tuhan mengetahui
perinciannya; yang mereka persoalkan ialah bagaimana Tuhan mengetahui perincian
itu. Perincian berbentuk materi dan materi dapat ditangkap pancaindra, sedang
Tuhan bersifat immateri dan tak mempunyai pancaindra.
Dalam hal
pembangkitan jasmani, Ibn Rusyd menulis dalam Tahafut al-Tahafut bahwa
filosof-filosof Islam tak menyebut hal itu. Dalam pada itu ia melihat adanya
pertentangan dalam ucapan-ucapan al-Ghazali. Di dalam Tahafut al-Falasifah ia
menulis bahwa dalam Islam tidak ada orang yang berpendapat adanya pembangkitan
rohani saja, tetapi di dalam buku lain ia mengatakan, menurut kaum sufi, yang
ada nanti ialah pembangkitan rohani dan pembangkitan jasmani tidak ada.
Dengan demikian
al-Ghazali juga tak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan kaum filosof
dalam pemikiran tentang tidak tahunya Tuhan tentang perincian di alam dan tidak
adanya pembangkitan jasmani. Ini bukanlah pendapat filosof, dan kelihatannya
adalah kesimpulan yang ditarik al-Ghazali dari filsafat mereka.
Dalam pada itu Ibn Rusyd,
sebagaimana filosof-filosof Islam lain, menegaskan bahwa antara agama dan
falsafat tidak ada pertentangan, karena keduanya membicarakan kebenaran, dan
kebenaran tak berlawanan dengan kebenaran. Kalau penelitian akal bertentangan
dengan teks wahyu dalam al-Qur'an maka dipakai ta'wil; wahyu diberi arti
majazi. Arti ta'wil ada1ah meninggalkan arti lafzi untuk pergi ke arti majazi.
Dengan kata lain, meninggalkan arti tersurat dan mengambil arti tersirat.
Tetapi arti tersirat tidak boleh disampaikan kepada kaum awam, karena mereka
tak dapat memahaminya.
Antara falsafat dan
agama Ibn Rusyd mengadakan harmoni. Dan dalam harmoni ini aka1 mempunyai
kedudukan tinggi. Pengharmonian aka1 dan wahyu ini sampai ke Eropa dan di sana dikenal dengan
averroisme. Sa1ah satu ajaran averroisme ia1ah kebenaran ganda, yang mengatakan
bahwa pendapat falsafat benar sungguhpun menurut agama sa1ah. Agama mempunyai
kebenarannya sendiri. Dan averroisme inilah yang menimbulkan pemikiran rasiona1
dan ilmiah di Eropa. Tak lama sesudah zaman Ibn Rusyd umat Islam di Spanyol
mengalami kemunduran besar dan kekuasaan luas Islam sebelumnya hanya tingga1 di
sekitar Granada
di tangan Banu Nasr. Pada tahun 1492 dinasti ini terpaksa menyerah kepada Raja
Ferdinand dari Castilia. Dengan hilangnya Islam dari Andalus atau di Spanyol,
hilang pulaah pemikiran rasional dan ilmiah dari dunia Islam bagian barat.
Di dunia Islam
bagian timur, kecuali di ka1angan Syi'ah, teologi tradisional al-Asy'ari dan
pendapat al-Ghazali bahwa jalan tasawuf untuk mencapai kebenaran adalah lebih
meyakinkan dari pada ja1an falsafat, terus berkembang. Hilanglah pemikiran
rasional, filosofis dan ilmiah dari dunia Islam sunni sehingga datang abad XIX
dan umat Islam dikejutkan oleh kemajuan Eropa dalam bidang pemikiran, falsafat
dan sains, sebagaimana disebut di atas, berkembang di Barat atas pengaruh
metode berfikir Ibn Rusyd yang disebut averroisme. Semenjak itu pemikiran
rasional mulai ditimbulkan oleh pemikir-pemikir pembaruan seperti al-Afghani,
Muhammad Abduh, Sayyid Ahmad Khan,dan lain-lain.

0 komentar:
Posting Komentar