Rabu, 05 Maret 2014

KEPERCAYAAN DAN KEBUDAYAAN ARAB JAHILIYYAH

Kepercayaan Dan Kebudayaan Arab Jahiliyyah



A.    Kepercayaan Masyarakat Arab Jahilliyyah

Terdapat beberapa kepercayaan yang dianut masyarakat Arab sebelum agama Islam lahir. Bangsa Arab Qahthan (Kaum Saba) di Yaman misalnya, mereka menganut kepercayaan atau agama Ash-Shabiah, yaitu suatu kepercayaan yang berkembang di masyarakat Qhatan tentang adanya kekuatan pada bintang-bintang dan matahari ssebagai kekuatan maha pencipta. Mereka menganggap bintang dan matahari sebagai Tuhan. Bangasa mereka yang masih tinggal di Yaman, kepercayaan Ash-Shabiah terus dianut. Tetapi kemudian karena mereka mendapat seruan dari para Yahudi yang datang dari Yasrib (Madinah) agama Yahudi ini dijadikan sebagai agama baru. Salah seorang pemimpin mereka yang pertama kali menerima agama itu adalah Yusuf Zu Nuas.

Adapun bangsa Arab Ismail, pada mulanya mereka menganut agama tauhid (monotheisme) yang di bawa oleh Nabi Ibrahim A.S., dan di dalam pengaruh serta kekuasan merekalah terletak tanggung jawab yang besar untuk menjaga dan memelihara Kabah. Tetapi setelah kota Mekah dikuasai oleh Khuzaah, terjadilah perubahan dalam hal kepercayaan mereka. Kemudian berhala di letakan di Kabah dan dijadikan sebagai pemimpin berhala-berhala yang lainya. Berhala tersebut di namakan “Hubal”.

Menurut Ibnu Al-Kalbi, yang menyebabkan bangsa Arab akhirnya menyembah berhala dan batu, ialah setiap mereka akan pergi meninggalkan kota MEkkah, selalu membawa sebuah batu ayng diambilnya dari beberapa tempat di sekitar ka’bah, dengan maksud untuk menghormati Ka’bah, dan untuk memperlihatkan kecintaan mereka kepada Mekah. Kemudian batu-batu tersebut diletakan di tempat persinggahan atau tempat tinggal mereka. Mereka melakukan thawaf (mengelilingi) batu-batu itu. Layaknya orang melakukan thawaf waktu haji.

Disamping adanya kepercayaan dan penyembahan berhala yang dilakukan masyarakat Arab sebelum kelahiran agama Islam, terdapat pula kepercayaan lain yang mereka anut seperti :

a.Menyembah malaikat. Bahkan ada yang beranggapa bahwa malaikat adalah puteri tuhan.

b.Menyembah Jin, ruh atau hantu. Bahkan ada suatu tempat jin terkenal dengan nama Darahim.

Pada saat menjelang kelahiran agama Islam, tumbuh sekelompok orang dari kalangan masyarakat Arab yang berusaha ingin melepaskan bangsanya dari kepercayaan yang sesat, dan berusah mengembalikan kepercayaan agama tahuhid (monotheisme) yang diajarkan Bagi Ibrahim AS. Mereka adalah Waraqah bin Naufal, Umayah bin Abi Shalt, Qus Saidah, Utsman bin Khuwairis, Abdullah bin Jahsy, dan Aainal bin Umar.

Kebudayaan Arab Jahiliyyah

Secara garis besarnya, kehidupan bangsa Arab terbagi kepada dua bagian : yaitu penduduk desa dan penduduk kota . Penduduk desa biasanya disebut suku Baduwi, artinya penduduk pedalaman, yang suka bepindah-pindah tempat atau nomaden. Golongan penduduk inilah yang terbesar jumlahnya. Mata pencaharian mereka bercocok tanam dan berternak.

Para penduduk yang tinggal di kota, mata pencaharian mereka berdagang di pasar- pasar dan abnyak juga di antara mereka yang berdagan di luar negeri dengan mengendari unta dan kuda seperti negri Syam, Mesir dan Persia .

Pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Arab pada masa jahiliyyah dapat dijelaskan sebagai berikut :

a.Dalam bidang politik, masyarakat Arab jahiliyyah tidak memeiliki system pemerintahan yang mapan. Mereka hanya mempunyai pemimpin yang disebut Syeikh atau Amir (kepala suku), yang mengurusi persoalan mereka dalam masalah perang, pembagian harta dan pertempuran tertentu. Diluar itu, Syeikh atau Amir tidak berkuasa mengatur anggota kabilahnya.

b.Dalam bidang ekonomi, sesuai dengan tanah Arab yang kebanyakan terdiiri dari sahara, maka system ekonomi mereka yang terpenting adalah perdagangan. Masyarakat Arab Qurayisi berdagang sepanjang tahun. Di musim dingin mereka mengirim Khafilah dagang ke Yaman, sementara di musim panas mereka menuju ke Syam. Pusat perdagangan yang paling ramai adalah pasar Ukaz, yang dibuka pada bulan-bulan tertentu seperti Zulqaidah, Zulhijjah, dan Muharam.

c.Dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni yang berkembang pada masa itu ialah astronomi (ilmu perbintangan) yang di temukan oleh orang-orang Babilonia, Meteorologi, Mythologi, Astrologi, Kedokteran, Khatabah (Retorika), dan syair-syair. Dalam bidang bahasa dan seni, masyarakat Arab jahiliyyah sangat maju. Bahasa mereka sangat indah dan kaya, syair-syair mereka sangat banyak. Dan kebiasaan mereka adalah menghormati para penyair. Untuk itu, mereka hampir tiap tahun mengadakan perlombaan syair di pasar Ukaz. Diantara penyair terkenal adalaha Umru Al-Qais.

B.  Inti Ajaran Islam

Setelah Nabi Muhammad SAW, menerima wahyu yang pertama (Quran Qs:Al-Alaq: 1-5), di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadan tahun 610 M beliau mengalami pertentangan jiwa dan kecemasan cukup lama. Akhirnya Nabi Muhammad sampai pada puncak keyakinan tentang kerasulannya, dengan turunya Qs:Al-Mudatsir: 1-7 sebagai penegasan Allah untuk berdakwah, menyiarkan agama islam pada kerabat dekat dan selanjutnya pada masayarakat umum.

Masa dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW di Mekkah selama 13 tahun, yaitu sejak beliau menerima wahyu pertama sampai hijrah ke Madinah.

Adapun inti Ajaran Islam yang di bawa Nabi Muhammad SAW, selama di kota Mekkah adalah:

1.Mengajarkan manusia bertuhan hanya kepada Allah semata-mata (bertauhid).

2.Mengajarkan bahwa akan terjadinya hari kiamat.

3.Mengajarakan Ahlak yang terpuji dan melarang manusia berbuat jahat dan tercela.

4.Mengajarkan ibadah seperti shalat.

5.Mengajarkan persamaan derajat semua manusia.

C.  Perbedaan Kepercayaan dan Kebudayaan Arab Jahiliyah dengan Ajaran Islam.

Masyarakat Arab Jahiliyyah adalah suatu tatanan masyarakat yang mempunyai agama atau kepercayaannya sendiri, yang berlainan dengan ajaran islam. Adapun perbedaan antara kedua kepercayaan itu adalah sebagai berikut:

1.Pada Masyarakat Arab Jahiliyyah terdapat suatu kepercayaan berbagai tuhan (Polypheisme), seperti penyembahan berhala, penyembahan bulan dan bintang, penyembahan jin, ruh, dan arwah nenek moyang, dan ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sementara itu, Islam datang dengan membawa ajaran tauhid, penyembahan hanya kepada Allah yang Mha Esa, tak beranak dan tak diperanankan. Begiru juga yang berkaitan dengan kebudayaan. Kebudayaan Arab pra Islam sangat dipengaruhi oleh mitologi dan ajaran-ajaran sesat lainnya, sedang Islam membawa peradaban atau kebudayaan baru berdasarkan petunjuk Allah dan Al-Qur’an.

2.Dalam tatanan kehidupan social masyarakat Arab pra Islam terdapat pada suatu tradisi yang melanggar etika (akhlak) dan hak asasi manusia: seperti perjudian, minum-minuman keras, perampok, perzinahan, dan perbuatan yang melangar hokum dan tantanan social masyarakat. Sementara Islam selalu mengajarkan perbuatan terpuji, seperti menolong sesama manusia, melarang melakukan fitnah, mengambil hak orang yang bukan miliknya sendiri, melarang mabuk-mabukan, melarang perzinahan, melarang penguburan bayi hidup-hidup, dan ajaran terpuji lainnya.

3.Masyarakat Arab pra Islam tidak percaya kepada hari kebangkitan, hari pembalasan, sampai ada diantara mereka bertanya-tanya, mana mungkin tualng berulang yang sudah hancur dapat dibangkitkan dan dihidupkan kembali. Padahal Islam mengajarkan dan meperingatkan kepada manusia, bahwa dunia dunia ini hanya sementara dan tempat yang abadi adalah akhirat.

4.Didalam kehiduapan masyarakat Arab pra Islam terdapat tradisi perbudakan. Memperbudak atau menjual belikan budak seperti berdagang dagangan lainya. Dan perbuatan itu mereka lakukan tanpa penyesalan seolah tanpa dosa. Sedangkan menurut ajaran Islam manusia itu sama derajatnya, hanya takwa yang membedakan mereka. Kehadiran Islam justru untuk mengangkat martabat mereka yang tertindas seperti para dhuafa dan fakir miskin .

Perbedaan inilah pada akhirnya membawa perbenturan dasyat antara masyarakat Arab kafir dan mukmin di tanah Arab, Mekah.

D. Benturan Antara Dua Kepercayaan.

Perbenturan antara kedua kepercayaan ini disebabkan karena beberapa factor, antara lain:

1.Takut kehilangan kekuasaan.

Kaum kafir Quraisy selalu berebut kekuasaan dalam memperjuangkan hidupnya. Siapa yang kuat, dia yang berkuasa. Oleh sebab itu, ketika Muhammad diangkat sebagai Nabi dan Rasul, mereka beranggapan bahwa tunduk kepada Muhammad dan bani Murhalib, berarti akan kehilangan pengaruh dan kekuasaan.

2.Persamaan hak antara sesama manusia..

Segala usaha kaum kafir Quraisy selalu dikaitkan dengan kepentingan kebangsawanan, dan tidak memperdulikan hamba sahaya. Sedangkan dalam ajaran Islam manusia dipandang sama, tidak memisahkan antara bangsawan dan hamba sahaya, antara silemah dan si kuat. Justru Islam mengajarkan adanya persamwaan dan saling tolong menolong sesama manusia. Si kuat membantu si lemah, si kaya membantu si miskin. Kelebihan mereka dalam Islam adalah tingkat ketakwaann kepada Allah SWT.

3.Bertaklid kepada nenek moyang.

Kaum kafir Quraisy sangat patuh kepada adapt istiadat nenek moyang mereka, dari pada mereka harus masuk Islam, karena mereka merasa berat mengigalkan kebiasaan menyembah berhala yang sudah secara turun-temurun dilakukan oleh nenek moyang mereka sendiri.

4.Masalah kehidupan.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, usaha kaum kafir Quraisy yang penting antara lain adalah kerajinan membuat patung dan menjual belikan patung iu untuk dijadikan tuhan mereka. Bila mereka masuk Islam, maka berarti mematikan usaha mereka sendiri. Dengan demiian mereka beranggapan, bahwa Islam akan merusak dan mematikan perekonomian mereka.

Inilah beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya konflik atau benturan antara ajaran islam dengan kepercayaan masyarakat Arab Jahiliyyah



1 komentar:

web master mengatakan...

Terima kasih Sangat bermanfaat...
Gratis, 10 Iklan anda tampil di Blog/Web orang lain & mendapat income, www.xnge.net?id=adi

Posting Komentar

Selamat datang buat semua pengunjung Rahmatazt.Blogspot.com! Anda adalah segalanya bagi kami (We are nothing without you)...

sebagai ungkapan terima kasih kami kepada Anda semua, kami akan selalu menyuguhkan tutorial terbaik, salah satunya seperti yang Anda lihat saat ini...