KISAH NABI MUHAMMAD SAW
Ketika cahaya tauhid padam di
muka bumi, maka kegelapan yang tebal hampir saja menyelimuti akal. Di sana tidak tersisa
orang-orang yang bertauhid kecuali sedikit dari orang-orang yang masih
mempertahankan nilai-nilai ajaran tauhid. Maka Allah SWT berkehendak dengan
rahmat-Nya yang mulia untuk mengutus seorang rasul yang membawa ajaran langit
untuk mengakhiri penderitaan di tengah-tengah kehidupan. Dan ketika malam
mencekam, datanglah matahari para nabi. Kedatangan Nabi tersebut sebagai bukti
terkabulnya doa Nabi Ibrahim as kekasih Allah SWT, dan sebagai bukti kebenaran
berita gembira yang disampaikan oleh Nabi Isa as.
Allah SWT menyampaikan salawatnya
kepada Nabi itu, sebagai bentuk rahmat dan keberkahan. Para
malaikat pun menyampaikan salawat kepadanya sebagai bentuk pujian dan
permintaan ampunan, sedangkan orang-orang mukmin bersalawat kepadanya sebagai
bentuk penghormatan. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah dan
malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman,
bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya." (QS. al-Azhab: 56)
Sebelumnya Allah SWT mengutus
para nabi-Nya sebagai rahmat kepada kaum dan zaman mereka saja, namun Allah SWT
mengutus beliau saw sebagai rahmat bagi alam semesta. Beliau saw datang dengan
membawa rahmat yang mutlak untuk kaum di zamannya dan untuk seluruh zaman.
Allah SWT berfirman, "Dan aku tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat
bagi alam semesta."
Hakikat dakwah para nabi
sebelumnya adalah menyebarkan Islam, begitu juga ajaran yang dibawa oleh Nabi
yang terakhir adalah Islam. Beliau saw adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdul
Muthalib, anak seorang wanita Quraisy. Beliau saw adalah pemimpin anak-anak
Nabi Adam as. Beliau saw adalah hamba Allah SWT dan Rasul-Nya, serta
rahmat Allah SWT yang dihadiahkan kepada umat manusia.
Beliau saw lahir di tanah Arab.
Ketika itu malam gelap, tiba-tiba Abdul Muthalib membayangkan bahwa matahari
telah terbit, lalu ia bangun dan ternyata mendapati dirinya di pertengahan malam,
keheningan yang luar biasa menyelimuti gurun yang terbentang. Ia menuju pintu
kemah, lalu menyaksikan bintang-bintang bersinar di langit, dan dunia tampak di
selimuti dengan malam. Ia kembali menutup pintu kemah dan tidur. Belum lama ia
dikuasai oleh rasa kantuk yang amat sangat, sehingga ia kembali bermimpi untuk
kedua kalinya. Segala sesuatunya tampak jela s kali ini, Sesungguhnya sesuatu
yang besar memerintahnya untuk melaksanakan perintah yang sangat penting,
"Galilah zamzam!" Dalam mimpinya Abdul Muthalib bertanya:
"Apakah itu zamzam?" Kemudian untuk kedua kalinya perintah itu
mengatakan bahwa ia diperintahkan untuk menggali zamzam. Belum lama Abdul
Muthalib melihat sesuatu yang bersembunyi itu, sehingga ia berdiri di tempat
tidurnya dan hatinya berdebar dengan keras. Abdul Muthalib bangkit, lalu ia
membuka pintu kemah kemudian pergi ke gurun yang luas. Apakah arti zamzam?
Tiba-tiba pikirannya dipenuhi dengan cahaya yang datang dari jauh, bahwa pasti
zamzam adalah sebuah sumur, tetapi apa yang diinginkan oleh suara yang datang
dalam tidur itu agar ia menggali sumur, di sana tidak ada jawaban selain satu
jawaban dari pertanyaan ini, yaitu agar orang-orang yang berhaji dan
berkeliling di sekitar Ka'bah dapat meminumnya. Tetapi apa nilai dari sumur itu
sendiri, bukankah di sana
terdapat banyak sumur yang dapat diminum oleh orang-orang yang berhaji.
Abdul Muthalib duduk di
tengah-tengah pasir gurun pada pertengahan malam, ia memikirkan bintang-bintang
sembari merenungkan cerita-cerita kuno yang mengatakan tentang sumur yang
memancar darinya air sebagai akibat dari pukulan kaki Nabi Ismail as, di sana
juga ada cerita yang mengatakan bahwa sumur itu telah binasa sesuai dengan
perjalanan zaman.
Matahari terbit di atas gurun
Jazirah Arab, Abdul Muthalib keluar menemui orang-orang, dan menceritakan
kepada mereka bahwa ia akan menggali sebuah sumur di tempat tertentu, ia
menunjukkan ke tempat yang di situ ia diberitahu oleh suara yang ada dalam
mimpinya. Orang-orang Quraisy menolaknya, Sesungguhnya tempat yang diisyaratkan
oleh Abdul Muthalib terletak di antara dua berhala dari berhala-berhala yang
biasa disembah oleh masyarakat setempat, yaitu di antara berhala yang bernama
Ashaf dan NAllah. Abdul Muthalib merasa bahwa usahanya sia-sia untuk meyakinkan
kaumnya agar mengizinkannya untuk menggali sumur. Mereka mengetahui bahwa Abdul
Muthalib tidak mempunyai sesuatu selain hanya seorang anak. Bahwasanya ia tidak
memiliki anak-anak yang dapat menolong dan memperkuatnya serta melaksanakan
keinginan-keinginannya.
Pada saat itu di kawasan negeri
Arab dipenuhi dengan kabilah-kabilah yang terjalin suatu ikatan fanatisme atau
kesukuan yang kuat dan usaha untuk melindungi keluarga yang sangat menonjol.
Akhirnya Abdul Muthalib pergi dalam keadaan sedih, lalu ia berdiri di hadapan
Ka'bah dan mengungkapkan suatu nazar kepada Allah SWT. Ia berkata: "Jika
aku mendapat sepuluh anak laki-laki, dan mereka menginjak usia dewasa, sehingga
mereka mampu melindungiku saat aku menggali sumur Zamzam, maka aku akan
menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Ka'bah sebagai bentuk
korban."
Pintu langit pun terbuka untuk
doanya. Belum sampai berlangsung satu tahun, istrinya melahirkan anaknya yang
kedua dan setiap tahun ia melahirkan anak laki-laki sampai pada tahun yang
kesembilan, sehingga Abdul Muthalib mempunyai sepuluh anak laki-laki. Kemudian
berlalulah zaman dan anak-anak Abdul Muthalib menjadi besar.
Abdul Muthalib akhirnya menjadi
seseorang yang memiliki kemampuan. Kemudian Abdul Muthalib berusaha melakukan
rencananya yang diisyaratkan dalam mimpinya itu, yaitu ia bersiap-siap untuk
mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk pelaksanaannya dari nazarnya.
Maka dilakukanlah undian atas sepuluh anaknya, lalu keluarlah nama anaknya yang
paling kecil yaitu Abdullah. Ketika nama anak itu keluar dalam undian, maka
orang-orang yang ada disekitarnya berusaha memberontak, mereka mengatakan bahwa
mereka tidak akan membiarkan Abdullah disembelih.
Abdullah saat itu terkenal
sebagai seseorang yang bersih dikawasan Arab, ia telah dapat menarik simpati
masyarakat di sekitarnya. Ia tidak pernah menyakiti seseorang pun. Bahkan ia
tidak pernah meninggikan suaranya lebih dari orang lain. Senyuman khas Abdullah
terkenal sebagai senyuman yang paling lembut di kawasan Jazirah Arab. Muatan
ruhaninya demikian jernih, dan hatinya yang mulia menyerupai sebuah kebun di
tengah-tengah gurun hati-hati yang keras, oleh karena itu semua manusia datang
kepadanya dan menentang usaha penyembelihannya. Para pembesar Quraisy berkata,
"Lebih baik kami menyembelih anak-anak kami daripada ia harus disembelih,
dan menjadikan anak-anak kami sebagai tebusan baginya. Kami tidak akan
menemukan seseorang pun yang lebih baik dari dia seandainya kami
menyembelihnya, pertimbangkanlah kembali masalah itu, dan biarkan kami bertanya
kepada dukun."
Abdul Muthalib tampak tidak mampu
menghadapi tekanan ini, lalu ia mempertimbangkan kembali apa yang telah
ditetapkannya. Kemudian mereka mendatangi seorang dukun. Si dukun berkata:
"Berapakah taruhan yang kalian miliki?" Mereka menjawab: "Sepuluh
ekor unta." Dukun itu berkata: "Datangkanlah sepuluh unta, lalu
lakukanlah kembali undian atasnya dan atas nama Abdullah, jika undian datang
padanya, maka tambahlah sepuluh ekor unta lagi, lalu ulangilah terus undian
tersebut, demikian hingga tidak keluar lagi nama Abdullah."
Kemudian dilakukanlah undian atas
nama Abdullah dan atas sepuluh ekor unta yang besar. Undian itu pun
mengeluarkan terus nama Abdullah, hingga Abdul Muthalib menambah sepuluh ekor
unta lagi, kemudian lagi-lagi yang keluar nama Abdullah sehingga mereka pun
menambah sepuluh ekor unta lagi sampai jumlah unta itu telah mencapai seratus
ekor unta. Setelah itu, datanglah nama unta tersebut. Maka saat itu, masyarakat
demikian gembiranya sehingga berlinangan air mata, kegembiraan dari mereka karena
melihat Abdullah berhasil diselamatkan. Kemudian disembelihlah seratus ekor
unta di sisi Ka'bah, dan mereka membiarkannya di situ sehingga korban itu tidak
disentuh oleh seseorang pun dan juga disentuh oleh binatang-binatang buas.
Abdul Muthalib sangat gembira
atas keselamatan anaknya, Abdullah. Lalu ia menetapkan untuk menikahkannya
dengan gadis terbaik di Jazirah Arab, kemudian ia keluar dengannya pada suatu
hari dari Ka'bah ke rumah Wahab, dan di sana ia meminang untuknya Aminah binti
Wahab. Kemudian Aminah binti Wahab menikah dengan Abdullah bin Abdul Muthalib,
seorang pemuda yang paling mulia dan paling dicintai oleh orang-orang Quraisy.
Dinyalakanlah api-api di
gunung-gunung Mekah, agar para musafir dan para tamu mengetahui tempat
diadakannya acara tersebut, yaitu acara pernikahan antara Abdullah dan Aminah.
Lalu disembelihlah hewan-hewan korban, dan manusia dari kalangan orang-orang
fakir bahkan binatang-binatang buas dan burung makan darinya. Abdullah tinggal
bersama istrinya dua bulan di rumah pernikahan, hingga suatu hari ada kabar
bahwa kafilah akan berangkat, lalu Abdullah pun mengikuti kafilah tersebut dan
melakukan perjalanan bersama kafilah perdagangan Quraisy menuju Syam, itu
adalah kesempatan terakhir yang diperoleh Aminah binti Wahab bersamanya. Wajah
Abdullah yang mulai tampak berseri-seri mengucapkan selamat tinggal kepada
Aminah, lalu setelah itu bayang-bayang wajahnya tersembunyi bersama kafilah dan
rnereka pun hilang. Aminah tidak mengetahui bahwa itu adalah kesempatan
terakhirnya setelah dua bulan dari perkawinannya. Abdullah mengunjungi
paman-pamannya dari kabilah bani Najar di Madinah, dan di sana ia meletakkan
jasadnya di muka bumi, ia meninggal dunia.
Abdullah bin Abdul Muthalib kini
telah meninggal. Saat itu ia berusia
dua puluh lima tahun. Kabar kematiannya tiba-tiba tersebar dan sangat memilukan
hati orang-orang yang mendengarnya, sehingga kabar itu sampai ke istrinya.
Aminah tampak menangis tersedu-sedu dan ia tampak menyampaikan
pertanyaan-pertanyaan pada dirinya dan tidak mengetahui jawabannya, mengapa
Allah SWT menebusnya dengan seratus unta jika kemudian Dia menetapkan kematian
baginya.
Tidak lama kemudian, lalu bergeraklah dirahimnya janin
dengan gerakan yang sedikit, ia tampak mulai mengetahui bahwa ia sedang hamil.
Aminah menangis dua kali, pertama ia menangis untuk dirinya sendiri dan kali
ini ia menangis untuk anak yang ditinggal mati ayahnya sebelum ia sempat
dilahirkan. Aminah tidak pernah mengetahui sebelumnya bahwa janin yang
dikandungnya akan menjadi anak yatim, ayahnya meninggal saat ia dilahirkan.
Anak yatim ini harus menanggung beban anak-anak yatim
dan orang-orang fakir serta orang-orang yang sedih di muka bumi. Ia akan
menjadi Nabi yang terakhir dan rasul-Nya kepada manusia. Ia akan menjadi rahmat
yang dihadiahkan kepada manusia dan tidak akan mengetahui makna rahmat kecuali
orang yang merasakan penderitaan dan kepahitan. Inilah anak kecil yang sebelum
dilahirkan telah menelan kesedihan. Dan berlalulah hari demi hari, lalu
hilanglah tangisan penderitaan dan mata Aminah pun telah mengering, namun
kesedihannya tampak menyerupai sebuah pohon yang turnbuh bersama kehausan.
Kemudian kesedihannya hari demi hari semakin ia
rasakan tetapi kesedihannya itu mulai tidak tampak ketika ia mendapatkan bahwa
janin yang dikandungnya tidaklah memberatkannya, sebaliknya ia merasakan betapa
ringannya janin yang dikandungnya bagaikan merpati yang berkeliling di seputar
Ka'bah, dan seandainya kesedihannya yang selalu mengitarinya, maka tidak ada
wanita yang lebih bahagia darinya dengan kehamilan yang ringan ini. Janin itu
adalah manusia yang mulia di sisi Tuhan, kemudian semakin dekatlah hari
kelahirannya. Sementara itu, pasukan Abrahahh mendekati Mekah.
Abrahahh adalah seorang penguasa Yaman, yaitu pada
saat Yaman tunduk kepada Habasyah setelah penguasa Persia diusir. Di Yaman ia
membangun suatu gereja yang menunjukkan bangunan yang menakjubkan. Abrahahh
membangunnya dengan niat agar orang-orang Arab berpaling dari Baitul Haram di
Mekah. Ia melihat betapa orang-orang Yaman tertarik
dengan rumah tersebut. Dan ketika ia tidak melihat gereja yang dibangunnya
memiliki daya tarik seperti itu dan tidak mampu menarik hati orang-orang Arab,
maka ia berkeinginan kuat untuk menghancurkan Ka'bah, sehingga orang-orang
tidak menuju ke Ka'bah lagi melainkan ke gerejanya. Demikianlah akhirnya ia
menyiapkan pasukan yang besar yang dipenuhi dengan berbagai senjata, kemudian
pasukan itu menuju Ka'bah.
Pasukan
Abrahahh terdiri dari kelompok gajah yang besar yang digunakannya untuk
menghancurkan Ka'bah. Gajah-gajah itu bagaikan tank-tank yang kita gunakan saat
ini. Orang-orang Arab pun mendengar rencana tersebut. Memang orang-orang Arab
saat itu terkenal sebagai penyembah berhala, meskipun demikian mereka sangat
memberikan penghargaan dan penghormatan terhadap Ka'bah, karena mereka meyakini
bahwa mereka adalah anak-anak Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as pemelihara
Ka'bah.
Perjalanan
pasukan tiba-tiba dihadang oleh seorang lelaki yang mulia dari penduduk Yaman
yang bernama Dunaher. Ia mengajak kaumnya dan dari kalangan orang-orang Arab
untuk memerangi Abrahahh, sehingga ada beberapa orang yang mengikutinya.
Abrahahh berhadapan dengan tentara tersebut tetapi pasukan yang sedikit itu
dapat dengan mudah dipatahkan oleh pasukan kafir yang besar itu. Kemudian Dunaher
pun kalah dan menjadi tawanan Abrahahh. Pasukan Abrahahh tersebut juga sempat
ditentang oleh Nufail bin Hubaid al-Aslami, namun Abrahahh pun dapat
mengalahkan mereka dan berhasil menawan Nufail.
Kemudian
ketika Abrahahh melewati kota Taif, menghadaplah kepadanya beberapa orang tokoh
setempat, dan mereka tampak gemetar ketakutan dan berkata kepadanya bahwa
sesungguhnya 'rumah' yang ditujunya tidak berada di tempat mereka, tetapi
berada di Mekah. Hal itu mereka sampaikan dengan maksud untuk memalingkannya
dari rumah berhala mereka, di mana mereka membangun di dalamnya berhala yang
bernama Latha kemudian mereka mengutus seseorang yang akan menunjukkan kepada
Abrahahh letak Ka'bah. Ketika Abrahahh berada di antara Taif dan Mekah, ia
mengutus seorang pemimpin pasukannya sehingga ia melihat keadaan Mekah. Di sana
ia merampas banyak harta dari kaum Quraisy dan selain mereka, dan di antara
yang dirampasnya adalah dua ratus unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim. Saat
itu Abdul Muthalib adalah salah seorang pembesar Quraisy dan pemimpin mereka,
serta pengawas sumur Zamzam.
Kedatangan
utusan Abrahahh di Mekah telah menimbulkan gejolak pada kabilah-kabilah.
Akhirnya kaum Quraisy bergerak, begitu juga kaum Khananah. Kemudian mereka
mengetahui bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk melawan Abrahahh,
sehingga mereka membiarkannya, lalu tersebarlah di Jazirah Arab berita tentang
datangnya pasukan yang kuat yang sulit untuk ditandingi. Dalam surat yang
dibawa oleh utusannya itu, Abrahahh menyampaikan bahwa ia tidak datang untuk
memerangi mereka, namun ia datang hanya untuk menghancurkan Ka'bah. Jika mereka
tidak menentangnya, maka darah mereka tidak akan ditumpahkan. Lalu utusan itu
menemui Abdul Muthalib, ia menceritakan tentang keinginan Abrahahh. Abdul
Muthalib berkata: "Kami tidak ingin memeranginya karena kami tidak
memiliki kekuatan. Ka'bah adalah rumah Allah SWT yang mulia dan suci, dan rumah
kekasih-Nya Ibrahim. Jika Ia mencegahnya, maka itu adalah rumah-Nya dan tempat
suci-Nya, namun jika Ia membiarkannya, maka demi Allah kami tidak memiliki
kekuatan untuk mempertahankannya." Kemudianutusan itu pergi bersama Abdul
Mutihalib menuju Abrahahh.
Abdul
Muthalib adalah seseorang yang sangat terpandang dan sangat mulia. Ia memiliki
kewibawaan dan kehormatan yang mengagumkan. Ketika Abrahahh melihatnya,
Abrahahh menampakkan penghormatan kepadanya. Abrahahh memuliakannya dan
mendudukannya di bawahnya, ia tidak suka bahwa ia duduk bersamanya di kursi
kekuasaannya. Lalu Abrahahh turun dari kursinya dan duduk di atas sebuah permadani
dan mendudukkan Abdul Muthalib di sisinya. Kemudian ia berkata kepada
penerjemahnya: "Katakan padanya apa kebutuhannya?" Abdul Muthalib
berkata: "Kebutuhanku adalah agar Abrahahh mengembalikan dua ratus ekor
unta yang diambilnya dariku" Ketika Abdul Muthalib mengatakan demikian,
wajah Abrahahh berubah, lalu ia berkata kepada penerjemahnya: "Katakan
padanya sungguh aku merasa kagum ketika melihatnya, kemudian aku merasakan
kehati-hatian saat berbicara dengannya, apakah engkau berbicara denganku tentang
dua ratus ekor unta yang telah aku ambil, lalu engkau membiarkan rumah yang
merupakan simbol agamanya dan kakek-kakeknya, yang aku datang untuk
menghancurkannya dan dia tidak menyinggungnya sama sekali" Abdul Muthalib
menjawab: "Aku adalah pemilik unta, sedangkan pemilik rumah itu adalah
Tuhan yang melindunginya." Abrahahh berkata: "Dia tidak akan mampu
melindunginya dariku." Abdul Muthalib menjawab: "Lihat saja
nanti!"
Selesailah
dialog antara Abdul Muthalib dan Abrahahh. Abrahahh pun mengembalikan unta yang
telah dirampasnya. Abdul Muthalib pergi menemui orang-orang Quraisy dan
menceritakan apa yang dialaminya, dan ia memerintahkan mereka untuk
meninggalkan Mekah dan berlindung dibalik gua-gua di gunung. Akhirnya kota
Mekah dikosongkan oleh pemiliknya. Aminah binti Wahab keluar ke gunung-gunung
di dekat kota Mekah kemudian malaikat turun di bumi Jarzirah Arab.
Abdul
Muthalib berdiri dan memegangi pintu Ka'bah dan berdiri bersama dengan
sekelompok orang-orang Quraisy, mereka berdoa kepada Allah SWT dan meminta
perlindungan-Nya, agar para malaikat memerintahkan gajah-gajah tidak
melangkahkan kakinya sehingga gajah itu pun tetap di tempatnya dan menaati
perintah para malaikat, kemudian gajah-gajah itu menerima pukulan yang dahsyat
namun gajah-gajah itu tetap berdiam di tempatnya, gajah-gajah itu tampak
gemetar dan berteriak tetapi lagi-lagi gajah-gajah itu menolak untuk bergerak
dan tidak bergerak selangkah pun. Abrahahh bertanya: "Mengapa pasukan
tidak bergerak?" Kemudian dikatakan kepadanya bahwa gajah-gajah menolak
untuk bergerak. Abrahah mengangkat cemetinya. Dengan muka emosi, ia ingin
melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan gajah-gajahnya.
Matahari
saat itu bersinar dan ia duduk di kemahnya. Ketika ia keluar, matahari
bersembunyi di balik segerombolan burung. Abrahah mengangkat pandangannya ke
arah langit. Mula-mula ia membayangkan bahwa ia melihat sekawanan awan yang
hitam. Kemudian ia mengamat-amati awan itu. Dan ternyata ia bukan awan biasa.
Itu adalah sekelompok burung yang menutupi cahaya matahari dan menyerupai awan
yang tebal. Burung ababil, burung yang banyak.
Gajah-gajah
semakin berteriak dengan kencang dan tampak ketakutan. Dan rasa takut itu kini
menghinggapi seluruh pasukan. Abrahah berteriak di tengah-tengah pasukannya
agar gajah diusahakan untuk maju secara paksa. Kemudian terbukalah salah satu
jendela dari jendela al-Jahim, dan burung-burung itu menghujani pasukan dengan
batu dari Sijil, yaitu batu yang sama yang pernah dihujankan kepada kaum Nabi
Luth. Batu itu menyerupai bom-bom atom yang digunakan saat ini.
Jika
Anda membaca buku-buku kuno, maka Anda akan mengetahui bagaimana peristiwa yang
menimpa pasukan Abrahah. Anda akan membayangkan bahwa Anda berada di hadapan
suatu kekuatan yang menghancurkan yang tidak diketahui asal muasalnya. Dunia
mengenali sebagian darinya setelah empat belas abad dari peristiwa tersebut.
Buku-buku itu mengatakan bahwa pasukan itu dihancurkan dengan penghancuran yang
dahsyat.
Para
tentara Abrahah kembali dalam keadaan binasa di mana daging-daging dari tubuh
mereka berceceran di jalan. Abrahah pun mendapatkan luka dan mereka keluar dari
tempat itu dalam keadaan dagingnya terpisah satu persatu. Abrahah pun terbelah
dadanya dan mati. Kemudian jasad para pasukannya tersebar dan berceceran di
bumi, seperti tanaman yang dimakan oleh binatang. Setelah mendekati setengah
abad, turunlah suatu surah di Mekah yang menceritakan tentang peristiwa itu:
"Apakah kamu tidak memperhatikan bagimana Tuhanmu
telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya
mereka (untuk menghancurkan Ka 'bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada
mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu
(berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadihan mereka seperti daun
yang dimakan (ulat)." (QS. al-Fil:
1-5)
Pasukan
gajah yang ingin memporak-porandakan Mekah dikalahkan. Kemudian mereka
dihancurkan dan Tuhan pemilik Ka'bah berhasil melindungi rumah suci-Nya.
Perlindungan tersebut bukan sebagai penghormatan bagi orang yang tinggal di
rumah itu dan bukan sebagai bentuk pengkabulan doa kaum yang menyembah berhala
yang memenuhi tempat itu. Allah SWT sebagai Pelindung Ka'bah memeliharanya
karena adanya hikmah yang tinggi; Allah SWT menginginkan sesuatu bagi rumah
itu; Allah SWT ingin melindunginya agar tempat itu menjadi tempat yang damai
bagi manusia dan supaya tempat itu menjadi pusat dari akidah yang baru dan
menjadi tanah bebas yang aman, yang tidak dikuasai oleh seseorang pun dari luar
dan juga tidak didominasi oleh pemerintahan asing yang akan membatasi dakwah.
Yang demikian itu karena di sana terdapat rumah dari rumah-rumah di Mekah yang
lahir di sana seorang anak di mana ibunya bernama Aminah binti Wahab dan
ayahnya adalah Abdullah, salah seorang tokoh Arab. Anak itu belum dilahirkan
dan belum dapat tugas kenabian dan ia belum memikul Islam di atas pundaknya dan
belum menjadi rahmat bagi alam semesta. Kemudian datanglah Abrahah yang ingin
menghancurkan semua ini tanpa ia mengetahui semua rahasia ini.
Tragedi
yang menimpa Abrahah adalah karena bahwa ia berusaha menentang kehendak Ilahi
sehingga kehendak Ilahi itu menghancurkannya dengan mukjizat yang mengagumkan.
Datanglah banyak burung dengan membawa batu-batuan yang tidak didengar
suaranya. Kemudian burung-burung melemparkan batu-batu itu kepada Abrahah
beserta tentaranya. Semua ini berdasarkan rencana Ilahi terhadap rumah-Nya dan
agama-Nya serta nabi-Nya sebelum orang mengetahui bahwa Nabi Islam telah
bersiap-siap untuk meninggalkan tempat tidurnya di perut ibunya dan mulai
memasuki kehidupan yang keras di muka bumi.
Di
tengah-tengah kegembiraan Mekah karena keselamatan penghuninya dan selamatnya
Ka'bah, Aminah binti Wahab bermimpi: di tengah suatu malam ia menyaksikan
dirinya berdiri sendirian di tengah-tengah gurun, dan telah keluar dari dirinya
suatu cahaya besar yang menyinari timur dan barat dan terbentang hingga langit.
Aminah tiba-tiba terbangun dari tidurnya namun ia tidak mengetahui tafsir dari
mimpinya.
Berlalulah
hari demi hari dari tahun gajah. Dan pada waktu sahur dari malam Senin hari keduabelas
dari bulan Rabiul Awal, Aminah melahirkan seorang anak kecil yang yatim yang
bernama Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib, seorang cucu dari Ismail bin
Ibrahim bin Adam.
Sebelum
ia dilahirkan, dunia mati karena kehausan padanya. Kehausan dunia sangat besar
kepada cinta, rahmat, dan keadilan. Sekarang teiah berlalu 600 tahun dari
kelahiran al-Masih dan orang-orang Masehi telah menjauhi ajaran cinta, bahkan
keyakinan-keyakinan berhalaisme telah meresap kepada sebagian kelompok mereka
dan kejernihan ajaran tauhid telah ternodai. Sedangkan orang-orang Yahudi telah
meninggalkan wasiat-wasiat Musa dan mereka kembali menyembah lembu yang terbuat
dari emas. Dan setiap orang dari mereka lebih memilih untuk memiliki lembu emas
yang khusus. Demikianlah, berhalaisme telah menyerang di bumi. Bumi dipenuhi
oleh kegelapan. Akal disingkirkan dan Tuhan diiupakan dan mereka menyerahkan
diri mereka kepada pembohong.
Ketika
jantung dunia telah terkena kekeringan, maka memancarlah dari timur suatu mata
air keimanan yang jernih yang menjadi puas dengannya separo dunia. Dan mukjizat
besar terjadi ketika mata air ini mengeluarkan air yang jernih dari jantung
gurun yang paling besar ketandusannya di dunia, yaitu gurun jazirah Arab.
Berkenaan dengan penggambaran masa tersebut, dalam hadis yang mulia dikatakan:
"Sesungguhnya Allah melihat penduduk bumi lalu Dia murka kepada mereka,
baik orang-orang Arab maupun orang-orang Ajam kecuali sebagian kecil dari
Ahlulkitab."
Di
tenda yang kasar, lahirlah seorang anak yatim yang kemudian bertanggung jawab
untuk memberikan minum kepada dunia yang haus pada cinta, keadilan, kebebasan,
serta kebenaran. Sementara itu, beberapa langkah dari tempat kelahirannya
terdapat berhala-berhala yang memenuhi Baitul 'Athiq dan sekitar Ka'bah yang dibangun
oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail agar menjadi rumah Allah SWT dan Dia disembah
di dalamnya dan manusia merasa tenteram di dalamnya. Di rumah yang kuno
ini—yang dibangun sebelumnya oleh Adam—dipenuhi patung-patung tuhan yang
terbuat dari batu dan kayu. Ini menunjukkan betapa akal orang-orang Arab saat
itu mengalami titik terendah.
Sementara
itu nun jauh di sana, tepatnya di Yatsrib atau Madinah dipenuhi oleh
orang-orang Yahudi yang mereka datang di sana karena melarikan diri dari
penindasan orang-orang Romawi. Mereka tinggal di situ bagaikan srigala-srigala
di atas tanah yang tersubur di mana mereka melakukan monopoli dalam
perdagangan. Mereka membagun kejayaan mereka dengan memanfaatkan orang-orang
Arab dan keheranan mereka terhadap diri mereka sendiri.
Para
cendikiawan Yahudi memperdagangkan segala sesuatu, dimulai dari emas sampai
Taurat. Mereka menyembunyikan kertas-kertas darinya dan menampakkan
sebagiannya; mereka mengubah kertas-kertas Taurat itu untuk memperkaya diri
mereka. Pada saat orang-orang Yahudi menyembah emas dan sangat lihai melakukan
persekongkolan, orang-orang Arab justru menyembah batu dan mereka pandai
berperang. Mereka juga lihai dalam membuat syair lalu menggantungkannya di atas
tirai-tirai Ka'bah. Orang-orang Arab hidup di bawah naungan sistem kesukuan di
mana kepala suku adalah pemimpin dan nilainya sebanding dengan anak buahnya,
dan kemampuan mereka dalam berperang. Dan keutamaan seseorang dilihat dari asal
muasalnya serta nilainya juga dilihat dari kefanatikannya serta kebanggannya
kepada nasab yang merupakan kemuliannya, juga kefanatikannya terhadap berhala
tertentu yang merupakan agamanya. Jadi, segala bentuk kemuliaan dan kewibawaan
tidak terbentuk kecuali dalam ruang lingkup yang sempit dalam kabilah atau
kesukuan.
Sedangkan
di tempat yang jauh dari Mekah, Romawi menyerupai burung rajawali yang lemah,
namun belum sampai kehilangan kekuatannya. Orang-orang Romawi sangat menyanjung
kekuatan. Sedangkan di belahan timur dari utara negeri Arab, orang-orang Persia
menyembah api dan air. Api tetap menyala di tempat peribadatan mereka di mana
manusia rukuk untuknya. Dan di sana terdapat danau Sawah yang dianggap suci
oleh mereka.
Sementara
itu, Kisra, raja kaum Persia duduk di atas singgasananya dan memberikan
keputusan terhadap manusia. Keputusan Kisra selalu didengar dan dilaksanakan.
Tidak ada seorang pun yang berani menentangnya dan menolaknya. Orang-orang
Persia berhasil mengalahkan Romawi dan Yunani, sehingga mereka menjadi kekuatan
yang dahsyat di muka bumi. Meskipun mereka memiliki kekuatan yang sangat luar
biasa, namun penyembahan api jelas-jelas menunjukkan betapa bodohnya mereka dan
betapa kekuatan mereka diliputi oleh kebodohan sehingga akal mereka tercabut
dan mereka terhalangi untuk mencapai kebenaran. Alhasil, kegelapan semakin
meningkat di setiap penjuru bumi dan kehidupan berubah menjadi hutan yang lebat
di mana di dalamnya seorang yang kuat akan menyingkirkan seorang yang lemah dan
di dalamnya yang menang adalah kebatilan.
Di
tengah-tengah suasana yang demikian kelam, lahirlah seorang anak di tenda
Mekah. Ketika anak tersebut lahir, maka padamlah api yang disembah oleh kaum
Persia dan keringlah danau Sawah yang disucikan oleh manusia, bahkan robohlah
empat belas loteng dari istana Kisra. Dan setan merasa bahwa penderitaan yang
besar telah merobek-robek hatinya. Ini semua sebagai simbol dimulainya
kehancuran kejahatan atau keburukan di muka bumi dan terbebasnya akal manusia
dari penyembahan terhadap sesama manusia atau terhadap hal-hal yang bersifat
khurafat. Manusia diajak hanya untuk menyembah kepada Allah SWT. Kelahiran
Rasul sebagai bukti hilangnya kelaliman, sebagaimana kelahiran Nabi Musa yang
menunjukkan kebebasan Bani Israil dari kelaliman Fir'aun.
Ajaran
Muhammad bin Abdillah merupakan ajaran revolusi yang paling meyakinkan dan yang
paling penting yang pernah dikenal di dunia; ajaran yang bertugas untuk
menyelamatkan dan membebaskan akal dan materi. Tentara Al-Qur'an adalah tentara
yang paling adil dan paling berani untuk menghancurkan orang-orang yang lalim.
Kita akan melihat dalam sejarah Nabi bahwa kejadian-kejadian luar biasa telah
mengelilingi Ka'bah sebelum kelahirannya. Kemudian terjadilah peristiwa luar
biasa setelah kelahirannya di mana terjadilah peristiwa pembelahan dada pada
saat beliau masih kecil, begitu juga beliau dinaungi oleh awan di waktu kecil,
bahkan beliau terkenal pada saat masih kecil dengan kecenderungan untuk
meninggalkan permainan-permainan yang biasa dimainkan oleh anak-anak kecil
seusia beliau. Allah SWT memberikan penjagaan khusus kepadanya sehingga Jibril
as turun kepadanya dengan membawa wahyu.
Selanjutnya,
mukjizatnya yang pertama adalah mukjizat yang terdapat pada kepribadiannya dan
pemikiran-pemikirannya. Itulah yang menjadi mukjizatnya yang terbesar setelah
Al-Qur'an; itu adalah bangunan ruhani yang tinggi di mana beliau mampu menahan
penderitaan di jalan Allah SWT. Dan dalam menegakkan kebenaran, beliau memikul
berbagai macam rintangan. Beliau melaksanakan amanat yang diembannya secara
sempuma dan sebaik-baik mungkin. Hal yang indah yang dikatakan tentang mukjizat
Nabi setelah diutusnya beliau adalah bahwa beliau tidak mempunyai mukjizat
selain usaha membebaskan akal: tanpa memiliki kekuatan luar biasa selain
membebaskan pikiran, tanpa dalil selain kalimat Allah SWT.
Sedangkan
Isa bin Maryam telah berdakwah dan mengajak manusia untuk menciptakan kesamaan,
persaudaraan, dan cinta kasih di antara mereka, namun Muhammad saw diberi
karunia untuk mewujudkan persamaan, persaudaraan, dan cinta kasih di antara
orang-orang mukmin di tengah-tengah kehidupannya dan setelah kehidupannya.
Ketika
Nabi Isa mampu menghidupkan orang-orang yang mati dan mengeluarkan mereka dari
kuburan, Muhammad bin Abdillah menghidupkan orang-orang hidup dari kematian
mereka yang tidak pernah mereka sadari. Itu adalah bentuk kematian yang paling
berat. Beliau juga mengeluarkan rnereka dari kegelapan dan kebodohan menuju
cahaya ilmu, dan dari belenggu syirik dan kekufuran menuju dunia tauhid.
Sulaiman
sebagai seorang Nabi dan raja mampu memperkerjakan jin untuk mengabdi padanya,
bahkan mereka mampu terbang beribu-ribu mil untuk menghadirkan singgasana
musuh-musuhnya agar mereka semua tercengang terhadap kemampuannya, sehingga
mereka masuk Islam. Namun Muhammad saw justru mengabdi kepada Islam hanya
sebagai seorang tentara yang sederhana. Beliau mengetahui bahwa ketika beliau
lalai sesaat saja dari dakwah di jalan Allah SWT, maka kesempatannya dalam
menyebarkan agama Islam akan hilang.
Di
saat terjadi peristiwa besar dalam peperangan, tiba-tiba azan salat
dikumandangkan, sehingga para pasukan yang berperang mengerjakan salat. Tidak
ada malaikat yang turun untuk melindungi mereka ketika salat atau mencegah
datangnya anak-anak panah dari punggung mereka saat sujud. Karena itu,
hendaklah para pasukan melindungi dirinya sendiri. Para pasukan mukmin berusaha
salat secara bergantian: sebagian mereka salat dan sebagian mereka bertugas
untuk menjaga.
Allah
SWT berfirman:
"Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka
(sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka
hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang
senjata, kemudian apabila mereka sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka
hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah
datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah
mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.
Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu,
lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus."(QS. an-Nisa': 102)
Selesailah
masalah itu dan tidak adak malaikat yang turun untuk melindunginya dan
menolongnya. Ini adalah masa kematangan akal dan masa keletihan para nabi dan
orang-orang mukmin. Dan sesuai kadar keletihan mereka dalam menyampaikan ajaran
Islam, mereka pun akan mendapatkan balasan yang besar.
Pada
masa para nabi sebelum Nabi Muhammad saw, mereka menghadirkan mukjizat-mukjizat
kepada kaum mereka saat memulai dakwah, sehingga kaum tersebut mempercayai apa
saja yang mereka bawa, sedangkan Nabi Muhammad bin Abdillah tidak menghadirkan
kepada kaumnya selain dirinya dan ketulusannya.
Allah
SWT telah memutuskan untuk melindungi Musa dan memerintahkannya untuk
mengangkat gunung di atas kaumnya hingga mereka beriman kepada Taurat, atau
untuk menjatuhkan gunung tersebut di atas mereka. Ketika mengetahui hal yang
Demikian itu, orang-orang Yahudi sujud dengan meletakkan pipi mereka di atas
tanah dan mereka mengamati bukit batu yang berada di atas kepala mereka yang
diangkat oleh tangan yang tersembunyi. Sedangkan Nabi Muhammad bin Abdillah tak
pernah memaksa seseorang pun. Berimanlah beberapa orang kepadanya dan puaslah
beberapa orang kepadanya dan matilah bersamanya orang-orang yang mati dalam
keadaan puas. Beliau tidak membawa pedang kecuali saat panah yang beracun
mendekati jantung Islam dan mengancamnya.
Dakwah
para nabi menuntut terjadinya mukjizat demi mukjizat. Ini karena masa
kekanak-kanakan manusia serta kelemahan akal dan hilangnya panca indera
menuntut rahmat Allah SWT untuk mendatangkan mukjizat yang sesuai dengan masa
turunnya mukjizat tersebut dan budaya masyarakat setempat. Adalah hal yang
maklum bahwa di tengah-tengah penduduk Mekah saat itu tidak terdapat
orang-orang yang cerdas atau orang-orang yang bijak yang mampu menyerap
kata-kata yang baik. Dan kesulitan yang dihadapi oleh Islam adalah bahwa ia
tidak diturankan pada masa ini saja, tetapi Islam diturunkan untuk setiap masa.
Allah SWT mengetahui bahwa manusia telah memasuki masa kematangan berpikir yang
mengagumkan, maka hikmah-Nya menuntut bahwa pernyataan yang pertama kali
disebutkan dalam risalah-Nya adalah "iqra'" (bacalah). Di
samping itu, risalah tersebut mengandung pemikiran yang universal, sistem yang
membangun, dan hukum yang mempesona, serta kebebasan yang diidamkan, dan manusia
yang sempurna.
Adalah
tidak mengurangi kehormatan para nabi sebelum Nabi Muhammad saw di mana mereka
tidak diutus di masa-masa kematangan pemikiran, tetapi yang menambah kehormatan
Nabi Muhammad saw bahwa beliau diutus di tengah-tengah masa kematangan
berpikir, dan beliau diutus sebelum datangnya masa ini. Beliau memikul berbagai
lipat cobaan yang pernah dipikul oleh para nabi; beliau berdakwah dengan
menanggung berbagai lipat godaan dan cobaan; beliau mengalami siksaan yang
pernah dialami oleh semua para nabi; beliau mencintai Allah SWT sebagaimana
para nabi mencintai-Nya. Allah SWT memuliakannya ketika beliau mengimami mereka
di saat salat pada saat beliau melakukan Isra' dan Mi'raj. Meskipun demikian,
ketika beliau keluar pada suatu hari menemui sahabat-sahabatnya dan mendapati
mereka mengutamakan para nabi dan mendahulukannya atas mereka, maka beliau
justru menampakkan kemarahan dan wajahnya berubah. Beliau berkata:
"Janganlah kalian mengutamakan aku atas Yunus bin Mata."
Melalui
pernyataan itu, beliau berusaha meletakkan suatu pondasi pemikiran yang harus
dilalui oleh kaum Muslim di mana para nabi memang memiliki derajat tertentu di
sisi Allah SWT. Boleh jadi ada nabi yang lebih afdal atau yang lebih mulia
daripada yang lain. Siapakah yang menetapkan hal itu? Tidak ada seorang pun
selain Allah SWT. Ada pun kaum Muslim hendaklah mereka berhenti pada batas
tertentu yang seharusnya mereka berikan berkaitan dengan sopan santun terhadap
para nabi. Selama Allah SWT menyampaikan shalawat kepada rasul sebagai bentuk
penghormatan dan memerintahkan mereka untuk menyampaikan shalawat kepadanya,
dan selama Rasulullah seperti nabi-nabi yang lain, maka hendaklah mereka juga
bershalawat kepada semua nabi tanpa perbedaan, meskipun pada bentuk shalawat
itu sendiri.
Sementara
itu, bayi yang mungil itu yang lahir di Mekah bergerak setelah tahun gajah.
Kemudian berita tersebar di sana sini dan Sampailah ke telinga kakeknya bahwa
cucunya telah dilahirkan. Abdul Muthalib segera menuju ke tempat itu dan
membawa cucunya yang yatim lalu berkeliling dengannya di Ka'bah sambil
memikirkan namanya. Abdul Muthalib tidak merasa terpukau dengan nama-nama yang
mulai beredar di benaknya. Ia tampak bingung menentukan nama yang paling tepat
buat cucunya, bahkan kebingungannya itu berlanjut sampai enam hari, sehingga
sang Nabi disunat. Ketika malam telah menyelimuti kawasan Mekah, datanglah
kepadanya suara yang sama yang dulu pernah dilihatnya dan didengarnya yang
memerintahkannya untuk menggali zamzam. Di tengah-tengah tidurnya, suara itu membisikkan
kepadanya bahwa nama cucunya berasal dari al-Ham, yang berarti Muhammad
atau Ahmad.
Orang-orang
Quraisy bertanya kepada Abdul Muthalib: "Nama apa yang engkau berikan
kepada cucumu?" Abdul Muthalib menjawab sambil mengingat bisikan suara
yang didengarnya saat mimpi, "Muhammad." Nama tersebut sebenamya
tidak umum di kalangan orang-orang Jahilliyah. Mereka bertanya, "Mengapa
Abdul Muthalib tidak memakai narna-nama kakek-kakeknya dan nama-nama yang biasa
dipakai di kalangan mereka." Abdul Muthalib menjawab: "Aku ingin
Allah SWT memujinya di langit dan manusia memujinya di bumi."
Kami
tidak mengetahui dorongan apa yang mendikte Abdul Muthalib untuk menyatakan
kalimat tersebut. Apakah kalimat itu bersumber dari realitas kebanggaan
orang-orang Arab yang populer atau berasal dari realitas kebanggaan
tradisional? Atau, apakah berangkat dari realitas kegembiraan yang dalam dengan
kelahiran si cucu, ataukah kalimat itu bersumber dari suasana ruhani yang
jernih dan bisikan alam gaib? Tentu kami tidak bisa menjawab. Yang dapat kami
ketahui adalah bahwa seseorang tidak akan layak menyandang predikat manusia
yang dipuji di bumi dan dipuji oleh Allah SWT di langit seperti predikat yang
disandang oleh Muhammad bin Abdillah.
Nabi
Muhammad saw muncul ke alam wujud dalam keadaan yatim. Beliau ditinggalkan oleh
ayahnya saat beliau masih janin di dalam perut ibunya. Allah SWT berfirman:
"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim,
lalu Dia melindungimu?" (QS. adh-Dhuha: 6)
Allah SWT melindunginya.
Orang-orang sufi mengatakan bahwa sebab-sebab kemanusiaan seperti adanya
kakeknya Abdul Muthalib dan bagaimana ia mengasuhnya dan melindunginya tidak
lain hanya bentuk lahiriah yang tidak begitu penting, sedangkan bentuk batiniah
yang sebenarnya adalah kita berada di hadapan manusia yang dilindungi dan
diasuh oleh Tuhannya sejak masih kecil. Allah SWT mendidiknya saat beliau masih
kecil, dan mengujinya dengan keyatiman saat beliau masih janin serta mengujinya
dengan kelaparan sejak masih kecil, dan dewasa dengan kematian si ibu, saat
beliau masih kecil dengan keterasingan di tengah-tengah keramaian, dan dengan
terjaga di tengah-tengah tidur serta dengan penderitaan demi penderitaan. Allah
SWT telah menyiapkannya sejak usia dini untuk memikul beban risalah terakhir.
Selanjutnya, ibunya seringkali
memeluknya lebih dari sebelumnya. Ia melihat bahwa banyak dari wanita-wanita
yang menyusui tidak berkenan untuk mengasuhnya. Adalah sudah menjadi tradisi
yang berkembang di Mekah di mana keluarga-keluarga yang mulia mengirim anaknya
ke kawasan dusun agar anak tersebut menyerap dan menghirup udara segar serta
memperoleh mainan yang memadai. Dan biasanya wanita-wanita yang menyusui
anak-anak lebih tertarik menyusui anak-anak dari orang-orang kaya. Namun ketika
pemimpin manusia seorang yang fakir, maka wanita-wanita yang biasa menyusui
tidak berminat kepadanya.
Marilah kita telusuri bagaimana
Halimah binti Abi Duaib menceritakan kisahnya bersama anak kecil yang
disusuinya: "Saat itu terjadi musim tandus dan kami tidak memiliki sesuatu
sehingga aku dan suamiku mengalami kemiskinan yang luar biasa. Lalu kami
menetapkan keluar ke Mekah dan menemani wanita-wanita dari Bani Sa'ad. Kami
semua mencari anak-anak yang masih menvusu agar orang tua mereka dapat membantu
kami untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Binatang yang aku tunggangi
sangat lemah dan sangat kurus yang itu semua disebabkan oleh kekurangan
makanan. Bahkan kami khawatir kalau-kalau ia berhenti di tengah perjalanan dan
mati. Dan kami tidak tidur semalaman karena melihat kondisi anak kecil yang
bersama kami. Ia menangis karena tidak menemukan makanan yang dapat dimakannya.
Ia menangis karena kelaparan dan tidak mendapat air susu, baik dari air susuku
maupun air susu unta yang dibawa oleh suamiku, sehingga kami tidak dapat
memuaskan dahaganya. Di tengah-tengah malam, aku merasakan keputusasaan. Aku
bertanya-tanya bagaimana aku dapat melakukan sesuatu dalam keadaan yang
demikian.
Akhirnya, kami sampai di Mekah.
Sementara itu, wanita-wanita yang ingin mencari anak-anak yang dapat mereka
susui telah mendahului kami. Mereka mengambil anak-anak kecil yang mereka
sukai, kecuali satu anak, yaitu Muhammad di mana ayahnya telah meninggal dan ia
berasal dari keluarga yang miskin meskipun sebenarnya kedudukannya sangat mulia
di antara tokoh-tokoh Quraisy. Oleh karena itu, wanita-wanita enggan untuk
mengasuhnya. Namun aku dan suamiku tidak sepaham dengan mereka karena aku tidak
peduli dengan keyatiman dan kcfakirannya. Kemudian aku malu untuk kembali dan
tidak mengambil bayi yang dapat aku susui kemudian. Di samping itu, aku malu
jika mendapat cercaan dari wanita-wanita itu. Lalu aku merasakan adanya kasih
sayang yang memenuhi hatiku terhadap anak kecil yang tampan itu yang akan
diganggu oleh udara yang kotor."
Kisah tersebut mengatakan bahwa
saat anak-anak kecil mendapatkan wanita-wanita yang menyusuinya, maka Muhammad
bin Abdillah sedang tidur dalam keadaan lapar di ranjangnya yang kasar, tanpa
disusui oleh siapa pun. Suatu hikmah yang tinggi berkehendak agar bayi yang
masih menyusui itu menghadapi dunia dalam keadaan yatim dan dalam keadaan
kelaparan agar ia dapat merasakan penderitaan anak-anak yatim dan orang-orang
yang lapar sebelum ia menyelamatkan mereka.
Halimah mengatakan bahwa ia
meyakinkan suaminya bahwa ia merasakan keinginan yang kuat untuk mengambil anak
yatim ini, sehingga suaminya menyetujuinya. Halimah tidak mengetahui rahasia
keinginannya yang samar agar ia kembali untuk mengambil anak yatirn yang masih
menyusu ini. Ia tidak mengetahui bahwa Allah SWT telah menanamkan rasa cinta
kepada anak kecil itu dalam hatinya seperti Allah SWT menanamkan cinta kepada
Musa pada hati isteri Fir'aun. Jika Musa menolak wanita-wanita lain untuk
menyusuinya kecuali ibunya setelah Allah SWT mencegahnya dari susuan
wanita-wanita lain agar ibunya merasa bahagia dan tidak bersedih, maka Muhammad
bin Abdillah—seorang anak kecil yang masih menyusu dan mulia—-justru ditolak
oleh wanita-wanita yang menyusui, sedangkan ia sendiri tidak pernah menolak
seseorang pun.
Halimah kembali kepadanya dan ia
memberitahu bahwa ia akan mengasuhnya. Nabi Muhammad saw adalah seorang yang
mulia. Halimah meletakkan tangannya di dadanya, sehingga anak kecil itu
tertawa. Halimah mencium di antara kedua matanya. la meletakkannya di kamarnya.
Halimah mengetahui bahwa kedua air susunya telah kering, namun tiba-tiba air
susunya memancar dengan keras sebagai bentuk kasih sayang dan tanda kebesaran
dari Allah SWT. Kini Halimah pun dapat menyusuinya. Apakah itu merupakan hikmah
yang tinggi di mana anak kecil tersebut merasa cukup dengan sesuatu yang sedikit?
Ataukah anak kecil itu sudah dapat mendidik dirinya untuk zuhud dan qanaah
sebelum ia mendidik orang-orang dewasa tentang pengorbanan dan kesatriaan?
Halimah kembali ke gurun Bani
Sa'ad dan ia membawa Muhammad bin Abdillah. Belum lama ia menyaksikan tanahnya
yang tandus sehingga tiba-tiba kebaikan dunia terbuka dan mekar di hadapanya,
di mana bumi dipenuhi dengan kehijau-hijauan setelah mengalami masa tandus.
Pohon-pohon berbuah dan buah kurma tampak berseri-seri setelah sebelumnya layu,
bahkan susu-susu binatang pun mulai tampak banyak. Allah SWT memberikan
berkah-Nya kepada tempat tersebut. Halimah mengetahui bahwa kabaikan ini telah
datang bersama kedatangan anak kecil yang diberkahi, sehingga cintanya kepada
anak itu semakin bertambah. Bahkan suaminya pun menjadi tawanan cinta yang lain
kepada Muhammad saw.
Pada suatu hari ia berkata kepada
isterinya: "Apakah engkau mengetahui wahai Halimah bahwa engkau telah
mengambil seorang anak yang mulia?" Halimah berkata: "Anak kecil itu
tidak menangis dan tidak berteriak kecuali ketika ia telanjang." Ketika
anak kecil itu gelisah di tengah malam dan tidak tidur, maka Halimah membawanya
keluar dari kemah dan ia berhenti bersamanya di bawah sinar bintang. Saat itu
anak itu tampak bergembira ketika menyaksikan langit. Setelah kedua matanya
terpuaskan oleh pandangan ke arah langit, ia pun mulai tidur.
Ketika anak itu mencapai tahun
yang kedua, maka ia telah disapih, sehingga ibunya ingin mengambilnya, tetapi
Halimah tidak kuat untuk menahan perpisahan ini. Halimah menjatuhkan dirinya di
hadapan kedua kaki sang ibu dan ia mulai menciuminya dan ia meminta agar
membiarkannya bersama anaknya sehingga anak itu benar-benar kuat dan dapat
kembali menghirup udara segar gurun. Akhirnya, Rasulullah saw tinggal di tempat
Bani Sa'ad sampai lima tahun. Dan pada masa lima tahun ini terjadi peristiwa
penting yang terkenal dengan peristiwa pembelahan dada. Kehendak Ilahi telah
menetapkan kepada Ruhul Amin, yaitu Jibril untuk menemui Muhammad bin
Abdillah dan membelah dadanya dengan perintah Ilahi serta menyuci hatinya
dengan rahmat dan mengeringkannya dengan cahaya dan mengeluarkan bagian dunia
darinya.
Seperti biasanya Rasulullah saw
keluar pada suatu hari bersama saudara susuannya dengan menunggangi sekawanan
domba menuju tempat pengembalaan. Di tengah hari, saudaranya berlari-lari dalam
keadaan takut dan menangis sambil berteriak bahwa Muhammad telah terbunuh.
Muhammad diambil oleh dua orang laki-laki yang memakai baju yang putih lalu
kedua orang itu menelentangkannya dan membelah dadanya.
Mendengar hal itu, Halimah sangat
kaget dan terpukul. Ia segera pergi sambil berlari mencari Muhammad dan diikuti
oleh suaminya yang mengikuti petunjuk anak kecil dari saudara Muhammad.
Akhirnya, mereka menemukan Muhammad sedang duduk di atas tanah di mana wajahnya
tampak pucat dan kedua matanya menyala.
Halimah dan suaminya mencium
dengan lembut dan mulai menampakkan kasih sayangnya. Kemudian mereka bertanya,
"apa yang terjadi?" Muhammad menjawab: "Ketika aku memperhatikan
domba-domba yang sedang bermain aku dikagetkan dengan kedatangan dua orang yang
memakai pakaian yang putih. Mula-mula aku menyangka bahwa mereka adalah burung
yang besar, namun ternyata aku salah. Mereka adalah dua orang yang tidak aku
kenal yang memakai pakaian warna putih. Salah seorang dari mereka berkata
kepada temannya dengan menunjuk ke arahku, "Apakah ini anaknya?" Yang
lain menjawab, "benar." Aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Lalu
mereka mengambilku dan menidurkan aku serta membelah dadaku dan mereka
mengambil sesuatu darinya hingga mereka mendapatinya dan membuangnya jauh-jauh.
Setelah itu, mereka bersembunyi laksana bayangan."
Hadis tersebut diriwayatkan oleh
Anas dan juga diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad. Para mufasir berbeda pendapat
tentang simbolisme yang dalam ini. Sebagaian besar ulama menakwilkan peristiwa
tersebut. Pakar-pakar klasik, seperti Qurthubi berpendapat bahwa peristiwa itu
diisyaratkan oleh firman-Nya: "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu
dadamu?. " (QS. Alam Nasyrah: 1)
Sedangkan tokoh-tokoh hadis,
seperti Ghazali berpendapat bahwa manusia istimewa seperti Muhammad saw tidak
mungkin terlepas dari bimbingan Ilahi dan tidak mungkin terkena waswas sekecil
apa pun yang biasa menimpa manusia biasa. Jika suatu kejahatan menjadi suatu
gelombang yang memenuhi cakrawala, maka di sana terdapat hati yang segera
memungutnya dan terpengaruh dengannya, namun hati para nabi dengan adanya
bimbingan Allah SWT tidak akan terpanggil dan tidak terkena arus kejahatan
tersebut.
Dengan demikian, usaha para nabi
terfokus pada peningkatan kemajuan atau ketinggian, bukan memerangi kerendahan.
Diriwayatkan oleh Abdillah bin Mas'ud bahwa Rasulullah saw bersabda:
"Tidak ada seseorang di antara kalian kecuali ia diawasi oleh temannya
dari kalangan jin dan temannya dan dari kalangan malaikat." Para sahabat
berkata: "Apakah hal itu juga berlaku kepadamu wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab: "Ya, tetapi Allah SWT membantuku, sehingga ia berserah
diri dan tidak memerintahkan kepadaku kecuali dalam kebaikan."
Begitulah sikap orang-orang yang
dahulu dan para ahli hadis berkaitan dengan peristiwa pembelahan dada. Kami
kira bahwa kejadian yang luar biasa tersebut berhubungan dengan persiapan Nabi
untuk melalui Isra' dan Mi'raj. Ia merupakan perjalanan di mana Rasulullah saw
akan menebus alam angkasa dan akan mencapai alam langit. Kemudian beliau akan
melampaui alam ini, sehingga sampai di Sidratul Muntaha yang di sana terdapat
Janatul Ma'wah.
Pandangan tersebut kembali kepada
pendapat kami yang mengatakan bahwa peristiwa pembelahan dada berulang lebih
dari sekali saat Rasul saw mencapai usia lima puluh tahun. Dan peristiwa
pembelahan dada terjadi kedua kalinya pada malam Isra' dan Mi'raj.
Bukhari meriwayatkan dari Malik
bin Sh'asha'a bahwa Rasulullah saw menceritakan kepada mereka peristiwa malam
Isra' di mana beliau bersabda: "Ketika aku berada di Hathim—atau beliau
berkata di Hijr—saat aku dalam keadaan antara tidur dan bangun, maka seorang
datang kepadaku lalu ia membelah antara ini dan ini. Yaitu antara kerongkongan
dan perutnya. Beliau melanjutkan: Lalu ia mengeluarkan hatiku dan membawa
mangkok dari emas yang penuh dengan keimanan lalu ia menyuci hatiku. Kemudian
diulanginya."
Kami kira bahwa pembelahan dada
merupakan bentuk simbolis yang menunjukkan kesucian Rasul saw dan sebagai bentuk
penyiapannya untuk melalui Isra' dan Mi'raj. Itu merupakan pemberitahuan dari
Ilahi bahwa anak ini akan mencapai suatu kedudukan yang belum pernah dicapai
oleh manusia dan tidak akan dicapai manusia sesudahnya. Setelah peritiwa
pembelahan dada, berubahlah kehidupan anak kecil itu di mana sebagian besar
waktunya digunakan untuk merenung dan menyendiri. Dari roman wajahnya tampak
keseriusan yang biasanya menghiasi wajah orang-orang dewasa.
Berlalulah hari demi hari, tahun
demi tahun dan Selesailah masa menetapnya bersama Halimah di dusun Bani Sa'ad.
Beliau sangat terpengaruh dan sangat terkesan dengan keadaan di sana.
Diriwayatkan bahwa beliau pemah mengingat masa kecilnya di Bani Sa'ad dan
beliau membanggakannya. Beliau menyebutkan pengorbanan mereka dan sikap mereka
yang baik. Beliau berkata: "Aku termasuk dari Bani Sa'ad, tanpa bermaksud
menyombongkan diri. Jika mereka berhadapan atau menyaksikan salah seorang
mereka lapar, maka mereka akan membagi makanan di antara mereka."
Kemudian Muhammad bin Abdillah
kembali ke Mekah saat usianya lima tahun. Beliau hidup beberapa hari bersama
ibunya di mana si ibu merasakan kesedihan yang dalam atas kepergian ayahnya.
Sesuai janji untuk mengingat ayahnya yang telah pergi, Aminah menetapkan untuk
mengunjungi kuburannya di Yatsrib. Jarak antara Mekah dan Yatsrib lebih dari
lima ratus kilo meter di gurun yang kering yang jauh dari tanda-tanda
kehidupan. Anak itu menempuh peijalanan yang berat. Setelah perjalanan yang
berat ini, Muhammad bin Abdillah tinggal di tempat paman-paman dari ibunya di
Madinah selama satu bulan. Muhammad melihat rumah yang di situ ayahnya
meninggal sebelum ia dilahirkan. Ia berziarah bersama ibunya ke kuburan yang
sederhana yang ayahnya dikuburkan di dalamnya. Mula-mula pikirannya terfokus pada
keadaan yatim sambil ia mulai memperhatikan linangan air mata ibunya yang diam.
Selesailah masa satu bulan
keberadaannya di sisi paman-pamannya. Kemudian ibunya menemaninya untuk kembali
ke Mekah. Kedua anak manusia itu sampai di pertengahan jalan. Muhammad bin
Abdillah tidak mengetahui rahasia kepucatan wajah ibunya. Lalu malaikatul maut
turun di suatu tempat yang yang bernama Abwa. Di situlah Aminah binti Wahab
telah bertemu dengan kekasihnya, Allah SWT.
Sang ibu meninggal dan
meninggalkan anak satu-satunya bersama seorang pembantu. Pembantu itu
menampakkan rasa kasihnya terhadap anak kecil yang kehilangan ayahnya saat
masih janin dan kehilangan ibunya saat berusia enam tahun. Muhammad bin
Abdillah kini menjadi sendiri dan ia dalam keadaan menangis. Ia mencapai
kematangan setelah ia melewati kesedihan kehidupan dan kerasnya kehidupan
sebagai anak yatim.
Rasulullah saw pernah ditanya
setelah masa diutusnya: "Bagaimana pandanganmu?" Beliau menjawab:
"Pengetahuan adalah modalku. Akal adalah dasar agamaku. Cinta adalah
pondasiku. Zikrullah adalah kesenanganku. Dan kesedihan adalah temanku."
Allah SWT telah menyiramkan
kepadanya sungai-sungai kesedihan sehingga beliau dapat memberikan kepada
manusia buah dari kegembiraan dan ketulusan.
Anak kecil itu kembali ke Mekah
dalam keadaan sedih dan ia tampak terpaku. Lalu Abdul Muthalib, kakeknya
menampakkan cinta yang luar biasa dan penghormatan padanya. Setelah dua tahun
ketika Muhammad bin Abdillah berusia delapan tahun, maka meninggallah salah
satu benteng yang terbaik yang menjaganya, yaitu kakeknya Abdul Muthalib.
Kemudian anak kecil itu kini merenungi kakeknya laksana orang dewasa. Ia tampak
tegar seperti layaknya orang dewasa.
Kita tidak mengetahui mengapa
terjadi demikian. Mengapa hikmah Allah SWT mencegah Nabi yang terakhir untuk
mendapatkan kasih sayang seorang ayah, kasih sayang seorang ibu, dan bimbingan
seorang kakek? Apakah Allah SWT ingin memberi Nabi yang terakhir suatu kasih
sayang dan cinta yang semata-mata bersumber dari sisi-Nya? Apakah Allah SWT ingin
mendidiknya dengan kesedihan dan memberinya perasaan-perasaan yang penuh dengan
penderitaan? Apakah Allah SWT ingin membuat hati Rasul-Nya hanya tertuju
kepadanya? Dahulu Allah SWT berkata kepada Musa:
"Dan Aku telah memilihmu
untuk diri-Ku." (QS. Thaha: 41)
Dahulu Allah SWT memberi kabar
gembira kepada Musa di dalam Taurat sebagaimana Isa memberi kabar gembira di
dalam Injil dengan kedatangan seorang Nabi setelahnya yang bernama Ahmad. Dan
Nabi Musa meminta kepada Tuhannya agar memberinya dan memberi umatnya puncak
keutamaan, lalu Allah SWT menjawab bahwa Dia telah menetapkan keutamaan ini
kepada Nabi yang terakhir Ahmad dan umatnya.
Allah SWT telah memilih Musa
untuk diri-Nya. Meskipun Demikian, Dia tidak mencegahnya untuk mendapatkan
kasih sayang seorang ibu dan mendidiknya di tengah-tengah keluarganya. Namun
Dia berkehendak untuk menjadikan Nabi yang terakhir tercegah dari mendapatkan
kasih sayang seorang manusia dan cinta seorang manusia, sehingga Nabi tersebut
hanya mendapatkan kasih sayang Ilahi dan cinta Ilahi.
Allah SWT berfirman menceritakan
tentang keadaan Rasul terakhir:
"Bukankah Dia mendapatimu
sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai
seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai
seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak
yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang
meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu
maha hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). "
(QS. ad-Dhuha: 6-11)
Makna ayat tersebut secara
harfiah adalah bahwa beliau dalam keadaan yatim lalu Allah SWT melindunginya;
beliau dalam keadaan tersesat lalu Allah SWT memberinya petunjuk; beliau dalam
keadaan fakir lalu Allah SWT memampukannya. Allah SWT melindunginya dengan
mengasuhnya, membimbingnya, dan mencukupinya. Itu adalah derajat keutamaan yang
tidak pernah dicapai oleh seseorang pun di dunia.
Setelah kematian kakeknya, maka
pamannya Abu Thalib mengasuhnya. Allah SWT telah meletakkan kecintaan pada hati
pamannya, sehingga pamannya mengutamakan Muhammad saw daripada anak-anaknya dan
memuliakannya serta menghormatinya, bahkan Abu Thalib mendudukkannya di
ranjangnya yang biasa dibentangkannya di hadapan Ka'bah di mana tidak ada
seorang pun yang duduk selainnya.
Muhammad bin Abdillah hidup di
jantung gurun Mekah sebagai seorang yang memiliki kesadaran yang tinggi di
antara kaum yang sedang lalai dan kaum yang mabuk-mabukan dan para penyembah
berhala serta para pedagang minuman keras dan para syair dan orang-orang yang
berperang dan tokoh-tokoh kabilah.
Muhammad bin Abdillah seorang
yang banyak diam dan ketika usianya semakin dewasa, maka ia bertambah banyak
diam. Beliau tidak berbicara kecuali jika diajak seseorang berbicara; beliau
tidak terlibat dalam permainan hura-hura anak-anak muda; beliau merasakan
kesedihan yang dalam; beliau sering menyendiri dan membuka matanya di hamparan
pasir-pasir. Mulutnya terdiam dan akalnya berpikir. Beliau merenungkan di masa
kecilnya bagaimana kaumnya bersujud terhadap berhala dan terpukau dengannya;
bagaimana orang-orang berakal mau bersujud kepada batu-batu yang tidak
memberikan mudharat dan manfaat dan tidak berbicara serta tidak dapat melakukan
apa-apa. Beliau mewarisi dari kekeknya Ibrahim kebencian yang fitri terhadap
dunia berhala dan patung.
Di dalam dirinya terdapat
penghinaan yang besar terhadap sembahan-sembahan dari batu ini, suatu
penghinaan yang menjadikannya tidak mau mendekat selama-lamanya terhadap patung
tersebut. Namun hatinya yang besar dipenuhi dengan kesedihan yang lebih hebat
dari kesedihan kakeknya Ibrahim. Beliau sedih karena akal manusia menyembah
batu dan emas, kesombongan serta kekuasaan penguasa; beliau mendengar apa yang
dikatakan manusia dan mengamat-amati urusan kehidupan dan keadaan masyarakat;
beliau juga menyaksikan betapa banyak pertentangan dan perkelahian di antara
manusia yang justru disebabkan oleh masalah-masalah yang sepele, sehingga
keheranan beliau semakin bertambah dan sudah barang tentu kesedihannya pun
semakin dalam. Tidakkah manusia mengetahui bahwa mereka akan mati seperti
ayahnya, ibunya, dan kakeknya? Mengapa mereka menimbulkan pertentangan ini,
hingga mereka mendapatkan lebih banyak kejahatan?
Ketika usianya semakin bertambah,
maka bertambahlah kezuhudannya dalam hidup, dan sepak terjangnya terus bersinar
memenuhi penjuru Mekah. Beliau tidak sama dengan seseorang pun dari kalangan
pemuda saat itu. Meskipun kami kira bahwa kesedihannya disebabkan oleh hal-hal
yang umum, tetapi beliau tidak mengungkapkan kegelisahan hatinya pada seseorang
pun. Beliau belum bertujuan untuk memperbaiki masyarakat atau kemanusiaan.
Benar bahwa pertanyaan-pertanyaan kritis timbul dalam benaknya dan ingin segera
menemukan jawaban, tetapi akalnya sendiri tidak dapat menemukan jawaban atau
jalan keluar. Inilah yang dimaksud dengan makna ayat:
"Dan Dia mendapatimu sebagai
seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (QS.
adh-Dhuha: 7)
Yang dimaksud ad-Dhalal (kesesatan)
di sini ialah kebingungan akal dalam menafsirkan kejahatan dan usaha melawannya
karena ketiadaan senjata dan kecilnya usia. Semua itu justru menambah sikap
diam anak kecil itu dan menjauhkannya dari dunia yang akan mencemari akal,
sehingga akalnya selamat dari segala noda dan tetap di bawah naungan
kejernihannya.
Anak kecil itu tetap jauh dari
dosa-dosa yang dilakukan oleh kaumnya yang berupa kecenderungan untuk menyembah
berhala dan cinta kekuasaan dan kebanggaan. Ia selalu mendekat dan lebih
mendekat kepada hakikatnya yang suci; ia mampu mempengaruhi orang lain dengan
jiwanya yang bersih dan rahmatnya atau kasih sayangnya tertuju kepada manusia,
bahkan kepada binatang dan burung. Ketika ia duduk akan makan lalu ada burung
merpati berkeliling di seputar makanannya rnaka ia meninggalkan makanannya
untuk burung itu. Pada saat orang-orang memukul anjing yang mendekat kepada
makanan mereka, maka ia justru mencabut suapan yang ada di mulutnya dan
memberikannya pada anjing, kucing, anak-anak kecil, dan orang-orang fakir.
Bahkan seringkali di waktu malam ia tidur dalam keadaan lapar karena ia
memberikan makanannya ke orang lain.
Muhammad saw adalah seorang fakir
yang harus bekerja agar dapat makan, maka beliau bekerja sebagai pengembala
kambing, seperti Nabi Daud, Nabi Musa, dan nabi-nabi yang lain yang diutus oleh
Allah SWT. Kemudian beliau melakukan perjalanan bersama kafilah pamannya Abu
Thalib menuju Syam saat beliau berusia tiga belas tahun. Beliau menyaksikan
keadaan umat-umat yang lain, maka keheranannya semakin bertambah terhadap masa
jahiliyah ini. Ketika beliau menyaksikan orang-orang tersesat, maka
kesedihannya semakin bertambah dan hatinya semakin tersentuh dan pikirannya
semakin dalam.
Pada saat perjalanan menuju ke
Syam ini terjadi suatu peristiwa terhadap anak kecil itu. Kemungkinan besar itu
justru menambah kebingungannya. Seorang pendeta yang bernama Buhaira berdiri di
jendela rumah yang menjadi tempat peribadatannya di Suria. Tiba-tiba ia
memperhatikan suatu awan putih—tidak seperti biasanya—yang menghiasai langit
yang biru. Saat itu udara sangat terang, sehingga munculnya awan tersebut
sangat mengherankan. Kemudian pandangan Buhaira yang tertuju ke langit, kini
tertuju ke bumi di mana ia mendapati awan itu menyerupai burung yang putih yang
menaungi kafilah kecil yang menuju ke arah utara. Buhaira memperhatikan bahwa
awan tersebut mengikuti kafilah.
Jantung Buhaira berdebar dengan
keras karena ia mengetahui melalui buku-buku peninggalan kaum Masehi yang
otentik bahwa seorang nabi akan muncul ke dunia setelah Isa. Sifat dan kabar
nabi tersebut diceritakan dalam buku-buku kuno. Buhaira segera meninggalkan
tempatnya, lalu ia segera memerintahkan untuk menyiapkan makanan yang besar.
Kemudian ia mengutus seseorang untuk menemui kafilah tersebut dan mengundang
mereka untuk jamuan makan. Salah seorang mereka berkata dengan nada bercanda
kepada Buhaira: "Demi Lata dan 'Uzza, engkau hari ini tampak lain wahai
Buhaira. Engkau tidak pernah melakukan demikian kepada kami, padahal kami telah
melewati dan singgah di tempat ini lebih dari sekali. Ada peristiwa apa
gerangan wahai Buhaira?"
Buhaira menjawab: "Hari ini
kalian adalah tamu-tamuku." Pertanyaan orang tersebut tidak dijawab dengan
terang-terangan. Ia sengaja menghindarinya dan tidak menyingkapkan rahasia
kemuliaan yang datangnya tiba-tiba ini. Buhaira memberi makan mereka dan mulai
memperhatikan di antara mereka adanya seseorang yang memiliki tanda-tanda yang
dibacanya dalam kitab-kitabnya yang kuno tentang seorang rasul yang ditunggu.
Namun ia tidak menemukannya, hingga ia bertanya kepada mereka: "Wahai kaum
Quraisy, apakah ada seseorang yang tidak hadir bersama jamuanku ini?"
Mereka menjawab: "Benar, ada seseorang yang tidak ikut bersama kami. Kami
meninggalkannya karena ia masih kecil." Buhaira berkata: "Sungguh aku
telah mengundang kamu semua. Panggilah ia supaya hadir bersama kami dan memakan
makanan ini." Salah seorang lelaki dari kaum Quraisy berkata: "Demi
Lata dan 'Uzza, sungguh tercela bagi kami untuk meninggalkan Muhammad bin
Abdillah bin Abdul Muthalib dari jamuan yang kami diundang di dalamnya.
Pamannya meminta maaf karena
Muhammad masih kecil, kemudian sebagian mereka berdiri dan menghadirkannya.
Belum lama Buhaira memandangi kejernihan dua mata Muhammad, sehingga ia
mengetahui bahwa ia telah mendekati tujuannya. Buhairah terpaku ketika memandangi
Muhammad bin Abdillah sehingga kaum selesai makan dan mereka berpisah.
Muhammad bin Abdillah duduk
sendirian. Buhaira menghampirinya dan berkata: "Wahai anak kecil, demi
kedudukan Lata dan 'Uzza, sudikah kiranya engkau memberitahu aku terhadap apa
yang aku tanyakan kepadamu?" Buhaira ingin mengetahui sikap anak ini
terhadap berhala kaumnya. Anak kecil itu menjawab: "Jangan engkau bertanya
kepadaku tentang Lata dan 'Uzza. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih aku
benci daripada keduanya." Buhaira berkata: "Dengan izin Allah aku
ingin bertanya kepadamu." Anak kecil itu menjawab: "Tanyalah apa saja
yang terlintas di benakmu."
Buhaira bertanya kepada anak
kecil itu tentang keluarganya, kedudukannya di tengah-tengah kaumnya, mimpinya
dan pendapat-pendapatnya. Dialog tersebut terjadi jauh dari pantauan kaum
karena mereka tidak akan diam ketika mendengar bahwa Muhammad membenci
berhala-berhala mereka. Kemudian Muhammad menjawab pertanyaan-pertanyaan
Buhaira dengan yakin, hingga membuat Buhaira mantap bahwa ia sekarang duduk
bersama seorang Nabi yang kabar berita gembiranya disampaikan oleh Nabi Isa
sebagaimana disampaikan oleh nabi-nabi dari kaum Israil dari kaum Nabi Musa.
Setelah itu, ia bangkit meninggalkan anak kecil itu dan menuju ke Abu Thalib ia
bertanya tentang kedudukan anak kecil itu di sisinya. Abu Thalib menjawab:
"Ia adalah anakku." Buhaira berkata: "Tidak mungkin ayahnya
masih hidup." Abu Thalib berkata: "Benar. Ia anak saudaraku. Ayahnya
dan ibunya telah meninggal." Buhaira berkata: "Engakau benar,
kembalilah kamu ke negerimu dan hati-hatilah dari kaum Yahudi." Abu Thalib
bertanya tentang rahasia dari apa yang dikatakan oleh pendeta itu. Pendeta itu
mulai mengetahui bahwa ia telah berbicara lebih dari yang semestinya. Lalu ia
berkata: "Ia akan memiliki kedudukan tertentu." Buhaira tidak
menjelaskan lebih dari itu dan ia tidak menentukan kedudukan yang dimaksud.
Lalu berlalulah peristiwa
tersebut tanpa terlintas dari benak seseorang atau tanpa menggugah kesadaran di
antara mereka. Kisah tersebut tidak membawa pengaruh berarti bagi kafilah atau
kepada Nabi sendiri. Kafilah menganggap bahwa penghormatan pendeta kepada
Muhammad bin Abdillah dan memberitahunya akan kedudukan yang akan disandangnya
adalah semata-mata basa-basi yang biasa diucapkan di atas meja makan ketika
para tamu memuji kedermawanan tuan rumah. Dan sebagai balasannya, orang yang
mengundang akan memuji akhlak para pemuda mereka. Alhasil, peristiwa tersebut
tidak membawa pengaruh apa pun, baik bagi Muhammad maupun bagi sahabat-sahabat
yang ikut dalam kafilah, sehingga mereka tidak mengetahui rahasia perkataan
pendeta dan mereka tidak menyebarkan pembicaraan yang mereka dengar darinya.
Peristiwa itu tersembunyi meskipun ia sungguh sangat membingungkan Muhammad.
Apa gerangan yang terjadi antara
dirinya dan orang-orang Yahudi, sehingga pendeta perlu mengingatkan pamannya
dari ancaman mereka? Apa kedudukan yang akan diembannya seperti yang
diceritakan oleh pendeta itu? Dan apa hubungan semua ini dengan
kesedihan-kesedihannya yang dalam serta kebingungannya? Pertanyaan-pertanyaan
tersebut sedikit demi sedikit berputar di benaknya. Kemudian seperti biasanya
kafilah tersebut kembali ke Mekah. Muhammad kembali menuju keterasingannya. Ia
memperhatikan keadaan alam di sekitarnya. Kemudian ia melihat kembali
penderitaannya; ia berusaha untuk mendapatkan kehidupannya; ia mengabdi kepada
manusia dan mengorbankan apa saja demi kemuliaan mereka.
Hari demi hari berlalu. Muhammad
saw tampil dengan pakaian ketulusan kasih sayang, dan amanah serat cinta,
sebagaimana pelita dipenuhi oleh cahaya, sehingga kejujurannya terkenal di
tengah-tengah kaumnya. Bahkan kejujuran dan amanatnya tidak bakal diragukan
oleh seseorang pun dari penduduk Mekah. Dan ketika beliau datang dengan membawa
risalahnya dan beliau ditentang mayoritas masyarakatnya, namun tak seorang pun
yang berani meragukan kejujurannya. Mereka hanya menuduh bahwa ia terkena sihir
atau kesadarannya telah hilang.
Pada tahun ketiga belas dari masa
kenabian, ketika semua kabilah sepakat untuk membunuhnya dan mengucurkan
darahnya di antara para kabilah dan mereka mengepung rumahnya, maka di saat
situasi yang sulit ini beliau menetapkan untuk berhijrah. Tetapi sebelumnya
beliau mewasiatkan kepada Ali bin Abi Thalib, anak pamannya untuk tetap tinggal
di rumahnya agar ia dapat mengembalikan amanat yang dititipkan oleh semua
musuhnya dan para sahabatnya. Ini beliau maksudkan agar Ali dapat menyerahkan
amanat tersebut di waktu pagi kepada para pemiliknya. Anda dapat melihat betapa
para musuhnya merasa aman terhadap harta mereka ketika dijaga oleh Muhammad
saw.
Hari demi hari berlalu dan tahun
demi tahun pun lewat. Sementara itu, kesucian dan kejujuran Muhammad saw
semakin meningkat. Dan di tengah lautan keheningan yang mencekam, ketika
Muhammad bin Abdillah menyebarkan layar perahunya yang putih, maka ia harus
menemui hakikat azali yang bertemu dengan-nya semua nabi dan rasul. Muhammad
bin Abdillah mengetahui bahwa alam yang besar ini mempunyai Tuhan Pengatur dan
Pencipta; Tuhan yang Maha Satu dan yang tiada tuhan selain-Nya.
Muhammad dijauhkan dari suasana
kenikmatan dan foya-foya yang biasa dilakukan oleh para pemuda seusianya. Dan
ketika pemuda Mekah berbangga-bangga dengan banyaknya minuman keras yang mereka
minum dan banyaknya bait-bait syair yang mereka katakan tentang wanita, maka
Muhammad bin Abdillah telah menemukan jati dirinya di suatu gua yang tenang di
gunung yang besar. Ia memilih untuk menghabiskan waktunya di dalam keheningan
gua tersebut. Ia merenung dengan hatinya tentang keadaan alam; ia memikirkan
keagungan rahasia-rahasianya dan rahmat Penciptanya serta kebesaran-Nya.
Pada tahun yang kedua puluh lima,
beliau mengenal Ummul Mu'minin, isterinya yang pertama, yaitu Khadijah binti
Khuwailid yang saat itu berusia empat puluh tahun. Khadijah adalah wanita yang
mulia dan mempunyai cukup harta. Ia berdagang dan suaminya telah meninggal.
Banyak orang yang mendekatinya dengan alasan untuk mendapatkan kekayaannya.
Khadijah mencari seseorang laki-laki yang dapat membawa harta dagangannya
menuju Syam, lalu Khadijah mendengar berita yang cukup banyak berkenaan dengan
kejujuran dan amanat serta kesucian Muhammad bin Abdilah. Akhirnya, Khadijah
mengutus Muhammad saw untuk membawa barang dagangannya. Muhammad saw pergi
dalam perjalanannya yang kedua ke Syam saat beliau berusia dua puluh lima
tahun. Allah SWT memberkati perjalannya di mana beliau kembali dengan membawa
keuntungan yang berlipat ganda yang diserahkannya kepada Khadijah. Muhammad saw
tidak peduli dengan harta Khadijah dan tidak peduli kepada kecantikannya;
Muhammad saw hanya memandang kemuliaan yang dipegangnya. Kemudian Khadijah
merasakan getaran cinta terhadap Muhammad saw. Dan Akhirnya, ia mengutarakan
keinginan untuk menikah dengannya, hingga Muhammad saw pun setuju.
Paman Muhammad saw, Abu Thalib berdiri
dan menyampaikan khotbah pada saat perayaan perkawinannya: Muhammad saw tidak
dapat dibandingkan dengan seorang pun dari kaum Quraisy karena ia adalah
seorang yang mulia, baik dari sisi akal maupun ruhani. Meskipun ia seorang yang
fakir namun harta adalah naungan yang akan hilang dan benda yang bersifat
sementara.
Setelah menikah, Muhammad saw
justru mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk merenung dan menyendiri
serta beribadah. Kemudian kehidupan yang dijalaninya justru meningkatkan
kemuliaannya, sehingga keutamaannya tersebar di sana sini. Beliau tidak pernah
terlibat dalam pergulatan yang keras untuk memperebutkan materi-materi dunia.
Beliau selalu menggunakan akal sehatnya daripada terlibat dalam kesesatan
mereka dan kegelapan berhala yang menyelimuti banyak orang pada saat itu.
Kemudian usianya kini mendekati empat puluh tahun.
Setelah merasakan kesunyian di
tengah-tengah masyarakat, beliau lebih memilih untuk menjauh dari mereka.
Beliau mencari-cari hakikat, sehingga Allah SWT membimbingnya untuk menyendiri
di gua Hira. Akhirnya, beliau dapat keluar dari Mekah. Beliau berjalan beberapa
mil. Kemudian beliau mulai mendaki dan mendaki. Setiap kali ia mendaki gunung,
maka tempat itu semakin luas. Udara tampak lembut dan tersingkaplah hijab, dan
pandangan semakin terbentang. Kemudian beliau memasuki gua. Keheningan
menyelimuti segala sesuatu, namun hati tetap sadar dan tidak ada sesuatu yang
dapat menghalang-halangi pandangan internal yang dalam. Dalam suasana kesunyian
terkadang lahirlah pemikiran-pemikiran yang cemerlang yang kemudian menyebarkan
sayap-sayapnya dan membumbung, pertama-tama di atas angkasa gua lalu tersebar
menuju ke tempat yang lebih luas. Tidak ada sesuatu pun yang membatasinya atau
mengekang kebebasannya.
Kita tidak mengetahui
pikiran-pikiran apa yang terlintas pada manusia termulia dan terbesar di atas
bumi itu saat beliau duduk di gua Hira beberapa bulan. Apa yang beliau pikirkan
dan apa gerangan yang beliau risaukan? Mimpi apa yang ada di benaknya dan
perasaan-perasaan apa yang lahir dalam hatinya? Bagaimana keadaan batu-batu
yang ada di sisinya? Apakah atom-atom batu yang berputar di sekelilingnya
menyahuti tasbihnya yang diam, seperti atom-atom batu yang bersahut-sahutan
bersama Daud saat ia membaca kitabnya Zabur.
Kami tidak mengetahui secara
pasti bentuk kelahiran yang terjadi dalam dirinya. Yang kita ketahui adalah
bahwa beliau tidak berpikir tentang kenabian dan beliau tidak berpikir untuk
memberikan petunjuk kepada manusia; beliau tidak melakukan praktek-praktek
sufisme karena beliau sudah menjadi seorang sufi sebelum diutus di
tengah-tengah manusia. Kemudian Allah SWT memilihnya sebagai Nabi lalu beliau
meninggalkan uzlahnya dan turun ke medan serta membawa senjata. Beliau
mempertahankan kebenaran, sehingga beliau bertemu dengan Tuhannya. Mula-mula
lahirlah tasawuf dan setelahnya lahirlah jihad di jalan Allah SWT. Tasawuf
bukanlah puncak atau hasil sebagaimana diyakini oleh manusia sekarang, tetapi
ia adalah permulaan jalan yang panjang di mana pada akhirnya yang bersangkutan
menggunakan senjata sebagai bentuk usaha untuk membela manusia dan
kehormatannya.
Pada suatu hari beliau duduk di
gua Hira dan tiba-tiba beliau dikagetkan dengan kedatangan Jibril yang berdiri
di depan pintu gua. Malaikat tersebut memeluknya erat-erat lalu
memerintahkannya untuk membaca sambil berkata: "Bacalah!" Muhammad
bin Abdillah menjawab: "Aku tidak mampu membaca." Beliau ingin
mengatakan bahwa beliau tidak mengenal bacaan dan tulisan. Kalau begitu, apa
yang harus beliau baca? Malaikat kembali memeluknya dengan kuat sehingga
Rasulullah saw menganggap bahwa ia meninggal. Kemudian malaikat melepasnya dan
memerintahkannya untuk membaca. Beliau kembali menjawab: "Aku tidak bisa
membaca." Malaikat yang mulia kembali memeluknya dan kembali memerintahkan
untuk membaca. Dan lagi-lagi Rasulullah saw menjawab dengan gemetar: "Apa
yang aku baca?" Kemudian Jibril membaca permulaan ayat-ayat yang turun
kepada beliau:
"Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia)
dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya." (QS. al-'Alaq: 1-5)
Setelah peristiwa itu, Jibril
menghilang secara tiba-tiba sebagaimana ia muncul secara tiba-tiba. Rasulullah
saw merasakan dalam dirinya kejadian yang luar biasa yang pernah dirasakan oleh
Nabi Musa saat beliau mendengar panggilan-panggilan suci di lembah Thuwa.
Sebagaimana Nabi Musa lari ketakutan, maka Muhammad bin Abdillah pun segera
menuju ke rumahnya dalam keadaan ketakutan. Ia turun ke gunung dan kembali ke
rumahnya dan kembali ke isterinya. Tubuhnya yang mulia bergetar denga keras dan
beliau merasakan ketakutan dan kegelisahan.
Apakah beliau kali ini
berhubungan dengan jin atau alam perdukunan? Apakah beliau telah mengigau
sehingga beliau mendengar suara-suara dan melihat wajah-wajah yang belum pernah
dilihatnya? Rasulullah saw mengkhawatirkan dirinya karena beliau sangat benci
kepada perdukunan. Beliau memasuki rumahnya dengan keadaan gemetar. Beliau
berkata kepada isterinya: "Selimutilah aku, selimutilah aku!"
Kemudian isterinya segera menyelimuti dengan selimut dari wol dan mengusap
keringat yang berada di keningnya. Isterinya dikagetkan dengan kepucatan wajah
beliau yang mulia dan kegemetaran tubuhnya.
Khadijah bertanya kepadanya:
"Apa yang sedang terjadi?" Kemudian Muhammad saw menceritakan secara
detail apa yang dialaminya. Kemudian ia berkata: "Sungguh aku khawatir
terhadap diriku." Khadijah mengetahui bahwa ia sekarang berhadapan dengan
masalah yang serius, suatu berita gembira yang ia tidak mengetahui hakikatnya,
suatu berita gembira yang seharusnya tidak dihadapi Muhammad saw dengan
kekhawatirkan dan kegelisahan.
Khadijah berkata dengan maksud
untuk meredakan ketakutannya: "Tenanglah. Demi Allah, Allah SWT tidak akan
menghinakanmu selama-lamanya. Sungguh engkau adalah seorang yang baik, yang
menyambung tali silaturahmi, yang berbicara dengan jujur, dan yang menghormati
tamu."
Meskipun kalimat-kalimat tersebut
penuh dengan kedamaian dan kesejukan, tetapi kegelisahan Rasul saw juga belum
hilang. Kemudian Khadijah pergi bcrsama beliau ke rumah Waraqah bin Nofel,
yaitu anak dari paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Nasrani dan dia mampu
menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan ia cukup mengetahui kitab-kitab Taurat
dan Injil di mana matanya telah buta karena masa tua.
Khadijah berkata kepadanya:
"Wahai putra pamanku, dengarlah dari anak saudaramu." Waraqah
berkata: "Wahai anak saudaraku, apa yang engkau lihat?" Rasulullah
saw menceritakan apa yang dialaminya secara sempurna. Waraqah berkata sambil
mengangkat kepalanya yang tampak keheranan: "Itu adalah Namus (Jibril)
yang Allah SWT turunkan kepada Musa." Sebagai seorang yang mengerti,
Waraqah bin Nofel mengetahui bahwa ia berada di hadapan seorang Nabi yang
berita gembiranya disampaikan oleh Taurat dan Injil.
Setelah keheningan sesaat,
Waraqah berkata: "Seandainya aku masih hidup ketika kaummu mengeluarkanmu
dan mengusirmu." Rasulullah saw bertanya: "Mengapa aku harus diusir
oleh mereka?'' Waraqah menjawab: "Benar, tidak ada seorang pun yang akan
datang seperti dirimu kecuali engkau akan mengalami penderitaan dan pengusiran.
Seandainya aku hadir di saat itu niscaya aku akan menolongmu."
Demikianlah, akhirnya Islam pun dikembangkan.
Kehendak Allah SWT terlaksana dan Allah SWT telah memilih Nabi yang terakhir di
muka bumi dan orang Muslim yang pertama. Barangkali pembaca akan bertanya: Apa
hakikat dari Islam? Apabila Muhammad saw sebagai Nabi yang terakhir yang diutus
oleh Allah SWT di muka bumi dan kita mengetahui bahwa para nabi semuanya
sebagai Muslim, maka bagaimana beliau dapat dikatakan mendahului mereka dalam
keislaman dan menjadi orang Muslim yang pertama?
Islam yang dibawa oleh Muhammad
saw tidak berbeda dalam esensinya dengan Islam yang dibawa oleh Nabi Nuh, Nabi
Musa, Nabi Isa atau nabi yang lain, tetapi yang berbeda adalah bentuknya,
sedangkan esensinya tetap seperti semula, yakni berdasarkan tauhid. Islam yang
dibawa oleh Nabi Muhammad saw berbeda dalam bentuknya dengan Islam yang dibawa
nabi-nabi sebelumnya karena sebab yang penting, yakni bahwa Islam ini merupakan
ajaran yang universal dan berisi aspek kemanusiaan yang abadi. Islam tidak
terbatas atas orang-orang Arab tetapi ia berlaku atas semua golongan. Islam
yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw tidak terbatas untuk kabilah tertentu atau
bangsa tertentu atau bumi tertentu atau lingkungan tertentu atau zaman
tertentu, tetapi ia untuk semua manusia. Atau dengan kata lain, ia merupakan
ajakan untuk membangkitkan akal manusia di mana saja mereka berada tanpa ada
batasan tempat atau waktu.
Universalitas ajaran Islam tidak
dikenal pada risalah-risalah Ilahi sebelumnya di mana setiap risalah itu
diperuntukkan bagi bangsa tertentu dan zaman tertentu. Oleh karena itu, mukjizat-mukjizat
yang mengagumkan yang bersifat temporal seringkali mendukung risalah-risalah
yang dahulu. Ketika Islam datang sebagai bentuk ajakan untuk menghidupkan akal
manusia secara bebas, maka di sana tidak ada alasan untuk membawa mukjizat yang
mengagum-kan. Hanya ada satu kata yang dapat dijadikan pembuka untuk berdakwah
dan membuka akal manusia, yaitu kata "iqra"' (bacalah). Dan
hendaklah bacaan ini berdasarkan nama Allah SWT. Dengan nama Tuhanmu yang
menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Coba Anda renungkan
permulaan pertumbuhan dan puncak pencapaian. Di sini tersembunyi mukjizat yang
hakiki jika Anda berusaha mencari mukjizat yang hakiki.
Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha
Mulia, yang memberikan nikmat penciptaan dan rezeki serta rahmat dan
kelembutan. Dia Maha Mulia yang mengajarkan manusia apa saja yang tidak
diketahuinya. Demikianlah esensi dari Islam, yaitu ajakan untuk membaca. Ia
adalah dakwah yang menunjukkan kedudukan ilmu. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya yang takut
kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orangyang berilmu
(ulama)." (QS. Fathir: 28)
Takut kepada Allah SWT tidak akan
muncul kecuali berdasarkan ilmu. Mustahil kebodohan dengan bentuk apa pun akan
melahirkan rasa takut. Oleh karena itu, dalam pandangan Islam ilmu adalah hal
yang pokok. Ia bukan kemewahan dan bukan hanya perhiasan. Kaum Muslim telah
mengalami masa kemuliaan dan kejayaan dan mereka berhasil menguasai bumi ketika
mereka memahami Islam secara benar, tetapi ketika pemahaman ini jauh dari
mereka, maka mereka kembali dalam keadaan yang paling buruk, bahkan lebih buruk
daripada masa jahiliah.
Jadi, ilmu dalam Islam merupakan
tujuan yang mulia dan utama dalam penciptaan alam wujud. Kisah Nabi Adam dan
Hawa, sebagaimana diceritakan oleh Al-Qur'an adalah bukan semata-mata kisah
kesalahan memakan pohon tcrlarang, tetapi ia juga kisah yang memiliki
dimensi-dimensi yang dalam dan aspek-aspek yang beraneka ragam. Ketika Anda
menyclami kedalamannya, maka Anda akan dapat menemukan simbol-simbol dari
makna-makna yang lebih penting.
Dialog internal yang dialami oleh
para malaikat tentang rahasia pemilihan Nabi Adam untuk memakmurkan bumi dan
menjadi khalifah di dalamnya serta pengajaran yang diperoleh Nabi Adam tentang
nama-nama semuanya dan bagaimana beliau mengemukakan nama-nama tersebut kepada
para malaikat, serta ketidaktahuan mereka tentang nama-nama itu, kemudian usaha
Nabi Adam untuk memberitahu mereka tentang apa yang diketahuinya serta
pengetahuan para malaikat tentang rahasia pemilihan Nabi Adam dan para
keturunannya untuk memakmurkan bumi, semua ini menjadikan tujuan dari
penciptaan manusia adalah pencapaian ilmu atau ma'rifah secara umum. Pandangan
tersebut dikuatkan oleh firman Allah SWT:
"Dan Ahu tidak menciptakan
jin dan manusia kecuali untuk menyembah-(Ku)." (QS.
adz-Dzariat: 56)
Lalu bagaimana kita memahaminya
saat ini dan bagaimana generasi yang pertama dari kaum Muslim dan dari
sahabat-sahabat Rasul saw dan para pengikutnya dan para tentaranya memahaminya?
Saat ini kita memahaminya dengan pemahamam yang sederhana. Kita mengetahui
bahwa kalimat "untuk menyembah-Ku " berarti ritualitas dalam
beribadah dan aspek-aspek lahiriahnya, seperti mengucapkan kalimat syahadat,
salat, puasa, haji, zakat dan lain-lain. Sehingga orang-orang yang salat diperbolehkan
untuk menyembah Allah SWT di negeri mereka atau di rumah-rumah mereka, meskipun
mereka hidup di bawah pemikiran orang-orang Barat dan membeli produk-produk
yang dibuat mereka serta memanfaatkan ilmu dan kecanggihan tehnologi
orang-orang Barat. Namun mereka sendiri tidak menghasilkan apa-apa. Mereka
tidak dapat memberikan kontribusi kepada kehidupan; mereka tak ubah-nya seperti
bulu yang dimainkan oleh ombak. Sedangkan pemahaman yang dahulu berkaitan
dengan kalimat tersebut sebagai berikut:
"Dan Aku tidak menciptakan
jin dan manusia kecuali untuk menyembah-(Ku). " (QS.
adz-Dzariat: 56)
Ibnu Abbas membacanya: "Illa
liya'rifuun." (Agar mereka mengetahui). Perhatikanlah bagaimana
pentingnya perbedaan antara praktek-praktek ibadah dengan bentuk-bentuknya dan
kedalamannya yang jauh dalam ma'rifah yang menyebabkan rasa takut kepada Allah
SWT. Orang Muslim yang pertama meyakini bahwa Allah SWT menciptakannya agar ia
mengetahui Allah SWT atau agar ia mengenal Allah SWT. Sehingga ambisi orang
Muslim yang pertama sangat mengagumkan. Mereka pergi untuk membebaskan dunia
semuanya: satu tangan berpegangan dengan Al-Qur'an dan tangan yang lain
memegang pedang untuk menghancurkan belenggu-belenggu yang menyeret manusia
kepada kesesatan.
Kemudian jatuhlah dari Islam
hakikat ilmu, sehingga umat Islam tidak dapat memimpin kehidupan dan mereka
justru men-dapatkan kehinaan. Allah SWT berfirman:
"Allah menyatakan
bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para
malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak
ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya
agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam." (QS. Ali
'Imran: 18)
Setelah kesaksian kepada Allah
swt dan kesaksian kepada malaikat, maka disebutlah secara langsung kesaksian
kepada orang-orang yang berilmu. Maka, adakah penghormatan terhadap ilmu yang
lebih besar daripada penghormatan ini? Ilmu dalam Islam berbeda dengan ilmu
dalam peradaban Barat. Memang benar bahwa Islam yang bertanggung jawab terhadap
tumbuhnya pandangan ilmiah dan metode eksperimental di mana berdasarkan metode
ini tegaklah peradaban Barat yang kemudian melahirkan berbagai produksi,
pembuatan, dan penemuan. Dan metode eksperimental adalah metode al-Istiqra, yaitu
suatu metode yang mengikuti bagian-bagian terkecil (parsial) melalui jalan
eksperimen yang dapat tunduk terhadap eksperimen dan melalui jalan
memperhatikan hal-hal yang tidak dapat tunduk terhadap suatu eksperimen, atau
melalui jalan matematis murni yang membutuhkan kepada matematis murni di mana
hal itu bertujuan untuk menyingkap hukum-hukum yang menguasai benda. Sistem ini
bidangnya adalah alam dan alatnya adalah panca indera dan akal. Sistem ini
dimanfaatkan oleh seorang Eropa yang bernama Roger Bikun. Ia mengakui bahwa ia
sangat berhutang kepada kaum Muslim dan peradaban Islam.
Seorang guru yang bernama Bruicll
dalam bukunya Abna' al-Insaniah menceritakan tentang dasar-dasar
peradaban Barat di mana ia berkata: "Roger Bikun mempclajari bahasa Arab
dan ilmu-ilmu Arab di sekolah Oxford kepada guru-gurunya yang berasal dari Arab
di Andalus. Dan Roger Bikun dan Fenessis Bikun tidak dapat menisbatan keutamaan
yang mereka peroleh dalam menciptakan sistem eksperimental kepada diri mereka
sendiri. Roger Bikun hanya seorang duta dari duta-duta ilmu. Oleh karena itu,
ia tidak malu ketika menyatakan bahwa mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu
Arab adalah jalan satu-satunya untuk mengetahui kebenaran."
Demikianlah pernyataan
pakar-pakar Barat yang jujur. Yang demikian ini bisa dijadikan sanggahan
terhadap orang-orang Barat yang tidak jujur agar mereka mengetahui bahwa mereka
sebenarnya mengambil senjata yang sebenarnya berasal dari Islam. Dan jika
dikatakan bahwa rahasia kebangkitan Barat saat ini dan keunggulannya atas Timur
kembali kepada pengambilannya terhadap sebab-sebab metode eksperimental, yaitu
metode Islam, maka rahasia kehancuran Barat dan kebingungannya serta
kegelisahannya adalah karena mereka tidak menghubungkan metode tersebut dengan
kebesaran Allah SWT sebagaimana semestinya. Metode eksperimen-tal—sebagaimana
diambil orang-orang Barat—dimulai dari alam dan berakhir kepadanya sebagai
sesuatu tujuan. Jadi, ruang lingkup pembahasan mereka adalah berkisar kepada
materi, dan alat-alat pembahasan adalah eksperimen dan pengamatan serta istiqra.
Tiada setelah alam kecuali
kematian dan kematian adalah rahasia yang misterius dan melawannya adalah hal
yang mustahil. Kita tidak mengetahui apa yang terjadi setelah kematian; kita
tidak mengetahui sesuatu pun tentang ruh. Tidak ada hubungan antara ilmu dan
akhlak; tidak ada jawaban dari ilmu tentang tujuan kehidupan ini. Kita hanya
mempelajari aspek-aspek lahiriah dan mencapai hukum-hukumnya saja. Demikianlah
pandangan Barat tentang ilmu di mana ia hanya sekadar alat dan sarana untuk
mengatur alam dan berusaha menguasainya. Sedangkan metode ilmiah dalam Islam
menyatakan bahwa gerakan atom dengan gerakan sistem tata surya di bawah kendali
Zat Yang Maha Tahu dan Zat Yang Maha Pencipta. Ilmu dalam Islam justru
membimbing manusia untuk menuju Allah SWT:
"Dan bahwasannya kepada
Tuhanmulah kesudahan (segala sesua-tu). " (QS.
an-Najm: 42)
Ilmu justru mengantarkan manusia
untuk mencapai rasa takut kepada Allah SWT sebagaimana membimbingnya beribadah
kepadanya dan mencintai-Nya:
"Sesungguhnya yang takut
kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu
(ulama)." (QS. Fathir: 28)
Islam datang dan mengajak manusia
untuk membaca, mengetahui, dan takut kepada Allah SWT serta hanya beribadah
kepadanya. Jika ilmu merupakan sayap pertama di dalam Islam, maka sayap yang
kedua adalah kebebasan. Rasulullah saw memberitahu dan menyatakan bahwa tidak
ada Tuhan selain Allah SWT dan tidak ada sembahan selain Allah SWT.
Seruan ini mengisyaratkan
keruntuhan tuhan-tuhan yang mengusai bumi semuanya, baik tuhan yang berupa
kepentingan-kepentingan pribadi, kekayaan, raja, penguasa, pemikiran-pemikiran
yang mengusai manusia, warisan para kakek dan nenek, berhala-berhala yang
terbuat dari batu dan kayu, maupun berbagai macam tuhan lain yang bohong.
Adalah salah jika seseorang membayangkan bahwa kalimat "tiada Tuhan selain
Allah" hanya sekadar hiasan mulut seorang Muslim di mana segala sesuatu
yang ada di sekitarnya penuh dengan kebohongan dan tidak membenarkan apa yang
dikatakannya. Kalimat tersebut dalam Islam merupakan per-gulatan besar bersama
kegelapan yang ada pada diri manusia, suatu pergulatan yang berakhir pada
penyerahan diri; pergulatan yang akan berpindah pada kehidupan yang lebih
berat, sehingga kehi-dupan akan berserah diri. Dan mustahil pergulatan itu akan
terjadi kecuali jika terpenuhi suatu kebebasan: kebebasan akal untuk meragukan
dan menolak dan kebebasan yang berakhir kepada pencapaian batas-batasnya dan
kemampuannya serta kebebasan yang meninggi untuk mencapai keimanan yang dalam
dan kokoh. Itu adalah tanggung jawab yang berarti bahwa ia harus memikul
senjata untuk membebaskan orang lain sebagaimana ia membebaskan dirinya
sendiri. Demikianlah esensi dari Islam, yaitu ilmu yang berdiri di atas
kebebasan dan tanggung jawab yang tumbuh dari kebebasan, dan buah terAkhirnya
adalah tauhid dalam kedalamannya yangjauh.
Jika tauhid dipahami secara
benar, maka manusia akan terbebas dari penyembahan selain Allah SWT: manusia
akan bebas terhadap rasa takut dari kematian, kekhawatiran atas rezeki, manusia
akan terbebas dari sikap bakhil dan ketakutan terhadap hari-hari yang akan
datang.
Muhammad bin Abdillah datang
nntuk menyerukan bahwa hanya Allah SWT yang patut disembah dan bahwa semua
manusia adalah hamba-hamba-Nya. Dcngan membebaskan manusia dari menyembah
sesama mereka, maka kebcbasan yang hakiki telah dimulai. Rasulullah saw
memberitahu bahwa kematian adalah perpindahan dari satu rumah ke rumah yang
lain. Ia bukan akhiran yang misteri dari kehidupan yang tidak dapat dipahami,
tetapi ia hanya sekadar perpindahan. Takut kepada kematian tidak akan
menyelamatkan dari kematian itu sendiri, dan cinta kepada kehidupan tidak akan
memanjangkan ajal. Pada setiap ajal ada ketentuannya. Maka keberanian merupakan
unsur dari unsur-unsur pembentukan kepribadian Islam dan bagian dari
bagian-bagian sel yang ada dalam tubuh seorang Muslim.
Rasulullah saw juga menyatakan
bahwa rezeki di dunia sudah dijamin dan ditentukan oleh Allah SWT:
"Dan tidak ada suatu
binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. "
(QS. Hud: 6)
Jibril mewahyukan kepada Rasul
saw bahwa suatu jiwa tidak akan memenuhi ajalnya sehingga rezekinya
disempurnakan. Jika demikian halnya, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk
khawatir terhadap rasa lapar dan gelisah terhadap hari esok. Semua ini terjadi
dalam ruang lingkup mengambil atau melalui jalanjalan menuju sebab. Yakni
berusaha untuk mencapai rezeki yang merupakan kewajiban bagi orang Muslim dan
percaya terhadap kedermawan Allah SWT yang juga merupakan suatu kewajiban bagi
orang Muslim untuk mempercayainya. Allah SWT berfirman:
"Dan di langit terdapat
(sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. "
(QS. adz-Dzariat: 22)
Allah SWT telah menjamin rezeki
di dunia dan memerintahkan manusia untuk berusaha mencapai rezeki di akhirat.
Rezeki di dunia adalah sesuatu yang sudah dijamin, sehingga manusia tidak perlu
melakukan usaha yang terlalu sengit untuk mencapainya. Cukup baginya untuk
berusaha secara benar dan seimbang. Sedangkan berkenaan dengan rezeki akhirat,
Allah SWT memerin-tahkan manusia untuk berusaha mencapainya karena ia adalah
rezeki yang Allah SWT tidak menjaminnya kecuali jika manusia berhasil melampaui
dua jihad: jihad yang besar dan jihad yang kecil. Jihad besar adalah jihad
melawan hawa nafsu dan jihad kecil adalah jihad melawan musuh di medan perang.
Dengan terbebasnya seorang Muslim
dari kerisauan pada kematian, rezeki, dan rasa takut, maka Islam memberi
seorang Muslim senjatanya dan alat-alatnya dan ia memerintahkannya untuk mulai
memerangi kekuatan-kekuatan kelaliman di muka bumi. Allah SWT berfirman tentang
umat Islam:
"Kamu adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan
mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali
'Imran: 110)
Perhatikanlah, bagaimana Allah
SWT menyebutkan amal makruf nahi mungkar sebelum keimanan kepada Allah SWT. Ini
dimaksudkan agar akal manusia tergugah akan pentingnyajihad di jalan Allah SWT.
Amal makruf dan nahi mungkar tidak terwujud semata-mata dengan memegang tongkat
dan mencambukannya kepada punggung orang-orang Islam yang tidak salat; ia juga
tidak berupa usaha untuk menahan orang-orang Muslim yang tidak berpuasa.
Masalah itu lebih penting dan lebih besar dari sekadar memperhatikan hal-hal
yang bersifat lahiriah, sedangkan hal-hal yang bersifat batiniah tidak
diperhatikan.
Ayat tersebut berarti, hendaklah
seorang Muslim membawa senjata dan berdakwah di jalan Allah SWT serta memerangi
orang-orang lalim di muka bumi. Abu Bakar berkata: "Wahai manusia, kalian
membaca ayat berikut ini:"
"Hai orang-orang yang
beriman, jagalah dirimu. Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat
kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk," (QS.
al-Maidah: 105)
Dan aku mendengar Rasulullah saw
bersabda: "Sesungguhnya ketika masyarakat melihat orang yang lalim dan
mereka tidak menghentikannya, maka Allah SWT akan menimpakan azab kepada mereka
semua."
Penafsiran Abu Bakar terhadap
ayat tersebut sangat jelas artinya. Yakni bahwa pelaksanaan ayat tersebut dapat
diwujudkan dengan adanyajihad di jalan Allah SWT dengan mengangkat senjata
sebagai usaha untuk menghentikan orang-orang yang lalim. Setelah itu, seorang
Muslim dapat mengatakan: "Aku telah melaksanakan tugasku dan tidak akan
berdampak kepadaku orang yang sesat setelah aku memberikan petunjuk."
Demikianlah pemahaman orang-orang
Islam yang pertama. Maka bandingkanlah pemahaman tersebut dengan pemahaman kita
saat ini di mana kita telah kchilangan keberanian, dan rasa takut telah
menghinggapi tubuh orang-orang Islam. Kaum Muslim lebih mengutamakan
keselamatan diri mcrcka daripada memerangi orang-orang yang lalim.
Muhammad bin Abdillah datang
dengan membawa risalah Islam yang di dalamnya terdapat perintah Ilahi untuk
rnemerangi orang-orang yang lalim dan mempertahankan kehormatan orang-orang
yang tertindas di muka bumi. Allah SWT berfirman:
"Karena itu, hendaklah
orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di
jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau
memperoleh kemenangan, maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang
besar. Mengapa kamu tidak mau berperang dijalan Allah dan (membela) orang-orang
yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa:
'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang lalim penduduknya dan
berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.
" (QS. an-Nisa': 74-75)
Muhammad bin Abdillah membacakan
kepada kaumnya tentang penafsiran Allah SWT berkenaaan dengan makna kejayaan
yang besar:
"Sesungguhnya Allah telah
membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga
untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau
terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat,
Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain)
daripada Allah?, maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan
itu, dan itulah kemenangan yang besar." (QS. at-Taubah: 111)
Bacalah ayat tersebut dua kali
dan renungkanlah tentang kedermawan Allah SWT. Betapa tidak, Dia membeli jiwa
orang-orang mukmin dan harta mereka, padahal jiwa tersebut dan harta tersebut
pada hakikatnya adalah milik-Nya sendiri. Lihatlah bagaimana kemuliaan Allah
SWT di mana Dia membeli harta milik-Nya yang khusus dengan surga dan bagaimana
Allah SWT menganjurkan orang-orang Islam untuk berperang, dan Dia memberitahu
mereka bahwa urusan memerangi orang-orang lalim dan orang-orang yang tersesat
bukanlah hal yang baru atas orang-orang Islam. Allah SWT telah memerintahkan
hal tersebut dalam Injil dan Taurat. Sebagaimana Nabi Isa diutus dengan pedang,
seperti yang disebutkan dalam lembaran-lembaran atau buku-buku orang-orang
Nasrani, maka Nabi Musa pun diutus dengan membawa pedang. Dan ketika Bani
Israil berkata kepada Nabi Musa, "pergilah engkau bersama Tuhanmu dan
berperanglah, dan kami hanya di sini duduk-duduk saja,", maka kehendak
Ilahi menetapkan agar mereka mendapatkan kesesatan selama empat puluh tahun
sebagai akibat dari perbuatan mereka itu, agar generasi yang lemah dan hina itu
hancur yang mereka justru tidak memenuhi panggilan Allah SWT dan mereka
membiarkan Nabi Musa bersama Tuhannya berperang, padahal peperangan itu
merupakan tanggung jawab mereka dan tugas mereka yang harus mereka emban
sebagai pengikut Nabi Musa.
Demikianlah esensi dari ajaran
Islam sebagaimana yang dibawa oleh Muhammad bin Abdillah. Yakni ajakan untuk
membaca dan menggali ilmu serta mendapatkan kebebasan dan yang terpenting
adalah usaha melawan kekuatan-kekuatan lalim. Suatu ajakan yang universal yang
tidak dikhususkan untuk kalangan tertentu atau untuk waraa kulit tertentu atau
untuk kaum tertentu atau untuk tempat tertentu; suatu ajakan kemanusiaan yang
komprehensif yang universal yang ingin mengikat ilmu dan kebebasan dan jihad
dengan tujuan yang lebih tinggi, yaitu mencapai tauhid kepada Allah SWT dan
menyucikan-Nya serta keimanan terhadap hari kemudian dan kebangkitan manusia
semuanya di hadapan Allah SWT.
Adalah salah jika ada orang yang
menganggap bahwa Islam hanya memperhatikan aspek akhirat dan melupakan aspek
duniawi. Menurut Islam dunia adalah lembar-lembar jawaban yang akan dikoreksi
di hari akhir. Ia adalah ujian dan tempat percobaan bagi manusia agar manusia
mengetahui apakah ia layak untuk menda-patkan kemuliaan dari Allah SWT yang
telah diberikan kepada Adam. Atau apakah iajustru layak untuk jadi bagian dari
tanah neraka Jahim dan batunya, sebagaimana firman Allah SWT:
"Yang bahan bakarnya manusia
dan batu. " (QS. al-Baqarah: 24)
Rasulullah saw telah menjelaskan
hikmah dari penciptaan manusia, penciptaan kehidupan dan kematian ketika beliau
menyampaikan firman Allah SWT dalam surah al-Mulk:
"Yang menjadikan mati dan
hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amabiya.
" (QS. al-Mulk: 2)
Dunia adalah rumah pergulatan.
Dan Allah SWT telah menciptakan kehidupan dan kematian agar manusia menyadari
siapa di antara mereka yang terbai amalnya. Tentu pengetahuan ini tidak akan
menambah kekuasaan Allah SWT. Pengetahuan itu justru dibutuhkan oleh manusia.
Allah SWT menciptakan manusia agar menusia mengetahui, danpengetahuan yang
paling penting adalah pengetahuan atau pengenalan terhadap diri. Dan pada hari
kiamat manusia akan mengenal dirinya secara sempurna dan ia akan mengenal
balasan yang akan diterimanya secara sempurna.
Dan barangkali mukadimah yang
kami sarikan dari hari akhir ini mengharuskan kehidupan di atas bumi dipenuhi
dengan kesucian dan kebersihan, yaitu diliputi dengan kemanusiaan yang sempurna
yang di dalamnya manusia layak untuk hidup. Demikianlah Islam yang dibawa oleh
Muhammad saw. Inilah asasnya dan hakikatnya. Itu adalah pondasi dan hakikat
yang tidak diciptakan oleh Muhammad saw dan tak didahului oleh rasul-rasul
sebelumnya. Hakikat risalah-risalah yang dulu semuanya adalah tauhid dan
mempertahankan kebenaran serta keimanan terhadap hari akhir dan
menyerahkan jiwa dan anggota tubuh hanya kepada Allah SWT. Yang baru dalam
Islam adalah ilmu, kebebasan dan universalitas ajaran Islam serta warna keadilan
yang sangat kental, sehingga sangat tepat jika dikatakan bahwa karakter dari
Islam adalah keadilan. Barangkali bagian ini perlu diperhatikan.
Meskipun agama-agama samawi pada
esensinya satu, tetapi kehendak Allah menuntut turunnya lebih dari agama dan
lebih dari satu nabi. Kehendak tersebut menuntut agar pada setiap agama
terdapat karakter yang khusus yang menggambarkan bentuk yang paling tepat
sesuai dengan kebutuhan utama yang di situ agama itu diturunkan dan sesuai
dengan waktu saat itu. Orang-orang Yahudi misalnya, mereka hidup di
tengah-tengah suasana penyembahan berhala dikalangan orang-orang Mesir kuno.
Yahudisme diturunkan pada Bani Israil yang suka membangkang dan karena
itu, karakter utamanya adalah ketegasan (as-Sharamah) agar mereka tidak
terpengaruh dengan fenomena berhalaisme ala Mesir atau mereka terkena pengaruh
dari tindakan semena-mena Fir'aun. Dengan ketegasan inilah agama Yahudi selamat
dan dapat menjadi risalah penyelamatan dan pembebasan.
Namun Bani Israil yang
memperbudak manusia dan mempunyai hati yang keras pada saat yang sama mereka
keluar dari Fir'aun untuk masuk ke cengkraman orang-orang Romawi di mana
orang-orang Romawi justru lebih lalim dan lebih kuat dari orang-orang
Mesir. Oleh karena itu, orang-orang Masehi bertanggung jawab untuk melakukan
pembebasan baru tetapi dengan cara yang berbeda sesuai dengan perubahan
keadaan. Cara tersebut adalah menjauhkan penggunaan kekuatan bersenjata karena
kekuatan orang-orang Romawi mengungguli kekuatan saat itu dan menguasai bumi
secara keseluruhan. Maka kemenangan yang mungkin dapat diperoleh adalah dengan
cara menghindari tindak kekerasan dan lebih mengutamakan pendekatan cinta. Dan
pada kali yang lain orang-orang Masehi memperoleh kemenangan melalui cara
kedamaian dan cinta yang disebarkannya atas imperialisme Romawi dengan segala
senjatanya dan kekuasaannya.
Adapun Islam datang sebagai agama
yang terakhir dan menyeluruh yang layak untuk diterapkan di muka bumi, sehingga
Allah SWT mewariskan bumi dan apa saja yang ada di dalamnya kepada orang-orang
yang berhak mewarisinya. Oleh karena itu, agama yang terakhir ini harus
mempunyai karakter khusus dan karakter itu adalah karakter keadilan.
Ketegasan hanya cocok untuk zaman
tertentu dan kelompok tertentu dan keadaan tertentu, sedangkan cinta adalah
contoh yang tertinggi, tetapi ia tidak dapat menjadi sesuatu tolok ukur untuk
dibandingkan dengan tindakan-tindakan tertentu atau untuk dijadikan alat untuk
melakukan sesuatu. Dan jika ia menjadi tolok ukur bagi orang-orang yang memilki
perasaan yang tinggi atau budaya yang tinggi, maka ia tidak dijadikan tolok
ukur umum dan universal. Adapun keadilan, maka ia menjadi karakter Islam yang
berarti keseimbangan dalam sifat-sifat keutamaan dan meletakkan segala sesuatu
pada tempatnya. Ini adalah tolok ukur yang menyeluruh dan barometer yang akhir.
Dan barangkali kebesaran keadilan dan pengaruhnya dalam pengaturan alam
bersandarkan kepada firman Allah SWT:
"Allah menyatakan
bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang menegakkan keadilan. Para
malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)."
(QS. Ali 'Imran: 18)
Apabila Allah SWT dalam Islam
merupakan cermin yang tertinggi, maka keadilan yang disaksikan oleh Allah SWT
terhadap diri-Nya sendiri harus menjadi karakter Islam dan kaum Muslim.
Keadilan dalam Islam bukan hanya keadilan ekonomi atau keadilan hukum atau
keadilan dalam balasan, tctapi ia mencakup semuanya. Sebelum semua ini dan
sesudahnya, kcadilan dalam Islam merupakan suatu sistem dalam kehidupan dan
metode utama dalam Islam.
Ketika Anda memalingkan pandangan
Anda dalam Islam, maka Anda akan menemukan keadilan menghiasi seluruh wajah
Islam. Di sana terdapat keadilan antara agama-agama yang dulu, keadilan antara
individu dan masyarakat, keadilan antara dunia dan agama, keadilan antara pria
dan wanita, keadilan untuk orang-orang yang fakir dan orang-orang yang kaya,
keadilan antara para penguasa dan rakyat, bahkan dengan keadilan itu sendiri
bumi dan langit ditegakkan dan Allah SWT menyebut diri-Nya sebagai al-'Adl (Yang
MahaAdil).
Selanjutnya, Islam adalah agama
yang sudah lama sebagaimana lamanya kedatangan para nabi. Nabi Nuh as berkata
dalam surah Yunus:
"Jika kamu berpaling (dari
peringatanku), aku tidak meminta upah sedikit pun darimu. Upahku tidak lain
hanyalah dari Allah belaka dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan
orang-orang yang berserah diri (kepadanya)." (QS. Yunus: 72)
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as
berkata dalam surah al-Baqarah saat keduanya membangun Ka'bah:
"Ya Tuhan kami, terimalah
dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui. Ya Tuhan Kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduh patuh
kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat
haji hami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Menerima
taubat lagi Maha Penyayang. " (QS. al-Baqarah: 127-128)
Nabi Ibrahim tidak lupa untuk
berwasiat kepada keturunannya dan di antara mereka adalah Yakub agar mereka
mati dalam keadaan Islam. Allah SWT berfirman:
"Dan Ibrahim telah
mewasiatkan ucapan itu kepada anaknya, Demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata):
'Hai anak-anakku, Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka
janganlah hamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.'" (QS.
al-Baqarah: 132)
Ketika kematian mendekati Yakub,
beliau mengumpulkan anak-anaknya di sekelilingnya dan bertanya kepada mereka:
"Apa yang kamu sembah
sepeninggalku? Mereka menjawab: 'Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenak
moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan hhaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya
tunduk patuh kepadanya.'" (QS. al-Baqarah: 133)
Allah SWT memberitahu kita dalam
surah Yunus tentang perkataan Nabi Musa kepada kaumnya:
"Hai kaumku, jika kamu
beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar
orang yang berserah diri." (QS. Yunus: 84)
Sementara itu, Nabi Sulaiman
adalah seorang Muslim sesuai dengan nas ayat-ayat yang menceritakan tentang
kisahnya bersama Ratu Saba' ketika Ratu tersebut berkata:
"Ya Tuhanku, sesungguhnya
aku telah berbuat lalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman
kepada Allah, Tuhan semesta alam." (QS. an-Naml: 44)
Demikian juga Nabi Yusuf, beliau
berdoa kepada Allah SWT dan meminta kepadanya agar mematikannya sebagai orang
Muslim dan memasukannya dalam kelompok orang-orang yang saleh. Allah SWT
berfirman dan bercerita tentang Yusuf dalam surah Yusuf:
"Ya Tuhanku, sesungguhnya
Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagaian kerajaan dan telah mengajarkan
kepadaku sebagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah
Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan
gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh."
(QS.Yusuf: 101)
Sementara itu dalam surah
al-Maidah, Allah SWT mewahyukan kepada kaum Hawariyin agar mereka beriman
kepadanya dan kepada rasul-Nya lalu mereka berkata:
"Kami telah beriman dan
saksikanlah (wahai rasul) bahwa Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh
(kepada seruanmu)." (QS. al-Maidah: 111)
Jadi, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim,
Nabi Ismail, Nabi Yakub, Nabi Musa Harun, Nabi Sulaiman, Nabi Yusuf, Nabi Isa
adalah nabi-nabi yang Muslim sesuai dengan nas ayat-ayat tersebut. Maka seluruh
nabi adalah orang-orang Muslim, lalu bagaimana Nabi Muhammad saw sebagai Nabi
yang terakhir dikatakan sebagai orang Muslim yang pertama?
Allah SWT berfirman dalam surah
al-An'am yang ditujukan kepada Nabi yang terakhir:
"Katakanlah: 'Sesungguhnya
shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta
alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku
dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).'"
(QS. al-An'am: 162-163)
Maka, bagaimana beliau menjadi
orang Muslim yang pertama, padahal penamaan umat beliau dengan sebutan al-Muslimin
adalah penamaan yang sebenarnya sudah dahulu dikenal di kalangan nabi-nabi
yang terdahulu dan kedatangannya ke alam wujud dan penamaan agamanya dengan
sebutan al-Islam sebenarnya berhutang kepada kakeknya yang jauh, yaitu
Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman dalam surah al-Hajj:
"Dan Dia sekali-kali tidak
menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang
tuamu Ibrahim. Dia telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu.
" (QS. al-Hajj: 78)
Tidak ada pertentangan dalam
pendahuluan para nabi dengan sebutan al-Muslimin daripada Rasulullah saw
dan kedudukan beliau sebagai orang Muslim yang pertama. Tentu kata al-Awwal (yang
pertama) di sini tidak dipahami dari sisi waktu atau masa kemunculan, tetapi
yang dimaksud dengan orang Muslim di sini adalah akmalul muslimin (orang
yang paling sempurna di antara orang-orang Muslim). Suatu kali Aisyah pernah
ditanya tentang akhlaknya Rasulullah saw lalu dia menjawab dengan kalimatnya
yang singkat: "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an."
Kita mengetahui bahwa Al-Qur'an
al-Karim menetapkan akhlak yang mulia meskipun dalam batasannya yang sederhana
dan rendah, dan menyebutkan keutamaan akhlak dalam tingkatannya yang tinggi.
Oleh karena itu, akhlak seperti apa yang dimiliki oleh Rasulullah saw: apakah
beliau memiliki akhlak yang sifatnya tengah-tengah, atau apakah beliau
mendahului dalam kebaikan, atau apakah beliau termasuk ashabul yamin (orang-orang
yang berasal di sebelah kanan), atau apakah beliau termasuk al-Muqarrabin (orang-orang
yang dekat dengan Allah SWT)?
Rasulullah saw tidak hanya
memiliki semua karakter tersebut dan atribut tersebut, bahkan kedudukan beliau
lebih dari itu semua. Beliau berada di puncak dari segala puncak keutamaan
akhlak, sehingga beliau berhak untuk mendapatkan sebutan dari Allah SWT:
"Dan sungguh pada dirimu
terdapat budi pekerti yang agung. " (QS. al-Qalam: 4)
Para Mufasir berbeda pendapat
tentang makna dari al-Huluqul 'adzim (budi pekerti yang agung). Sebagian
mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Al-Qur'an. Sebagian yang lain
mengatakan itu adalah Islam. Ada juga yang mengatakan bahwa beliau tidak
memiliki sesuatu kecuali keinginan untuk menuju jalan Allah SWT.
Dalam Al-Qur'an al-Karim terdapat
penjelasan tentang derajat beliau yang tinggi dalam dua ayat yang mulia. Ayat
yang pertama adalah firman-Nya:
"Katakanlah: 'Sesungguhnya
Shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta
alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku
dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).'" (QS.
al-An'am: 162-163)
Beliau adalah orang yang paling
utama di antara manusia semuanya; beliau memiliki keutamaan yang melebihi semua
manusia; beliau memiliki rahmat dan kemuliaan yang tidak dapat ditandingi oleh
seseorang pun. Meskipun beliau datang sebagai Nabi yang terakhir namun justru
karena posisi beliau sebagai Nabi yang terakhir, maka beliau menjadi bata yang
terakhir dalam pembangunan rumah kenabian yang tinggi, sehingga bata yang
terakhir itu harus menjadi puncak pembangunan manusia. Sedangkan ayat yang
kedua adalah firman-Nya:
"Dan Kami tidak mengutusmu
kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta." (QS.
al-Anbiya': 107)
Beliau bukan hanya menjadi rahmat
bagi orang-orang Arab saja; beliau bukan hanya menjadi rahmat bagi orang-orang Quraisy
dan beliau bukan menjadi rahmat bagi zamannya saja, begitu juga beliau tidak
menjadi rahmat bagi jazirah Arab saja, tetapi beliau menjadi rahmat bagi alam
semesta; beliau senantiasa menjadi rahmat bagi alam semesta: dimulai dari
diturunkannya wahyu kepadanya dengan kalimat iqra hingga Allah SWT
mewariskan bumi dan apa saja yang ada di dalamnya kepada orang-orang yang
berhak mewarisinya sampai hari kiamat. Alhasil, beliau adalah rahmat yang
dihadiahkan kepada manusia; beliau adalah rahmat yang tidak menonjolkan
mukjizat yang mengagumkan, tetapi beliau adalah rahmat yang memulai dakwah
dengan mengutamakan fungsi akal atau pembacaan dua kitab: pertama, pembacaan
kitab alam atau Al-Qur'an yang diciptakan atau kalimat-kalimat Allah SWT yang
terdiri dari jutaan bentuk dan kedua pembacaan Al-Qur'an yang diturunkan
melalui malaikat Jibril di mana ia merupakan kalamullah yang abadi. Dan
kitab alam dibaca dengan ribuan cara: dibaca melalui penelusuran dunia:
"Katakanlah: 'Berjalanlah
kamu di mnka bumi dan amat-amatilah.'" (QS. an-Naml: 69)
Atau dibaca melalui usaha
menyingkap misteri dan penggunaan akal:
"Kami akan memperlihatkan
kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri
mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar.
" (QS. Fushilat: 53)
Atau dibaca melalui ilmu dan
pengamatan:
"Atau siapakah yang telah
menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang telah menjadikan sungai-sungai
di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan
menjadikan suatu pemisah antara dua laut 1 Apakah di samping Allah ada tuhan
(yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui."
(QS. an-Naml: 61)
Jika di sana terdapat ribuan
jalan atau cara untuk membaca kalimat-kalimat Allah SWT dan kitab alam, maka di
sana terdapat satu jalan untuk membaca kalamullah yang abadi, yaitu
hendaklah Al-Qur'an dibaca dengan mata hati dan kecermelangan basirah, sehingga
Al-Qur'an menjadi bagian akhlak dari yang membaca sesuai dengan kemampuannya.
Sebelum turunnya Al-Qur'an, dunia
diliputi dengan kekurangan, baik secara materi, ruhani, undang-undang maupun
dari dimensi kehidupan yang biasa melekat pada manusia saat itu. Dan sebelum
diutusnya Rasul saw yang beliau adalah manusia yang sempurna dan paling utama,
alam belum mencapai puncak dari penyerahan diri kepada Allah SWT atau puncak
dari keutamaan akhlak. Ketika Rasulullah saw diutus, maka manusia mengalami
kesempurnaan dan mampu mencapai tingkat kesempurnaannya. Dengan Kitab yang
mulia ini dan Nabi yang pengasih, Allah SWT yang menyempurnakan agama bagi
manusia dan menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka, sebagaimana firman-Nya:
"Pada hari ini telah
Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku,
dan telah Ku-ridhai Islam itujadi agama bagimu. " (QS.
al-Maidah: 3)
Namun semua itu tidak terwujud
begitu saja, Nabi yang mulia harus berjuang secara serius dan sungguh-sungguh,
sehingga beliau menjadi manusia yang paling layak untuk mendapatkan pujian
pendduduk bumi dan penduduk langit. Dan Rasulullah saw telah melakukan semua
itu. Kita tidak mengenal seorang nabi yang perasaannya dihina dan dicaci maki
lebih dari apa diterima oleh Muhammad bin Abdillah; kita tidak mengenal seorang
nabi yang memikul berbagai penderitaan, dan memiliki kesabaran yang mengagumkan
di jalan Allah SWT sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi kita.
Kemudian, seorang yang diutus
oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi alam semesta tidak akan mengajak manusia
menuju kebenaran kecuali jika manusia tersebut dari kalangan orang-orang yang
kafir dan membangkang. Beliau berdakwah bagi orang yang berhak mendapatkan
dakwah; beliau siap memikul tanggung jawab dakwah dengan berbagai tantangan dan
cobaannya; beliau menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Setelah itu, beliau
datang kepada Allah SWT dengan hati yang puas dan air mata yang bercucuran dan
dengan suara berbisik berkata: "Ya Allah, jika tidak ada kemurkaan pada
diri-Mu, maka aku tidak akan peduli dengan manusia." Segala sesuatu akan
menjadi mudah jika di sana terdapat ridha Allah SWT.
Setelah turunnya wahyu kepada
Rasul saw, beliau memulai tahapan dakwah dan mengajak manusia untuk menyembah
Allah SWT. Dimulailah dakwah secara rahasia yang berlangsung selama tiga tahun
dalam persembunyian.
Mula-mula Ummul Mu'minin,
Khadijah binti Khuwailid beriman kepadanya, lalu beriman juga sahabatnya, Abu
Bakar sebagaimana beriman kepadanya anak pamannya, Ali bin Abi Thalib yang saat
itu masih kecil dan hidup di bawah asuhan Muhammad, dan juga beriman kepadanya
Zaid bin Tsabit, seorang pembantunya. Kemudian Abu Bakar juga ikut berdakwah,
sehingga ia memasukkan dalam dakwah teman-temannya, seperti Usman bin Affan,
Thalha bin Ubaidilah, dan Sa'ad bin Abi Waqas. Juga beriman seorang Masehi,
yaitu Waraqah bin Nofel dan Rasulullah saw melihatnya setelah kematiannya tanda
kesenangan yang itu menunjukkan ketinggian derajatnya di sisi Allah SWT.
Setelah itu, Abu Dzar al-Ghifari juga masuk Islam, lalu disusul oleh Zubair bin
Awam dan Umar bin 'Anbasah serta Sa'id bin 'Ash. Jadi, Islam mulai mengepakkan
sayapnya secara rahasia di Mekah.
Kemudian berita tersebarnya
akidah yang baru ini sampai kepada pembesar-pembesar Quraisy, tetapi mereka
tidak begitu peduli. Barangkali mereka membayangkan bahwa Muhammad telah
menjadi—karena uzlah yang dilakukannya di gua Hira—salah seorang juru bicara
tentang ketuhanan sebagaimana pernah dilakukan oleh Umayah bin Shalt dan Qas
bin Sa'adah.
Demikianlah dakwah secara rahasia
berhasil mengembangkan misinya dan dapat melindungi akidah yang baru. Dan
selama perjalanan tiga tahun yang dibutuhkan tahapan dakwah secara rahasia
keimanan telah tertanam dalam hati kaum Muslim yang pertama. Rasulullah saw
telah mendidik mereka dan telah menanamkan kepada diri mereka sifat-sifat
kemuliaan dan telah menciptakan mereka sebagai benih pertama dari pasukan
Islam. Pada suatu hari Jibril turun dengan membawa firman Allah SWT:
"Dan berilah peringatan
kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." (QS.
asy-Syu'ara': 214)
Demikianlah, datanglah perintah
Ilahi agar Rasulullah saw berdakwah secara terang-terangan. Lalu berkumpullah
di sekeliling Nabi sekelompok tentara yang besar dan datanglah perintah Ilahi
agar beliau menyampaikan dakwah secara terang-terangan dan mengingatkan
keluarga dekatnya. Ketika Nabi melakukan hal tersebut, maka dakwah memasuki
tahapan yang kedua. Dan tahapan dakwah yang baru ini berakibat pada timbulnya
penekanan terhadap para dai di mana mereka mengalami penindasan, bahkan mereka
didustakan oleh masyarakat serta diboikot.
Orang-orang Quraisy mengetahui
bahwa Muhammad berbahaya bagi mereka. Beliau bukan hanya berbicara tentang
ketuhanan, tetapi beliau mengajak rnanusia untuk mengikuti agama baru, yaitu
agama yang mencoba untuk menyingkirkan berhala-berhala dan patung-patung mereka
serta tuhan-tuhan mereka yang mereka yakini; agama yang mencoba menyingkirkan
kedudukan sosial mereka dan kepentingan-kepentingan ekonomi mereka; agama yang
menyatakan bahwa tiada tuhan lain selain Allah SWT, dan tiada hukum lain selain
hukum-Nya, serta tiada penguasa lain selain Dia. Kedatangan agama tersebut
menyebabkan penduduk kota Mekah membencinya dan orang-orang yang memegang
kekuasaan di dalamnya merasa gelisah.
Setelah pengumuman dakwah secara
terang-terangan, dimulailah dan ditabuhlah gendrang peperangan. Kemudian
peperangan yang dahsyat terjadi antara para pembesar Quraisy dan para pengikut
Rasulullah saw. Orang yang pertama kali menyerang Islam adalah seorang tokoh
Mekah yang bernama Abu Lahab.
Bukhari meriwayatkan bahwa
Rasulullah saw menaiki bukit Shafa dan beliau mulai memanggil-manggil tokoh
Quraisy dan para kabilah Mekah. Dan ketika semua berkumpul, beliau bertanya
kepada mereka: "Apakah kalian percaya jika aku memberitahu kalian bahwa
seekor kuda akan datang menyerang kalian?" Mereka menjawab: "Tentu,
kami belum pernah melihatmu berbohong." Beliau berkata: "Aku seorang
yang diutus sebagai pemberi peringatan terhadap kalian. Di hadapanku terdapat
siksaan yang berat jika kalian menentang." Abu Lahab berkata:
"Sungguh celaka engkau, apakah karena ini engkau mengumpulkan kami."
Dengan penghinaan inilah,
peperangan terhadap Islam dimulai. Ketika kaum Muslim tidak mampu
mempertahankan diri mereka, maka mula-mula Allah SWT membantu mereka dan
menolong mereka dengan menurunkan surah yang pendek yang mengecam tindakan Abu
Lahab:
"Binasalah kedua tangan Abu
Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah bermanfaat kepadanya harta
bendanya dan apa yang dia usahahan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang
bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada
tali dari sabut. " (QS. Allahab: 1-5)
Dengan ayat-ayat yang pendek dan
tepat tersebut, Abu Lahab memasuki kancah sejarah dari pintunya yang paling
pendek. Gambaran tentang kejahatan Abu Lahab tertulis selama-lamanya. Abu Lahab
adalah seorang yang menentang dakwah kebenaran karena ia mengkhawatirkan
kedudukannya dan kekayaannya, padahal harta yang dipertahankannya dan dijaganya
tidak memiliki arti sama sekali di sisi Allah SWT karena ia sekarang berada dan
dijebloskan di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala, sedangkan isterinya
membawa kayu bakar, sehingga menambah nyala api itu sendiri. Dan di lehernya
terdapat suatu belenggu sebagai simbol keterikatannya dengan dunia binatang
yang tidak berakal. Sebagian besar orang-orang yang menentang dakwah adalah orang-orang
yang berhubungan dengan dunia binatang yang tidak sadar.
Allah SWT berfirman:
"Atau apakah kamu mengira
bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain,
hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari
binatang ternak itu). " (QS. al-Furqan: 44)
Seandainya hari ini kita
merenungkan reaksi orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, maka kita akan
terheran-heran.
Allah SWT berfirman:
"Dan mereka heran karena
mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan
orang-orang kafir berkata: 'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.
Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang Satu saja? Sesungguhnya ini
benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan'."
(QS. Shad: 4-5)
Coba perhatikan bagaimana
kebodohan kaum itu di mana mereka menganggap bahwa pada hakikatnya terdapat
multi tuhan dan mereka jutru merasa heran ketika terdapat hanya satu tuhan atau
tuhan yang esa. Mereka justru merasa heran ketika berhadapan dengan masalah
yang fitri dan jelas ini.
Allah SWT berfirman:
"Dan apabila mereka melihat
kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan
mengatakan): 'Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai rasul? Sesungguhnya
hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita
tidak sabar (menyembah)nya. " (QS. al-Furqan: 41-42)
Perhatikanlah betapa nekatnya
kaum itu di mana mereka mulai menghina dan mengejek Rasulullah saw, padahal
beliau telah datang di tengah-tengah mereka untuk menyelamatkan mereka dari api
neraka, dan coba perhatikan bagaimana pandangan mereka terhadap tuhan-tuhan
mereka. Mereka membayangkan bahwa mereka nyaris tersesat jika mereka tidak
bersabar dalam membela tuhan-tuhan tersebut. Demikianlah kesesatan mengejek
kebenaran dan kebodohan menghina ilmu. Mereka justru merasa heran terhadap
kepandaiannya yang dapat menyelamatkannya dari meninggalkan tuhan-tuhannya yang
terbuat dari batu dan kayu, bahkan terkadang mereka membuat tuhan dari adonan
roti di mana mereka menyembahnya kemudian memakannya. Mereka mengatakan bahwa
tuhan-tuhan kami menyelamatkan kami dari rasa lapar atau mereka mengatakan
bahwa kami menyembah mereka agar mereka dapat mendekatkan kami pada Allah
sedekat-dekatnya.
Meskipun demikian, dakwah Nabi
terus berlanjut dan tertanam di muka bumi. Mereka orang-orang musyrik menuduh
Nabi sebagai seorang dukun; mereka menuduhnya juga sebagai seorang gila, bahkan
mereka menuduhnya sebagai seorang penyihir; mereka menuduh bahwa beliau
berbohong atas nama kebenaran dan beliau dibantu oleh kaum yang lain; mereka
mengatakan ini adalah dongengan orang-orang yang dahulu.
Mereka meminta kepada beliau
untuk mendatangkan mukjizat dengan bentuk tertentu; mereka memberitahu bahwa
mereka tidak akan beriman kepadanya, sehingga terdapat suatu mata air yang
memancar dari bumi atau terwujud di depan mereka suatu taman dari pohon kurma
dan anggur yang memancar di tengah-tengahnya sungai, atau langit akan runtuh
sebagaimana yang beliau sampaikan kepada mereka sebagai bentuk azab atau beliau
datang dengan Allah SWT dan para malaikat dan mereka semua menjamin kebenaran
dakwah yang diserukannya, atau beliau memiliki rumah dari emas atau beliau
mampu mendaki langit dan mereka masih belum beriman terhadap pendakian itu
meskipun ia mendaki di hadapan mata mereka dan kembali dengan selamat, kecuali
jika ia menghadirkan kitab kepada mereka yang dapat mereka baca dari langit.
Nabi tidak peduli dengan usaha
mereka untuk menyakiti hati beliau; Nabi tetap memberitahu mereka dengan penuh
kelembutan bahwa apa saja yang mereka minta itu tidak sesuai dengan Islam.
Sebab, Islam hanya menyeru akal dan berusaha menciptakan kebebasan. Beliau
menyampaikan kepada mereka bahwa beliau hanya sekadar manusia yang diutus oleh
Tuhan; beliau datang kepada mereka untuk mengingatkan mereka akan suatu hari di
mana seorang tua tidak akan menyelamatkan anaknya dan tidak bermanfaat di
dalamnya harta dan anak-anak, dan mereka tidak akan selamat di dalamnya dari
siksaan. Orang-orang yang mempunyai kedudukan atau para tokoh mereka adalah
para tiran-tiran di muka bumi di mana semua itu tidak akan bermanfaat bagi
mereka pada hari kiamat. Siksaan yang bakal mereka terima tidak dapat mereka
hindari dan mereka pun tidak dapat meringankannya.
Demikianlah Islam—sebagaimana agama-agama
sebelumnya— mengumpulkan di sekelilingnya orang-orang yang berakal dan
orang-orang yang fakir serta orang-orang yang menderita di muka bumi.
Berimanlah sekelompok orang-orang fakir di mana mereka menjadi kelompok sosial
yang tertindas dan tersingkirkan di Mekah. Mereka menjadi makanan empuk
kelompok-kelompok yang lalim.
Islam bukan hanya memberikan
solusi ekonomi terhadap tragedi kehidupan atau masyarakat, tetapi Islam
memberikan solusi Ilahi terhadap keberadaan manusia secara umum; Islam meyakini
bahwa manusia bukan hanya sekadar perut yang harus dikenyangkan dan naluri
seksual yang harus dipuaskan, manusia bukan hanya dilihat dan dinilai dari sisi
ini, namun Islam justru meletakkan manusia pada tempatnya yang hakiki, tanpa
membesar-besarkan atau mengecilkannya. Dalam pandangan Islam, manusia terdiri
dari bangunan fisik dan ruhani, terdiri dari akal dan ambisi dan terdiri dari
celupan dari Allah SWT dalam ruhnya.
Islam tidak mementingkan fisik
saja dan meninggalkan ruhani, begitu juga sebaliknya. Terkadang fisik boleh
jadi mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan, tetapi ruhani justru mengalami
penderitaan yang luar biasa. Karena itu, pemuasan salah satu dimensi dari
dimensi manusia tidak akan membawa manusia kepada kesempurnaan atau
kebahagiaan. Maka, Islam datang untuk membawa suatu solusi yang dapat
menyelamatkan manusia dari dalam dirinya sendiri dan Islam membebankan tugas
ini, yakni tugas perubahan ini kepada Al-Qur'an.
Al-Qur'an menjadi cermin dalam
kehidupan di mana ayat-ayatnya diturunkan kepada Rasul saw, lalu beliau
mengajarkannya kepada kaum Muslim. Kemudian Al-Qur'an berubah menjadi
orang-orang yang berjalan di pasar-pasar dan mengancam singgasana kebencian
yang menguasai Mekah, sehingga orang-orang musyrik justni meningkatkan usaha
pengejekan dan penghinaan terhadap Rasul saw. Oleh karena itu, beliau semakin
sedih lalu Allah SWT menghiburnya. Allah SWT memberitahu beliau bahwa mereka
tidak mendustakannya, tetapi mereka justru melalimi diri mereka sendiri. Mereka
mulai menentang Nabi dan ayat-ayat Allah SWT, padahal Nabi adalah salah satu
dari ayat Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Kami
mengetahui bahwasannya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu,
(janganlah hamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu,
akan tetapi orang-orang yang lalim itu mengingkari ayat-ayat Allah."
(QS. al-An'am: 33)
Kemudian kaum musyrik
meningkatkan penindasan kepada Rasul saw dan para pengikutnya. Peperangan
dimulai: dari peperangan urat saraf sampai peperangan fisik. Mereka mulai
menyiksa para pengikut Rasul saw, bahkan membunuhnya. Pada saat itu,
musuh-musuh Islam membayangkan bahwa dengan cara menindas kaum Muslim dan
menekan mereka dakwah Islam akan berhenti dan kaum Muslin akan enggan untuk
berdakwah. Mereka menganggap bahwa kaum Muslim justru memilih untuk
menyelamatkan diri mereka. Namun para tokoh-tokoh Quraisy dan para tokoh-tokoh
Mekah dikagetkan ketika melihat penekanan yang mereka lakukan justru semakin
membakar semangat kaum Muslim untuk berdakwah. Saat itu kaum Muslim merasa
yakin bahwa benih yang telah ditanam Rasulullah saw dalam diri mereka
menjadikan mereka tetap bersemangat untuk menyebarkan risalah Allah SWT di muka
bumi, yaitu suatu risalah yang mengembalikan bumi menuju kematangan
(kesempurnaan) yang telah hilang darinya dan kema-nusiaan yang telah
disia-siakan serta kehormatan yang telah ditumpahkan dan kebebasan yang telah
hilang.
Kaum Muslim yakin bahwa mereka
bukan hanya membangun suatu negeri yang kecil di Mekah, dan mereka bukan hanya
memperbaiki masyarakat yang rusak, yaitu masyarakat jazirah Arab, tetapi mereka
mengetahui bahwa mereka akan membangun suatu manusia yang baru. Mereka akan
menciptakan manusia seutuhnya; mereka akan menghadirkan dunia dalam bentuk yang
baru dan dalam gambar yang baru yang merupakan cermin dari gambar kebesaran
sang Pencipta.
Sebelum kedatangan Islam,
orang-orang Arab tidak dikenal. Dibandingkan dengan peradaban yang dahulu dan
modern, orang-orang Arab tidak memiliki apa-apa. Mereka tidak memberikan
kontribusi kepada dunia dalam bentuk ilmu, seni, atau peninggalan apa pun yang
dapat dijadikan sebagai kebanggaan. Namun ketika Islam turun kepada mereka,
mereka menjadi cermin kejayaan manusia di mana mereka dapat memberikan
sumbangan nyata pada umat manusia. Bahkan orang-orang Barat banyak berhutang
kepada mereka dalam kemajuan yang mereka capai saat ini. Sebaliknya, ketika
mereka berpaling dari Islam di mana Islam hanya menjadi lembaran cerita-cerita
dan kertas-kertas yang tidak berguna, maka saat itulah orang-orang Barat dapat
menguasai kaum Muslim karena mereka justru mendapatkan ilmu dari Kaum Muslim
itu sendiri. Mereka justru mencapai kemajuan ketika kaum Muslim meninggalkan
agama mereka. Jadi, ketika kaum Muslim memahami Islam secara benar dan berusaha
untuk memnghidupkan ajaran-ajarannya niscaya mereka akan mencapai puncak
keilmuan.
Pada awal-awal masa tersebarnya
Islam, kaum Muslim menyadari bahwa mereka menghadapi peperangan yang tidak akan
berhenti. Selama kehidupan ada, maka pertentangan pun tetap ada. Oleh karena
itu, ketika mereka mendapatkan penganiayaan dan siksaan, maka keimanan mereka
justru semakin meningkat, dan setiap penganiayaan yang dilakukan oleh kaum
Quraisy, maka mereka tetap bertahan untuk mempertahankan kebenaran. Sebagai
contoh, Amar bin Yasir mengalami penderitaan dan penganiayaan. Ia adalah salah
seorang budak yang menjadi korban dari sistem ekonomi yang berlaku saat itu,
yaitu ekonomi yang berdasarkan kepada sistem perbudakan. Seorang yang beriman
tersebut disiksa di Mekah di mana ia tidak memperoleh kebebasannya yang hakiki
kecuali setelah ia memeluk Islam. Mereka mengeluarkannya ke gurun dan
menyiksanya beserta ibunya. Bahkan siksaan semakin meningkat atas ibunya agar
ia kembali menjadi musyrik. Ketika ia tetap mempertahankan keimanannya dan
dengan tegas menolak ajakan untuk menentang Islam, maka Abu Jahal menikamnya
dengan belati yang ada di dua tangannya. Ia pun meninggal. Dan Islam
mengorbankan syahidnya yang pertama. Wanita mulia itu bernama Sumayah, ibu dari
Amar bin Yasir.
Banyak kalangan orang-orang bodoh
mengatakan tentang persetujuan Islam terhadap sistem perbudakan, atau Islam
mendiamkan sistem perbudakan. Mereka lupa bahwa Islam dibangun berdasarkan
suatu prinsip yang ingin membebaskan perbudakan dengan segala bentuknya; Islam
ingin mengeluarkan manusia dari kepemilikan sesama manusia menuju kepemilikan
kepada Allah SWT.
Jika Islam tidak turun dengan
nas-nas yang terperinci yang mengharamkan sistem perbudakan, maka
dasar-dasarnya secara umum dan prinsip-prinsip utamanya menghentikan—baik dalam
tindakan maupun ucapan—sumber-sumber sistem ini. Allah SWT sebagai pemilik
syariat mengetahui bahwa sistem perbudakan adalah sistem ekonomi yang sementara
yang akan berubah dengan perubahan waktu, dan karena Islam tidak turun pada
waktu yang terdapat perbudakan saja, tetapi ia turun secara umum dan menyeluruh
untuk setiap zaman, maka Islam sengaja melewati bentuk-bentuk yang temporal ini
dari bentuk-bentuk eksploitasi menuju unsur yang pertama atau dasar pertama
yang menimbulkan bentuk-bentuk eksploitasi tersebut, sehingga Islam
mengharamkannya. Dengan cara demikian, Islam mengharamkan sistem perbudakan
secara bertahap, seperti proses pengharaman khamer. Jadi, keseriusan Islam
sangat menonjol dalam usaha menghapus dan mengharamkan perbudakan.
Jika dikatakan kepada kita bahwa
Islam membolehkan para tentaranya untuk memperbudak para tawanan perang, maka
kita akan mengatakan bahwa Islam menerapkan sistem ini sebagai bentuk
pembalasan terhadap perlakuan yang sama di mana musuh-musuh Islam menjadikan
kaum Muslim sebagai budak-budak mereka ketika mereka menawannya. Oleh karena
itu, secara alami orang-orang Islam pun menawan mereka sebagai budak-budak.
Jika Islam tidak melakukan yang demikian, maka boleh jadi Islam akan
dimain-mainkan dan ada kesempatan besar bagi orang-orang musyrik untuk
memperdaya Islam.
Demikianlah bahwa dakwah Islam
mengalami berbagai macam hambatan dan penindasan. Dan ketika orang-orang yang
tersiksa mengadu kepada Rasulullah saw atas penindasan yang mereka terima, maka
Rasulullah saw memberitahu mereka dengan pembicaraan yang jelas bahwa para dai
di jalan Allah SWT harus mengorbankan kesenangan mereka, kedamaian mereka, dan
darah mereka sebagai harga yang pantas untuk tersebarnya dakwah Islam.
Kebebasan bukan diperoleh dengan cuma-cuma. Sejarah kehidupan menceritakan
kepada kita bahwa ia dipenuhi dengan gumpalan darah yang harus dibayar oleh
masyarakat untuk memerangi musuh-musuhnya dari luar dan dari dalam. Jika ini
dialami setiap orang yang menuntut kebebasan pada zaman dan tempat tertentu, maka
bagaimana dengan orang-orang yang menuntut kebebasan manusia secara
keseluruhan.
Seorang Muslim hendaklah sadar
bahwa dengan mengumumkan dakwahnya, maka ia pasti akan menerima pengusiran,
penindasan, penjara, pengepungan dan pembunuhan. Ini adalah harga yang pantas
yang harus dibayar ketika berdakwah di jalan Allah SWT; inilah harga kebebasan.
Bahkan terkadang kaum yang batil pun membayamya dengan senang hati, maka
bagaimana mungkin orang-orang yang bersama kebenaran ragu untuk melakukannya.
Pada hakikatnya, manusia cinta
kepada keabadian. Secara naluri manusia merasa takut pada azab dan kematian.
Dan barangkali yang membedakan orang-orang Islam yang hakiki dengan yang
lainnya adalah bahwa mereka terbebas dari rasa ketakutan dan cinta keabadian.
Ini adalah tolok ukur yang pasti untuk membedakan antara seorang Muslim yang
hakiki dan seorang Muslim yang hanya namanya atau Muslim warisan atau hanya
klaim semata.
Seorang Muslim yang hakiki
menyadari bahwa ajal di tangan Allah SWT, rezeki adajuga di tangan-Nya, begitu
juga keamanan semua ada di tangan-Nya. Dengan keimanan seperti ini, ia memulai
pergulatannya untuk menyebarkan dakwah. Ia siap untuk menerima penyiksaan dan
penderitaan di jalan Allah SWT; ia pun siap meneteskan darahnya sebagai harga
yang pantas yang diberikannya dalam rangka memperoleh kebebasan. Ini semua
dilakukanya dengan begitu sederhana dan tidak ada rasa takut karena Islam
membebaskannya dari rasa ketakutan. Dahulu para pembangkang menggergaji
orang-orang yang menyeru di jalan Allah SWT dengan menggergaji saat mereka
dalam keadaan hidup-hidup.
Khabab bin Irit pergi menemui
Rasulullah saw dan meminta tolong kepada beliau dari penyiksaan orang-orang
Quraisy, sambil berkata: "Tidakkah engkau menolong kami, wahai Rasulullah?
Tidakkah engkau berdoa kepada kami, ya Rasulullah?" Rasulullah saw
menjawab: "Sungguh sebelum kalian terdapat orang-orang yang berdakwah di
jalan Allah SWT lalu mereka dimasukkan dalam suatu galian tanah lalu mereka
digergaji di mana tubuh mereka dipisah menjadi dua, namun mereka tetap
mempertahankan agamanya. Demi Allah, sungguh Allah SWT akan menolong masalah
ini tetapi kalian terlalu tergesa-gesa."
Dengan kalimat-kalimat yang penuh
kesabaran dan keberanian ini, Rasulullah saw ingin memahamkan kepada orang
tersebut bahwa termasuk dari kesempurnaan iman adalah membayar harga kebebasan.
Jelas sekali bahwa Islam tidak memberikan keuntungan bagi orang yang
memeluknya. Orang-orang Islam yang pertama tidak bertanya dan mengatakan:
"Apa yang kita peroleh dari agama ini?" Sebaliknya, mereka bertanya:
"Apa yang kita bayar untuk Islam?" Jawabannya adalah: "Segala
sesuatu dimulai dari suapan-suapan roti sampai darah yang tertumpah."
Jadi, kaum Muslim yang pertama telah membayar ongkos kebebasan. Mereka
merasakan kedamaian yang luar biasa untuk mempertahankan agama Allah SWT;
mereka mendapatkan kepercayaan yang tinggi tentang kemenangan kebenaran yang
datang kepada mereka; mereka justru memberitahu orang-orang musyrik bahwa
mereka akan dapat mengalahkan raja-raja Kisra dan Kaisar. Dengan dakwah yang
mereka lakukan, mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin di muka bumi. Kaum
musyrik justru memanfaatkan kepercayaan ini untuk mengejek mereka dan
menertawakan mereka.
Ketika Aswad Ibnu Matlab dan
orang-orang yang bersamanya melihat sahabat-sahabat Nabi, maka mereka mengejek
dan mengatakan: "Telah datang kepada kalian pemimpin-pemimpin bumi yang
esok akan mengalahkan raja-raja Kisra dan Kaisar, kemudian mereka bersiul dan
bertepuk tangan." Namun kaum mukmin tidak peduli dengan ejekan tersebut.
Demikianlah bahwa ejekan demi ejekan terus menyertai dakwah kaum Muslim.
Kemudian kaum Quraisy mengadakan pertemuan yang bersejarah untuk menyatukan
pandangan dalam rangka menyerang Rasulullah saw. Kaum musyrik menuduhnya bahwa
beliau adalah seorang ahli sihir, dan pada kali yang lain mereka menuduhnya
bahwa beliau adalah dukun, dan pada kali yang lain lagi mereka menuduhnya bahwa
beliau adalah penyair, bahkan pada kali yang lain mereka menuduhnya bahwa
beliau adalah seorang yang gila. Kemudian mereka semua sepakat untuk menuduh
bahwa beliau adalah seorang penyihir.
Walid bin Mughirah yang terkenal
sebagai orang yang terpandang di kalangan mereka menuduh Rasulullah saw sebagai
penyihir yang dapat memisahkan antara sesama saudara dan antara seseorang
dengan isterinya. Kemudian mereka membikin kelompok-kelompok yang mengingatkan
para pendatang di Mekah bahwa Muhammad adalah seorang penyihir. Meskipun
demikian, dakwah Islam tetap berlangsung. Ia tetap tersebar dengan pelan namun
pasti dan kalimat-kalimat yang diutarakan Nabi justru mengingatkan perjanjian
yang pernah dilakukan oleh manusia, yaitu perjanjian saat Allah SWT
menyaksikannya ketika mereka masih di alam atom di punggung Adam:
"Bukankah aku Tuhan kalian?
Mereka menjawab: 'Benar.'" (QS. al-A'raf: 172)
Bertambahlah jumlah kaum Muslim
hingga kaum Quraisy merasakan ketakutan. Mereka mulai melihat bahwa penggunaan
cara-cara kekerasan tidak selalu berhasil. Kemudian mereka memilih untuk
menggunakan cara baru, yaitu bagaimana seandainya mereka menggunakan perdamaian
dan perundingan. Orang-orang Quraisy mengutus 'Utbah bin Rabi'ah, seorang
lelaki yang terkenal dengan kecerdasan dan kebijaksanaan sebagai juru runding.
'Utbah berkata kepada Rasul saw:
"Wahai anak saudaraku, kami mengetahui kedudukanmu di sisi kami dari sisi
nasab. Engkau datang kepada kaummu dengan suatu hal yang besar di mana engkau
memisahkan kelompok-kelompok mereka. Maka dengarkanlah aku karena aku ingin
berbicara tentang beberapa hal. Barangkali engkau akan menerima
sebagiannya." Rasul saw berkata: "Silakan berbicara wahai
'Utbah." 'Utbah berkata: "Jika engkau menginginkan harta niscaya kami
akan mengumpulkan harta bagimu, sehingga engkau akan menjadi orang yang paling
kaya di antara kami, dan jika engkau menginginkan kehormatan, maka kami akan
memberi kehormatan itu bagimu dan jika engkau menginginkan kekuasaan, maka kami
akan menyerahkan kekuasaan padamu dan jika engkau terkena penyakit yang engkau
tidak mampu menolaknya dari dirimu, maka kami akan mencarikan tabib bagimu dan
kami akan mengeluarkan harta kami sehingga engkau sembuh."
Demikianlah 'Utbah mengakhiri
pembicarannya. Kemudian ia menunggu reaksi Nabi. Lalu Rasulullah saw berkata:
"Dengan nama Allah yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang. Haa miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyanyang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam
bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan yang
membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya);, maka mereka
tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: 'Hati kami berada dalam tutupan (yang
menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan
dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; Sesungguhnya kami
bekerja (pula).' Katakanlah: 'Bahwasannya aku hanyalah seorang manusia seperti
kamu, diwahyukan kepadaku bahwasannya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa,
maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun
kepadanya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-(Nya),
(yaitu) orang-orangyang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya
(hehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.' Katakanlah:
'Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa
dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan
semesta alam. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di
atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan
(penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi
orang-orang yang bertanya. Kemudian dia menuju kepada penciptaan langit dan
langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: 'Datanglah
kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya
menjawab: 'Kami datang dengan suka hati.' Maha Dia menjadikannya tujuh langit
dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami
hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami
memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perhasa
lagi Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling, maka katakanlah: 'Aku telah
memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan kaum
Tsamud." (QS. Fushilat: 1-13)
Rasulullah saw telah menjawab
tawaran 'Utbah di mana beliau memilih untuk menghadapi tawaran dan iming-iming
tersebut dengan membaca sebagian dari surah Fhusilat yang merupakan salah satu
surah Al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril. 'Utbah
bangkit dari tempatnya ketika Rasulullah saw sampai pada firman-Nya:
"Jika mereka berpaling, maka
katakanlah: 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang
menimpa kaum "Ad dan kaum Tsamud. " (QS. Fushilat: 13)
'Utbah berdiri dalam keadaan
takut dan segera menuju kaum Quraisy. Bayang-bayang azab dunia terngiang di
telinganya. Dan ketika ia sampai ke orang Quraisy, ia mengusulkan agar
orang-orang Quraisy membiarkan apa saja yang dilakukan Muhammad. Gagallah
perundingan dengan seorang Muslim yang pertama, yaitu Rasulullah saw. Gagalnya
perundingan tersebut sebagai bentuk pemberitahuan tentang kembalinya tindak
kekerasan dan penyiksaan terhadap sahabat-sahabat Rasul saw. Kemudian kaum
musyrik semakin meningkatkan penindasan terhadap kaum Muslim. Rasulullah saw
sangat menderita melihat hal yang dirasakan para sahabatnya. Ketika kaum Muslim
membayar harga yang paling mahal sebagai konsekuensi dari akidah yang mereka
anut dan mereka dengan sabar memikul penderitaan di jalan Allah SWT, maka
Rasulullah saw mengisyaratkan mereka untuk berhijrah. Beliau memberikan izin
untuk berhijrah bagi orang yang ingin hijrah.
Kemudian Dimulailah gelombang
hijrah. Itu terjadi pada lima tahun dari turunnya wahyu setelah dua tahun
diumumkannya dakwah. Maka berhijrahlah ke Habasyah enam belas orang Muslim.
Mereka keluar secara rahasia dan mereka menuju ke laut. Mereka berlayar
meskipun orang-orang yang tinggal di gurun sebenarnya tidak ingin berlayar karena
mereka takut dari laut dan mereka yakin bahwa manusia yang berlayar di laut
akan menjadi ulat di atas kayu-kayu yang berenang.
Selanjutnya, gelombang hijrah
yang kedua pun dimulai. Kali ini diikuti oleh delapan puluh tiga orang
laki-laki dan sembilan belas perempuan. Kemudian orang-orang Quraisy berusaha
untuk mengirim beberapa orang dan tetap berusaha menyiksa dan menyakiti
orang-orang yang berhijrah. Mereka mengutus ke Najasyi, Raja Habasyah,
orang-orang yang dapat mempengaruhinya untuk menentang orang-orang yang
berhijrah. Mereka menuduh kaum Muslim meninggalkan agama nenek moyang mereka di
Mekah dan mereka juga tidak menganut agama Najasyi, yaitu agama Kristen.
Kemudian orang-orang Quraisy tidak lupa mengirim hadiah kepada Najasyi sebagai
bentuk suapan kepadanya. Tampaknya Najasyi seorang yang berakal lalu ia
mengutus seseorang kepada kaum muhajirin dan bertanya kepada mereka tentang
agama baru yang mereka anut. Kemudian kaum muhajirin menceritakan kepadanya
tentang Islam.
Najasyi bertanya tentang Isa lalu
mereka menjawab: "Ia adalah hamba Allah SWT dan rasul-Nya dan ruh-Nya
serta kalimat-Nya yang diletakkan kepada Maryam, wanita yang perawan yang
suci." Kemudian Najasyi mengambil satu kayu kecil dari bumi dan
mengatakan: "Penjelasan tentang Isa yang kalian katakan tidak lebih dari
kayu kecil ini. Pergilah kalian dan kalian akan aman." Najasyi
mengembalikan hadiah kaum Quraisy dan mengatakan: "Allah tidak mengambil
suap dariku sehingga aku tidak mungkin mengambilnya dari kalian."
Demikianlah kaum muhajirin
tinggal di negeri yang damai, yaitu Habasyah negeri yang dipimpin oleh seorang
laki-laki yang diberi kematangan berpikir di mana ia cenderung mengimani
karakter al-Masih sebagai seorang manusia. Dan salah satu keajaiban kekuasaan
Ilahi adalah bahwa masyarakat Islam yang berhijrah tersebut tidak mengalami
kelemahan dalam akidahnya, namun mereka justru merasakan kekuatan.
Allah SWT memperkuat dakwah Islam
dengan masuknya dua lelaki besar dalam Islam, yaitu Hamzah, paman Nabi dan Umar
bin Khatab. Kedua orang itu mempunyai kepribadian yang tangguh di Mekah di mana
masing-masing dari mereka terkenal di tengah-tengah kaumnya. Allah SWT
berkehendak untuk memberi Islam dua orang lelaki yang tangguh di Mekah dan
Allah SWT telah meletakkan rahmat yang terpancar dalam hati mereka. Hamzah
masuk Islam karena dorongan emosi, fanatisme, dan rahmat terhadaporang-orang
yang tidak memberikan pembelaan kepada Muhammad saw.
Salah seorang perempuan berkata
kepada Hamzah: "Seandainya engkau melihat apa yang diperoleh oleh anak
dari saudaramu, Muhammad dari Abil Hakam bin Hisyam (Abu Jahal). Sungguh Abu
Jahal telah mencelanya dan menyakitinya, sedangkan Muhammad hanya terdiam dan
tidak mengatakan apa-apa." Mendengar pengaduan itu, darah mendidih
berkobar dalam urat-urat Hamzah. Dengan kemarahan yang sangat, Hamzah
mencari-cari Abu Jahal lalu ia melihatnya sedang duduk-duduk di tengah-tengah
kaumnya. Hamzah mengangkat tangannya lalu memukulkannya ke kepala Abu Jahal
sambil berteriak: "Apakah engkau akan mengejek Muhammad, padahal aku
berada di atas agamanya."
Demikianlah permulaan keislaman
Hamzah. Hamzah adalah seorang yang mulia di mana perasaannya berkobar ketika ia
melihat anak saudaranya disiksa dan dianiaya dan dia tidak mendapati seorang
pun yang membelanya. Beginilah sebab-sebab pertama dari keislaman Hamzah, namun
sebab yang paling dalam dan yang paling menentukan adalah rahmat Allah SWT yang
telah dianugerahkan kepadanya, meskipun Hamzah tidak mengetahuinya, yaitu
rahmat yang mendorongnya untuk tidak membiarkan seseorang pun menyakiti lelaki
yang berdakwah di jalan Allah SWT hanya karena ia seorang yang lemah dan tidak
mempunyai penolong. Jadi, Hamzah adalah penolongnya.
Sedangkan Umar bin Khatab
terkenal dengan ketangguhan sikap dan kekerasan perilaku. Seringkali kaum Muslim
mendapat siksaan darinya ketika ia masih menganut jahiliah. Dan salah seorang
yang mendapatkan siksaan ciarinya adalah Amir bin Rabi'ah dan isterinya. Amir
beserta istcrinya menetapkan untuk berhijrah ke Habasyah. Umar bin Khatab
menemuinya lalu ia mendapati isteri Amir dan tidak mencmukan suaminya. Umar
melihat wanita itu sedang bersiap-siap untuk berhijrah lalu Umar berkata (saat
itu sumber rahmat telah memancar pada dirinya): "Apakah engkau akan pergi
wahai Ummu Abdillah?" Dengan nada jengkel, wanita itu berkata:
"Benar, demi Allah kami akan keluar dan menuju tanah Allah SWT. Engkau
telah menyiksa kami dan telah memaksa kami untuk berhijrah. Kami akan pergi
sehingga Allah SWT akan memberikan kelapangan kepada kami." Umar berkata:
"Mudah-mudahan Allah SWTmenemanimu."
Wanita itu melihat tanda-tanda
kelembutan dan kesedihan pada wajah Umar. Dan ketika suaminya kembali, ia
menceritakan kepadanya bahwa ia sangat berharap kepada keislaman Umar. Lalu
suaminya menjawab: "Ia tidak mungkin masuk Islam sampai keledai Umar masuk
Islam." Ia mengatkan demikian karena ia melihat betapa bengisnya dan
kejamnya Umar. Namun perasaan lembut wanita itu lebih kuat daripada pandangan
pikiran lelaki itu dan keputusannya yang terlalu cepat kepada Umar.
Belum lama mereka berhijrah
sehingga Umar masuk Islam. Orang-orang muhajirin mengeluarkan penutup sumur
rahmat dalam dirinya. Dan barangkali Umar merasa kebingungan lalu ia menetapkan
untuk membunuh Rasul saw. Dengan menghunuskan pedangnya, ia pergi menuju Rasul
saw. Kemudian ia bertemu dengan orang-orang yang memergokinya dalam keadaan
kebingungan, lalu mereka bertanya kepadanya, hendak kemana ia akan pergi? Umar
menjawab: "Aku hendak ke Muhammad aku akan membunuhnya sehingga
orang-orang Arab merasa tenteram." Dengan nada mengejek, seseorang
berkata: "Tidakkah engkau memulai dari keluargamu sebelum engkau membunuh
Muhammad." Dengan nada jengkel, Umar berkata: "Apa yang terjadi pada
keluargaku?" Lelaki itu menjawab: "Saudara perempuanmu dan suaminya
telah masuk Islam, sedangkan engkau tidak mengetahuinya." Umar segera
mencari saudara perempuannya dan suaminya di mana saat itu keduanya sedang
membaca Al-Qur'an.
Ketika melihat Umar, mereka
menyembunyikan Al-Qur'an. Umar bertanya: "Sepertinya aku mendengar suara
bisikan dari luar." Tetapi saudara perempuannya mengatakan:
"Tidak." Kemudian suaminya ikut campur dan Umar pun tampak marah
kepadanya. Wanita itu bangkit untuk membela suaminya lalu Umar memukulnya
sehingga darah segar mengucur darinya. Darah itu justru membangkitkan sumber
rahmat dari diri Umar. Akhirnya, Umar mengambil air wudhu agar mereka
mengizinkan untuk membaca Al-Qur'an. Umar pun membacanya. Belum lama Umar
membacanya sehingga ia pergi menemui Rasul saw.
Tanpa ragu, Umar memilih untuk
masuk Islam. Dan pedang yang dibawanya itu menjadi pedang yang paling kuat yang
dengannya ia mempertahankan agama Muhammad saw. Kemudian ia mengetuk pintu
untuk menemui Rasul saw di mana saat itu beliau bersama sahabatnya. Dari
celah-celah pintu, sahabat Nabi melihat Umar bin Khatab sedang menghunuskan
pedang. Kemudian sahabat itu kembali kepada Nabi dengan membawa berita yang
sangat mengejutkan ini. Ia menduga bahwa Umar datang dengan maksud jahat.
Rasulullah saw bangkit dan
memerintahkan para sahabatnya agar membiarkan Umar. Rasulullah saw membukakan
pintu Kemudian ia menyambut Umar bin Khatab dan bertanya kepadanya apa yang
diinginkannya. Umar menjawab bahwa ia datang untuk mengucapkan dan bersaksi
bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.
Orang-orang Quraisy mulai merasa
bahaya akan mereka temui setelah keislaman Umar dan Hamzah. Para tokoh-tokoh
Mekah dan orang-orang yang dihormati telah masuk Islam. Sebelum Umar masuk
Islam, kaum Muslim bertawaf di Ka'bah secara rahasia dan dengan malu-malu,
namun ketika Umar masuk Islam ia menampakkan keislamannya dan ia menantang
orang yang mencegahnya untuk bertawaf, bahkan banyak orang-orang memberikan
jalan padanya saat tawaf. Mekah mengetahui bahwa ia menghadapi suatu dakwah
yang akan dapat mengubah jazirah Arab.
Rasa ketakutan mulai menghantui
para pemuka Quraisy dan mereka menetapkan metode baru untuk menghadapi kaum
Muslim. Mereka yang sebelumnya menggunakan metode penghinaan dan pengejekan
kini mulai mencoba untuk memblokade kaum Muslim secara ekonomi dan kemanusiaan.
Kaum musyrik mengadakan perkumpulan dan pertemuan untuk memboikot kaum Muslim.
Mereka mengadakan pertemuan itu di Ka'bah, sebagai penghormatan kepadanya.
Orang-orang musyrik menghormati Ka'bah meskipun mereka memenuhinya dengan
berbagai macam patung yang mereka sembah dalam rangka mendekatkan mereka kepada
Allah. Pasal kesepakatan itu menetapkan, hendaklah penduduk Mekah tidak menjual
barang apapun kepada kaum Muslim dan hendaklah mereka tidak menikah dengan kaum
Muslim. Dengan ketetapan yang kejam tersebut, mereka ingin menghancurkan kaum
Muslim dan membunuh perekonomian mereka. Rasulullah saw dan orang-orang yang
beriman kepadanya terpaksa berlindung di dusun Bani Hasyim. Mereka dilindungi
oleh keturunan Bani Muthalib, baik mereka orang-orang kafir maupun orang-orang
beriman kecuali musuh Allah SWT, Abu Jahal di rnana ia bersama orang-orang
Quraisy menentang kaummnya.
Kemudian Dimulailah blokade
ekonomi terhadap kaum Muslim di mana tidak ada makanan dan minuman yang datang
kepada mereka, sehingga penderitaan yang sulit kini dialami oleh
sahabat-sahabat Nabi. Ketika kafllah perdagangan datang ke Mekah dan salah
seorang dari sahabat Nabi menemui mereka di pasar untuk membeli makanan untuk
keluarganya, maka Abu Lahab berdiri dan berkata kepada para penjual, wahai para
pedagang, mahalkanlah dagangan kalian terhadap sahabat-sahabat Muhammad,
sehingga mereka tidak mampu membelinya dan aku menjamin kerugian yang kalian
alami, bahkan aku akan membeli apa saja yang ingin mereka beli dari kalian.
Mendengar hal tersebut, para pedagang
pun menjual barang dagangannya dengan harga yang tidak wajar, sehingga seorang
Muslim kembali ke rumah keluarganya tanpa membawa sedikit pun makanan. Kemudian
padagang itu pergi ke Abu Lahab dan memin-ta kepadanya agar membeli barang yang
ingin dibeli orang Muslim. Demikianlah peperangan tersebut terus terjadi
sehingga kaum Muslim merasakan penderitaan yang sangat luar biasa di mana
mereka dalam keadaan kelaparan dan kekurangan pakaian yang layak. Peperangan
ekonomi ini terjadi selama tiga tahun penuh. Saking menderitanya para sahabat
sampai-sampai Sa'ad bin Abi Waqas pernah keluar pada suatu hari untuk memenuhi
hajatnya, lalu ia mendengar suara gemerincing di bawah air kencing. Tiba-tiba
ia menemukan sepotong kulit unta yang kering lalu ia mengambilnya dan
membasuhnya. Kemudian ia membakarnya dan mencucinya dengan air sampai bersih
lalu ia menjadikannya makanan selama tiga hari.
Selama tiga tahun tersebut wahyu
tetap turun kepada Rasul saw dan seakan-akan ia melupakan bencana yang keras
ini. Allah SWT ingin mendidik para pengikut agama-Nya agar mereka mampu memikul
segala penderitaan.
Meskipun kaum Muslim mendapatkan
berbagai ujian selama tiga tahun tersebut, tetapi aktifitas dakwah Islam tidak
pernah padam dan tidak pernah surut. Kaum Muslim bertemu orang-orang selain
mereka pada musim haji lalu mereka berbicara kepada orang-orang tersebut
tentang keberadaan Allah SWT dan mereka meminta kepada para pengujung itu untuk
mencari rahmat Allah SWT dan ampunan-Nya. Keteguhan kaum Muslim dan keberanian
mereka telah memikat banyak orang sehingga mereka masuk Islam. Bahkan
orang-orang musyrik mulai bertanya kepada diri mereka dan mempertanyakan
kebenaran apa tindakan mereka. Lalu kecemburuan kepada kebenaran mulai
menyerang hati.
Kemudian Selesailah peperangan ekonomi
terhadap kaum Muslim di mana kaum musyrik melihat itu tidak berdampak terlalu
besar bagi kaum Muslim. Meskipun kaum Muslim menerima penderitaan dan kerugian
namun jumlah mereka tetap bertambah dan keimanan mereka semakin kuat serta
kepercaayaan kepada Allah SWT pun semakin meningkat. Lalu datanglah tahun
kesedihan kepada Nabi. Belum lama Rasulullah saw merasakan dan menghirup udara
segar setelah tiga tahun masa blokade dan beliau ingin memulai kehidupan
barunya dan dakwahnya, sehingga beliau dikagetkan dengan kematian isteri
tercintanya Ummul Mukminin Khadijah dan kematian pamannya yang tercita Abu
Thalib.
Abu Thalib adalah seorang yang
besar yang memiliki kewibawaan di tengah-tengah kaum Quraisy, sehingga usaha
kaum Quraisy untuk menyakiti Nabi menjadi terbatas ketika mereka berhadapan
dengan "tembok perlindungan" Abu Thalib kepada kemenakannya.
Sedangkan Khadijah merupakan tempat perlindungan dan kedamaian bagi Nabi. Ia
adalah hati yang sangat penyayang yang banyak menghibur Nabi saat beliau
berdakwah. Khadiijah adalah sebaik-baik teman dan sebaik-baik isteri. Begitu
juga, bagi Khadijah Rasulullah saw adalah sebaik-baik teman, sebaik-baik suami,
sebaik-baik pembantu, dan sebaik-baik sahabat.
Rasulullah saw sangat sedih
ketika kehilangan dua orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupannya itu,
bahkan para sejarawan menamakan tahun tersebut dengan tahun kesedihan.
Sebaliknya, orangorang musyrik justru bergembira dengan kesedihan Rasul saw
itu. Mereka menganggap bahwa Rasul saw tidak lagi memiliki seorang tua yang
mampu melindunginya dan tidak lagi memiliki seorang isteri yang dapat
meringankan beban penderitaannya.
Setelah kematian dua orang
tcrscbut, penindasan dan penganiayaan kaum Quraisy kepada Nabi semakin
meningkat dan orang-orang musyrik memilih waktu yang tepat untuk menyembelih
binatang di Mekah lalu mereka membawa usus-usus atau jeroan dari unta dan
mereka melemparkannya dan meletakkannya di atas punggung Nabi saat beliau
sujud. Kemudian berita memilukan itu sampai kepada putri tercintanya, Fatimah
az-Zahrah, sehingga ia segera datang dan berusaha membela ayahnya dan
membersihkan kotoran yang ada di pundak ayahnya itu. Demikianlah kemuliaan Siti
Fatimah az-Zahra yang senantiasa melindungi ayahnya.
Betapa sedihnya Nabi saw ketika
beliau melihat bahwa keadaan beliau sampai pada batas di mana anak perempuan
beliau pun turut membelanya. Namun beliau tetap bersabar dalam berdakwah di
jalan Allah SWT. Pada suatu hari beliau berpikir untuk pergi ke Tha'if di mana
di sana dihuni oleh kaum Tha'if. Barangkali beliau berkata dalam dirinya: jika
di sini aku mendapati hati-hati yang telah membeku dan telah berhubungan mesra
dengan kebatilan ialu mengapa aku tidak pergi ke Tsaqif. Barangkali Allah SWT
akan membukakan pintu dakwah di sana. Mungkin di sana masih terdapat hati yang
akan terbuka guna menerima kebenaran.
Saat itu kaum musyrik
memberlakukan blokade umum atas dakwah yang dipimpin oleh Rasulullah saw
sehingga tekanan kepada beliau semakin meningkat sampai pada batas di mana
pergerakan dakwah tidak dapat bergerak satu langkah pun. Keadaan demikian ini
sangat menggelisahkan Nabi. Beliau ingin untuk melepaskan belenggu yang
mengikatnya. Lalu beliau memutuskan untuk pergi ke Tha'if. Jarak antara Mekah
dan Tha'if lebih dari tujuh puluh kilo meter. Nabi menempuh perjalanan itu
dengan jalan kaki, pergi dan pulang.
Kita tidak mengetahui
pemikiran-pemikiran apa yang terlintas dalam benak Rasulullah saw saat beliau
pergi dan menemui kabilah yang kafir kepada Allah SWT ini. Yang kita ketahui
adalah bahwa beliau pergi ke sana dengan membawa rahmat dunia dan akhirat.
Tetapi mereka justru membalas sikap baik Rasulullah saw itu dengan tindakan
jahiliyah. Mereka bersikap buruk kepada beliau dan mendustakannya. Rasulullah
saw tinggal di sana selama sepuluh hari. Beliau mondar-mandir dari satu rumah
ke rumah yang lain dan dari pasar ke pasar yang lain dan dari satu jalan ke
jalan yang lain. Tak seorang pun yang mendengar kedatangan beliau di sana; tak
seorang pun yang mau mendengar dakwah beliau dan tak seorang pun yang mau beriman
kepada ajakannya. Bahkan masyarakat di situ semakin menjadijadi dalam menyerang
Rasulullah saw dan mengejeknya.
Pada hari yang terakhir yang mana
beliau telah menetapkan untuk kembali ke Mekah. Rasulullah saw berdiri di
Tha'if dan mengharap kepada masyarakat di sana agar merahasiakan kunjungannya
kepada mereka sehingga pencelaan yang beliau terima di Mekah terhadap agama
yang dibawanya tidak semakin menjadi-jadi. Tetapi penduduk Tha'if menolak
permohonan yang terakhir ini. Mereka tidak cukup melakukan hal itu tetapi
mereka melakukan perbuatan terburuk yang dilakukan manusia terhadap sesama
manusia. Mereka menahan keluarga orang-orang yang bodoh dan orang-orang biasa
untuk membentuk dua barisan dan memerintahkan mereka untuk melempari Rasulullah
saw dengan batu dan mengejeknya. Nabi keluar dari Tha'if dan beliau mendapatkan
lemparan bertubi-tubi dari keluarga Tha'if bahkan beliau merasakan kepedihan
saat kakinya terkena lemparan batu itu sehingga darah suci mengucur dari kaki
beliau.
Kemudian Rasulullah saw diusir
sehingga beliau sampai di suatu kebun yang dimiliki oleh dua orang dari
orang-orang kaya Tha'if. Di sana beliau duduk di bawah naungan pohon anggur.
Dua orang pemilik kebun itu merasa kasihan melihat keadaan orang yang terusir
dan terluka itu. Mereka membawa kepadanya setangkai anggur dengan seorang
pembantu. Pembantu mereka adalah seorang Nasrani yang bernama Adas. Si pembantu
meletakkan setangkai anggur itu depan Rasul saw lalu beliau mengulurkan
tangannya kepadanya sambil berkata: "Bismillahirahmanirrahim (Dengan nama
Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Adas berkata kepada Nabi,
perkataan ini tidak begitu dikenal oleh penduduk negeri ini. Nabi berkata:
"Anda dari daerah mana?" Adas menjawab: "Aku adalah seorang Nasrani
dari Nainawa." Nabi berkata: "Apakah engkau dari desa lelaki saleh
Yunus bin Mata?" "Bagaimana engkau tahu tentang Yunus?, sambung
lelaki itu. Nabi berkata: "Itu adalah saudaraku. Ia adalah seorang Nabi
aku pun seorang Nabi."
Mendengar jawaban Rasul saw, Adas
segera merobohkan tubuhnya di depan kedua kaki Rasul saw lalu ia menciuminya
sambil menangis. Akhirnya, pembantu Nasrani itu masuk Islam sehingga ia
menambah barisan kaum Muslim. Ia adalah seorang yang menjadi Muslim ketika
Rasulullah saw berhijrah ke Tha'if. Inilah harga yang harus dibayar Rasulullah
saw sclania dua minggu saat beliau berada di Tha'if, dan kemudian bcliau
terkena cobaan dengan mengucurnya darah dari kaki beliau akibat lemparan batu
penghuni Tha'if.
Kemudian Rasulullah saw kcmbali
ke Mekah beliau kembali dalam keadaan ditolak oleh pcnduduk Tha'if dan kini
beliau kembali menerima penolakan itu di Mekah. Meskipun demikian, beliau
merasakan kesedihan yang mendalam melihat sikap kaumnya. Namun ketika kebencian
semakin deras mengalir kepada beliau, hati beliau justru semakin bersemangat
dan semakin dipenuhi dengan rahmat kemudian datanglah kepada Nabi masa di mana
tampak di dalamnya Islam asing, dan tampak di dalamnya Nabi seorang diri, tanpa
penolong.
Pada saat demikian ini ketika
manusia mulai meninggalkan Rasulullah saw lalu langit turut campur dan
terjadilah peristiwa besar dan mukjizat terbesar pada diri Nabi, yaitu Isra'
dan Mi'raj. Ia adalah mukjizat yang tidak berhubungan dengan dakwah Islam; ia
tidak datang untuk memperkuat dakwah ini atau menetapkannya tetapi ia datang
semata-mata untuk memperkuat keteguhan Nabi dan sebagai penghormatan kepadanya.
Seakan-akan Allah SWT ingin berkata kepada Nabi, jika saja penduduk bumi tidak
memujimu, maka penduduk langit mengenal kedudukanmu dan memberikan pujian yang
layak kepadamu dan jika manusia menolak dakwahmu dan menolak keberadaanmu, maka
sesungguhnya Allah SWT memilihmu dan memuliakanmu.
Untuk melihat tanda-tanda
kebesaran-Nya, munculnya mukjizat Isra' dan Mi'raj dalam sejarah para nabi
sebagai mukjizat satu-satunya yang tiada tandingannya dibandingkan dengan kisah
nabi yang lain. Kita mengetahui bahwa di deretan para nabi ada nabi-nabi yang
dinamakan oleh Allah SWT sebagai para kekasih-Nya dan sebagai para
pendamping-Nya, seperti Nabi Ibrahim. Kita juga melihat bahwa di antara para
nabi ada seseorang yang diajak bicara oleh Allah SWT tanpa perantara, seperti
Nabi Musa. Kita juga melihat di antara para nabi ada yang didukung oleh Allah
SWT dengan ruhul kudus, seperti Nabi Isa. Tetapi untuk pertama kalinya
kita berada di hadapan seorang nabi yang diajak dan dipanggil oleh Allah SWT
untuk menuju ke sisi-Nya.
Beliau naik bersama Jibril dengan
jasadnya dan ruhaninya sehingga Jibril berdiri di suatu tempat dan Nabi maju
sendirian. Itu adalah tingkat dari tingkat kehormatan di mana pena terasa keluh
untuk mengungkapkannya dan sejarawan tidak dapat menulis apa yang terjadi saat
itu. Kita telah melihat dalam kisah para nabi seorang nabi yang meminta kepada
Tuhannya agar memperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan orang-orang
yang mati. Allah SWT bertanya kepadanya, apakah ia belum beriman akan hal itu?
Ibrahim menjawab: Bahwa ia beriman tetapi ia ingin menenangkan hatinya.
Kita juga melihat dalam kisah
para nabi seorang nabi yang cintanya kepada Allah SWT memancar dalam kalbunya
sehingga ia meminta:
"Ya Tuhanku, nampakkanlah
(diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". (QS.
al-A'raf: 143)
Namun Allah SWT menjawab kepada
Musa tentang kemustahilan melihat Allah SWT atas manusia. Nabi Musa memahami
bahwa makhluk manapun tidak akan mampu menahan beban penampakan dari Zat sang
Pencipta.
Adapun Muhammad bin Abdillah ia
tidak bertanya kepada Tuhannya dan meminta kepadanya untuk diberi mukjizat atau
kejadian yang luar biasa; ia tidak meminta kepada Tuhannya agar dapat melihat
Zat-Nya dan ia tidak berusaha mencari ketenangan dalam hatinya. Cintanya kepada
Allah SWT termasuk bentuk cinta yang sulit untuk dipahami atau diselami
kedalamannya oleh para tokoh pecinta dan cintanya tersebut bukan termasuk bentuk
yang menimbulkan berbagai pertanyaan. Cinta beliau melampaui tingkat permintaan
menuju ketingkat penyerahan dan kepuasan atau ridha. Segala sesuatu yang
menggelisahkan Nabi adalah ridha Allah SWT.
Rasulullah saw berkata saat
beliau dalam keadaan ditolak dan diusir dan terluka akibat perbuatan kaum
Tha'if: "Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli dengan
mereka."
Lihatlah tingkat cinta yang
tinggi itu: bagaimana tingkat tersebut menyebabkan beliau merasa rendah diri
sehingga beliau berkata, "jika Engkau tidak murka kepadaku ..."
Seakan-akan beliau tidak menginginkan selain ridha Allah SWT dan yang beliau
khawatirkan adalah kemarahan Allah SWT.
Sungguh adab yang diterapkan
Rasulullah saw kepada Tuhannya adalah adab yang paling layak dan paling tinggi
yang sesuai dengan kedudukan beliau sebagai orang Muslim yang paling sempurna.
Demikianlah mukjizat Isra' dan
Mi'raj. Mukjizatyang tujuannya adalah menghormati kepribadian Rasulullah saw;
mukjizat yang membangkitkan peranan akal dan hati secara bersama. Para nabi
tanpa terkecuali didukung oleh bcrbagai macam mukjizat yang terjadi di muka
bumi bahkan para nabi yang diangkat ke langit seperti Nabi Idris dan Nabi Isa,
maka pengangkatan mereka sebagai bentuk menyelamatkan mereka dari usaha
pembunuhan atau penyaliban. Mukjizat mereka saat mereka diangkat ke langit
adalah bentuk akhir dari aktifitas mereka di muka bumi.
Ini adalah kali pertama ketika
kita mendapati suatu mukjizat yang tempat utamanya di langit; suatu mukjizat
yang terwujud bersama seorang Nabi yang diangkat ke langit dengan jasadnya dan
ruhaninya saat beliau masih hidup. Di sana Allah SWT memperlihatkan kepadanya
tanda-tanda kekuasaan-Nya. Kemudian beliau kembali ke bumi di mana beliau akan
mendapatkan berbagai macam tantangan dan cobaan yang biasa diterima oleh
penduduk bumi. Muhammad bin Abdillah adalah manusia yang pertama melewati
planet bumi dan beliau menembus bulan dan matahari dan bintang-bintang. Kita
menyaksikan di zaman kita manusia pertama atau astronot pertama yang mampu
menembus ruang angkasa. Ruang angkasa itu baru dapat ditembus oleh manusia
setelah empat belas abad dari turunnya risalah Muhammad saw, namun sejak empat
belas abad yang lalu Nabi Islam telah dapat menembus ruang angkasa itu, bahkan
beliau mencapai Sidratul Muntaha dan puncak al-Muntaha.
Beliau sampai pada batas yang di
situlah alam makhluk diakhiri dan beliau menembus alam gaib. Bukankah surga
bagian dari alam gaib? Beliau sampai di surga. Allah SWT menamakannya dengan
Jannatul Ma'wah. Beliau sampai pada batas terputusnya ilmu manusia dan tiada
yang mengetahui hakikat ilmu tersebut kecuali Allah SWT. Mukjizat Isra'
bukanlah mukjizat Mi'raj, meskipun kedua-duanya terjadi di satu malam.
Peristiwa Isra' dan Mi'raj dikutip oleh dua surah yang berbeda dalam Al-Qur'an
al-Karim. Allah SWT berfirman tentang mukjizat Isra':
"Maha Suci Allah, yang telah
memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha
yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian
dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui." (QS. al-Isra': 1)
Sedangkan berkaitan dengan
mukjizat Mi'raj, Allah SWT berfirman:
"Dan sesungguhnya Muhammad
telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,
(yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad
melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak
(pula) melampauiya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda
(kekuasaan) Tuhannya yang paling besar." (QS.
an-Najm: 13-18)
Pada malam Isra' dan Mi'raj, Nabi
Muhammad berkeliling di sekitar Ka'bah dan berdoa kepada Allah SWT. Beliau
dalam keadaan pucat wajahnya dan kedua air matanya mengucur; beliau tidak
bertawaf bersama seseorang pun; beliau tawaf sendirian lalu orang-orang kafir
dan orang-orang musyrik memandang beliau dengan pandangan kebencian saat beliau
bertawaf dan berdoa. Allah SWT melihat hamba-Nya yang khusuk itu lalu Allah SWT
menurunkan perintah-Nya kepada Ruhul Amin yaitu malaikat Jibril agar
menemani hamba-Nya dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha Kemudian
membawanya naik ke langit agar dia dapat melihat tanda-tanda kebesaran
Tuhannya.
Di suatu rumah yang mulia dan
sederhana dari rumah-rumah yang ada di Mekah, Nabi saw sedang tidur dan
datanglah waktu pertengahan malam. Jibril turun dan memasuki rumah sang Rasul
saw. Jibril as berdiri di sisi kepala sang Nabi dan ia melihat kepadanya dengan
pandangan cinta. Pandangan Jibril itu membangunkan Rasul saw kemudian beliau
membuka kedua matanya dan bangkit dari tempat tidurnya.
Jibril berkata kepada Nabi saw,
salam kepadamu wahai Nabi yang mulia. Allah SWT ingin agar engkau melihat
sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya di alam. Kemudian Jibril berjalan bersama
Nabi saw. Mereka keluar dari rumah dan beliau menyaksikan Buraq yaitu makhluk
yang menyerupai burung dan mempunyai sayap seperti burung garuda; makhluk yang
terbuat dari kilat. Karena itu, ia dinamakan dengan Buraq. Kilat adalah listrik
dan listrik adalah cahaya. Cahaya adalah makhluk yang tercepat yang kita kenal
di bumi. Kilauan cahaya pada satu detik saja mencapai 186 ribu mil. Kita tidak
akan terlibat terlalu jauh tentang kendaraan luar angkasa yang digunakan dalam
perjalanan itu; kita tidak akan bertanya bagaimana Nabi saw menembus alam ruang
angkasa tanpa ada latihan sebelumnya dan berapa lama waktu yang beliau gunakan
untuk pulang pergi; kami juga tidak akan bertanya tentang kecepatan Buraq; kami
tidak heran dengan usaha penembusan luar angkasa ini; kita tidak akan bertanya
tentang semua itu karena kita mempunyai satu jawaban dari semuanya: Allah SWT
berkehendak agar hal itu terjadi dan untuk itu Allah SWT mengatakan kun jadilah,
maka jadilah.
Para ulama beselisih pendapat
tentang apakah Isra' dan Mi'raj terjadi dengan ruh saja atau dengan ruhani dan
jasad sekaligus. Ahli hakikat mengatakan bahwa itu terjadi dengan ruh dan
jasad. Tentu perselisihan itu berakibat pada perselisihan akal dan terjerumus
dalam perangkap kaifa (bagaimana) dan bertanya tentang kekuasaan Allah
SWT dan usaha untuk menundukkan masalah ini terhadap sebab-sebab yang biasa
atau hukum-hukum kita yang alami atau logika kemanusiaan. Allah Maha Suci dan
Maha Tinggi dari semua itu. Apakah seseorang akan bertanya, bagaimana
Rasulullah saw naik berserta ruh dan fisiknya ke puncak segala puncak di langit
kemudian beliau kembali sebelum tempat tidurnya dingin? Mukjizat apa yang
terjadi di sini yang melebihi mukjizat berubahnya air mani menjadi manusia dan
berubahnya benih menjadi pohon atau mukjizat air yang menghidupkan tanah, atau
ia mampu memuaskan kehausan si dahaga atau mukjizat cinta yang mengikat dua
hati yang belum pernah mengenal?
Sementara itu, Buraq menundukkan
badannya kepada Nabi saw kemudian Nabi saw menungganginya bersama Jibril dan
Buraq pergi bagaikan anak panah dari cahaya di atas gunung Mekah dan
pasir-pasir menuju ke utara. Jibril mengisyaratkan agar menuju arah gunung
Saina' lalu Buraq itu berhenti. Jibril berkata di tempat yang diberkati ini,
Allah SWT berdialog dengan Musa as. Kemudian Buraq kembali pergi ke Baitul
Maqdis, Nabi saw turun dari pesawat ini yang berjalan lebih cepat dari cahaya
dan jutaan kali lebih cepat darinya dan ia tidak berubah dari cahaya.
Nabi berjalan bersama Jibril dan
memasuki Baitul Maqdis. Beliau memasuki masjid dan beliau mendapati semua nabi
sedang menunggunya di sana. Allah SWT membangkitkan gambar para nabi-Nya dari
kematian dan mengumpulkan mereka di Mesjid Aqsha. Para malaikat memberinya
suatu bejana yang di dalamnya terdapat susu dan bejana yang lain yang di
dalamnya terdapat khamer. Lalu beliau memilih susu dan meminumnya. Dikatakan
pada beliau, sesungguhnya engkau telah memilih fltrah dan umatmu akan memilih
fitrah.
Para nabi mengitari Rasul saw dan
datanglah waktu salat. Para nabi bertanya di antara sesama mereka, siapa di
antara mereka yang menjadi imam salat, apakah itu Adam, Nuh, Ibrahim, Musa atau
Isa? Jibril berkata kepada Muhammad saw, sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu
untuk salat bersama para nabi. Rasulullah saw berdiri dan salat bersama para
nabi. Mereka semua adalah orang-orang Muslim dan beliau adalah orang-orang
Muslim yang pertama. Secara logis bahwa beliau layak menjadi imam dari para
nabi sebagaimana kitabnya dijadikan kitab yang terbaik daripada kitab-kitab
yang mendahuluinya. Beliau membacakan Al-Qur'an kepada mereka dan beliau
menangis saat membacanya. Kekhusukan beliau saat membacanya membuat para nabi
pun menangis. Dan ketika para nabi sujud di belakang imam mereka, pohon-pohon
dan bintang-bintang pun turut bersujud.
Selesailah waktu salat dan para
nabi membubarkan diri. Setiap nabi kembali ke langit yang mereka tinggal di
dalamnya. Nabi keluar dari masjid bersama Jibril dan mereka kembali menunggang
Buraq seperti panah dari cahaya. Buraq semakin meninggi dan ia melewati langit
pertama lalu beliau menyaksikan Nabi Adam. Kemudian ada panggilan dari Allah
SWT: "Hendaklah hamba-Ku semakin meninggi dan menjauh." Kemudian
hamba Allah SWT Muhammad bin Abdillah semakin terbang menjauh ia melampaui
langit demi langit. Beliau melampaui tempat materi dan mulai menjangkau tempat
ruhani dan melewatinya. Beliau bersiap berdiri di haribaan Ilahi; beliau
semakin tinggi dan jauh di tingkat dan dipuncak ruhani dalam kecepatan yang tidak
kurang dari kecepatan kilat.
Beliau melampaui kedudukan Nabi
Adam di langit pertama dan melampaui kedudukan Nabi Yahya dan Nabi Isa di
langit kedua. Lalu Tuhan pemilik kemuliaan memanggil, "hendaklah hamba-Ku
lebih tinggi lagi." Kemudian hamba Allah SWT dan Nabi-Nya yang mulia
mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi. Beliau melampaui langit yang ketiga,
keempat, kelima, keenam, dan ketujuh. Beliau melampaui alam materi semuanya dan
melampaui alam ruhani. Akhirnya, beliau sampai ke Sidratul Muntaha. Beliau
sampai di tempat yang suci yang Allah SWT menamakannya dengan sebutan Sidratul
Muntaha dan di sana Nabi melihat dan menyaksikan Jannatul Ma'wa. Beliau
menyaksikan yang kita tidak mampu mengetahuinya dan memahaminya bahkan
membayangkannya:
"(Muhammad melihat Jibril)
ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya
(Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidnk (pula)
melampauinya." (QS. an-Najm: 16-17)
Sungguh terjadilah pada tempat
itu apa yang terjadi dengannya. Dengan kebesaran yang misteri ini, Allah SWT
memberitahu kita bahwa terjadilah hal penting di sana meskipun hakikat hal
tersebut tersembunyi dari kita. Sesuatu yang Allah SWT sembunyikan dari kita
tersebut disaksikan oleh Rasul saw. Itu adalah mukjizat yang khusus baginya;
itu adalah tingkat cinta yang tidak tersingkap tabirnya karena ketinggiannya
yang tidak mampu ditangkap oleh pengetahuan manusia biasa.
Kemudian Tuhan pemilik surga dan
neraka memanggil, "hendaklah hamba-Ku lebih tinggi lagi." Hamba Allah
SWT Muhammad bin Abdillah menaik ke tempat yang tinggi. Kali ini beliau melihat
Jibril yang berada di belakangnya lalu beliau mendapatinya dalam keadaan
bertasbih kepada Allah SWT. Jibril tidak berada dalam wujud manusia seperti
yang Nabi saksikan ketika berada di dunia. Jibril as kembali ke dalam wujud
malaikatnya. Nabi melihat Jibril dan ia merupakan tanda kebesaran Allah SWT
yang Allah SWT janjikan untuk diperlihatkan kepadanya:
Penglihatannya (Muhammad) tidak
berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya." (QS.
an-Najm: 17)
Pemandangan itu terjadi dengan
hati dan mata serta panca indera yang dikenal dan yang tidak dikenal.
Pemandangan itu benar-benar jelas. Di sana bukan mimpi, bukan khayalan, dan
bukan gambaran. Rasul saw melihat semua itu dengan jasadnya dan ruhaninya:
"Penglihatannya (Muhammad)
tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya."
(QS. an-Najm: 17)
Kemudian Rasulullah saw menuju ke
tempat yang tinggi dan lebih tinggi lagi. Beliau semakin naik ke tingkat yang
makin tinggi sampai beliau berdiri di hadapan Tuhan Pencipta langit dan bumi
dan Penebar kasih sayang di dunia dan di akhirat. Orang Muslim yang paling
sempurna itu bersujud di hadapan Tuhan Sang Pencipta sambil berkata:
"Sungguh penghormatan dan keberkatan serta shalawat yang baik tertuju
hanya kepada Allah SWT." Allah SWT membalasnya: "Salam kepadamu wahai
Nabi dan rahmat Allah SWT serta berkat-Nya juga tercurah kepadamu." Para
malaikat pun ketika mendengar ucapan itu bertasbih dan mengatakan: "Salam
kepada kita dan kepada hamba-hamba Allah SWT yang saleh."
Ungkapan-ungkapan tersebut
merupakan permulaan tahiyat (penghormatan) yang diucapkan orang-orang
Muslim saat mereka melaksanakan salat pada setiap hari. Salat telah diwajibkan
atas kaum Muslim pada kesempatan yang besar ini. Hal populer di kalangan
umumnya kaum Muslim adalah, bahwa Allah SWT mewajibkan atas Nabi mula-mula lima
puluh salat sehari. Kemudian Nabi turun dari langit lalu beliau menemui Nabi
Musa. Selanjutnya Nabi Musa bertanya kepadanya tentang jumlah salat yang
diwajibkan Allah SWT kepada umatnya. Nabi menceritakan bahwa Allah SWT telah
menentukan lima puluh kali salat. Nabi Musa berkata sungguh umatmu tidak akan
kuat untuk melakukan salat itu, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mohonlah
kepadanya agar Dia meringankan bagi umatmu. Lalu Nabi kembali kepada Tuhan-Nya
sehingga Allah SWT meringankan salat hingga sepuluh kali. Setelah itu, Nabi
kembali bertemu dengan Nabi Musa. Lagi-lagi Nabi Musa memperingatkannya.
Kemudian Nabi kembali lagi kepada Allah SWT sehingga sampai diturunkan salat
dari lima puluh kali menjadi lima kali sehari. Namun salat yang lima kali itu
pahalanya sama dengan salat yang lima puluh kali.
Menurut hemat kami, kisah
tersebut tidak memiliki sandaran dalam kitab-kitab ulama yang benar-benar
teliti. Kami kira, kisah itu tersebut merupakan rekayasa orang-orang Yahudi di
mana mereka masuk Islam dan mereka memenuhi kitab-kitab dengan dongeng-dongeng
khurafat dan mereka menisbatkannya kepada Rasul. Prasangka tersebut didukung
oleh pemilihan Musa sebagai seorang Nabi yang mengusulkan kepada Rasul saw agar
meminta keringanan atas umatnya sehingga terkesan Nabi Musa menjadi seseorang
yang lebih mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Nabi Muhammad. Kami
sendiri cenderung untuk menolak kisah tersebut dengan keyakinan bahwa pertemuan
Nabi dengan Allah SWT menimbulkan rasa kebesaran dan kewibawaan yang luar biasa
sehingga ketika Nabi telah pergi, maka sangat berat baginya untuk kembali lagi.
Nabi menyaksikan dan melihat
hal-hal yang tidak mampu diungkap oleh lisan dan tidak mampu ditulis dengan
pena. Beliau berada di suatu keadaan yang tidak dapat dipahami oleh manusia
biasa. Al-Qur'an al-Karim sengaja tidak mcnyebutkan apa saja yang dilihat oleh
Nabi karena itu mernpakan rahasia antara Nabi dan Tuhannya dan mukjizat yang
khusus yang diperuntukkan baginya sebagai bentuk penghormatan kcpadanya. Jadi
Al-Qur'an sengaja tidak menyebutkan itu semua untuk menegaskan bahwa beliau
melihat tanda dari tanda-tanda kebesaran Tuhannya.
Kami tidak mengetahui apa yang
dilihat oleh Nabi. Hal yang dapat kami bayangkan adalah, bahwa Nabi bersujud
dengan khusuk di hadapan Tuhannya dan beliau menangis karena gembira. Kesedihan
hatinya telah hilang selamanya. Setelah Nabi melihat rahasia dan setelah
penghormatan yang besar ini, beliau kembali menemani Buraq dan pergi bersama
Jibril untuk kembali ke bumi. Beliau kembali dan mendapati tempat tidurnya
masih dingin. Bagaimana beliau pergi dan kembali sementara tempat tidumya belum
dingin? Berapa lama waktu yang diperlukannya saat melakukan perjalanan
tersebut? Hanya Allah SWT semata yang mengetahui. Yang kita ketahui adalah,
bahwa Rasulullah saw kembali ke tempat tidurnya setelah Isra' dan Mi'raj dan
hatinya dipenuhi dengan kegembiraan serta dadanya dipenuhi dengan ketenangan
dan kepuasan serta kefanaan dalam cinta kepada Allah SWT.
Kemudian datanglah waktu pagi.
Nabi menceritakan perjalanan dan pengalaman tersebut kepada sahabat-sahabatnya
dan orang-orang Musyrik sehingga berimanlah orang-orang yang beriman padanya
dan mendustakan kepadanya orang-orang yang mendustakannya. Namun beliau tidak
peduli dengan semua itu. Nabi terus melangsungkan perjuangannya dengan penuh
kesabaran.
Akhirnya, datanglah suatu masa di
mana Nabi saw mengetahui bahwa dakwah Islam di Mekah telah mengalami penekanan
yang luar biasa sehingga keadaan sangat tidak mendukung bagi kaum Muslim.
Rasulullah saw bergerak dengan dakwahnya. Lalu Allah SWT mewahyukan kepadanya
agar ia berhijrah. Kemudian mulAllah Nabi berhijrah di jalan Allah SWT setelah
tiga belas tahun beliau di Mekah. Islam ingin membangun negaranya dan ingin
menghilangkan pengepungan dan serangan kaum musyrik. Mula-mula terjadilah
perubahan sedikit dalam keadaan kaum Muslim.
Rasulullah saw keluar dalam musim
haji untuk menunjukkan dirinya pada kabilah-kabilah Arab sebagaimana yang
beliau lakukan pada setiap musim. Beliau berada di tempat yang bernama 'Aqabah,
lalu beliau bertemu dengan jamaah dari Khazraj. Rasulullah saw berkata kepada
mereka, "siapa kalian?" Mereka menjawab: "Kami berasal dari
kelompok Khazraj." Beliau berkata. "apakah kalian termasuk pembantu
kaum Yahudi?" Mereka menjawab, "benar." Beliau berkata,
"maukah kalian duduk bersama aku karena aku ingin sedikit berbicara dengan
kalian." Mereka menjawab: "Boleh." Kemudian mereka duduk bersama
Nabi lalu beliau mengajak mereka untuk mengikuti agama Allah SWT.
Rasulullah saw sedikit
menceritakan Islam kepada mereka dan membacakan Al-Qur'an. Enam orang
mendengarkan apa yang disampaikan oleh Nabi saw. Setelah beliau selesai dari
pembicaraannya, mereka membenarkannya dan beriman kepadanya. Kemudian mereka
menceritakan kepada Nabi saw bahwa mereka meninggalkan kaumnya karena kaum
mereka terlibat peperangan dan kebencian. Mudah-mudahan Allah SWT mengumpulkan
mereka dengan kedatangan Nabi saw yang mulia ini. Mereka memberitahu Nabi saw
bahwa mereka akan menceritakan kepada kaumnya apa yang mereka dengar dari Nabi
saw dan akan mengajak mereka untuk memenuhi dakwah Nabi.
Keenam lelaki itu kembali ke kota
Madinah yang berubah namanya menjadi Madinah Munawarah yang sebelumnya ia
bernama Yatsrib di zaman jahiliah. Allah SWT berkehendak untuk meneranginya
dengan Islam. Para lelaki itu kembali ke Madinah dan mereka membawa Islam di
hati mereka sehingga banyak orang yang masuk Islam.
Kemudian datanglah musim haji dan
keluarlah dari Madinah dua belas orang lelaki dari orang-orang yang beriman
yang di antara mereka terdapat enam orang yang Rasulullah saw telah berdakwah
kepada mereka pada musim yang dulu dan Nabi saw menemui mereka di 'Aqabah.
Kemudian Nabi melakukan baiat pada mereka agar mereka mempertahankan keimanan
dan membela dakwah kebenaran serta kemanusiaan.
Kaum lelaki itu kembali ke
Madinah disertai salah seorang yang terpercaya dari tokoh Islam yaitu Mus'ab
bin Umair di mana ia menjadi utusan Rasulullah saw di Madinah dan ia mengajari
manusia tentang agama mereka dan membacakan kepada mereka Al-Qur'an dan
menyerukan kebenaran kepada manusia sehingga tersebarlah Islam di Madinah.
Penduduk Madinah mulai bertanya-tanya, mengapa saudara-saudara kita kaum Muslim
Mekah ditindas? Mengapa Rasul saw keluar untuk berdakwah dan menebarkan rahmat
tetapi beliau justru mendapatkan angin kebencian? Sampai kapan kita akan
membiarkan Rasulullah saw teraniaya dan terusir di Mekah?
Demikianlah, pergilah tujuh puluh
orang ke Mekah, tujuh puluh orang dari penduduk Madinah Munawarah. Mereka pergi
ke 'Aqabah dalam keadaan sendirian dan berkelompok-kelompok. Islam telah
menghasilkan buah pertamanya dalam hati mereka sehingga hati mereka dipenuhi cinta
kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta kaum Muslim. Penderitaan yang dialami kaum
Muslim mempengaruhi jiwa mereka dan mencegah mereka dari mendapatkan kenikmatan
tidur dan nikmatnya memakan dan nikmatnya kehidupan. Orang-orang yang baik itu
datang dan berbaiat kepada Rasul saw untuk membela beliau menolongnya dan
melindunginya serta siap untuk mati di jalannya. Mereka datang setelah hati
mereka diliputi oleh Islam dan mereka memberikan segala sesuatu untuk dakwah
yang baru; mereka datang sebagai pecinta-pecinta kebenaran.
Kitab-kitab hadis yang suci
meriwayatkan apa yang terjadi pada baiat 'Aqabah al-Kubra. Dalam kitab tersebut
dikatakan bahwa Abbas Ibnu Abdul Muthalib datang bersama Nabi dan saat itu ia
masih berada dalam agama kaumnya. Ia ingin menyelesaikan urusan anak pamannya.
Ketika ia duduk dan berbicara, ia mengatakan suatu pernyataan yang
mengisyaratkan bahwa Muhammad saw mendapatkan kemuliaan dari kaumnya dan
kekuatan di negerinya tetapi ia enggan dan memilih untuk bergabung bersama
kalian wahai penduduk Madinah. Jika kalian memenuhi janjinya dan melindunginya,
maka ambillah ia, namun jika kalian khawatir jika suatu saat nanti akan
mengkhianatinya, maka mulai dari sekarang biarkanlah ia di negerinya.
Kata-kata Abbas tersebut berasal
dari fanatisme kesukuan dan ikatan darah keluarga namun penduduk Madinah tidak
begitu peduli dengan kalimat Abbas itu karena ia bukan termasuk dari agama
mereka dan ia tidak mengetahui tingkat cinta kepada Rasul saw yang mereka
capai. Abbas bin Abdul Muthalib menunggu jawaban dari penduduk Madinah. Lalu
mereka berkata kepadanya, "Kami telah mendengar apa yang engkau katakan,
maka berbicaralah ya Rasulullah, ambilah untuk dirimu dan Tuhanmu apa saja yang
engkau sukai."
Kita ingin mengamati jawaban
sekelompok orang yang mukmin dari penduduk Madinah ini sehingga Rasulullah saw
berbicara. Jawaban yang dicari oleh Abbas bin Abu Muthalib tersembunyi dalam
pernyataan Nabi. Demikianlah setelah Rasulullah saw mengucapkan kalimatnya,
maka tidak keluar pemyataan apa pun. Cukup hanya Nabi yang berbicara dan mereka
hanya menaatinya. Mereka meminta kepada beliau agar mengambil pada dirinya dan
Tuhannya apa saja yang beliau sukai; mereka merasa tidak memiliki apa-apa dan
tidak memiliki keputusan. Nabi berbicara lalu beliau membaca Al-Qur'an dan
mengajak ke jalan Allah SWT. Kemudian beliau bebicara tentang Islam dan beliau
membaiat mereka agar membantu beliau sehingga mereka pun membaiat kepadanya.
Demikianlah terjadinya baiat 'Aqabah al-Kubra.
Orang-orang yang terpilih oleh
Allah SWT itu mengetahui bahwa sebentar lagi mereka akan diajak untuk
mengangkat senjata: mereka diajak untuk mendapatkan kematian di bawah naungan
pedang. Mereka menenangkan Rasulullah saw bahwa beliau akan mendapati
orang-orang yang sudah terlatih dalam peperangan karena mereka mewarisi dari
kakek-kakek mereka.
Salah seorang dari tujuh puluh
orang itu menyebutkan masalah yang penting. Abul Haitsyam berkata:
"sesungguhnya di antara orang-orang Madinah dan Yahudi terdapat suatu tali
ikatan, maka mereka boleh jadi akan memutuskannya lalu, apakah sikap yang harus
kita ambil jika mereka lakukan hal itu dan memusuhi orang-orang Yahudi,"
kemudian Allah SWT menolong Nabi dan memenangkan atas kaumnya, lalu ia kembali
kepada mereka dan meninggalkan mereka di bawah kasih sayang orang-orang Yahudi.
Perhatikanlah bahwa pertanyaan
tersebut berkisar pada kecintaan kepada Nabi dan keinginan agar Nabi tetap
bersama mereka selama perjalanan hari dan bulan. Masalah yang dituntut oleh
Abbas bin Abdul Muthalib secara jelas adalah masalah perlindungan mereka kepada
Nabi, di mana hal tersebut tidak lagi diperdebatkan oleh orang-orang yang
terpilih dari penduduk Madinah. Namun masalah yang mereka inginkan adalah
masalah perlindungan Nabi dan keberadaan Nabi bersama mereka di Madinah.
Nabi tersenyum dan beliau
mengatakan kalimat-kalimat yang justru menekankan bahwa ikatan akidah lebih
kuat daripada ikatan darah. Beliau berkata: "Tetapi darah adalah darah dan
kehancuran adalah kehancuran. Aku dari kalian dan kalian dariku aku akan
memerangi orang-orang yang kalian perangi dan aku akan berdamai dengan
orang-orang yang kalian berdamai dengan mereka."
Akhirnya, penduduk Madinah pergi
dan kembali ke negeri mereka. Kemudian berita tentang baiat ini sampai
ketelinga orang-orang Mekah dan para tokoh musyrik, lalu mereka justru menambah
penekanan kepada Rasulullah saw dan kaum Muslim.
Para preman Mekah berkumpul di
Darul Nadwah. Mereka menetapkan akan mengambil sesuatu keputusan penting
berkaitan dengan Nabi. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar beliau dibelenggu
dengan besi lalu dibuang di penjara sehingga beliau mati kelaparan. Sebagian
lagi mengusulkan agar beliau dibuang dari Mekah dan diusir. Abu Jahal
mengusulkan agar mereka mengambil dari setiap keluarga dari keluarga-keluarga
Quraisy seorang pemuda yang kuat, kemudian setiap dari mereka diberi pedang
yang terhunus dan hendaklah mereka memukulkan pedang itu ke tubuh Nabi. Jika
mereka berhasil membunuhnya niscaya semua kabilah bertanggung jawab terhadap
darah sang Nabi dan Bani Hasyim tidak akan mampu menuntut dan memerangi orang
Arab semuanya dan mereka akan menerima diat sebagai tebusan dari pembunuhan
itu. Demikianlah persekongkolan itu digelar dan mereka sepakat untuk
melaksanakan hal itu. Namun Al-Qur'an al-Karim menyingkap persekongkolan yang dilakukan
orang-orang kafir itu dalam firman-Nya:
"Dan (ingatlah), ketika
orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap dan
memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya
itu. Dan Allah sebaik-baih Pembalas tipu daya."
(QS. al-Anfal: 30)
Allah SWT mewahyukan kepada
Nabi-Nya agar ia berhijrah. Lalu Nabi mulai menyiapkan sarana-sarana untuk
hijrahnya. Beliau menyembunyikan urusan tersebut bahkan beliau tidak
memberitahu sahabat yang akan menemaninya. Rasulullah saw menyewa seorang
penunjuk jalan yang pengalaman yang mengenal padang gurun seperti mengenal
garis-garis tangannya. Yang mengherankan penunjuk jalan itu adalah seorang
musyrik. Demikianlah Nabi memita bantuan kepada orang yang ahli tanpa
memperhatikan keyakinannya.
Kemudian datanglah malam
pelaksanaan kejahatan itu. Rasulullah saw memerintahkan Ali bin Abi Thalib
untuk tidur di tempat tidumya di malam tersebut. Datanglah pertengahan malam
dan Rasulullah saw pun keluar dari rumahnya. Para pemuda Mekah mengepung rumah.
Mereka menghunuskan pedangnya. Nabi menggenggam tanah lalu beliau
melemparkannya ke arah kaum sehingga mereka pun merasa kantuk sehingga Nabi saw
dapat menembus kepungan mereka. Beliau keluar dari Mekah dan berhijrah.
Dengan langkah yang diberkati
ini, kaum Muslim menanggali tahun-tahun mereka. Tahun dalam Islam adalah tahun
Hijiriah, sedangkan kaum Masehi menanggali tahun mereka dengan kelahiran Isa
dan ini disebut dengan tahun Masehi. Adapun tahun-tahun Islam, maka ia
ditanggali pertama kalinya saat Rasulullah saw keluar berhijrah di jalan Allah
SWT. Hijrah Rasul bukan hanya lari dari penindasan tetapi lari dari kebekuan;
hijrah tersebut bukan keluar dari keamanan tetapi keluar dari bahaya. Islam di
Mekah hanya dapat mempertahankan dirinya tetapi ketika ia keluar ke Madinah ia
mempertahankan dirinya ketika menyerang. Dan selama beberapa tahun masa yang
dihabiskan di Mekah, tak seorang dari kaum Muslim yang mengangkat senjata.
Ketika mereka keluar ke Madinah, mereka mulai membawa senjata dan mulai
menyalakan obor peperangan. Islam mulai membawa senjata sebagaimana luka akan
sembuh dengan syarat jika diobati. Nabi saw mengetahui bahwa Islam tidak akan
menghabiskan usianya hanya untuk melawan serangan pada dirinya; Islam ingin
tersebar; Islam ingin mendirikan negaranya yang pertama yaitu suatu negara yang
belum pernah dikenal di muka bumi negara seperti itu. Negara yang mencapai
keadilan, kasih sayang, dan idealisme yang begitu luar biasa di mana hukum
Allah SWT ditegakkan dan kehormatan manusia benar-benar dijaga.
Inilah kedalaman hijrah yang
mengesankan yaitu pendirian negara Islam setelah sebelumnya membangun individu
masyarakat Muslim. Setelah Rasul saw membangun masyarakat Muslim dan membangun
masjid, maka beliau membangun suatu negara Islam. Selanjutnya, sayap-sayap
dakwah mengepak.
Kami kira pembaca tidak akan
bertanya, apa gunanya pembangunan masjid ditingkatkan sementara Islam masih
mengalami penindasan di muka bumi. Kami kira pembaca lebih pintar daripada
orang yang tidak mengetahui bahwa masjid yang dibangun Rasulullah saw di
Madinah bukan tempat peristirahatan dari keletihan, tetapi masjid merupakan
pusat dari kepemimpinan pergerakan Islam dan kepemimpinan menuju peperangan
Islam.
Manusia mandi di masjid dengan
cahaya Allah SWT setelah itu mereka mandi di kancah peperangan dengan darah
mereka. Pertanyaannya adalah, siapakah di antara mereka yang akan terbunuh di
jalan Allah SWT sebelum saudaranya? Demikianlah perlombaan dalam perbaikan
terjadi di antara mereka. Dengan cara demikianlah Islam tersebar.
Sementara itu, Nabi berlindung di
suatu gua; di gunung yang bernama Tsur. Beliau masuk ke gua itu bersama
sahabatnya Abu Bakar. Dan orang-orang musyrik pergi menyusul beliau dengan
membawa pedang mereka. Lalu mereka sampai ke gunung itu. Abu Bakar berkata
kepada Rasul saw dengan keadaan gelisah, "seandainya salah seorang mereka
melihat di bawah kakinya niscaya mereka akan melihat kita."
Dengan tenang, Rasulullah saw
menepis kegelisahan Abu Bakar dan berkata: "Wahai Abu Bakar apa yang kamu
kira dengan dua orang yang ada di tempat yang sepi sementara Allah SWT menjadi
ketiga di antara mereka?" Sebelum Rasulullah saw mengakhiri kalimatnya,
terdapat laba-laba yang selesai dari menenun rumahnya di atas pintu gua.
Kitab-kitab sejarah mengatakan bahwa kaum musyrik mengikuti jejak sang Nabi
sehingga mereka sampai di gunung Tsur lalu di situlah mereka mengalami
kebingungan. Mereka mendaki gunung dan mendaki gua itu. Lalu mereka melihat di
atas pintu gua itu terdapat tenunan laba-laba. Mereka mengatakan, seandainya
seseorang masuk di dalamnya niscaya tidak akan terdapat tenunan laba-laba di
atas pintunya. Beliau tinggal di gua itu selama tiga malam.
Demikianlah keimanan tenunan
laba-laba yang lembut dimenangkan atas ketajaman pedang kaum musyrik sehingga
Nabi bersama sahabatnya pun selamat. Kini, kedua orang itu menuju Madinah. Dan
Madinah pun menyambut mereka. Ketika Rasulullah saw dan sahabatnya memasuki
Madinah, mula-mula masyarakat tidak mengenal siapa di antara mereka yang
menjadi Rasul karena saking baiknya sikap Rasul terhadap sahabatnya. Akhirnya,
Nabi menerangi kota Madinah. Beliau membangun masjid dan mendirikan negaranya
serta memerangi musuh-musuhnya dan tersebarlah Islam dan Mekah pun ditaklukkan
dan Baitul Haram disucikan.
Beliau menanamkan dalam akal dan
hati suatu cahaya yang tidak akan pernah padam. Kemudian berlangsunglah sepuluh
tahun yang dilewatinya di Madinah di mana beliau tidak menggunakannya untuk
berleha-leha. Demikian juga selama masa tiga belas tahun yang beliau lalui di
Mekah, beliau pun tidak mendapatkan istirahat yang cukup. Semua kehidupan
beliau hanya untuk Allah SWT dan hanya untuk Islam. Beban berat yang dipikul
oleh punggung beliau yang mulia lebih berat dari beban yang dipikul oleh
gunung. Meskipun beliau seorang diri, tetapi beliau mampu memikul amanat yang
pernah Allah SWT tawarkan kepada langit dan bumi serta gunung namun mereka pun
enggan untuk memikulnya. karena mereka menyadari bahwa mereka tidak akan mampu
memikulnya. Lalu datanglah beliau dan beliau pun mampu memikul amanat itu dan
melaksanakannya secara sempurna. Yaitu amanat untuk menyampaikan agama Allah
SWT; amanat untuk menyucikan akal manusia dari polusi khayalisme dan
khurafatisme: amanat yang mewarnai kehidupan dengan hanya sujud kepada Allah
SWT.
Kemudian mengalirlah dalam memori
Nabi saw suatu arus dari gambar-gambar hidup: bagaimana saat beliau memasuki
Madinah. Lewatlah di hadapan akal beberapa memori dan nostalgia: bagaimana
wahyu yang turun kepadanya dengan membawa risalah di gua Hira, kemudian
berubahlah pandangan dan bertiuplah angin kebencian kepadanya, bahkan angin itu
membawa pasir-pasir tuduhan-tuduhan yang dilemparkan ke wajah suci beliau.
Beliau berdiri sambil tersenyum dan hatinya dipenuhi dengan kesedihan di
hadapan gelombang gurun dan kesendirian serta badai kesengsaraan. "Wahai
manusia, tiada Tuhan selain Allah SWT. Demikianlah kalimat yang beliau katakan.
Meskipun kalimat itu tampak sederhana namun ia mampu membangkitkan dunia. Dan
bergeraklah patung-patung yang begitu banyak yang memenuhi kehidupan dan mereka
membekali dirinya dengan kegelapan dan kebencian yang dialamatkan kepada sang
Nabi. Para pembesar. para penguasa, uang, emas, serta kebencian dan kedengkian
setan yang klasik dan banyaknya orang-orang munafik, semua ini menjadi musuh
nyata sang Nabi pada saat beliau mengatakan "tiada Tuhan selain Allah
SWT." Nabi mengingat kembali Waraqah bin Nofel ketika menceritakan
kepadanya apa yang terjadi dan apa yang dialami beliau di gua Hira. Tidakkah ia
mengatakan kepadanya bahwa kaumnya akan mengusirnya?
Hari-hari hijrah sangat panjang
dan berat. Matahari sangat dekat dengan kepala dan rasa panas sangat mencekik
tenggorokan dan rasa pusing-pusing pun semakin meningkat. Setelah hijrah, Nabi
memasuki Madinah. Beliau disambut oleh kaum Anshar dengan sambutan luar biasa.
Beliau datang sendirian lalu mereka menolongnya; beliau datang dalam keadaan
takut lalu mereka mengamankannya; beliau datang dalam keadaan lapar lalu mereka
memberinya makanan; beliau datang dalam keadaan terusir lalu mereka memberikan perlindungan.
Bangunan Islam mulai ditancapkan
di Madinah. Beliau mulai membangun negaranya setelah beliau membangun sumber
daya manusia Islam yang tangguh. Yang pertama kali dibangunnya adalah sumber
daya Islam, setelah itu beliau baru membangun negara. Tidak ada nilai yang
berarti dari satu sistem yang hanya berdasarkan prinsip-prinsip besar yang
tidak lebih dari sekadar tinta di atas kertas. Penerapan prinsip-prinsip adalah
tolok ukur final dari nilai apa pun yang diberlakukan di dunia. Dan Islam telah
berhasil menerapkan pada masa-masa pertamanya suatu sistem yang belum pernah
dikenal dalam kehidupan manusia suatu sistem seperti itu. Yaitu sitem yang
menunjukkan keadilan, persaudaraan, dan kasih sayang yang mengagumkan. Hal yang
pertama kali dilakukan Rasulullah saw adalah membangun masjid di mana di
situlah unta yang ditungganinya berhenti. Mesjid itu tampak sederhana. Tikarnya
terdiri dari pasir-pasir dan batu-batu. Tiangnya terbuat dari batang-batang
kurma. Barangkali ketika turun hujan, maka tanahnya akan menjadi lumpur karena
mendapat siraman air hujan. Mungkin ketika angin bertiup dengan kecang, maka ia
akan mencabut sebagian dari atapnya.
Di bangunan yang sederhana ini,
Rasulullah saw mendidik generasi Islam yang tangguh yang dapat menghancurkan
orang-orang yang lalim dan para penguasa yang bejat dan mereka mampu
mengembalikan kebenaran ke singgasananya yang terusir dan terampas. Mereka
mampu menyebarkan Islam di muka bumi. Mesjid itu tampak kecil dan sederhana
sekali tetapi ia dipenuhi dengan kebesaran; masjid itu tidak menunjukkan
kemewahan sama sekali. Di dalamnya Al-Qur'an dibaca lalu orang-orang yang
mendengarnya menganggap bahwa mereka benar dan mendapatkan perintah harian
untuk menerapkan dan melaksanakan apa-apa yang mereka dengar.
Al-Qur'an dibaca di masjid bukan
seperti nyanyian yang orang-orang duduk akan merasa terpengaruh dengan
keindahan nyanyian dan suara pembaca. Dan masjid di dalam Islam bukanlah tempat
satu-satunya untuk ibadah. Menurut kaum Muslim semua burni adalah masjid namun
masjid adalah simbol peradaban yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir,
sebagaimana ia menyuarakan ilmu, kebebasan dan persaudaraan.
Semua Nabi berbicara tentang
persaudaraan dan mengajak kepadanya dengan ribuan kata-kata. Sedangkan
Rasulullah saw telah mewujudkan persaudaraan itu secara praktis, yakni ketika
karakter masyarakat saat itu mencerminkan Al-Qur'an. Nabi mulai
mempersaudarakan kaum muhajirin dan Anshar di mana sahabat Anshar Sa'ad bin
Rabi', seorang kaya dari Madinah dipersaudarakan dengan Abdul Rahman bin 'Auf,
seorang yang berhijrah dari Mekah. Sa'ad berkata kepada Abdul Rahman:
"Sesungguhnya, tanpa bermaksud sombong, aku memang memiliki harta yang
banyak daripada kamu. Aku telah membagi hartaku menjadi dua bagian dan
sebagiannya aku peruntukkan bagimu. Lalu aku mempunyai dua orang wanita, maka
lihatlah siapa di antara mereka yang mampu memikatmu sehingga aku
menceraikannya lalu engkau dapat menikahinya." Abdul Rahman bin 'Auf
menjawab: "Mudah-mudahan Allah SWT memberkatimu, keluargamu, dan hartamu.
Di manakah pasar yang engkau berdagang di dalamnya?"
Abdul Rahman bin 'Auf keluar
menuju ke pasar untuk berkerja. Ia kembali dan membawa sesuatu yang dapat
dimakannya. Ia menolak dengan lembut sikap baik Sa'ad dan kedermawanannya. Ia
bersandar pada keimanan kepada Allah SWT dan lebih memilih untuk bekerja dan
membanting tulang. Tidak berlalu hari demi hari kecuali ia tetap bekerja
sehingga ia mampu untuk membekali dirinya dan melaksanakan pernikahan.
Demikianlah masyarakat Islam
terbentuk dan menampakkan identitasnya berdasarkan cinta, kebebasan,
musyawarah, dan jihad. Pekerjaan menurut Islam bukan suatu penderitaan untuk
mendapatkan roti atau potongan daging sebagaimana dikatakan peradaban kita masa
kini, tetapi pekerjaan dalam Islam melebihi ruang lingkup materi ini dan menuju
puncak yang lebih tinggi:
"Dan katakanlah: 'Bekerjalah
kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang muhmin akan melihat
pekerjaanmu itu. " (QS. at-Taubah: 105)
Kesadaran bahwa apa yang kita
kerjakan akan dilihat oleh Allah SWT menjadikan perkerjaan itu mendapat cita
rasa yang lain. Yaitu suatu rasa yang melampaui nikmatnya memakan roti dan
daging. Setelah bekerja, datanglah cinta. Cinta dalam Islam bukan hanya
perasaan yang menetap dalam hati dan tidak diwujudkan oleh suatu perbuatan;
cinta dalam Islam merupakan langkah harian yang akan mengubah bentuk kehidupan
di sekitar manusia menuju yang lebih tinggi dan mulia.
Seorang Muslim mencintai Tuhannya
Pencipta alam semesta dan mencintai Rasulullah saw dan mencintai kaum Muslim
dan orang-orang yang berdamai dengan orang-orang Muslim, meskipun keyakinan
mereka berbeda dengannya. Bahkan seorang Muslim mencintai makhluk secara
keseluruhan: ia mencintai anak-anak, hewan, bunga, pasir dan gunung bahkan
benda-benda mati pun mendapat cinta dari seorang Muslim. Seorang Muslim jika
dia benar-benar seorang Muslim akan merasakan dnta yang dialami oleh Nabi Daud
terhadap alam dan lingkungan di sekitarnya. Ini adalah perasaan sufi yang
tinggi. Seorang Muslim akan mewarisi cinta yang sebenarnya seperti yang
diwarisi Nabi Isa terhadap lingkungan yang baik yang ada di sekitarnya di mana
ketika Nabi Isa melihat tubuh anjing yang mati, maka Nabi Isa tidak melihat
selain keputihan giginya.
Demikianlah cinta yang tersebar
dalam kehidupan kaum Muslim di mana cinta itu pun tertuju kepada binatang dan
benda-benda mati. Cinta demikian ini tidak akan terwujud dengan suatu keputusan
dan tidak ditetapkan dengan suatu undang-undang, tetapi cinta itu datang
biasanya akibat dari kepuasaan akal dan hati dengan adanya kepemimpinan besar
yang hati cenderung kepadanya dan akal mengambil darinya. Dan yang dimaksud
dengan kepemimpinan besar tersebut adalah keberadaan sang Nabi. Beliau adalah
cermin terbesar dari tingkat cinta yang tertinggi. Beliau adalah seorang yang paling
banyak berbuat demi Islam dan paling banyak sedikit mengharapkan balasan
darinya. Meskipun beliau seorang pemimpin namun beliau hidup dalam
kesederhanaan. Beliau adalah seorang tentara yang paling sederhana. Tempat
tidurnya bersih tetapi kasar, dan rumahnya tidak menampakkan kesibukan yang di
dalamnya memasak berbagai macam hidangan. Beliau justru menyiapkan hidangan
yang sangat sederhana. Makanan utama beliau adalah roti kering yang dicampur
dengan minyak. Keinginan besar beliau adalah tersebarnya dakwah Islam.
Kaum Muslim menyadari bahwa
kesempurnaan Islam tidak akan terwujud kecuali ketika cinta Allah SWT dan
Rasul- Nya lebih didahulukan daripada cinta diri sendiri, cinta kepada wanita,
cinta kepada anak, kepentingan, kekuasaan, kehidupan, dan apa saja yang tidak
ada hubungannya dengan Allah SWT dan Rasul-Nya. Demikianlah kaum Muslim sangat
mencintai pemimpin mereka lebih dari kehidupan pribadi mereka. Di samping
pekerjaan dan cinta tersebut, didirikanlah pemerintahan Islam yang berdasarkan
kaidah-kaidah kebebasan, musyawarah dan jihad.
Kebebasan dalam Islam bukan
sekadar perhiasan yang dilekatkan kepada tubuh Islam tetapi ia merupakan
tenunan dari sel-sel yang hidup itu. Allah SWT telah membebaskan kaum Muslim
dari penyembahan selain dari-Nya. Dengan demikian, runtuhlah semua belenggu
yang hinggap di atas akal, hati, dan masyarakat. Seorang Muslim memiliki—dalam
Islam—suatu kebebasan yang diberikan kepadanya agar ia melihat sesuatu dengan
akalnya dan mendebat segala sesuatu dengan akalnya. Dan hendaklah ia merasa
puas dengan sesuatu yang dapat menenteramkan hatinya. Kebebasan dalam Islam
bukan kebebasan mutlak yang menjurus kepada anarkisme dan diskriminasi tetapi
kebebasan dalam Islam adalah kebebasan yang bertanggung jawab.
Dalam ruang lingkup nas-nas yang
pasti yang terdapat dalam Al-Qur'an atau sunah tidak ada kebebasan di hadapan
orang Muslim selain kebebasan untuk berlomba-lomba untuk menerapkan apa yang
mereka pahami. Selain itu, seorang bebas sampai tidak terbatas, dan pintu
ijtihad tetap terbuka sampai tidak ada batasnya, karena pintu ijtihad adalah
akal dan menutup pintu ijtihad yakni menutup akal dan itu berarti akan membawa
kematian baginya. Islam tidak menerima orang-orang yang mati akalnya atau
menga-lami kemunduran; Islam pada hakikatnya memperlakukan manusia dari sisi
akal dan hati.
"Adalah untukmu, sedang kamu
menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan
Allah meng-hendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan
memusnahkan orang-orang kafir." (QS. al-Anfal: 7)
Orang-orang Islam karena
kekafiran mereka dan kebutuhan mereka serta situasi ekonomi yang memburuk,
mereka ingin bertemu dengan pasukan yang tidak bersenjata; mereka ingin bertemu
dengan kafilah yang kaya, bukan pasukan yang bersenjata; mereka membutuhkan
harta untuk menyebarkan dakwah. Namun Allah SWT menginginkan mereka dengan
keadaan seperti itu agar mereka berhadapan dengan pasukan kafir dan agar mereka
mampu memutus tali kekuatan orang-orang kafir sehingga kebenaran akan menang.
Keluarlah orang-orang Muslim
dalam peperangan Badar dengan membayangkan bahwa mereka akan mendapatkan
keuntungan dan kesenangan dengan banyak mengambil ganimah. Namun Allah SWT
menginginkan terjadinya peperangan yang berat, di mana itu berakibat pada
jatuhnya tokoh-tokoh kaum kafir Mekah sebagai korban darinya dan agar Madinah
dapat menahan penderitaan dan kefakiran yang dialaminya. Seharusnya pengikut
Islam tidak membayangkan untuk mengambil keuntungan tetapi ia justru harus
memberi kepadanya.
Nabi mengetahui sebagai pemimpin
pasukan ia harus mengingatkan pasukannya bahwa mereka akan menemui kesulitan
dan penderitaan, dan bukan masalah sepele seperti yang mereka bayangkan. Nabi
bermusyawarah dengan sahabat-sahabat. Beliau berbincang-bincang dengan Abu
Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, dan Miqdad bin Amr. Lalu mereka semua sepakat
untuk terus melakukan peperangan apa pun hasilnya dan apa pun pengorbanan yang
harus dilakukan.
Kemudian Rasulullah saw berkata:
"Wahai para sahabat, tunjukkanlah diri kalian." Rasulullah saw
mengisyaratkan kepada kaum Anshar. Rasulullah saw khawatir jika mereka memahami
bahwa baiat yang terjadi di antara mereka yang berisi agar mereka melindungi
beliau jika beliau diserang di Madinah saja, dan memang pasal-pasal dari baiat
itu mendukung hal itu. Tidakkah mereka mengatakan kepada beliau: "Ya
Rasulullah, kami tidak akan bertanggung jawab kepadamu sehingga engkau sampai
di negeri kami. Jika engkau sampai di negeri kami, maka kami akan bertanggung
jawab untuk melindungimu."
Mayoritas pasukan terdiri dari
orang-prang Anshar, maka Rasulullah saw ingin mengetahui keputusan mayoritas
tentara sebelum dimulainya peperangan. Kaum Anshar mengetahui bahwa Rasul saw
ingin mengetahui pendapat kaum Anshar. Oleh karena itu, Sa'ad bin 'Auf berkata:
"Demi Allah, seakan-akan engkau menginginkan kami ya Rasulullah."
Nabi menjawab, "benar." Kemudian kaum Anshar menyatakan apa yang
mereka rasakan.
Mendengar pernyataan kaum Anshar
itu hilanglah kekhawatiran dan ketakutan Nabi, bahkan beliau bergembira dan
wajahnya berseri-seri. Rasulullah saw telah mendidik mereka berdasarkan Islam
dan Islam tidak mengenal pasal-pasal perjanjian namun ia justru tenggelam dalam
esensinya dan kedalamannya yang jauh. Kaum Anshar meyakinkan Nabi bahwa mereka
benar-benar beriman kepadanya, mencintainya dan akan mendengarkan apa saja yang
beliau katakan serta akan benar-benar menaati beliau.
Sa'ad bin Mu'ad berkata: "Ya
Rasulullah, lakukanlah apa yang engkau inginkan dan kami akan bersamamu. Demi
Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau membelah lautan lalu
engkau menyelam di dalamnya niscaya kami akan menyelam bersamamu dan tidak ada
seseorang pun di antara kami yang akan meninggalkanmu." Demikianlah
keteguhan kaum Anshar. Kalimat tersebut menetapkan peperangan paling penting
dan paling berbahaya dalam sejarah Islam.
Perasaan kaum Anshar dan
Muhajirin dalam pasukan Rasul saw sangat berbeda dengan perasaan Nabi Musa
ketika mereka mengatakan kepadanya, "pergilah engkau wahai Musa bersama
Tuhanmu dan berperanglah, sesungguhnya kami di sini hanya duduk-duduk
saja." Namun kaum Muslim menyatakan bahwa seandainya Rasul saw
memerintahkan mereka untuk melalui lautan dengan berjalan kaki di atas ombaknya
niscaya mereka akan melakukan hal itu walaupun berakibat pada tenggelamnya mereka
dan kematian mereka dan tak seorang pun yang akan menentang perintah Rasul saw
tersebut.
Akhirnya, kaum Muslim
bersiap-siap untuk memasuki kancah peperangan lalu mereka membuat kemah-kemah
yang di situ ditentukan tempat peristirahatan dan pergerakan tentara Islam.
Tempat itu ditentukan oleh Rasul saw. Allah SWT membiarkan Rasul-Nya melakukan
kesalahan dalam memilih tempat sehingga itu akan dapat menjadi pelajaran bagi
kaum Muslim dalam kaidah umum dari kaidah-kaidah peperangan yaitu sikap
pemimpin pasukan untuk mengambil suatu kebijakan yang penting yang berdasarkan
pengalaman. Kemudian datanglah Habab bin Mundzir kepada Rasulullah saw dan
bertanya kepadanya, "apakah tempat yang kita jadikan sebagai pusat
pergerakan tentara kita merupakan pilihan dari Allah SWT dan Rasul-Nya hingga
kita tidak dapat mendahuluinya dan mengakhirinya yakni kita tidak dapat
memberikan pendapat kita ataukah itu hanya masalah yang bersifat tehnik yakni
itu terserah pada pendapat kita dan sesuai kebijakan saat perang dan ia
merupakan tipu daya semata?"
Rasulullah saw berkata:
"Tetapi itu adalah pendapat pribadi, peperangan, dan tipu daya."
Habab berkata: "Ya Rasulullah ini adalah tempat yang tidak tepat."
Sahabat yang sarat pengalaman ini memilih tempat di mana pasukan Madinah dapat
minum darinya sedangkan pasukan Mekah tidak dapat mengambil darinya. Kemudian
berpindahlah pasukan Muslim menuju tempat yang telah ditentukan oleh pengalaman
militer.
Sampailah pasukan Mekah di mana
jumlah mereka mendekati seribu tentara dan mereka akan berhadapan dengan tiga
ratus tujuh belas pasukan Muslim. Pasukan Quraisy berada di tempat yang jauh
dari lembah.
Pasukan kafir terdiri dalam
perang Badar dari pemuka-pemuka Quraisy dan pahlawan-pahlawan mereka, sedangkan
pasukan Muslim terdiri dari keluarga-keluarga, ipar-ipar dan keluarga dekat
dari pasukan kafir. Allah SWT telah menentukan agar seorang anak bertemu dengan
ayahnya, saudara bertemu dengan sesama saudara dan sesama ipar bertemu di medan
peperangan. Mereka semua dipisahkan dengan suatu prinsip di mana mereka
ditentukan oleh pedang. Akhirnya, peperangan Badar pun terjadi dan kaidah utama
adalah kaidah persaudaraan sesama Muslim. Dan ketika pasukan Muslim berpegang
teguh di atas dasar Islam, maka pasukan kafir mulai terpecah belah namun
keadaan tersebut mereka sembunyikan.
Lalu 'Utbah bin Rabi'ah berbicara
di tengah-tengah pasukan Mekah dan mengajak mereka untuk menarik kembali dari
peperangan. 'Utbah memberikan pernyataan sesuai dengan tuntutan akal sehat,
"wahai orang-orang Quraisy demi Allah, jika kalian harus memerangi
Muhammad, maka kalian akan menyesal karena kita berhadapan dengan
saudara-saudara kita sendiri. Boleh jadi kita akan membunuh anak paman kita,
atau salah seorang dari kerabat kita. Mengapa kalian tidak membiarkannya
saja?"
Kalimat yang rasional tersebut
cukup menggoncangkan pasukan Mekah. Sebagian tentara merasa puas dengan
pernyataan tersebut karena mereka melihat bahwa tidak ada gunanya peperangan
itu. Namun kebohohan justru memadamkan kalimat yang rasional itu. Abu Jahal
menuduh bahwa yang mengucapkan kata-kata adalah orang yang penakut. Kemudian
Abu Jahal lebih memilih pendapatnya untuk menetapkan terus memerangi kaum
Muslim.
Pemimpin pasukan kafir yaitu Abu
Jahal mengetahui bahwa Muhammad tidak pernah berbohong. Kitab-kitab sejarah
menceritakan bahwa Akhnas bin Syuraif menyendiri dalam perang Badar bersama Abu
Jahal sebelum terjadinya peperangan tersebut dan bertanya kepadanya,
"wahai Abul Hakam, tidakkah engkau melihat bahwa Muhammad pernah
berbohong? Abul Hakam menjawab: "Bagaimana mungkin ia berbohong atas
Allah, sedangkan kami telah menamainya al-Amin (orang yang dapat
dipercaya)." Peperangan tersebut bukan sebagai usaha untuk mendustakan
Rasul saw tetapi itu hanya semata-mata untuk menjaga kepentingan-kepentingan
sesaat dan keadaan ekonomi. Demikianlah orang-orang kafir mempertahankan nilai
yang paling rendah yang ada di muka bumi yang juga dipertahankan oleh binatang,
sementara kaum Muslim justru mempertahankan nilai yang paling tinggi di bumi
dan di langit yang ikut serta di dalamnya para malaikat.
Kemudian datanglah waktu malam
menyelimuti dua kubu. Tiga ratus tentara yang mukmin sudah bersiap-siap dan
mendekati seribu tentara musyrik. Orang-orang musyrik datang dengan menunggangi
tunggangan mereka dan tampak mereka memiliki persenjataan yang lengkap,
sedangkan setiap orang Muslim datang di atas satu kendaraan. Pakaian yang
dipakai orang-orang musyrik tampak masih baru dan pedang-pedang mereka tampak
mengkilat serta baju besi yang mereka gunakan sangat unggul dan kuat. Alhasil,
mereka memiliki persiapan yang sangat mengagumkan sedangkan pakaian yang
dipakai orang-orang Muslim tampak sudah usang dan pedang-pedang kuno pun mereka
gunakan dan baju besi yang mereka gunakan tampak tidak sempurna. Nabi melihat
keadaan pasukannya lalu hati beliau tampak sedih melihat pasukan tersebut.
Beliau berdoa kepada Tuhannya: "Ya Allah, Sesungguhnya mereka adalah
orang-orang yang lapar, maka kenyangkanlah mereka. Ya Allah, sesungguhnya
mereka adalah orang-orang yang tanpa alas kaki, maka tolonglah mereka. Ya
Allah, Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak berpakaian, maka
berilah mereka pakaian."
Kemudian rasa kantuk menghinggapi
mata kedua pasukan lalu mereka beristirahat di tengah-tengah malam. Jatuhlah
hujan kecil yang membuat tempat itu basah sehingga kelembaban mengitari kaum
Muslim. Hujan tersebut membasuh tanah perjalanan dan menghilangkan debu-debu
kepayahan serta menyucikan hati dan membangkitkan kepercayaan atas kemenangan
dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika Allah
menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteram dari-Nya, dan Allah
menurunkan hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan
menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan
memperteguh dengannya telapak kaki(mu)." (QS.
al-Anfal: 11)
Datanglah waktu pagi di Badar
lalu kaum Quraisy mulai menyerang, lalu Nabi memerintahkan pasukan Muslim untuk
bertahan. Rasulullah saw bersabda: "Jika musuh mengepung kalian, maka
usirlah mereka dengan panah dan janganlah kalian menyerang mereka sehingga
kalian diperintahkan."
Demikianlah ketetapan militer
yang sangat jitu yang berarti hendaklah kaum Muslim membentengi mereka di
tempat-tempat mereka agar orang-orang musyrik mendapatkan kerugian dari
serangan yang mereka lakukan. Kita mengetahui dari ilmu militer saat ini bahwa
seorang yang menyerang memerlukan tiga atau tiga kali lipat dari jumlah yang
biasa dilakukan sehingga serangannya betul-betul efektif; kita mengetahui bahwa
jumlah pasukan musyrik tiga kali lipat dibandingkan dengan tentara Muslim. Kaum
musyrik dilihat dari segi jumlah sangat memadai untuk memenangkan peperangan,
dan persenjataan mereka lebih lengkap dari persenjataan kaum Muslim. Jumlah
hewan yang mereka miliki pun sama dengan jumlah mereka, sedangkan tiap tiga
orang Muslim berperang di atas satu tunggangan.
Keadaan saat itu sangat
menguntungkan kaum musyrik. Tanda-tanda kemenangan tampak menyertai bendera
kaum musyrik, tetapi kemenangan peperangan bukan karena kebesaran jumlah
pasukan dan persenjataan yang lengkap. Terkadang peperangan justru dimenangkan
oleh unsur spiritual yang tidak kelihatan. Spiritualitas tentara dan
keimanannya tentang persoalan yang dipertahankannya serta keinginannya untuk
mendapatkan dua kebaikan: kemenangan atau kematian dan hasratnya yang tinggi
untuk meneguk madu syahadah, semua itu dapat mengubah seorang tentara menjadi
makhluk yang tidak terkalahkan. Boleh jadi ia akan merasakan kematian tetapi
jauh dari kekalahan. Demikianlah keadaan pasukan Muslim.
Sementara itu debu-debu berterbangan
di atas kepala pasukan yang bertempur dan kaum Muslim mencurahkan tenaga yang
keras dalam peperangan itu. Ketika dua pasukan saling bertemu dan bertempur,
Nabi saw melihat mereka, lalu Nabi saw menyaksikan pasukannya terjepit. Pasukan
yang berjumlah sedikit dengan persenjataan yang tidak lengkap itu kini ditekan
oleh orang kafir. Dalam keadaan demikian, Nabi saw meminta pertolongan kepada
Tuhannya: 'Ya Allah, kirimkanlah bantuan dan pertolongan-Mu. Ya Allah,
wujudkanlah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, jika kelompok ini dihancurkan, maka
Engkau tidak akan disembah setelahnya di muka bumi." Renungkanlah,
bagaimana kesedihan Nabi saat terjadi peperangan itu. Oleh karena itu, kita
dapat memahami mengapa Nabi saw meminta agar pasukannya dimenangkan.
Pemimpin pasukan tertinggi
Muhammad bin Abdillah keluar berperang di jalan Allah SWT dan saat ini kematian
sedang mengitari kaum Muslim, lalu apa yang dipikirkan oleh Nabi saw pada
keadaan yang sulit tersebut? Pemikiran Nabi saw melebihi hal yang sekarang dan menuju
pada hal yang akan datang, dan yang menjadi fokus Nabi adalah penyembahan Allah
SWT di muka bumi: "Ya Allah, jika kelompok ini dihancurkan, maka Engkau
tidak akan disembah setelahnya di muka bumi."
Nabi tidak terlalu
mengkhawatirkan kehancuran kaum Muslim karena Nabi justru mengkhawatirkan
sesuatu yang lebih besar dari itu. Yang beliau khawatirkan adalah penyembahan
kepada Allah SWT akan berhenti di muka bumi. Oleh karena itu, Nabi meminta
tolong kepada Tuhannya dan mengingatkan kembali kepada Tuhannya dan Allah SWT
lebih tahu dari hal itu. Kemudian turunlah bala tentara malaikat yang dipimpin
oleh Jibril.
Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika kamu
memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankankan-Nya bagimu:
'Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu
malaikat yang datang berturut-turut.' Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim
bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram
karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. al-Anfal: 9-10)
Setelah itu Nabi saw menghampiri
sahabat Abu Bakar dan berkata: "Sampaikan berita gembira wahai Abu Bakar,
sesungguhnya telah datang kepadamu bantuan dari Allah SWT."
Turunnya para malaikat merupakan
cara untuk meneguhkan kaum Muslim dan berita gembira kepada mereka. Mukjizat
itu bukan terletak pada penyertaan para malaikat dalam peperangan, namun
melalui nas-nas ditegaskan bahwa peranan malaikat tidak lebih dari sekadar
membawa berita gembira dan memberikan dukungan moril serta memenuhi hati dengan
ketenangan. Kami kira bahwa Allah SWT ingin agar para malaikat menyaksikan
manusia-manusia malaikat yang mempertahankan akidah tauhid.
Demikianlah Allah SWT mewahyukan
kepada malaikat bahwa Dia bersama mereka. Oleh karena itu, hendaklah
orang-orang yang beriman merasa tenang dan kebenaran akan tertancap pada hati
mereka sedangkan orang-orang kafir pasti akan merasakan ketakutan.
Allah SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika Tuhanmu
mewahyukan kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka
teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.' Kelak akan Aku
jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala
mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian
itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan
barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras
siksaan-Nya. Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukuman
itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka."
(QS. al-Anfal: 12-14)
Lalu orang-orang kafir pun
mengalami kekalahan. Setelah peperangan itu, terbunuhlah tujuh puluh kafir dan
tujuh puluh tawanan dari mereka dan sebagian pasukan melarikan diri. Runtuhlah
tokoh-tokoh kebencian dan kelaliman di peperangan tersebut. Hancurlahlah Abu
Jahal, pemimpin pasukan, dan pahlawan-pahlawan Mekah kini terkapar.
Rasulullah saw berdiri di depan
bangkai-bangkai orang-orang kafir dan berkata: "Wahai Utbah bin Rabi'ah,
wahai Syaibah bin Rabi'ah, wahai Umayah bin Khalf, wahai Abu Jahal bin Hisam,
apakah kalian menemukan apa yang dijanjikan oleh tuhan kalian kepada kalian.
Sungguh aku telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhanku." Orang-orang Muslim
berkata: "Ya Rasulullah, apakah engkau memanggil kaum yang sudah
mati?" Rasulullah berkata: "Kalian tidak mengetahui apa yang aku
katakan kepada mereka, tetapi mereka tidak mampu menjawab perkataanku."
Rasulullah saw tinggal tiga malam di Badar kemudian beliau kembali ke Madinah.
Di depan beliau terdapat tawanan-tawanan perang dan ganimah.
Kaum Muslim sangat menanggung
beban berat dengan banyaknya tawanan perang. Mula-mula Rasulullah saw
bermusyawarah dengan sahabat Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar berkata: "Ya
Rasulullah, mereka adalah keturunan dari saudara-saudara dan keluarga, dan aku
melihat lebih baik engkau mengambil fidyah (tebusan) dari mereka sehingga apa
yang engkau ambil tersebut merupakan kekuatan bagi kita terhadap orang-orang
kafir, dan mudah-mudahan Allah SWT memberi petunjuk kepada mereka sehingga
mereka menjadi tulang punggung kita."
Kemudian Rasulullah saw menoleh
kepada Umar bin Khattab sambil berkata, "bagaimana pendapatmu wahai Ibnul
Khattab?" Lelaki itu berkata: "Demi Allah, aku tidak sependapat
dengan apa yang dikatakan Abu Bakar tetapi aku berpendapat, seandainya aku
mampu untuk bertemu dengan salah seorang kerabatku, maka aku akan memukul
lehernya, dan seandainya Ali mampu bertemu dengan keluarganya, maka ia pun akan
memukul lehernya begitu Hamzah sehingga Allah SWT mengetahui bahwa tidak ada di
hati kita kelembutan kepada kaum musyrik."
Pasukan Madinah dan pasukan Mekah
terdiri dari keluarga-keluarga yang terikat hubungan kekerabatan, namun
kehendak Allah SWT menetapkan terjadinya peperangan sesama keluarga: antara
anak dan orang tuanya. Umar menginginkan agar keadaan demikian terus berlanjut
sehingga orang-orang musyrik mengetahui bahwa Islam tidak ingin berdamai.
Kemudian Selesailah urusan itu dan terjadi peperangan di jalan Allah SWT dan
mengangkat senjata dan berperang adalah suatu kewajiban yang tiada keraguan di
dalamnya. Nabi saw menoleh kepada kaum Muslim dan mendapati sebagian besar
mereka cenderung kepada pendapat Abu Bakar. Nabi saw mengikuti pendapat
mayoritas saat itu. Pendapat mayoritas salah dan hanya Umar yang benar.
Ini adalah peperangan pertama
yang dilalui oleh Islam. Hendaklah kaum Muslim harus meninggalkan dorongan
kemanusiaan mereka, yakni orang-orang kafir harus dibunuh agar musuh-musuh
Allah SWT mengetahui bahwa Islam telah memilih darah. Allah SWT telah mendukung
Umar bin Khattab dalam Al-Qur'an sehingga Nabi saw dan Abu Bakar menangis
ketika keduanya menyadari kesalahan mereka pada hari berikutnya, lalu Umar
memergoki mereka dalam keadaan menangis dan ia bertanya, "apa yang
menyebabkan Rasulullah saw dan temannya di gua menangis?" Kemudian
Rasulullah saw membaca Al-Qur'an:
"Tidak patut bagi seorang
Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu
menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat
(untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak
ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan
yang besar karena tebusan yang hamu ambil." (QS.
al-Anfal: 67-68)
Kedua ayat itu mengatakan bahwa
ini bukan saatnya melindungi para tawanan dan berusaha untuk menebus mereka.
Waktu Demikian belum saatnya. Nabi tidak berhak memiliki tawanan kecuali jika
ia telah melakukan banyak peperangan dan banyak berjihad dan telah banyak
membunuh dan dakwahnya telah mapan.
Kedua ayat tersebut menyingkap
tujuan di balik penebusan tawanan: "Kamu menghendaki harta benda
duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)."
Demikianlah pemikiran yang
mempertimbangkan keadaan-keadaan aktual yang sulit. Itu adalah pemikiran yang
bersifat taktik sebagaimana yang kita ungkapkan dalam istilah modern dan bukan
pemikiran yang bersifat strategis. Kemudian para tawanan tersebut bukan tawanan
biasa tetapi menurut istilah modern mereka adalah penjahat-penjahat perang.
Oleh karena itu, nyawa mereka harus ditumpahkan saat mereka dapat ditangkap,
meskipun mereka memiliki kekayaan yang banyak atau kedudukan yang tinggi. Islam
tidak mengakui kekayaan atau kedudukan, yang diakuinya adalah keimanan,
sedangkan pertimbangan-pertimbangan duniawi lainnya tidak dihiraukan oleh
Islam.
Nas Al-Qur'an memperingatkan
orang-orang yang menang bahwa kesalahan mereka bisa berakibat pada datangnya
siksaan yang bakal mereka terima tetapi Allah SWT mengampuni mereka dan
menurunkan rahmat-Nya: "Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah
terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan
yang kamu ambil."
Siksaan tersebut memang lebih
dekat daripada pohon yang dekat ini, kemudian Allah SWT mengampuni mereka dan
Allah SWT mengampuni sahabat-sahabat yang terjun di perang Badar, baik dosa
yang lalu maupun dosa mereka yang akan datang. Demikianlah Al-Qur'an ingin
mendidik kaum Muslim agar mereka tidak banyak mempertimbangkan urusan manusiawi
saat berperang. Jadi, Islam memulai peperangannya yaitu peperangan yang hanya
ditujukan kepada Allah SWT dan hendaklah peperangan tersebut dihilangkan dari
pertimbangan-pertimbangan yang sulit sehingga sahabat-sahabat Nabi mengetahui
bahwa kecenderungan kepada kesenangan duniawi akan berakibat pada kekalahan
mereka.
Dalam peperangan Uhud jumlah kaum
musyrik tiga ribu sedangkan jumlah kaum Muslim tiga ratus pasukan setelah
pemimpin orang-orang munafik Abdullah bin Saba' mengundurkan diri pasukan. Kaum
Muslim diletakkan di gunung dan Rasulullah saw membuat rencana yang jitu untuk
memenangkan pertempuran di mana beliau membagi pasukan pemanah di puncak gunung
untuk melindungi punggung kaum Muslim dan melinduingi mereka dari serangan dari
arah belakang. Rasulullah saw memberi pengertian kepada pasukan panah itu agar
mereka tetap di tempatnya baik kaum Muslim menang maupun kalah. Yakni bahwa
pasukan pemanah tidak boleh turun dari gunung dan meski berusaha untuk
melindungi kaum Muslim. Rasulullah saw berkata kepada mereka. "lindungilah
punggung-punggung kami. Jika kalian melihat kami sedang bertempur, maka kalian
tidak usah turun darinya dan tidak usah menolong kami, dan jika kalian melihat
kami memperoleh kemenangan dan mengambil ganimah, maka kalian tidak boleh ikut
serta bersama kami."
Setelah membuat keputusan
tersebut, Rasulullah saw kembali ke pasukan yang lain, lalu beliau membikin
suatu rencana untuk menyerang. Dan Dimulailah peperangan kemudian pasukan Islam
mendorong pasukan musyrik laksana angin yang kencang yang memporak-porandakan
ribuan kaum musyrik. Pada tahapan pertama pasukan Islam tampak menguasai medan
dan berhasil menyapu kaum musyrik sehingga pasukan Mekah tampak berputus asa
meskipun mereka unggul secara bilangan dan meskipun mereka memiliki kuatan
persenjataan yang lengkap, pasukan Mekah justru dikagetkan dengan ketangguhan
pasukan Muslim yang dapat memukul mundur mereka hingga mereka membayangkan
balwa mereka tidak dapat memenangkan peperangan atau dapat bertahan di hadapan
pasukan Muslim.
Debu-debu peperangan mulai
berterbangan yang menyertai tanda-tanda kekalahan pasukan Mekah. Sementara itu,
para pemanah yang diletakkan Rasulullah saw di suatu tempat yang strategis
berpikir untuk memperoleh ganimah. Pasukan Mekah telah kalah dan mereka telah
melarikan diri dari pasukan Muslim, maka bagaimana seandainya para pemanah
turun dari tempat mereka untuk mengumpulkan harta rampasan dan ganimah.
Rasulullah saw telah mengingatkan mereka agar jangan meninggalkan tempat
mereka, apa pun yang terjadi tetapi pasukan pemanah itu justru berkhianat dan
menentang perintah Nabi saw setelah mereka membayangkan bahwa peperangan telah
selesai dan keuntungan akan diperoleh pasukan Madinah yang beriman.
Pasukan pemanah mengira bahwa
Allah SWT akan menutupi kesalahan mereka dan akan melindungi mereka sehingga
mereka berhasil mengambil harta rampasan dan ganimah. Sungguh keikhlasan telah
tercabut dari hati sebagian pasukan. Belum lama hal tersebut berlangsung
sehingga terjadilah perubahan yang drastis pada peperangan. Pemimpin pasukan
berkuda musyirik dalam peperangan Uhud yaitu Khalid bin Walid yang kemudian ia
menjadi tokoh Muslim adalah orang yang sangat jenius dalam peperangan. Begitu
ia melihat pasukan pemanah lari dari tempat mereka, maka ia melihat celah yang
terbuka di tengah-tengah kaum Muslim, sehingga ia segera memutarkan kudanya dan
disertai pasukan yang mengikutinya. Kemudian ia menyerang kaum Muslim dari
belakang. Serangan yang dilakukan Khalid itu sangat cepat dan sangat
mengejutkan. Orang-orang musyrik mengambil kesempatan emas. Mereka yang tadinya
lari, kini mereka menarik diri dan justru menyerang kembali.
Pasukan Muslim dikepung dari dua
arah oleh pasukan berkuda: satu dari belakang dan yang lain dari depan.
Kemudian berjatuhanlah korban-korban dari pasukan Muhammad bin Abdillah. Banyak
di antara mereka yang mati sebagai syahid saat mempertahankan dan melindungi
Rasulullah saw, bahkan sang Nabi pun hidungnya terluka dan giginya pun runtuh
dan kepala beliau yang mulia terluka sehingga beliau mengucurkan darah.
Kemudian tersebarlah isu bahwa
Muhammad saw telah meninggal. Ketika mendengar itu, kaum Muslim sangat terpukul
dan sangat sedih sehingga kaum Muslim pun terpecah-pecah. Sebagian mereka
kembali ke Mekah dan sekelompok yang lain ke atas gunung dan mereka tetap
menjaga Nabi saw yang mulia. Ketika mendengar kematian Nabi, Anas bin Nadhir
berkata kepada kaumnya: "Bangkitlah kalian dan matilah seperti
kematiannya. Apa yang kalian lakukan setelah kalian hidup sesudahnya."
Pasukan Muslim tetap bertahan dan
melakukan peperangan, lalu tekanan kaum musyrik semakin berat kepada Nabi saw
dan para sahabatnya. Kemudian terjadilah kejadian yang paling sulit dalam
sejarah umat Islam. Nabi saw berteriak saat melihat kaum musyrik menekannya dan
berusaha membunuhnya: "Barangsiapa yang dapat mengusir mereka dariku, maka
baginya surga."
Mendengar perkataan itu, kaum
Muslim segera mengitari Nabi saw dan melindungi beliau sehingga banyak dari
mereka berguguran sebagai syahid. Bahkan sahabat-sahabat Abu Juanah melindungi
Nabi saw sampai-sampai punggungnya dipenuhi dengan anak-anak panah. Ia bagaikan
baju besi yang dipakai kepada Nabi saw dan ia tetap kokoh melindungi sang Nabi
saw. Kemudian berubahlah keadaan karena keteguhan dan keberanian yang
diperlihatkan oleh kaum Muslim. Pasukan Mekah merasa puas dan mereka memilih
untuk menarik diri. Saat itu orang-orang Quraisy tidak lebih sedikit
penderitaannya daripada orang-orang Muslim.
Setelah peperangan yang dahsyat
itu, kaum musyrik menarik diri setelah mereka berhasil membunuh beberapa orang
Muslim, bahkan mereka berhasil melukai pemimpin pasukan yaitu sang Nabi saw.
Semua itu terjadi karena satu kesalahan yaitu kesalahan terletak pada
penentangan dan pembangkangan para pemanah terhadap perintah sang Rasul saw dan
usaha mereka untuk meninggalkan tempat mereka.
Ketika sebagian kelompok dari
sahabat kehilangan pengorbanan dan kehilangan sikap ikhlas dalam hati mereka,
maka kesalahan tersebut harus dibayar oleh tentara yang paling berani dan mulia
di antara mereka yaitu sang Nabi saw. Langit tidak ikut campur untuk
menyelamatkan pasukan Islam itu. Kesalahan kaum Muslim itu harus dibayar oleh
Rasul saw di mana wajah beliau pun terluka bahkan keluar darah yang cukup deras
dari luka beliau sehingga setiap kali dituangkan air di atas luka itu, maka
darah pun semakin deras mengucur. Darah itu tidak berhenti kecuali setelah
dibakarkan potongan tembikar lalu dilekatkan di atasnya.
Luka beliau bukan hanya bersifat
materi tetapi luka spiritual beliau dan ruhani beliau pun semakin bertambah.
Ini beliau rasakan ketika mendengar bahwa pamannya Hamzah gugur sebagai syahid
dan tidak cukup dengan itu, bahkan istri Abu Sofyan yaitu Hindun membelah
perutnya dan mengeluarkan jantungnya serta mengunyahnya dengan mulutnya. Semua
itu semakin menambah kesedihan sang Nabi.
Kaum Quraisy menguasi pasukan
Muslim dan mereka memberlakukan dan menekan kaum Muslim secara aniaya.
Seandainya bukan karena rahmat Allah SWT niscaya kaum Muslim akan mengalami
kekalahan yang telak. Kemudian turunlah dalam Al-Qur'an al-Karim ayat-ayat yang
mendidik kaum Muslim agar mereka benar-benar ikhlas dan memahamkan mereka bahwa
kekalahan mereka sebagai akibat dari adanya pasukan di antara mereka yang
menginginkan dunia meskipun di antara mereka ada sebagian yang menginginkan
akhirat. Jika terjadi demikian, maka tidak adajalan untuk memperoleh
kemenangan. Ini bukanlah hal yang diinginkan oleh pasukan Muslim, yang
diharapkan adalah hendaklah semua pasukan tertuju untuk mencapai ridha Allah
SWT dan hanya mengharapkan akhirat. Jika demikian halnya, maka Allah SWT akan
memberi mereka dunia dan akhirat.
Allah SWT berfirman dan
menceritakan peperangan Uhud dalam surah Ali 'Imran:
"Di antaramu ada orang yang
menghendahi dunia dan di antara kamu ada orangyang menghendaki akhirat.
Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan
sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang
dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman." (QS. Ali
'Imran:: 152)
Allah SWT memaafkan hal itu.
Orang-orang Muslim kini menghitung jumlah korban mereka dan mengobati
orang-orang yang terluka. Rasulullah saw bertanya tentang pamannya Hamzah, dan
ketika beliau mendapatinya di tengah-tengah sahabat yang gugur, dan orang-orang
kafir telah merusak jasadnya, maka beliau berkata dalam keadaan menangis:
"Tidak akan ada orang yang akan tertimpa sepertimu selama-lamanya."
Kemudian Nabi saw berdiri dan
memuji Allah SWT lalu beliau memerintahkan untuk mengembalikan orang-orang yang
terbunuh dari kaum Muslim ke tempat asal mereka di mana mereka terbunuh. Saat
itu keluarga mereka telah membawanya ke kuburan kemudian Nabi saw mengumpulkan
kedua orang laki-laki dari pahlawan-pahlawan Uhud dalam satu pakaian dan beliau
bertanya siapa di antara keduanya yang paling banyak mengambil manfaat dari
Al-Qur'an. Jika diisyaratkan kepada salah satunya, maka beliau akan
mendahulukannya untuk dimasukan dalam liang lahad.
Rasulullah saw juga memerintahkan
agar mereka dikebumikan dengan darah mereka dan beliau pun tidak mensalati
mereka, serta tidak memandikan mereka. Allah SWT ingin memperlihatkan bagaimana
mereka dibangkitkan pada hari kiamat lalu beliau bersabda: "Tiada seorang
pun yang terluka di jalan Allah SWT kecuali Allah SWT membangkitkannya di hari
kiamat dalam keadaan di mana Iukanya akan mengucur darah. Warna itu adalah
warna darah dan baunya seperti minyak misik."
Bukanlah penderitaan yang dalam
yang merupakan pelajaran yang harus dimengerti kaum Muslim dari peperangan Uhud
sebagai akibat dari pembangkangan mereka dari perintah Rasul saw dan
ketidaktaatan mereka kepadanya, tetapi wahyu juga menurunkan berbagai pelajaran
yang lain yang dapat dimanfaatkan. Pelajaran yang terpenting setelah pelajaran
kesetiaan adalah penjelasan tentang central utama yang di situ kaum Muslim
berkumpul. Pribadi Rasulullah saw bukanlah markas yang di situ kaum Muslim
berkumpul yang ketika pribadi Rasulullah saw yang mulia pergi karena satu dan
lain hal, maka orang-orang Muslim akan pergi dan meninggalkan beliau. Tidak
seharusnya pribadi Rasul saw menjadi markas atau central tetapi yang menjadi
central dari semuanya adalah pemikiran beliau. Itulah yang paling penting.
Demikianlah bahwa Al-Qur'an
al-Karim mencela orang-orang yang meletakkan senjatanya ketika tersebar isu
terbunuhnya Nabi saw. Islam tidak akan mencapai puncaknya ketika kaum Muslim
berkumpul di sisi Rasulullah saw saat beliau masih hidup namun ketika beliau
terbunuh atau mati, maka mereka murtad di mana mereka membuang senjatanya dan
pergi mengurusi diri mereka sendiri. Orang-orang Islam adalah orang-orang yang
mengikuti prinsip bukan mengikuti pribadi. Muhammad bin Abdillah memang seorang
pemimpin manusia dan Imam para rasul dan penutup para nabi, dan sebagai makhluk
Allah SWT yang paling mulia, namun ini semua tidak membenarkan bahwa seorang
Muslim diperbolehkan untuk meletakkan senjatanya ketika Rasul saw wahfat atau
terbunuh. Hendaklah seorang Muslim memanggul senjatanya dan tidak membuang dari
tangannya kecuali dalam dua keadaan: pertama ketika ia telah memperoleh
kemenangan dan kedua ketika ia telah mati.
Nas Al-Qur'an menjelaskan secara
gamblang hubungan kaum Muslim dengan akidah Islam, bukan dengan pribadi sang
Rasul saw. Allah SWT berfirman:
"Muhammad itu tidak lain
hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.
Apakahjika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (tnurtad)?
Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maha ia tidak dapat mendatangkan mudarat
kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orangyang
bersyukur." (QS. Ali 'Imran: 144)
Demikianlah bahwa peperangan Uhud
telah membawa dampak yang luar biasa terhadap kaum Muslim, utamanya terhadap
Nabi saw. Orang-orang yang terbunuh di perang Uhud adalah sahabat-sahabat yang
paling mulia dan paling banyak imannya. Mereka adalah pilihan dari orang-orang
Muslim yang pertama; mereka memikul beban dakwah di saat-saat yang sulit bahkan
mereka harus berhadapan dan memusuhi kerabat mereka dan teman-teman mereka;
mereka menjadi terasing saat menyatakan keislaman mereka sebelum hijrah dan
sesudahnya; mereka telah menginfakkan harta; mereka berjuang di jalan Allah
SWT; mereka telah bersabar dalam menanggung berbagai macam penderitaan, dan
ketika datang saat yang paling berbahaya dan pasukan Islam telah terkepung di
mana jiwa Rasul saw telah terancam, mereka justru mencurahkan darah mereka
bagaikan lautan yang menenggelamkan orang-orang kafir dan mereka mampu
melindungi sang Rasul saw dan mengubah jalan peperangan serta menyelamatkan
akidah tauhid.
Peperangan Uhud bukanlah
pengorbanan pertama yang dilakukan oleh kaum Muslim dan bukanlah merupakan
peperangan yang terakhir. Ia adalah satu peperangan di antara cukup banyak
peperangan yang dilalui oleh Islam untuk menyebarkan kalimat Allah SWT di muka
bumi dan membimbing hamba-hamba-Nya. Begitu juga pengorbanan Rasul saw, dan
peperangan Uhud bukanlah pengorbanan yang pertama terhadap Islam dan bukan juga
yang terakhir. Rasulullah saw telah hidup setelah diutusnya kepada manusia di
mana beliau telah memberikan semuanya untuk kehidupan dan untuk dakwah; beliau
tidak memiliki dirinya sendiri; beliau tidak memboroskan waktunya dengan
sia-sia bahkan beliau beristirahat sedikit saja. Semua kehidupan beliau
diberikan kepada dakwah dan untuk Islam. Beliau menjalani berbagai macam
peperangan dan beliau memikul berbagai macam penderitaan dan belum lama beliau
lari dari suatu problem kecuali beliau berhadapan dengan problem yang baru dan
lain; belum lama beliau menyelesaikan suatu krisis kecuali beliau menghadapi
krisis yang lain. Demikianlah kehidupan sang Nabi saw di mana beliau selalu
memberikan kontribusi dan sumbangannya demi kepentingan agama Allah SWT.
Silakan Anda mengamati kehidupan
sang Rasul saw dari sudut manapun yang Anda inginkan niscaya Anda tidak akan
menemukan sudut dari sudut-suduut kehidupan beliau kecuali dimulai dan dipenuhi
dengan pergulatan yang hebat.
Rasulullah saw telah melalui
pergulatan militer dalam berbagai macam pertempuran yang silih berganti yang
beliau lakukan. Beliau memulai pergulatan politiknya yang terwujud dalam
perundingan-perundingan dan surat-surat yang beliau kirimkan kepada penguasa
dan para raja di berbagai negara agar mereka memeluk Islam, bahkan beliau
melakukan pergulatannya dalam masalah pribadi di rumah tangga. Rumah tangga
beliau pun tidak kosong dari pergulatan. Beliau adalah pejuang sejati dalam
setiap waktu. Kalau kita mengenal Nabi Ibrahim sebagai seorang musafir di jalan
Allah SWT, maka Muhammad bin Abdillah adalah seorang pejuang di jalan Allah
SWT. Belum lama peperangan Uhud berakhir sehingga pengaruh-pengaruh buruknya
berbekas pada kaum Muslim. Orang-orang Arab Badui mulai berani bersikap kurang
ajar kepada mereka, demikianjuga orang-orang Yahudi, apalagi orang-orang
munafik dan tidak ketinggalan orang-orang Quraisy pun mulai menyudutkan kaum
Muslim.
Kemudian datanglah utusan dari kabilah
Arab kepada Rasul saw dan mereka mengatakan kepada beliau bahwa mereka
mendengar tentang Islam dan mereka ingin memeluknya, maka hendaklah beliau
mengutus kepada mereka beberapa dai dan mubalig untuk mengajari mereka tentang
dasar-dasar agama. Nabi saw mengutus bersama mereka sekelompok para dai yang
dipimpin oleh 'Ashim bin Tsabit. Temyata orang-orang itu berkhianat atas para
sahabat-sahabat yang berdakwah itu dan mereka pun dibunuh. Bahkan tiga di
antara mereka ditawan dan dijual di Mekah. Dijualnya mereka di Mekah berarti
mereka diserahkan pada kelompok orang-orang Quraisy yang telah lama menunggu
untuk menangkap kaum Muslim. Kaum Quraisy Mekah membunuh tiga tawanan kaum
Muslim itu. Orang-orang Muslim sangat sedih mendengar dai-dai Allah SWT itu terbunuh
dengan cara yang begitu tragis.
Ketika datang kepada Nabi saw
orang-orang yang minta pada beliau agar dikirim utusan dari kalangan mubaligh
untuk menyebarkan Islam untuk para kabilah kaum Najd, maka Nabi kali ini
betul-betul mempertimbangkan antara kepentingan menyebarkan Islam dan
perlindungan terhadap kehormatan manusia. Lalu beliau memilih untuk kepentingan
dakwah Islam. Beliau menyadari bahwa beliau mengutus para sahabatnya dalam
bahaya; beliau memberitahu mereka bahwa mereka akan menghadapi suatu keadaan
yang misterius yang tiada mengetahuinya kecuali Allah SWT. Namun bahaya
tersebut sudah menjadi bagian dari cita rasa kehidupan yang selalu meliputi
dakwah Islam.
Ketika Nabi saw mengutarakan
kekhawatirannya terhadap para sahabatnya yang bakal diutusnya di tengah kabilah
itu, orang-orang yang meminta beliau untuk mengutus para sahabatnya menyakinkan
beliau bahwa mereka akan melindungi sahabat beliau. Kemudian Nabi saw
memerintahkan tujuh puluh orang pilihan dari sahabatnya untuk pergi dan berjihad
di jalan Allah SWT serta mengajak manusia untuk mengikuti Islam. Lalu pergilah
para sahabat yang kemudian dikenal dengan sebutan al-Qurra' (yaitu
orang-orang yang pandai membaca Al-Qur'an dan menghapalnya). Mereka adalah para
dai yang terbaik yang diutus Nabi di mana pada siang hari mereka memikul kayu
bakar dan pada malam hari mereka sibuk dalam keadaan salat. Ketika datang
perintah Rasulullah saw kepada mereka untuk pergi dan berdakwah mereka pun
pergi dalam keadaan gembira karena mereka diajak untuk berjihad di jalan Allah
SWT. Mereka melangkahkan kaki dengan mantap di tanah orang-orang munafik dan
para penghianat sehingga mereka sampai di suatu sumur yang bemama sumur
Ma'unah. Kemudian mereka mengutus salah seorang di antara mereka untuk menemui
pemimpin orang-orang kafir di negeri itu. Mubalig dari sahabat Rasulullah saw
itu menyampaikan surat Nabi yang dibawanya di mana beliau mengharapkan agar
masyarakat di situ masuk Islam, tetapi ia dikagetkan dengan adanya pisau yang
menembus punggungnya. Mubaligh itu berteriak saat ia tersungkur: "sungguh
aku beruntung demi Tuhan pemelihara Ka'bah."
Kemudian pemimpin orang-orang
kafir itu mengangkat senjata dan mengumpulkan para kabilah untuk memerangi para
mubaligh di jalan Allah SWT itu sehingga sahabat-sahabat terbaik yang berdakwah
di jalan Allah SWT itu pun gugur di sumur Ma'unah. Jasad-jasad mereka menjadi
makanan dari burung nasar dan burung-burung yang lain. Dari tujuh puluh orang
yang dikirim itu hanya seorang yang selamat yang kembali kepada Nabi saw. Ia menceritakan
apa yang dialami oleh fuqaha-fuqaha Muslimin di mana mereka dikhianati. Ketika
mendengar berita tentang tragedi itu, Nabi sangat terpukul dan sedih. Kemudian
beliau mengangkat kepalanya dan berkata kepada sahabat-sahabatnya:
"Sungguh sahabat-sahabat kalian telah terbunuh dan mereka telah meminta
kepada Tuhan mereka. Mereka mengatakan, Tuhan kami, berikanlah kami ujian
sesuai dengan kehendak-Mu dan ridha-Mu. Apa saja yang menjadi kepuasan-Mu kami
pun akan merasakan kepuasan."
Sungguh penderitaan yang dialami
oleh Islam sangat berat, terutama yang menimpa para sahabat yang gugur sebagai
syahid di sumur Ma'unah. Nabi saw sangat sedih mendengar sikap orang-orang Arab
dan orang-orang kafir terhadap Islam. Mereka telah mengejek dan merendahkan
kaum mukmin sampai pada batas ini. Kemudian beliau menetapkan akan kembali
mengangkat kewibawaan Islam dengan tindak kekerasan.
Dalam keadaan seperti ini,
bergeraklah orang-orang Yahudi untuk membunuh Rasulullah saw. Pada suatu hari
beliau pergi ke Bani Nadhir untuk menyelesaikan suatu urusan. Kemudian
mula-mula mereka menampakkan persetujuan atas apa yang diucapkan beliau. Mereka
mendudukkan Nabi di bawah naungan benteng-benteng mereka, lalu mereka
bersekongkol untuk melenyapkan beliau; mereka menetapkan untuk melemparkan batu
yang berat dari atas benteng itu saat beliau duduk dan tidak membayangkan akan
terjadinya kejahatan yang direncanakan padanya. Namun Allah SWT mengilhami
Rasul-Nya akan datangnya bahaya kepada beliau, lalu beliau bangun sebelum
pelaksanaan tipu daya itu. Lalu beliau segera pergi menuju rumahnya. Beliau
berpikir saat beliau kembali ke rumahnya dengan membawa penderitaan yang baru.
Pembangkangan dan pengkhianatan tersebut tidak akan dapat berhenti kecuali
setelah Islam menunjukkan taringnya. Islam ingin mengembalikan kewibawaannya
dengan cara mengangkat senjata.
Rasul saw mengutus utusan ke Bani
Nadhir dan memerintahkan mereka untuk keluar dari Madinah, bahkan Rasul saw
memberi waktu kepada mereka hanya sepuluh hari. Kemudian orang-orang munafik yang
ada di Madinah bersatu bersama orang-orang Yahudi dan mereka sepakat untuk
memerangi Islam. Namun ketika berhadapan dengan Islam, orang-orang Yahudi
menelan kekalahan. Kemudian turunlah surah al-Hasyr yang menyebutkan pengusiran
orang-orang Yahudi dan menyingkap kedok orang-orang munafik. Setelah kemenangan
yang meyakinkan ini, Rasul saw keluar bersama sahabatnya untuk membalas
kejadian yang menimpa sahabat-sahabatnya yang dikenal dengan al-Qurra' itu.
Rasul saw ingin mengembalikan kewibawaan Islam. Kemudian pasukan Rasul saw itu
mampu membuat para pengkhianat dari orang-orang Arab ketakutan. Hanya sekadar
mendengar nama pasukan Muslim, maka serigala-serigala gurun yang dulu bengis
itu pun ketakutan laksana tikus-tikus yang panik yang bersembunyi di bawah
lobang-lobang gunung. Orang-orang Quraisy mendengar kegiatan pasukan Islam.
Pasukan Quraisy menarik diri saat mereka mendekati Dahran, sementara pasukan
Muslim berada di Badar. Mereka menunggu pertemuan yang disepakati di Uhud.
Orang-orang Muslim menyala-kan api selama delapan hari sebagai bentuk tantangan
dan menunggu kedatangan kaum kafir sehingga ketika mereka (kaum kafir) telah
pergi, maka citra kaum Muslim pun terangkat setelah mereka menerima kepahitan
dalam peperangan Uhud.
Kaum Muslim menoleh ke arah utara
jazirah Arab setelah menetapkan kewibawaan mereka di selatan. Kabilah di
sekitar Daumatul Jandal dekat dengan Syam merampok di tengah jalan dan merampas
kafilah yang berlalu di situ, bahkan kenekatan mereka sampai pada batas di mana
mereka berpikir untuk menyerbu Madinah. Oleh karena itu, Rasulullah saw keluar
bersama seribu orang Muslim yang mereka bersembunyi di waktu siang dan berjalan
di waktu malam, sehingga setelah lima belas malam beliau sampai ke tempat yang
dekat dengan tempat tinggal musuh-musuh mereka lalu mereka menggerebek tempat
itu. Pasukan kafir itu dikagetkan dengan kedatangan kaum Muslim yang begitu
cepat.
Kita akan mengetahui bahwa alat
komunikasi yang dimiliki oleh Rasulullah saw sangat unggul sebagaimana alat
pertahanan beliau pun sangat unggul. Serangan mendadak yang dilakukan oleh
pasukan Rasulullah saw menunjukkan bahwa mereka memiliki pertahanan yang luar
biasa. Sistem pertahanan yang luar biasa sebagaimana kedatangan pasukan yang
secara tiba-tiba itu menunjukkan kemampuan pasukan Islam untuk menyusup.
Demikianlah, terjadilah hari-hari
pertempuran militer. Belum lama Nabi saw meletakkan baju besinya, dan beliau
kembali membangun pribadi kaum Muslim sehingga beliau terpaksa kembali memakai
baju besinya dan kembali berperang. Ketika musuh-musuh Islam yang berada di
sekelilingnya melihat bahwa kemampuan militer mereka tidak dapat menandingi
kemampuan kaum Muslim, maka mereka sengaja melakukan cara-cara baru untuk
memerangi Islam. Yaitu peperangan psikologis atau peperangan urat syaraf dengan
cara menyebarkan berbagai macam isu atau apa yang dinamakan Al-Qur'an al-Karim
dengan peristiwa al-Ifik (kebohongan). Setelah peperangan Bani Musthaliq
yaitu peperangan yang membawa kemenangan yang cepat bagi kaum Muslim,
terjadilah kesalahpahaman dan pertengkaran di antara sahabat-sahabat yang biasa
mengambil air di mana salah seorang mereka berteriak: "wahai kaum
Muhajirin," dan yang lain berteriak: "Wahai kaum Anshar."
Peristiwa yang sangat sepele itu
dimanfaatkan oleh pemimpin kaum munafik yaitu Abdullah bin Ubai. Abdullah bin
Ubai memprovokasi orang-orang Anshar untuk menyerang kaum Muhajirin. Ia ingin
membangkitkan luka-luka jahiliah yang lama yang telah dibuang dan telah dikubur
oleh Islam, Salah satu yang dikatakan oleh Ibnu Ubai adalah, "sungguh
mereka telah menyaingi kita dan mengambil kebaikan dari dan seandainya kita
telah kembali ke Madinah niscaya orang-orang yang mulai akan dapat mengusir
orang-orang yang hina di dalamnya."
Zaid bin Arqam menyampaikan
kalimat si munafik itu kepada Nabi saw, di mana kalimat itu berisi provokasi
terhadap orang-orang Anshar untuk menyerang kaum Muhajirin. Ubai menginginkan
agar mereka berpecah belah dan agar kesatuan mereka runtuh. Si Munafik itu
segera datang kepada Rasul saw dan menafikan apa yang dikatakannya. Orang-orang
Muslim secara lahiriah membenarkan perkataan si munafik itu dan mereka justru
menuduh Zaid bin Arqam salah mendengar. Tetapi hakikat peristiwa itu tidak
tersembunyi dari Nabi saw sehingga peristiwa itu sangat menyedihkan beliau. Lalu
beliau mengeluarkan perintah agar para sahabat pergi ke suatu tempat yang tidak
biasanya mereka lalui. Kemudian beliau pergi bersama sahabat di hari itu sampai
waktu malam menyelimuti mereka. Dan kini, mereka memasuki waktu pagi. Kepergian
yang singkat dan tiba-tiba itu mampu menepis kebohongan yang dirancang oleh si
Munafik, Abdullah bin Ubai. Yaitu kebohongan yang bertujuan untuk membakar
persatuan kaum Muslim ketika ia berusaha untuk menyalakan api di tengah-tengah
rumah sang Nabi saw.
Ketika Nabi masih memiliki
kekuatan yang menakutkan bagi yang mencoba melawannya, maka mereka pun
melakukan berbagai penipuan dan, makar. Dan salah satu yang menjadi obyek tipu
daya itu adalah istri beliau, yaitu Aisyah. Alkisah, Aisyah pada suatu hari
pergi untuk memenuhi hajatnya lalu dilehernya terdapat anting-anting. Setelah
ia memenuhi hajatnya, anting-anting itu terjatuh dari lehernya dan ia tidak
mengetahui. Ketika Aisyah kembali dari kafilah yang telah siap-siap untuk
pergi, ia kembali mencari kalungnya sampai ia menemukannya. Sementara itu
orang-orang yang membawanya dalam tandu (haudaj) mengira Aisyah sudah berada di
dalamnya. Mereka tidak ragu dalam hal itu karena memang berat badan Aisyah
sangat ringan.
Pasukan Nabi berjalan dan membawa
tandu, sedangkan Aisyah tidak ada di dalamnya. Aisyah kembali dan tidak
mendapati pasukan di mana mereka telah pergi. Aisyah merasa heran atas
kepergian pasukan yang begitu cepat. Aisyah merasa takut saat ia berdiri
sendirian di padang gurun. Aisyah berusaha bersikap baik, ia duduk di tempatnya
di mana di situlah untanya duduk juga. Aisyah melipat-lipat pakaiannya sambil
berkata dalam dirinya: Mereka akan mengetahui bahwa aku tidak ada dan karena
itu mereka akan kembali mencariku dan akan menemukan aku.
Sementara itu, Sofwan bin Mu'athal
juga tertinggal karena ia melakukan keperluannya. Ia berjalan dari arah yang
jauh lalu ia melihat bayangan orang yang tidak begitu jelas. Sofwan mendekat
dan tiba-tiba ia mengetahui bahwa ia sedang berdiri di hadapan Aisyah. Ia
melihat Aisyah sebelum diwajibkannya perintah memakai hijab (jilbab) atas
istri-istri Nabi. Ketika melihatnya, Sofwan berkata: "Sesungguhnya kita
milik Allah SWT dan kepadanya kita akan kembali,... istri Rasulullah Aisyah
tidak menjawab.
Sofwan mundur dan mendekatkan
untanya kepadanya sambil berkata: "Silakan Anda menaikinya." Aisyah
pun menaikinya. Kemudian Sofwan membawanya pergi dan mencari pasukan yang telah
meninggalkannya. Sementara itu, pasukan Nabi sedang beristirahat. Para sahabat
mengira bahwa Aisyah masih berada dalam tandu. Tiba-tiba mereka terkejut ketika
Aisyah datang kepada mereka bersama Sofwan yang menuntun untanya.
Tokoh munafik Abdullah bin Ubai
segera memanfaatkan kesempatan emas ini. Ia membuat kisah bohong yang terkesan
menuduh istri Nabi melakukan pengkhianatan. Abdullah bin Ubai pandai memilih
beberapa sahabat yang dikenalinya sebagai orang-orang yang mudah percaya dan
cenderung membenarkan hal-hal yang bersifat lahiriah, atau ia mengetahui bahwa
di antara mereka dan Aisyah terdapat kedengkian sehingga mereka suka jika
tersebar kebohongan yang berkenaan dengan Aisyah.
Demikianlah pemimpin munafik itu
berhasil menjerat beberapa sahabat dalam tali kebohongannya, di antaranya Hasan
bin Sabit. Musthah, dan seorang wanita yang dipanggil Hamnah binti Jahasv. yaitu
saudara perempuan Zainab binti Jahasy istri Rasulullah saw. Ketiga orang itu
tertipu dengan kebohongan tersebut lalu mereka menyebarkannya sehingga
orang-orang yang terjerat dalam kebo hongan itu mengatakan apa saja yang mereka
inginkan. Akhirnya. pasukan pun berguncang dengan isu itu. Sementara itu,
Aisvah tidak mengetahui sedikit pun tentang hal tersebut. Isu tersebut
bertujuan untuk menjatuhkan Islam dan melukai perasaan RasuhiHah saw dan itu
termasuk peperangan menentang Rasulullah saw dan ajaran yang dibawanya. Begitu
juga ia bertujuan menunjukkan bahwa kaum Muslim tidak konsekuen dengan akidah
yang mereka yakini dan secara tidak langsung ia juga menyerang kesucian rumah
tangga Aisyah.
Pasukan kembali ke Mekah dan
Aisyah jatuh sakit, namun ia tidak mengetahui isu-isu yang dikatakan tentang
dirinya. Kemudian Rasulullah saw mendengar hal itu sebagaimana ayahnya Abu
Bakar dan ibunya pun mendengarnya, namun tak seorang pun di antara. mereka yang
memberitahu Aisyah. Begitu juga Rasul saw tidak menceritakan peristiwa itu di
hadapan Aisyah. Namun sikap beliau berubah di mana beliau tidak lagi
menunjukkan perhatiannya seperti biasanya saat Aisyah sakit. Ketika beliau
menemui Aisyah dan saat itu ibunya ada di situ, beliau berkata: "Bagaimana
keadaanmu?" Beliau tidak lebih dari mengucapkan kata-kata itu. Ketika
Aisyah melihat perubahan sikap Rasul saw, ia mulai marah. Pada suatu hari ia
berkata pada Nabi: "Seandainya engkau mengizinkan aku, niscaya aku akan
pindah ke tempat ibuku." Beliau menjawab: "Itu tidak ada
masalah."
Aisyah pun pindah ke tempat
ibunya dan ia tidak mengetahui sama sekali apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Setelah melalui lebih dari dua puluh malam, Aisyah sembuh dari sakitnya dan ia
pun belum mengetahui hal-hal yang dikatakan tentang dirinya. Umul mu'minin
Aisyah menceritakan bagaimana ia mengetahui isu bohong tersebut dan bagaimana
Allah SWT membebaskannya dari isu itu, ia berkata:
"Kami adalah kaum Arab di
mana kami tidak mengambil di rumah kami tanggung jawab ini yang biasa di ambil
oleh orang-orang Ajam. Kami membencinya. Kami keluar untuk menikmati keluasan
kota. Sementara itu para wanita keluar pada setiap malam untuk memenuhi hajat
mereka. Pada suatu malam, aku keluar bersama Ummu Musthah untuk memenuhi
sebagian keperluanku. Lalu ia berkata: "Tidakkah kau sudah mendengar suatu
berita wahai putri Abu Bakar?" Aku bertanya, "berita apa itu?"
Lalu ia memberitahukan padaku apa-apa yang dikatakan oleh para penyebar
kebohongan. Aku berkata: "Apa ini memang benar?" Ia menjawab:
"Demi Allah, ini benar-benar terjadi." Aisyah berkata: "Demi
Allah, aku tidak mampu memenuhi hajatku." lalu aku pulang. Demi Allah, aku
tetap menangis sampai-sampai aku mengira bahwa tangisanku akan merusak
jantungku dan aku berkata kepada ibuku, mudah-mudahan Allah SWT mengampunimu,
banyak orang berbicara tentangku namun engkau tidak menceritakan sedikit pun
kepadaku. Ia berkata: "Wahai anakku, sabarlah demi Allah jarang sekali
wanita yang baik yang dicintai oleh seorang lelaki yang jika ia memiliki
istri-istri yang lain (madunya) kecuali wanita itu akan diterpa oleh berbagai
isu."
Aisyah berkata: "Rasulullah
saw berdiri dan menyampaikan pembicaraannya pada mereka dan aku tidak
mengetahui hal itu." Beliau memuji Allah SWT kemudian berkata: "Wahai
manusia, bagaimana keadaan kaum lelaki yang menyakiti aku melalui keluar gaku
dan mereka mengatakan sesuatu yang tidak benar. Demi Allah, aku tidak mengenal
mereka kecuali dalam kebaikan. Lalu mereka mengatakan hal itu pada seorang
lelaki yang aku tidak mengenalnya kecuali dalam kebaikan di mana ia tidak
memasuki suatu rumah dari rumah-rumahku kecuali ia bersamaku."
Kemudian Rasulullah saw memanggil
Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid dan bermusyawarah dengan keduanya.
Usamah hanya melontarkan pujian dan berkata: "Ya Rasulullah aku tidak
mengenal istrimu kecuali dalam kebaikan dan berita ini hanya kebohongan dan
kebatilan," sedangkan Ali berkata: 'Ya Rasulullah masih banyak wanita yang
lain yang dapat kau percaya." Kemudian Rasulullah saw memanggil Burairah
dan bertanya kepadanya, lalu Ali berdiri kepadanya dan memukulnya dengan keras
sambil berkata: "Jujurlah kepada Rasulullah saw," lalu wanita itu
berkata: "Demi Allah, aku tidak mengetahui kecuali kebaikan. Aku tidak
pemah mencela Aisyah kecuali pada suatu waktu aku sedang membikin adonan roti
lalu aku memerintahkannya untuk menjaganya namun Aisyah tertidur dan datanglah
kambing lalu adonan itu dimakan olehnya."
Aisyah berkata: "Kemudian
datanglah kepadaku Rasulullah saw dan saat tu aku bersama kedua orang tuaku dan
seorang wanita dari kaum Anshar. Aku menangis dan wanita itu pun turut
menangis. Rasulullah saw duduk lalu memuji Allah SWT dan berkata: "Wahai
Aisyah, sungguh kamu telah mendengar sendiri apa yang dikatakan orang-orang
tentang dirimu, maka bertakwalah kepada Allah SWT dan jika engkau telah
melakukan keburukan seperti yang diucapkan orang-orang itu, maka bertaubatlah
kepada Allah SWT karena sesungguhnya Allah SWT menerima taubat dari
hamba-hamba-Nya." Aisyah berkata, "demi Allah, itu tidak lain hanya
kebohongan yang dialamatkan kepadaku sehingga membuat air mataku kering. Aku
sama sekali tidak seperti yang mereka katakan," lalu aku menunggu kedua
orang tuaku untuk mengatakan tentang diriku namun mereka justru terdiam. Aisyah
berkata, "demi Allah aku merasa sebagai seorang yang hina yang tidak layak
diturunkan Al-Qur'an dari Allah SWT berkenaan denganku, tetapi aku hanya
berharap agar Nabi saw melihat kebohongan yang dialamatkan kepadaku itu
sehingga ia memastikan terbebasnya aku darinya."
Aisyah berkata: "Ketika aku
tidak melihat kedua orang tuaku berbicara aku berkata kepada mereka tidakkah
kalian menjawab apa yang dikatakan Rasuullah saw?" Mereka berkata:
"Demi Allah kami tidak mengetahui apa yang harus kami jawab." Aku
mengetahui bahwa aku bebas dari tuduhan itu. Tiba-tiba Rasulullah saw mengusap
keringat dari wajahnya sambil berkata: "Bergembiralah wahai Aisyah karena
sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan ayat yang membebaskan kamu dari tuduhan
itu," lalu aku berkata: "Segala puji bagi Allah SWT." Kemudian
beliau keluar menemui para sahabat dan membacakan kepada mereka ayat berikut
ini:
"Sesungguhnya orang-orang
yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu
kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka
mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang
mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, maka baginya
azab yang besar. " (QS. an-Nur: 11)
Jibril turun kepada Nabi saw
untuk menyampaikan terbebasnya Aisyah dari segala tuduhan yang ditujukan
kepadanya. Dan gagallah peperangan psikologis menentang kaum Muslim dan rumah
tangga Rasulullah saw, dan kelompok-kelompok kafir meyakini bahwa mereka harus
menggunakan cara baru lagi untuk menentang Islam. Kemudian Rasulullah saw
kembali memasuki pergulatan menentang peperangan fisik. Peperang Khandaq
termasuk contoh peperangan fisik yang dilakukan oleh Rasulullah saw.
Orang-orang Yahudi menyerahkan urasan mereka kepada kaum musyrik, dan
Dimulailah rangkaian persekongkolan dan sumpah di antara tokoh-tokoh Yahudi dan
pemimpin-pemimpin kaum musyrik, bahkan pendeta-pendeta Yahudi berfatwa bahwa
agama Quraisy yang disimbolkan dengan penyembahan berhala lebih baik daripada
agama Muhammad yang penyembahan hanya layak ditujukan kepada Tuhan Yang Esa
sebagaimana tradisi jahiliah lebih baik daripada ajaran Al-Qur'an.
Politik kaum Yahudi berhasil
menyatukan kelompok-kelompok orang kafir dan mengerahkannya untuk menentang
kaum Muslim. Kemudian mereka akan menyerang Madinah dengan jumlah kekuatan
sepuluh ribu tentara. Akhirnya, berita itu sampai ke Nabi saw. Beliau tidak
heran ketika mendengar orang-orang Yahudi bersatu—padahal mereka mempunyai azas
agama yang menyeru kepada tauhid—bersama kaum musyrik menentang agama tauhid.
Nabi saw mengetahui bahwa perjanjian telah lama membelenggu orang-orang Yahudi
sehingga hati mereka menjadi keras dan hari telah menjauhkan antara mereka dan
sumber yang jernih yang dipancarkan oleh Musa. Akhirnya, mereka menjadi buah
yang rusak yang kulitnya bergambar tauhid namun isinya bergambar kepahitan
syirik. Dan yang lebih penting dari itu adalah kesamaan kepentingan kaum Yahudi
dan kaum musyrik.
Nabi saw menyadari bahwa beliau
sekarang menghadapi ancaman dan pasukan yang besar. Pertempuran secara terbuka
tidak memberi keuntungan bagi Muslimin. Beliau mulai berpikir bagaimana cara
mempertahankan Madinah tanpa harus keluar darinya. Kali ini taktik militernya
berubah di mana sebelum itu beliau keluar dari Madinah dan menjauhinya serta
menyerang kelompok-kelompok yang berencana menyerbu Madinah. Kali ini bentuk
ancaman berbeda dan tentu pikiran Nabi pun berubah karena mengikuti perbedaan
ancaman itu.
Kemudian beliau mengadakan
pertemuan militer bersama para tentaranya. Beliau ingin mendengar berbagai
usulan tentang bagaimana cara mempertahankan Madinah. Lalu Salman al-Farisi
mengusulkan agar Nabi menggali suatu parit yang dalam di sekeliling Madinah
yaitu parit yang seperti bendungan alami yang dapat menahan laju banjir yang
ingin maju, suatu parit yang pasukan berkuda tidak akan mampu melewatinya dan
kaum Muslim dapat mempertahankan diri dari belakangnya. Mula-mula usulan itu
terkesan agak mustahil diwujudkan namun pada akhirnya Nabi menyetujui usulan
Salman itu. Melalui sensifitas militernya yang mengagumkan, beliau mengetahui
bahwa situasi cukup genting dan karenanya ia menuntut usaha keras untuk dapat
melaluinya. Nabi saw memerintahkan para sahabat untuk menggali parit di sekitar
Madinah. Pekerjaan itu sangat berat dan saat itu musim dingin di mana udara
sangat dingin. Di samping itu, kaum Muslim sedang mengalami krisis ekonomi yang
mengancam Madinah, meskipun demikian, penggalian parti tetap dilaksanakan,
bahkan Rasulullah saw terjun langsung untuk membuat galian dan memikul tanah.
Kaum Muslim dengan semangat yang
luar biasa dapat menyelesaikan penggalian parit itu meskipun kehidupan sangat
keras dan mereka merasakan kelaparan karena kekurangan harta. Namun semangat
pasukan Islam tetap meninggi. Mereka percaya akan datangnya kemenangan dan
pertolongan dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
"Dan tatkala orang-orang
mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: 'lnilah
yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan
Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman
dan ketundukan." (QS. al-Ahzab: 22)
Pasukan Quraisy mulai mendekati
Madinah dan tiba-tiba Madinah berubah menjadi jazirah cinta di tengah-tengah
lautan kebencian, lautan itu mulai menghantam jazirah dan berusaha
menenggelamkannya dari dalam. Kemudian bertebaranlah panah-panah kaum Muslim
untuk menghalau pasukan kafir yang cukup banyak. Pasukankafir mulai
berputar-putar di sekeliling parit dalam keadaan bingung: apa gerangan yang
telah dilakukan pasukan Islam, bagaimana mereka dapat menggali parit ini?
Kuda-kuda musuh berusaha melalui
parit itu namun pasukan Muslim segera menyerangnya. Demikianlah peperangan
Ahzab terus berlangsung. Pada hakikatnya ia adalah peperangan urat syaraf.
Pasukan musuh mengepung Madinah selama tiga minggu di mana serangan demi
serangan terus dilakukan sepanjang siang dan mata mereka tetap terjaga
sepanjang malam. Bahkan saking dahsyatnya pertempuran itu sehingga kaum Muslim
tidak mengetahui apakah pasukan musuh berhasil menduduki Madinah atau tidak,
dan apakah para musuh berhasil menembus lubang yang mereka bangun? Allah SWT
menggambarkan keadaan peperangan Ahzab dalam firman-Nya:
"(Yaitu) ketiha mereka
datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketiha tidak tetap lagi
penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu
menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam persangkaan. Di situlah diuji
orang-orang mukmin dan digoncangkan hatinya dengan goncangan yang
dahysat." (QS. al-Ahzab: 10-11)
Keadaan semakin buruk di mana
orang-orang Yahudi membatalkan perjanjian mereka dengan kaum Muslim dan mereka
bergabung dengan al-Ahzab. Demikianlah Bani Quraizhah membatalkan perjanjiannya
dan mereka lupa terhadap pengkhianatan bani Nadhir dan pembalasan Nabi saw
terhadap mereka. Setiap hari keadaan semakin buruk.
Kaum Muslim benar-benar mengalami
ujian yang berat di mana pikiran mereka benar-benar kacau. Ketika keadaan
mencapai puncaknya kaum Muslim bertanya kepada Rasul saw, "apa yang harus
mereka katakan?" Rasulullah saw memberitahu agar mereka mengatakan:
"Ya Allah, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami untuk mengatasi
mereka."
Doa tersebut keluar dari
mulut-mulut kaum yang telah melaksanakan kewajiban mereka dan telah membuat
mukjizat mereka dalam menghalau serangan. Jadi, mereka tidak memiliki apa-apa
selain doa dan Allah SWT-lah Yang Maha Mendengar permintaan hamba-Nya dan Dia
yang mengabulkannya. Dia mengetahui orang yang melaksanakan kewajibannya dan
akan mengabulkan orang yang berdoa.
Akhirnya, kaum Muslim benar-benar
mendapatkan rahmat Allah SWT. Kemudian perjalanan pertempuran bergerak dengan
cara yang tidak bisa dipahami. Para penyerang menyadari bahwa mereka sebenamya
telah kalah di mana mereka telah menyerang selama tiga pekan namun serangan
tersebut tidak memberikan hasil apa pun. Mereka telah mencurahkan berbagai
upaya namun tanpa memberikan hasil yang diharapkan dan boleh jadi mereka akan
tetap begini selama tiga tahun.
Kemudian datanglah suatu malam di
mana kaum Muslim belum pernah melihat malam segelap itu dan angin sekencang
itu, bahkan saking kerasnya angin sampai-sampai suaranya laksana halilintar.
Bahkan saking gelapnya malam itu sehingga tak seorang pun di antara umat Islam
yang mampu melihat jari-jari tangannya atau berdiri dari tempatnya karena
saking dinginnya cuaca. Kemudian Nabi saw datang menemui Hudaifah bin Yaman.
Beliau tidak mampu melihatnya meskipun beliau berdiri di sebelahnya. Nabi saw
bertanya: "Siapa ini?" Hudaifah menjawab: "Aku adalah
Hudaifah." Nabi saw berkata: "Oh, kamu Hudaifah." Hudaifah tetap
tinggal di tempatnya karena ia khawatir jika ia berdiri ia akan tidak mampu
karena saking dinginnya dan akan menabrak Rasul saw. Rasul saw berkata kepada
Hudaifah, "Aku kehilangan berita penting tentang keadaan kaum yang
menyerang kita."
Hudaifah sebagai mata-mata dari
pasukan Islam merasakan ketakutan di mana ia tidak mampu menahan cuaca yang
begitu dingin, lalu bagaimana ia dapat berdiri dan keluar dari Madinah menuju
ke tempat pasukan musuh dan menyusup di tengah barisan mereka lalu kembali
kepada Nabi saw dengan membawa berita tentang mereka. Hudaifah bangkit dari
tempatnya ketika Nabi saw selesai dari pembicaraannya. Nabi saw memberikan doa
kebaikan kepadanya. Hudaifah pun pergi dan kehangatan keimanannya mengalahkan
kegelapan malam dan kedinginan cuaca. Ia keluar dari Madinah dan menyusup di
tengah-tengah pasukan musuh. Nabi saw memerintahkannya untuk tidak melakukan
tindakan apa pun selain mendapatkan berita dan kembali. Inilah tugas utamanya.
Hudaifah sampai di tengah-tengah musuh. Mereka berusaha menyalakan api namun angin
segera mematikannya sebelum menyala dan di dekat api itu terdapat seorang
lelaki yang berdiri sambil mengulurkan tangannya ke arah api dengan maksud
untuk menghangatkannya. Lelaki itu adalah pemimpin kaum musyrik yaitu Abu
Sofyan.
Melihat itu, Hudaifah segera
memasang anak panah pada busur yang dibawanya dan ia ingin memanahnya.
Seandainya ia berhasil membunuhnya, maka kaum Muslim dapat merasa tenang
dengannya, namun ia ingat pesan Rasulullah saw kepadanya agar ia tidak
melakukan tindakan apa pun. Kemudian ia kembali meletakkan anak panahnya dan
menyembunyikannya.
Abu Sofyan berkata: "Wahai
orang-orang Quraisy situasi saat ini tidak menguntungkan bagi kalian, maka
pergilah kalian karena aku pun akan pergi." Abu Sofyan melompat ke atas
untanya lalu mendudukinya dan memukulnya sehingga unta itu bangkit.
Hudaifah kembali menemui
Rasulullah saw dengan membawa berita mundumya pasukan Ahzab dan gagalnya
serangan mereka. Ketika mendengar peristiwa penarikan mundur pasukan musuh,
Rasulullah saw berkata: "Sekarang kita akan menyerang mereka dan mereka
tidak akan menyerang kita." Belum lama pasukan Ahzab kembali ke negerinya
dengan tangan hampa sehingga beliau keluar dari Madinah bersama pasukannya
menuju ke kaum Yahudi Bani Quraizhah. Orang-orang Yahudi itu telah mengkhianati
peijanjian mereka bersama Nabi saw. Mereka menipu Islam di saat-saat genting.
Oleh karena itu, mereka harus membayar biaya pengkhianatan mereka sekarang.
Nabi saw memerintahkan agar para
sahabat tidak melaksanakan salat Ashar kecuali di Bani Quraizhah. Kaum Muslim
memahami bahwa perintah tersebut berarti mereka akan menerobos benteng kaum
Yahudi sebelum matahari tenggelam.
Orang-orang Yahudi menelan
kekalahan pahit lalu mereka datang kepada Sa'ad bin Mu'ad agar ia memutuskan
perkara mereka. Sa'ad adalah pemimpin kaum Aus dan kaum Aus adalah sekutu
orang-orang Yahudi Quraizhah di masa jahiliah. Kaum Yahudi mengharap bahwa
mereka dapat memanfaatkan hubungan yang terjalin selama ini sebagaimana kaum
Aus membayangkan bahwa tokoh mereka akan memberikan keringanan terhadap
sekutu-sekutu mereka. Sa'ad ketika itu terluka dan ia sedang dirawat di
kemahnya karena terkcna panah kauni Ahzab. Sebagian kaunmya membujuknya agar ia
bersikap baik terhadap orang-orang Yahudi, sekutu-sekutu mereka, dan orang-orang
Yahudi membujuknya agar ia bersikap lembut terhadap mereka. Kemudian Sa'ad
mengatakan pernyataannya yang terkenal: "Telah tiba waktunya bagi Sa'ad
untuk memutuskan hukum sesuai dengan kehendak Allah tanpa peduli dengan celaan
para pencela." Sa'ad memutuskan agar kaum lelaki dibunuh dan keturunannya
ditawan serta harta-harta mereka dibagi-bagikan. Nabi pun menyetujui keputusan
tegas Sa'ad itu. Beliau berkata kepadanya: "Sungguh engkau telah
memutuskan kepada mereka dengan keputusan Allah SWT dari tujuh langit."
Sa'ad mengetahui bahwa
perantaraan, permohonan, harapan, dan menjaga berbagai pertimbangan lazim
selayaknya berada di suatu genggaman, dan masa depan Islam berada di genggaman
yang lain. Yahudi Bani Quraizhah adalah penyebab berkecamuknya peperangan Ahzab
dan sumpah mereka dan berbagai tipu daya mereka berusaha untuk memblokade Islam
dan menghancurkannya. Oleh karena itu, kini telah tiba saatnya untuk mencabut
pohon-pohon beracun dari akarnya tanpa memperdulikan kasih sayang.
Demikianlah kaum Yahudi dibersihkan
dari Madinah. Nabi saw kembali melanjutkan pergulatannya. Puncak dari
perjuangan politiknya adalah perjanjian yang beliau lakukan bersama orang-orang
Quraisy. Nabi saw berjalan untuk melaksanakan umrah dan mengunjungi Baitul
Haram. Beliau keluar bersama seribu empat ratus kaum lelaki yang bertujuan
untuk berziarah ke Baitul Haram guna melaksanakan umrah. Ketika mereka sampai
di Hudaibiyah pinggiran kota Mekah, tiba-tiba unta yang ditunggangi Nabi duduk
dan ia tidak mau melangkah menuju Mekah. Melihat itu para sahabat berkata:
"Oh unta itu malas." Nabi saw berkata: "Tidak Demikian namun ia
ditahan oleh Zat yang menahan laju gajah menuju Mekah. Sungguh jika hari ini
orang Quraisy membuat suatu rencana dan mereka meminta agar aku menyambung tali
silaturahmi niscaya aku akan menyetujuinya."
Nabi saw memerintahkan para
sahabat agar tetap tinggal di Hudaibiyah. Kaum Muslim beristirahat di sana
dengan harapan mereka dapat memasuki Mekah di waktu pagi. Peristiwa itu
bertepatan dengan bulan Haram. Mekah telah menetapkan agar tak seorang pun dari
kaum Muslim dapat memasukinya. Semua kaum Quraisy telah keluar untuk memerangi
kaum Muslim. Mereka mengutus utusan-utusan kepada Nabi saw lalu beliau
memberitahu mereka bahwa beliau tidak datang untuk berperang namun beliau ingin
melakukan urnrah sebagai bentuk pujian dan syukur kepada Allah SWT dan
mengagumkan kemuliaan rumah-Nya yang suci. Mekah menetapkan untuk melakukan
perjanjian bersama kaum Muslim di mana mereka menginginkan agar jangan sampai
kaum Muslim memasuki Baitul Haram pada tahun ini kecuali setelah mereka kembali
pada tahun depan.
Datanglah juru runding kaum
Quraisy lalu Rasul saw menyambutnya dan mendengarkan ia menyampaikan
syarat-syarat perjanjian yang intinya pelaksanaan perdamaian dan penarikan
mundur pasukan Muslim. Nabi saw menyetujui semua syarat-syarat perjanjian
meskipun tampak bahwa perjanjian tersebut tidak menguntungkan kaum Muslim di
mana itu dianggap sebagai titik kemunduran politik dan militer kaum Muslim, dan
yang menambah kebingungan kaum Muslim adalah bahwa Rasul saw tidak melibatkan
seseorang pun dari kalangan sahabatnya untuk bermusyawarah dalam hal ini. Tidak
biasanya beliau bersikap demikian. Para sahabat menyaksikan beliau pergi
menemui kaum musyrik dan bersikap sangat lembut kepada mereka, dan beliau tidak
kembali kecuali membawa berita persetujuan dengan perjanjian yang di prakarsai
orang-orang musyrik, dan beliau pun membubuhkan tanda tangan di atasnya.
Para sahabat bergerak untuk
menentang Rasulullah saw. Mereka bertanya kepada beliau, "bukankah engkau
utusan Allah SWT? Bukankah kita kaum Muslim? Bukankah musuh-musuh kita kaum
musyrik?" Nabi saw hanya mengiyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Umar
bin Khatab kembali bertanya: "Mengapa kita harus menerima penghinaan dalam
agama kita?" Umar ingin mengungkapkan sesuai dengan bahasa kita saat ini,
"mengapa kita harus mundur kalau kita berada di atas kebenaran? Mengapa
kita menerima syarat-syarat perjanjian yang justru menguntungkan kaum musyrik?
Apakah kita takut terhadap mereka?"
Mendengar berbagai protes yang
disampaikan para sahabatnya, Rasul saw justru menyampaikan jawaban yang unik
bagi mereka di mana beliau berkata: "Aku adalah hamba Allah SWT dan
Rasul-Nya dan aku tidak mungkin menentang perintah-Nya dan Dia tidak mungkin akan
menyia-nyiakan aku." Makna dari kalimat beliau adalah, "taatilah apa
yang telah aku lakukan tanpa perlu memperdebatkannya dan hendaklah kalian
sedikit bersabar."
Perjalanan hari menetapkan bahwa
perjanjian yang menimbulkan pro dan kontra di tengah-tengah sahabat itu justru
membawa kemenangan politik paling gemilang yang pernah dicapai oleh umat Islam.
Kemenangan tersebut diperoleh sebagai hasil dari kebijaksanaan sang Nabi saw
yang mengalahkan kelihaian politik kaum Quraisy. Kaum Quraisy telah memfokuskan
semua kelihaian-nya agar kaum Muslim kembali ke tempat mereka tanpa memasuki
Masjidil Haram pada tahun ini, namun hikmah Nabi saw justru mampu mencapai
pengelihatan yang tidak dapat dijangkau oleh kaum itu yang berkenaan dengan
masa depan. Jika saat ini perjanjian tersebut tampak membawa kekalahan bagi
kaum Muslim, maka setelah berlangsung beberapa bulan ia justru mendatangkan
kemenangan yang spektakuler.
Suhail bin Amr adalah wakil dari
delegasi kaum Quraisy dan Ali bin Abi Thalib adalah juru tulis dalam perjanjian
itu dari pihak Nabi saw. Rasulullah saw berkata kepada Ali: "Tulislah
dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." Utusan Quraisy
berkata, aku tidak mengenal ini. Tapi tulislah dengan nama-Mu, ya Allah.
Rasulullah saw berkata kepada Ali: "Dengan nama-Mu, ya Allah." Sikap
keras kepala utusan Quraisy itu tidak berarti sama sekali karena tidak ada
perbedaan yang mencolok antara dengan namamu Allah dan dengan nama Allah Yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang selain niat si pembicara.
Nabi saw berkata kepada Ali:
"Ini adalah perundingan antara Muhammad saw utusan Allah dan Suhail bin
Amr." Mendengar itu dengan nada menentang Suhail bin Amr berkata:
"Seandainya aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah niscaya aku
tidak akan memerangimu, tetapi tulislah namamu dan nama ayahmu." Nabi
berkata kepada Ali tulislah: "Inilah kesepakatan antara Muhammad bin
Abdillah dan Suhail bin Amr."
Tampaknya itu adalah kemunduran
yang kedua dan dengan pandangan yang sekilas tampak menjatuhkan kaum Muslim
tetapi Nabi saw ingin mewujudkan suatu tujuan yang penting yaitu tujuan yang
belum terungkap saat itu. Alhasil, semuanya terjadi dengan ilham dari Allah
SWT. Ali kembali menulis bahwa Muhammad bin Abdillah dan Suhail bin Amr
sama-sama sepakat untuk menghentikan peperangan selama sepuluh tahun di mana
hendaklah masing-masing mereka memberikan keamanan terhadap sesama mereka.
Namun jika terdapat di antara orangorang Quraisy seseorang yang masuk Islam
lalu ia datang kepada Muhammad saw tanpa izin walinya hendaklah kaum Muslim
mengembalikannya kepada kaum Quraisy. Sebaliknya, jika ada orang yang murtad
dari sahabat Muhammad saw, maka tidak ada keharusan bagi orang Quraisy untuk
mengembalikannya kepada Nabi.
Syarat tersebut sangat
menyakitkan kaum Muslim. Tampak bahwa orang-orang Quraisy memaksakan
kehendaknya dalam syarat-syarat perjanjian yang tidak adil itu. Ali melanjutkan
tulisannya, hendaklah Nabi saw pulang dari Mekah pada tahun ini dan tidak
memasukinya dan jika pada tahun depan orang-orang Quraisy keluar darinya, maka
beliau dapat memasukinya untuk melaksanakan umrah selama tiga hari dan setelah
itu beliau harus meninggalkannya. Persyaratan tersebut sangat merugikan kaum
Muslim dan terkesan membingungkan.
Di tengah-tengah perjanjian
tersebut terjadi suatu peristiwa yang menambah penderitaan dan kebingungan
Muslimin di mana anak dari juru runding Quraisy meminta perlindungan kepada
kaum Muslim. Ia masuk Islam dan ingin bergabung dengan kelompok Islam namun
ayahnya, Suhail segera bangkit menyusulnya bahkan memukulnya dan
mengembalikannya kepada kaumnya. Orang Mukalaf itu segera berteriak dan meminta
pertolongan kepada kaum Muslim agar mereka menyelamatkannya dari kejahatan kaum
Quraisy sehingga mereka tidak mengubah agamanya. Rasulullah saw berbicara
kepadanya dan meminta kepadanya untuk bersabar dan tegar dalam menanggung
penderitaan karena Allah SWT akan menjadikannya dan orang-orang yang sepertinya
suatu jalan keluar dan kelapangan. Nabi memahamkannya bahwa beliau telah
mengadakan suatu peijanjian dengan kaum Quraisy dan bahwa kaum Muslim tidak
mungkin melanggar perjanjian mereka.
Akhirnya, anak Muslim itu
dikembalikan ke Mekah dalam keadaan tersiksa. Kemudian Selesailah
penandatanganan perjanjian antara pihak kaum Muslim dan pihak kaum musyrik.
Setelah penandatanganan perjanjian itu, Rasulullah saw memerintahkan para
sahabatnya agar mereka memotong hewan kurban dan mencukur rambut mereka
(tahalul) dari umrah mereka dan kembali ke Madinah. Namun tak seorang pun
bangkit menyambut perintah tersebut, lalu beliau mengulangi perintahnya ketiga
kali. Di tengah-tengah kaum Muslim yang tampak membisu karena ketegangan dan
kesedihan, beliau menyembelih unta dan memanggil tukang cukurnya untuk mencukur
rambutnya dan beliau tidak berbicara dengan seorang pun. Ketika para sahabat
mengetahui bahwa Nabi saw tampak marah dan telah mendahului mereka dengan
tahalul dari umrahnya, maka mereka bangkit untuk menyembelih kurban dan
memotong rambut mereka.
Perjalanan hari menunjukkan bahwa
perundingan tersebut tidak seperti yang dibayangkan oleh kaum Muslim. Ia justru
membawa kemenangan dan bukan kekalahan. Persatuan kaum kafir di jazirah Arab
mulai runtuh sejak mereka menandatangani perjanjian itu. Kaum Quraisy di anggap
sebagai pimpinan kaum kafir dan pembawa bendera penentangan terhadap Islam,
maka ketika tersebar berita perjanjian mereka bersama kaum Muslim, maka
padamlah fitnah-fitnah kaum munafik yang bekerja untuk mereka dan
bercerai-berAllah kabilah-kabilah penyembah patung di penjuru jazirah.
Saat aktivitas kaum Quraisy
terhenti, maka kaum Muslim mengalami peningkatan aktivitas di mana mereka
berhasil menarik orang-orang yang masih memiliki kemampuan untuk melihat
kebenaran. Sejak dua tahun dari masa penandatanganan perjanjian itu jumlah
penganut Islam semakin bertambah lebih dari jumlah sebelumnya. Bukti dari itu
adalah, bahwa saat Rasul saw keluar ke Hudaibiyah beliau ditemani dengan seribu
empat ratus Muslim namun ketika beliau keluar pada tahun penaklukan kota Mekah
beliau disertai dengan sepuluh ribu Muslim. Penaklukan kota Mekah terjadi
setelah dua tahun dari perundingan tersebut. Penambahan jumlah kaum Muslim yang
luar biasa ini adalah dikarenakan hikmah sang Nabi saw dan kejauhan
pandangannya. Nabi saw keluar sebagai pemenang dalam pergulatan politiknya, dan
syarat-syarat yang tadinya merugikan kaum Muslim kini telah berubah menjadi
syarat-syarat yang merugikan kaum Quraisy. Barangsiapa murtad dari kaum Muslim
dan pergi ke kaum Quraisy, maka hendaklah mereka melindunginya karena Allah SWT
telah memampukan Islam darinya, dan barangsiapa yang masuk Islam dari kaum
kafir dan pergi ke kaum Muslim, maka hendaklah mereka mengembalikannya ke kaum
Quraisy di mana ia tinggal di dalamnya sebagai mata-mata dari pihak Islam atau
ia dapat lari dari kaum Quraisy untuk menyatukan kelompok yang bertikai dan ia
dapat hidup laksana duri di tengah-tengah kaum Quraisy.
Belum lama waktu berjalan
sehingga kaum Quraisy mengutus utusannya kepada Nabi saw dan mengharap kepada
beliau agar melindungi orang Quraisy yang masuk Islam daripada membiarkan mereka
sebagai panah yang terbang menuju kaum Quraisy. Demikianlah kaum Quraisy justru
membatalkan syarat yang telah mereka diktekan dan Nabi saw pun menerimanya
dengan puas. Perundingan itu justru menguatkan barisan Nabi savv.
Demikianlah Nabi saw terus menjalani
mata rantai pergulatan yang tiada henti-hentinya di mana kehidupan beliau yang
pribadi sekali pun tidak sunyi dari penderitaan. Nabi saw menikahi sembilan
orang istri. Perkawinan beliau dengan sembilan istri tersebut merupakan
keistimewaan pribadi yang hanya beliau miliki karena berhubungan dengan
sebab-sebab dakwah Islam. Yaitu suatu dakwah yang membolehkan para pengikutnya
untuk menikahi empat orang istri dengan syarat jika yang bersangkutan mampu
menciptakan keadilan di antara mereka, dan ia menganjurkan untuk hanya puas
dengan satu istri jika seorang Muslim khawatir tidak dapat berbuat adil.
Kaum orentalis dan musuh-musuh
Islam mencoba untuk menghina Nabi dan memojokkannya, dan salah satu cela yang
mereka manfaatkan adalah perkawinan beliau dengan sembilan wanita. Kita
mengetahui bahwa pernikahan-pernikahan beliau terlaksana dengan sebab-sebab
politik atau kemanusiaan yang berhubungan dengan dakwah Islam. Dan yang
terkenal dari sejarah Nabi saw adalah bahwa beliau menikah dengan Sayidah
Khadijah saat beliau berusia dua puluh lima tahun dan Khadijah berusia empat
puluh tahun. Semasa hidup Khadijah beliau tidak menikahi istri yang lain sampai
Khadijah mencapai usia enam puluh lima tahun. Saat Khadijah meninggal, Nabi
berusia di atas lima puluh tahun. Beliau menikahi Khadijah sebelum beliau
diutus untuk menyebarkan Islam. Beliau tetap setia bersama Khadijah sampai ia
meninggal dan beliau diangkat menjadi Nabi. Namun beban kenabian dan beratnya
jihad, kasih sayangnya kepada manusia, pengorbanannya terhadap Islam dan
perintah Allah SWT semua itu memaksanya untuk menikah lebih dari satu orang
istri sampai mencapai sembilan orang istri. Perkawinan beliau dengan Aisyah
yang saat itu masih belia merupakan usaha untuk menjalin ikatan dengan Abu
Bakar, ayah dari Aisyah dan perkawinan beliau dengan Hafshah meskipun ia
sedikit kurang cantik merupakan usaha beliau untuk menjalin ikatan dengan Umar,
ayahnya. Beliau juga menikah dengan Ummu Salamah, janda dari pemimpin
pasukannya yang mati syahid di jalan Allah SWT dan wanita itu merasakan
penderitaan bersama beliau saat hijrah di Habasyah dan hijrah ke Madinah.
Ketika suaminya meninggal dan ia sendirian menghadapi berbagai persoalan
kehidupan, maka Nabi saw segera merangkulnya di rumah kenabian. Perkavvinan
beliau dengan Sawadah sebagai bentuk penghormatan terhadap keislaman wanita itu
dan kemuliannya dari kaum lelaki serta kesendiriannya dalam menjalani
kehidupan. Sementara itu, pernikahan beliau dengan Zainab bin Jahasy merupakan
ujian berat bagi beliau di mana perintah pernikahan itu datang dari Allah SWT
untuk mengharamkan suatu tradisi yang terkenal di kalangan jahiliah yaitu
tradisi adopsi. Zainab termasuk kerabat Rasul. Jadi ia termasuk dari kalangan
bani Hasyim. Ia merasa bangga dengan nasab yang dimilikinya yang karenanya ia
menolak ketika ditawari untuk menikah dengan Zaid bin Harisah, seorang budak
Nabi yang telah beliau bebaskan, bahkan nasabnya telah beliau nisbatkan kepada
dirinya dan beliau telah mengadopsinya sehingga ia dipanggil dengan sebutan
Zaid bin Muhammad. Namun Zainab akhirnya menyetujui pendapat Nabi dan perintah
Allah SWT sehingga ia menikah dengan Zaid:
"Dan tidaklah patut bagi
laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukimin, apabila Allah
dan Rasul-Nya telah menetaphan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan
yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhahai Allah dan
Rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. " (QS.
al-Ahzab: 36)
Sejak semula tampak jelas bahwa
pernikahan tersebut akan segera berakhir. Zainab tidak menyukai Zaid dan Zaid
pun bukan tipe lelaki yang mampu menahan kehidupan bersama seorang wanita yang
hatinya jauh darinya. Zaid datang kepada Nabi saw guna mengadu kepada beliau
dan meminta izin untuk menceraikan istrinya. Allah SWT mewahyukan kepada
Rasul-Nya agar membiarkan Zaid menceraikan istrinya, lalu hendaklah beliau
menikahinya. Nabi saw merasakan kesulitan yang luar biasa dan beliau berbicara
kepada Zaid agar ia terus melangsungkan kehidupannya dan bersabar. Nabi saw membayangkan
apa yang dikatakan manusia kepadanya bahwa ia menikahi istri dari anaknya
tetapi apa yang dikhawatirkan oleh Nabi saw justru merupakan sesuatu yang ingin
dihapus oleh Allah SWT. Zaid bukanlah anaknya dan dalam Islam tidak ada sistem
adopsi. Oleh karena itu, Zaid dapat mencerai istrinya lalu Nabi dapat menikahi
Zainab untuk menetapkan apa yang diinginkan oleh Islam. Rasulullah saw mampu
bersabar dan menahan diri saat mendengar berbagai ocehan yang akan dikatakan
oleh manusia kepadanya. Ini bukanlah pengorbanan pertama dan terakhir yang
beliau persembahkan untuk Islam. Berkenaan dengan itu, Allah SWT berfirman:
"Dan (ingatlah), ketika kamu
berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu
(juga) telah memberi nikmat kepadanya: 'Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah
kepada Allah,' sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan
menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih
berrhak kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap
istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan kamu dengan dia supaya tidak ada
heberatan bagi orang-orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat
mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari
istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. " (QS.
al-Ahzab: 37)
Pemikahan beliau dipenuhi dengan
unsur politik dan usaha untuk menyebarkan kebaikan dan rahmat serta
penghormatan nilai-nilai yang tinggi dan menggabungkannya di rumah kenabian.
Sementara itu, Ummu Habibah binti Abu Sofyan bin Harb, pemimpin Quraisy dalam
memerangi Islam, berhijrah bersama suaminya ke Habasyah.
Ia berhadapan dengan keterasingan
dan kekhawatiran dalam membela agama Allah SWT. Kemudian suaminya mati
meninggalkannya sendirian dalam menjalani kehidupan. Sikapnya yang mulia demi
menegakkan ajaran Islam dan hanya menentang ayahnya merupakan nilai lebih yang
menyebabkan Rasulullah saw tertarik untuk menggabungkannya di rumah kenabian.
Pada suatu hari, Abu Sofyan
menemuinya saat ia telah menjadi istri Rasulullah saw. Abu Sofyan ingin duduk
di atas tempat tidur Nabi lalu Ummu Habibah berusaha menjauhkan tempt tidur itu
dari ayahnya. Melihat sikap anaknya itu, ayahnya bertanya kepadanya:
"Apakah engkau mulai membenciku?" Dengan penuh keberaniaan ia
menjawab: "Ini adalah tempat tidur Rasulullah saw dan engkau adalah
seorang musyrik, maka engkau tidak boleh menyentuhnya."
Adapun Shofiyah binti Huyay
adalah anak seorang raja Yahudi. Sedangkan Juwairiyah binti Haris, ayahnya
seorang pemimpin kabilah Bani Musthaliq. Bani Musthaliq menelan kekalahan saat
berhadapan dengan kaum muslim lalu kedua anak perempuan raja dan pemimpin
kabilah itu jatuh menjadi tawanan. Pemikahan Nabi dengan kedua wanita itu
terkesan dipaksa oleh orang-orang yang kalah itu dan sebagai ajakan agar kaum
Muslim memperlakukan mereka dengan baik. Mula-mula kaum Muslim menolak untuk
bersikap lembut terhadap ipar-ipar Nabi, namun Nabi dengan kelembutan sikapnya
ingin menyingkap aspek kemanusiaan dalam peperangannya dan beliau mengisyaratkan
kepada kaum Muslim agar mereka menunjukkan persaudaraan sesama manusia.
Peperangan itu sendiri bukan sebagai tujuan namun ia sebagai usaha
mempertahankan Islam dan aspek tertinggi dari Islam adalah rahmat dan cinta.
Jadi Nabi saw menikahi wanita-wanita
dari orang-orang yang kalah itu dengan maksud agar kebebasan dan kemuliaan
kembali kepada keluarga mereka dan mereka dapat masuk Islam secara puas dan
sukarela. Kemudian beliau menikah dengan Maryam al-Qibtiyah. Muqauqis telah
memberikannya kepada Nabi sebagai budak di mana itu merupakan simbol tali kasih
yang diisyaratkan oleh Al-Qur'an antara Islam dan Masehi dan sebagai bentuk
hukum bagi kaum Muslim dengan dihalalkannya pernikahan dengan wanita-wanita
ahlul kitab.
Maryam memberikan anak kepada Nabi
saw yang bernama Ibrahim, nama dari kakeknya, bapak para nabi. Namun Ibrahim
tidak hidup lama. Ia meninggal saat masih menyusu. Kematiannya merupakan ujian
bagi Nabi dan sebagai isyarat dari Ilahi bahwa pewaris-pewaris Rasul dari kaum
pria adalah para pengikut Al-Qur'an dan para pembawa Islam, bukan anak-anak
dari sulbinya.
Salah jika ada orang yang
membayangkan bahwa Rasul saw mempunyai banyak waktu untuk mencari kesenangan
meskipun halal. Kesenangan diperbolehkan bagi orang lain namun beliau lebih memilih
untuk merasakan penderitaan berjihad, menegakkan hukum, dan kesabaran. Salah
jika ada orang yang membayangkan bahwa Rasul saw hidup di rumahnya dengan
keadaan ekonomi yang lebih baik daripada orang yang termiskin dari kalangan
Muslim di zamannya.
Kehidupan beliau di rumahnya
penuh dengan kezuhudan yang luar biasa sehingga sebagian istrinya mengeluhkan
keadaan tersebut. Di antara mereka ada yang berasal dari keluarga yang kaya
seperti keluarga Abu Bakar atau keluarga Umar bahkan sebagian istrinya bersatu
untuk meminta kepada beliau agar beliau menambah nafkah mereka sehingga Nabi
meninggalkan istri-istrinya, lalu tersebarlah isu yang menyatakan bahwa beliau
telah menceraikan semua istrinya. Kemudian turunlah ayat Takhyir (yaitu
ayat yang memberikan pilihan kepada istri-istri Nabi untuk tetap menjadi istri
beliau atau diceraikannya). Turunlah Al-Qur'an al-Karim memberikan pilihan pada
istri-istri Nabi antara menjalani kehidupan di rumah kenabian dengan penuh
kesederhanaan atau menerima perceraian. Allah SWT berfirman:
"Hai Nabi, katakanlah kepada
istri-istrimu: 'Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya,
maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara
yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya
serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka Sesungguhnya Allah menyediakan siapa
yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar. " (QS.
al-Ahzab: 28-29)
Selesailah fitnah. Demikianlah
pergulatan di rumah Rasul saw. Akhirnya, istri-istri beliau memilih kehidupan
zuhud dan bersabar serta akhirat daripada kehidupan dunia. Permintaan
istri-istri nabi tidak melebihi hal-hal yang bersifat mubah, namun Rasul saw
merupakan teladan bagi seluruh umat, karena itu beliau harus menjadi teladan bagi
umat sehingga beliau dapat menjadi cermin tertinggi yang layak diemban oleh
seorang yang memegang tampuk kepemimpinan Muslimin. Allah SWT telah membalas
pengorbanan istri-istri Nabi saw dalam bentuk mengangkat kedudukan mereka dan
menjadikan mereka sebagai ibu dari kaum mukmin. Allah SWT berfirman:
"Nabi itu (hendaknya) lebih
utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya
adalah ibu-ibu mereka." (QS. al-Ahzab: 6)
Dan, sebagai penegasan terhadap
keibuan spiritual ini, Islam mewajibkan hijab yang teliti kepada mereka, yaitu
suatu hijab yang tidak diberlakukan seperti itu kepada Muslimah-Muslimah lain.
Nabi saw melanjutkan dakwahnya. Beliau mengirim surat ke raja-raja dan para
penguasa di mana beliau ingin menunjukkan universalitas ajaran Islam. Nabi saw
mengajak Kaisar Romawi untuk mengikuti Islam, lalu beliau mengirim utusan ke
Amir Damaskus mengajaknya untuk memeluk Islam, dan beliau mengutus utusan ke
Amir Basrah bagian dari wilayah Romawi dan mengajaknya untuk mengikuti Islam,
dan beliau juga mengirim surat ke penguasa Qibti dan mengajaknya untuk masuk
Islam, dan beliau juga menulis surat ke Kisra, Raja Persia dan mengajaknya
untuk mengikuti Islam. Beliau juga mengirim utusan ke Amir Bahrain dan
mengajaknya untuk mengikuti Islam.
Lalu berbagai reaksi disampaikan
berkenaan dengan surat-surat Nabi itu. Di antara mereka ada yang berusaha
menyampaikan kepada pembawa surat bahwa ia masuk Islam dan mengembalikannya
dengan hadiah, dan di antara mereka ada yang merobek-robek surat itu dan di
antara mereka ada yang membalas surat itu dengan jawaban yang baik, dan di
antara mereka ada yang menerima kebenaran. Demikianlah hari berlalu dalam
pergulatan yang tidak pernah padam, suatu pergulatan yang dipimpin oleh Nabi
sehingga beliau menaklukkan Mekah dan menyucikan jazirah Arab. Akhirnya,
manusia masuk dalam agama Allah SWT dalam keadaan berbondong-bodong, dan Allah
SWT menyempurnakan agama bagi kaum Muslim dan Nabi saw melaksanakan haji wada'
(haji yang terakhir) dan turunlah kepada beliau wahyu di Arafah sebagaimana
firman-Nya:
"Pada hari ini telah
Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku,
dan telah Ku-ridhai Islam itujadi agama bagimu. " (QS.
al-Maidah: 3)
Ayat tersebut dibacakan kepada
Abu Bakar sehingga ia menangis. Allah SWT merasa bahwa telah tiba waktunya
untuk mengakhiri misi Rasul-Nya. Aisyah berkata kepada anak-anak yang berteriak
dan bermain-main di luar rumah: "Diamlah kalian karena Rasulullah saw
sedang sakit." Anak-anak itu pun terdiam dan mereka merasakan ketakutan
yang luar biasa. Pada hari-hari terakhir, Rasulullah saw tidak lagi bercanda
dengan mereka sebagaimana yang biasa beliau lakukan.
Mereka memperhatikan bahwa
kepucatan yang aneh menyelimuti Nabi saw yang biasanya wajah beliau dipenuhi dengan
senyuman hingga wajahnya laksana lempengan emas. Nabi saw yang terakhir masuk
dalam rumahnya dan hampir saja beliau tidak kuat menahan langkah kedua kakinya.
Beliau memasuki rumahnya dan bersandar kepada tangan Fadl bin Abbas dan Ali bin
Abu Thalib. Beliau merasakan keletihan dan kesakitan. Kemudian Aisyah
menidurkan beliau di atas ranjangnya yang kasar dan Aisyah meletakkan tangannya
di atas kening beliau. Kepala beliau tampak panas karena saking hebatnya demam.
Aisyah berkata dalam keadaan kedua matanya mengucurkan air mata, "demi
ayah dan ibuku, ya Rasulullah apakah engkau merasakan sakit?" Nabi saw
tersenyum untuk menenangkan Aisyah lalu beliau tertidur. Kemudian mengalirlah
dalam memori Nabi saw berbagai gambar hidup: Jibril turun kepada beliau dengan
membawa wahyu di gua Hira. Beliau telah melewati waktu yang diberkati selama
dua puluh tiga tahun, yang sekarang tampak seperti mimpi. Bahkan empat puluh
tahun yang mendahuluinya tampak seperti gambar yang hanya dilukis sesaat.
Segala sesuatu menjadi mudah bagi
Allah SWT dan Rasulullah saw telah berhasil melalui berbagai penderitaan dengan
penuh kesabaran, bahkan beliau tidak pernah mengeluh sekali pun. Beliau
mengajarkan akidah kepada para pengikutnya dengan penuh kemantapan. Akhirnya,
Islam menjadi mulia dan benderanya semakin berkibar. Kemudian beliau bangun
karena melihat tangisan yang tersembunyi dari Aisyah. Beliau membuka kedua
matanya dan melihat wajah Aisyah sambil beliau sendiri berusaha melawan rasa
pusing, demam, dan sakit yang dirasakannya. Beliau kembali tersenyum untuk
menenangkan Aisyah dan beliau kembali memejamkan matanya dan tidak sadarkan
diri. Apa gerangan yang menyebabkan Aisyah menangis? Tidakkah Allah SWT
memahkotai jihad Nabi saw yang berat dengan penaklukan Mekah dan penyucian Baitul
Haram?
Berbagai gambar hidup dan aktual
melayang-layang dalam memori Nabi saw. Beliau mengingat bagaimana tindakan
orang Quraisy ketika membantalkan perjanjian Hudaibiyah dan mereka memerangi
Khaza'ah yang saat itu bersekutu dengan kaum Muslim dan akhirnya mereka
membunuh semua sekutu kaum Muslim di Baitul Haram. Kemudian beliau berjalan
bersama pasukan yang berjumlah sepuluh ribu di mana semua pasukan telah siap,
dan tentara Muslim turun dari gunung Mekah laksana air bah yang tidak berhenti
sedikit pun. Telah lewatlah masa para pembawa tombak, panah, dan pedang; telah
lewatiah masa di mana Rasulullah saw memimpim pasukan yang di dalamnya terdapat
kaum Muhajirin dan Anshar. Di tengah-tengah pasukan besar tersebut yang
berhasil menaklukkan Mekah, Nabi saw menunggangi untanya dan beliau menundukkan
kepalanya dengan penuh rendah diri di hadapan Allah SWT sampai-sampai kepalanya
hampir menyentuh punggung unta yang dinaiki. Pintu Mekah terbuka untuk pasukan
ini.
Para pemimpin Mekah dan
pengikut-pengikut mereka menyerahkan diri. Kalimat Allah SWT semakin meninggi
di dalamnya. Nabi saw memasuki Baitul Haram lalu beliau berkeliling di sekitar
Ka'bah. Beliau menghancurkan berbagai patung yang berbaris di sekitarnya, lalu
beliau memukulnya dengan kampaknya. Kemudian patung-patung itu berjatuhan dan
hancur. Setelah beliau membersihkan masjid dari berbagai patung dan
mengembalikannya sebagaimana yang diciptakan oleh Allah SWT sebagai rumah
tauhid yang mutlak, beliau menoleh kepada orang Quraisy dan memaafkan mereka dan
mengajak mereka untuk kembali ke jalan Allah SWT. Kemudian tibalah waktu salat,
lalu Bilal naik di atas punggung Ka'bah dan mengumandangkan Azan. Penduduk
Mekah mende-ngarkan panggilan baru ini di mana gemanya berputar-putar di antara
gunung:
"Allah Maha Besar. Aku
bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad utusan
Allah. Marilah melaksanakan salat. Marilah menuju keberuntungan. Allah Maha
Besar. Tiada Tuhan selain Allah."
Akhirnya, rumah itu dikembalikan
kehormatannya dan kemuliannya. Kemudian lagi-lagi arus berbagai gambar
terlintas dalam memorinya: itulah peperangan Hunain dengan kekalahannya,
kemenangannya, dan ganimahnya; Itulah Nabi saw yang memberikan ganimah terhadap
orang-orang yang bergabung dengan Islam hanya dua hari dari penduduk Mekah, dan
mencegah untuk memberi ganimah Hunaian kepada kaum Anshar yang telah memberikan
segalanya untuk Islam. Salah seorang di antara mereka berkata: "Demi
Allah, Rasulullah saw telah menemui kaumnya." Sa'ad bin 'Ubadah berjalan
ke arah Rasulullah saw dan memberitahunya bahwa kaum Anshar sedang marah. Rasul
saw bertanya: "Mengapa marah?" Sa'ad menjawab: "Mereka protes
saat engkau membagikan ganimah ini pada kaummu dan pada seluruh orang Arab
namun mereka tidak mendapatkan apa-apa." Rasulullah saw bertanya kepada
Sa'ad bin Ubadah: "Kamu sendiri bagaimana pendapatmu wahai Sa'ad?"
Sa'ad berkata: "Aku tidak lain kecuali seseorang dari kaumku."
Rasulullah saw berkata: "Kumpulkanlah kepadaku kaummu untuk masalah yang
penting ini dan jika kalian telah berkumpul, maka beritahulah aku."
Sa'ad mengumpulkan seluruh kaum
Anshar lalu ia memberitahu Rasul saw bahwa ia telah mengumpulkan mereka.
Rasulullah saw keluar menemui mereka dan berdiri di hadapan mereka sambil
memuji Allah SWT dan kemudian berkata: "Wahai orang-orang Anshar, tidakkah
aku datang kepada kalian saat kalian dalam keadaan sesat lalu Allah SWT
memberikan petunjuk kepada kalian, dan kalian menjadi orang-orang yang fakir
lalu Allah SWT memampukan kalian, dan kalian dalam keadaan bermusuhan lalu
Allah SWT menyatukan hati kalian?" Mereka menjawab: "Benar."
Rasulullah saw berkata: "Mengapa kalian tidak menjawab wahai kaum
Anshar?" Mereka berkata: "Apa yang kita akan katakan wahai Rasulullah
dan dengan apa kita akan menjawabnya. Sungguh segala karunia hanya milik Allah
SWT dan Rasul-Nya."
Rasulullah saw berkata:
"Demi Allah, seandainya kalian mau niscaya kalian akan mengatakan dan
benar apa yang kalian katakan: Engkau datang kepada kami sebagai seorang yang
terusir, maka kami melingdungimu dan engkau datang dalam keadaan miskin lalu
kami menghiburmu dan engkau datang dalam keadaaan ketakutan lalu kami
mengamankanmu dan engkau datang dalam keadaan teraniaya lalu kami
menolongmu." Mereka berkata: "Segala puji dan karunia bagi Allah SWT
dan Rasul-Nya." Rasulullah saw berkata: "Wahai kaum Anshar, apakah
kalian akan marah terhadap harta yang telah aku berikan kepada suatu kaum
dengan harapan agar keimanan meresap dalam hati mereka dan kalian justru
melupakan karunia yang telah Allah SWT berikan kepada kalian dalam bentuk
nikmat Islam. Tidakkah kalian wahai kaum Anshar merasa puas ketika manusia
pergi untuk melakukan perjalanan di musim dingin sedangkan kalian pergi dengan
Rasulullah saw. Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya manusia
melalui suatu jalan dan kaum Anshar melalui jalan yang lain niscaya aku akan
melalui jalan kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar dan anak-anak kaum
Anshar dan cucu kaum Anshar."
Mendengar doa itu, kaum tersebut
menanggis sehingga jenggot mereka terbasahi dengan air mata dan mereka berkata:
"Kami rela dengan Allah SWT sebagai Tuhan dan sangat puas dengan pembagian
Rasulullah saw." Kemudian Nabi saw pun meninggalkan mereka dan mereka
pergi dalam keadaan puas. Orang-orang Anshar memahami bahwa Muslim yang hakiki
di dunia adalah seorang yang datang di dunia untuk memberi, bukan untuk
mengambil. Nabi saw terbangun dan beliau mendapati dirinya sendirian di kamar.
Suhu tubuh beliau meningkat karena demam, lalu beliau memanggil Aisyah dan
meminta kepadanya untuk membawa air yang dapat digunakannya untuk mendinginkan
tubuhnya. Aisyah mulai menuangkan air kepada Rasulullah saw sampai demam beliau
berangsur-angsur sedikit menurun. Tampak bahwa waktu berlalu cukup lambat dan
berat. Sakit Rasulullah saw semakin meningkat.
Beliau mulai merasa bahwa tidak
mampu lagi untuk salat bersama para sahabat, lalu beliau memerintahkan Abu
Bakar untuk salat bersama mereka. Pada saat Nabi mengalami antara keadaan
terjaga dan tidur, beliau selalu berpikir apa gerangan yang belum disampaikannya
kepada manusia. Beliau telah menyampaikan segala sesuatu dan telah mengajari
mereka segala sesuatu serta telah meninggalkan sebuah Kitab yang siapa pun
berpegangan dengannya ia tidak akan sesat.
Rasul saw mulai mengantuk dan
berbagai nostalgia terlintas di kepalanya. Beliau melihat dirinya di haji
Wada'. Selesailah perjanjian yang diberikan kepada kaum musyrik dan mereka
telah dilarang untuk memasuki Masjidil Haram dan sekarang Nabi saw keluar
sebagai pemimpin haji dan mengajari kaum Muslim cara manasiknya. Rasulullah saw
memperhatikan ribuan orang-orang yang bertauhid saat mereka menuju Baitul Haram
dalam keadaan memenuhi panggilan Tuhan dan tunduk kepadanya. Mereka
menghidupkan memori kakek mereka, Ibrahim Khalilullah. Nabi saw berdiri dan
berpidato di tengah-tengah keramaian itu. Nabi saw mulai merasakan bahwa
kehidupannya di dunia sebentar lagi akan berakhir. Beliau mengetahui bahwa
kafilah ini akan pergi sendirian dalam menjalani kehidupan. Beliau kembali
menanamkan nilai-nilai Islam dan wasiat dakwah di jalan Allah SWT. Setelah
berjuang selama dua puluh tiga tahun menegakkan agama Allah SWT, beliau
bertanya kepada mereka: "Apakah aku telah menyampaikan amanat Tuhan?"
Lalu manusia yang hadir saat itu menyatakan bahwa beliau benar-benar telah
menyampaikan dakwah. Beliau memanggil Mu'ad bin Jabal dan mengajarinya
bagaimana berdakwah kepada manusia di jalan Allah SWT dan bagaimana mengenalkan
agama kepada mereka.
Kemudian beliau berwasiat kepadaa
Mu'ad saat ia menunggangi kendaraannya sedangkan Rasulullah saw beijalan di
sebelah untanya: "Sesungguhnya orang yang paling utama di sisiku adalah
orang-orang yang bertakwa, siapa pun mereka dan di mana pun mereka." Nabi
saw adalah rahmat bagi semua manusia dan sebagal cermin yang tertinggi dari cermin
persaudaraan dan kepatuhan. Beliau menegakkan Al-Qur'an di tengah-tengah umat
Islam namun beliau menolak segala bentuk penampilan yang biasa melekat pada
seorang penguasa atau raja atau pemimpin apa pun. Beliau berkata kepada para
sahabatnya: "Aku hanya seorang hamba Allah SWT dan Rasul-Nya."
Beliau keluar menemui sekelompok
sahabatnya lalu sebagai bentuk penghormatan kepada beliau mereka berdiri.
Kemudian beliau memerintahkan kepada mereka agar tidak berdiri. Ketika beliau
keluar untuk menemui sahabat-sahabatnya dan murid-muridnya, maka beliau duduk
bersama mereka di tempat terakhir yang ditemukannya. Beliau sangat bersahabat
dan ramah dengan para sahabatnya, bahkan beliau bercanda dengan anak-anak
mereka dan mendudukkan mereka di ruangannya. Beliau memenuhi panggilan orang
dewasa maupun anak-anak. Beliau membesuk orang-orang yang sakit meskipun berada
di tempat yang jauh. Beliau menerima alasan orang yang mempunyai uzur. Beliau
mendahului orang yang ditemuinya dengan salam bahkan beliau mendahului berjabat
tangan dengan para sahabatnya.
Ketika seseorang datang untuk
menemuinya saat beliau salat, maka beliau mempersingkat salatnya dan menanyakan
keperluan orang itu. Setelah menyelesaikan keperluan manusia, beliau kembali
menyelesaikan shalatnya. Beliau selalu menebar senyum kepada kawan dan lawan
dan memiliki kepribadian yang paling baik. Ketika beliau berada di rumahnya,
beliau melayani keluarganya. Beliau mencuci bajunya. Beliau memperbaiki
sandalnya dan memberi minum unta. Beliau makan bersama pembantu. Beliau memenuhi
kebutuhan orang yang lemah, orang yang sedih, dan orang yang miskin. Bahkan
kebaikan beliau dan kasih sayangnya sampai pada tingkat di mana beliau
membiarkan cucunya menaiki punggungnya saat beliau sedang shalat.
Kasih sayang beliau tidak hanya
terbatas kepada manusia bahkan juga tertuju pada binatang dan pohon. Beliau
memberi makan binatang dengan tangannya sendiri bahkan beliau pernah merawat
anjing yang sakit. Beliau memerintahkan pasukan Islam saat berperang demi
menegakkan keadilan Islam agar mereka tidak membunuh anak kecil, orang tua,
kaum wanita dan hendaklah mereka tidak mencabut pohon dan tidak pula merobohkan
rumah.
Apa yang dibawa oleh Nabi saw
bukan hanya suatu undang-undang yang mengatur hubungan antara manusia dan
manusia yang lain, dan apa yang dibawa oleh Nabi saw bukan hanya berisi suatu
sistem untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan kemajuannya, ini semua adalah
hal relatif namun beliau datang dengan membawa peradaban yang abadi yang
mengatur hubungan antara manusia dan alam, dan mengembalikan keserasian di alam
wujud sehingga semua berjalan secara seimbang dan mencapai kesempurnaan menuju
Allah SWT. Meskipun pada titik terakhir dari kehidupannya, beliau masih sibuk
mengurusi masa depan dakwah dan beliau sangat cemas terhadap masa depan agama
dan sangat peduli dengan problema kaum Muslim. Beliau khawatir suatu saat Islam
hanya tinggal namanya namun hakikatnya telah lenyap. Namun sebelum beliau
meninggal, Allah SWT telah memperlihatkan kepada beliau sesuatu yang membuat
hati beliau menjadi tenang. Dan di hari Senin dari bulan Rabiul Awal yang
mulia, beliau kembali kepada Tuhannya dalam keadaan ridha dan diridhai.
Salam kepadamu ya Rasulullah dan
kepada keluarga serta sahabat yang setia bersamamu.♦

0 komentar:
Posting Komentar